Setelah beberapa hari tinggal di paviliun yang ada di belakang rumah sakit milik keluarga Wijayanto, Jelita dan Dani pun memutuskan untuk kembali ke kediaman sang kakek. Tak tega meninggalkan Kakek Wijayanto sendirian.
Kala itu, Dani baru pulang dari kantor. Wajahnya tampak lelah. Namun, matanya sempat melirik Jelita yang sedang menyapu lantai.
“Kau tidak perlu melakukan pekerjaan ini! Kita punya asisten rumah tangga,” katanya tiba-tiba.
Jelita pun menghentikan aktivitasnya. “Aku ingin melakukan sesuatu. Biar rasanya ... aku benar-benar tinggal di sini.”
Dani mengangguk kecil, tapi tidak berkata apa-apa lagi. Ia melangkah ke arah kamarnya.
Berita tentang masa lalu Jelita pun muncul di salah satu situs berita gosip. Judulnya: “Menantu Keluarga Wijayanto Ternyata Mantan Napi!”
Foto-foto lama Jelita muncul di sana, termasuk saat ia diborgol dan digiring polisi. Berita itu viral di media sosial. Komentar-komentar kejam pun bermunculan.
Di rumah, Dani duduk di ruang kerja, menatap layar laptop dengan ekspresi rumit. Kakek Wijayanto sudah tertidur, dan rumah pun sunyi. Ia membaca komentar-komentar di kolom berita itu:
“Kenapa perempuan hina itu bisa masuk keluarga terhormat?”
“Dani pasti terkena guna-guna.”
“Pura-pura tak berdaya agar dikasihani, ujung-ujungnya pasti merebut harta mereka!”
Dani mengepalkan tangan. Wajahnya tegang. Ia tidak peduli dengan opini orang sebelumnya, tapi melihat semua ini ... entah kenapa ada rasa kesal yang menyesakkan d**a.
Ia berdiri dan membuka pintu kamar tanpa mengetuk. Di dalam, Jelita sedang duduk di lantai, memeluk lututnya. Ia memalingkan wajah saat Dani masuk.
“Kau baca juga, ya?” suaranya serak.
Dani mengangguk. “Kau harus kuat!”
“Sulit,” kata Jelita pelan. “Aku tahu ini Cuma pernikahan kontrak. Tapi saat aku diperlakukan seperti sampah, aku tetap merasa terluka. Aku tetap manusia, Dani.”
Dani terdiam cukup lama. Hanya suara detik jam di dinding yang terdengar.
“Apa kau menyesal menikah denganku?” tanya Jelita tiba-tiba.
Pria itu memandangnya lama. “Tidak. Tapi aku juga tak menyangka semuanya akan seberat ini.”
Malam itu mereka kembali terdiam dalam jarak yang terasa seperti jurang.
Beberapa hari setelahnya, kakek Wijayanto memanggil mereka ke kamar. Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. Ia duduk di kursi roda, selimut menutupi kakinya.
“Kalian harus lebih kuat!” katanya dengan suara parau. “Orang-orang memang tak pernah berhenti menilai. Tapi selama kalian saling percaya satu sama lain, semuanya pasti bisa dihadapi.”
Jelita memegang tangan kakek itu. Mata tuanya terlihat berkaca-kaca.
“Kakek, aku minta maaf ... aku tak bermaksud membawa aib untuk keluarga ini.”
“Jangan bilang begitu,” ujar kakek Wijayanto. “Kau bukan aib. Kau adalah kesempatan kakek untuk menebus utang masa lalu. Jangan biarkan omongan orang merusak semangatmu!”
Namun, nyatanya tak semua sepakat.
Malam itu, seseorang mengetuk pintu rumah. Ia berhasil melewati penjagaan dengan mudah. Kala itu, Dani sendirilah yang bahkan membukanya dan mendapati seorang pria bertubuh kekar berdiri di depan.
“Kau Dani, kan?!”
Dani mengangguk. “Siapa kau?”
Pria itu menyeringai, lalu melempar koran bekas ke lantai. Di halaman depannya, tertulis dengan huruf besar:
“Istrimu adalah seorang napi! Dani Wijayanto menikah dengan penipu!”
“Jaga istrimu baik-baik!” ucap pria itu.
Kemudian pria misterius tersebut pun pergi begitu saja, meninggalkan Dani yang berdiri membeku di ambang pintu.
Dani menunduