Dani mengangguk. “Tentu. Kita tahu batasnya.”
Tak lama, Jelita masuk ke kamar mandi terlebih dahulu. Dani menunggu di luar, duduk di sisi ranjang sambil menatap boneka pengantin yang seolah menatap balik ke arahnya. Entahlah, tapi tiba-tiba saja ia bergidik.
“Dingin sekali,” gumamnya.
Ketika pintu kamar mandi terbuka, Dani refleks menoleh—dan mendadak jantungnya berdebar tak karuan.
Jelita berdiri di ambang pintu, rambutnya masih basah dan menjuntai, wajahnya bersih tanpa riasan, dan piyama lembut yang membalut tubuhnya tampak sederhana namun memikat. Aroma wangi sabun menguar menusuk hidungnya seakan membuat candu.
Dani menunduk cepat, lalu berdiri canggung. “Si-silakan istirahat dulu! Aku ... a-aku akan mandi sebentar.”
“Baiklah,” jawab Jelita datar, kemudian berjalan menuju sisi ranjang dan duduk membelakangi Dani.
Di dalam kamar mandi, Dani menatap bayangannya di cermin dan menghela napas panjang.
“Sekamar dengan seorang wanita yang sah secara hukum ... tapi tak boleh disentuh ...,” gumamnya sambil mengusap wajahnya kasar.
Sebagai laki-laki, ia merasa jika kini kej4ntanannya tengah dipertaruhkan. Tetapi lebih dari itu, ia tahu—menghormati perjanjian mereka jauh lebih penting daripada memenuhi keinginan sesaatnya.
Dan malam itu pun berlalu ... dalam diam. Mereka tidur membelakangi satu sama lain, dipisahkan oleh batas tak terlihat yang mereka sepakati sendiri—dengan sisa aroma mawar dan lilin yang menggantung di udara.
Hingga pagi pun menjelang dengan lembut, sinar matahari menyusup melalui sela-sela tirai kamar yang berhias kelopak mawar kering sisa semalam. Dani perlahan membuka mata, napasnya masih teratur namun sedikit terhenti ketika kesadarannya sepenuhnya pulih.
Pandangan pertama yang menyambutnya adalah langit-langit kamar pengantin yang semalam terlalu meriah untuk ukuran selera maskulinnya. Namun, bukan itu yang membuatnya membeku.
Tangan.
Satu lengan halus dengan kuku rapi yang dicat lembut kini melintang di atas perutnya.
Dani menoleh pelan, sangat pelan, seolah sedang menghadapi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak. Dan benar saja—di sisinya, masih dalam balutan piyama putih bersih yang disediakan oleh staf rumah, Jelita tengah terlelap dengan damai. Nafasnya teratur, rambut hitamnya sedikit mengembang, dan beberapa helaian jatuh menutupi pipinya yang pucat alami.
Dani menahan napas, memandangi pemandangan yang dalam kondisi normal, bisa dianggap manis ... atau romantis ... atau gawat?
Mereka semalam sepakat untuk tidur berbelakangan. Saling memunggungi. Tak ada yang melanggar batas. Namun, kenyataannya tak sesederhana kesepakatan. Rupanya, Jelita adalah tipe yang tidak bisa diam ketika tidur.
Entah sejak pukul berapa, tubuhnya bergeser, tangan kanannya sekarang tergeletak di atas perut Dani seperti sehelai syal lembut, sementara kakinya—untung masih sopan—terselip tak jauh dari batas kaki Dani sendiri.
Dani hanya bisa menatap langit-langit, menyusun napas, lalu menutup mata kembali.
“Tenang. Ini hanya kecelakaan posisi. Bukan ... bukan berarti apa-apa.”
Namun, meski ia mencoba menenangkan diri, otaknya justru membentuk kalimat-kalimat absurd seperti: “Kalau orang lain lihat ini, pasti dikira kami benar-benar menikah.” Lalu ia buru-buru mengoreksi pikirannya sendiri. “Ya ... memang menikah. Tapi, bukan begitu maksudnya!”
Wajah Dani memerah. Ia bahkan tak tahu kenapa. Hanya saja, pagi itu, ia sadar akan satu hal: sekamar dengan seorang perempuan bukanlah perkara mudah. Terutama jika perempuan itu ... adalah Jelita.
Sementara itu, berita tentang pernikahan cucu tunggal Kakek Wijayanto dengan seorang gadis misterius mulai tersebar di media sosial. Sebagian besar hanya menyoroti sisi romantisnya—kisah cucu konglomerat yang menikahi gadis biasa demi sang kakek tercinta.
Namun, tak sedikit juga yang bertanya-tanya, siapa sebenarnya Jelita? Dari mana asalnya? Kenapa ia bisa begitu dekat dengan keluarga Wijayanto?
Jelita membaca beberapa komentar dari ponsel yang baru saja Dani berikan. Ia tahu tak bisa selamanya menyembunyikan masa lalunya. Akan tetapi, ia juga tak ingin masa lalu itu menghancurkan satu-satunya kesempatan bagi dirinya untuk bertahan hidup.
Kabar pernikahan Dani dan Jelita menyebar bak api membakar ilalang di musim kemarau. Perumahan elite tempat tinggal keluarga Wijayanto, yang selama ini terkenal tenang dan eksklusif, mendadak gempar.
Bukan hanya karena Dani, pewaris tunggal keluarga Wijayanto yang tiba-tiba menikah tanpa kabar sebelumnya. Akan tetapi, karena wanita yang dinikahinya bukan dari kalangan terpandang, bukan pengusaha muda, bukan putri pejabat, melainkan seseorang yang pernah masuk bui. Seorang narapidana.
“Istrinya Dani itu mantan napi!”
Kalimat itu terucap di banyak sudut perumahan. Di lapangan tenis sore hari, di kafe kecil dekat taman, bahkan di grup w******p ibu-ibu sosialita.
“Perempuan rendahan seperti itu pantasnya tinggal di kolong jembatan, bukan di rumah mewah seperti ini,” kata Bu Ratna, tetangga sebelah, dengan suara keras saat Jelita baru saja lewat di depan rumahnya.
Jelita menunduk. Ia tak menanggapi, hanya mempercepat langkah, membawa kantong belanjaan berisi bahan makanan yang baru dibelinya. Tangannya gemetar. Setiap bisikan, setiap lirikan tajam itu seperti paku yang menghunjam ke dadanya.
Di rumah, ia tahu Dani pasti sudah mendengarnya.
Dani, seperti biasa, tampak dingin dan tidak peduli. Ia tak bicara banyak, hanya sepatah dua patah kata seperlunya. Saat makan malam pun, suasana di meja begitu sunyi. Yang terdengar hanya suara denting sendok dan garpu.
“Orang-orang ... mulai membicarakan kita,” kata Jelita pelan, suatu malam. Matanya tak menatap Dani. Ia hanya menunduk, menggenggam gelas kosong di tangannya.
Dani tidak langsung menjawab. Ia meneguk air putih, lalu meletakkan gelasnya perlahan. “Biarkan saja! Mereka memang selalu butuh bahan gosip,” ujarnya ringan sambil kemudian berlalu.
“Tapi ... itu menyakitkan,” suara Jelita nyaris berbisik.
Napasnya berat. Kata-kata Dani terdengar sangat dingin, tapi ia tidak bisa membantah. Ia hanya tidak menyangka, rasa sakitnya akan seperti ini.
Kemudian Jelita tengah membersihkan meja makan ketika Dani masuk sambil membawa setumpuk surat. Di antara surat-surat tersebut ada satu dengan kop resmi dan stempel merah.
“Surat dari pengacara keluarga,” kata Dani sambil menyerahkannya pada Jelita.
Jelita membuka amplop itu perlahan. Matanya menyisir tulisan-tulisan hukum yang kaku. Kemudian ia berhenti pada satu kalimat:
“Segala harta yang akan diwariskan oleh Tuan Wijayanto hanya akan diberikan apabila pernikahan Dani dan Jelita bertahan lebih dari satu tahun tanpa perceraian.”
Ia menoleh ke Dani. “Kau tahu soal ini?”
Dani mengangguk pelan. “Aku baru tahu tadi pagi.”
Hening sesaat.
“Jadi ... ini bukan hanya demi kakek?” tanya Jelita, matanya menyipit.
“Aku tidak tahu kenapa kakek mengatur ini. Tapi setidaknya kita harus bertahan, atau kau keluar dari semua ini tanpa apa-apa.”
Jelita menggenggam kertas itu. Hatinya mulai gelisah. Ia tak tahu apakah ini bagian dari rencana yang lebih besar ... atau awal dari masalah yang sesungguhnya.
“Apa katanya? Memangnya aku sedang mengincar harta mereka?” gumam Jelita. Meski sebenarnya ia memang membutuhkannya untuk saat ini.
Di luar, hujan mulai turun deras.
Dan suara petir menggelegar, seolah memperingatkan bahwa badai yang sesungguhnya ... baru saja dimulai.
Sedang di tempat lain, seorang pria berkacamata gelap tampak menatap layar ponsel dengan penuh perhatian. Di layar, terpampang foto pernikahan Dani dan Jelita.
“Jadi ini kau sekarang, Jelita ... menarik,” gumamnya lirih.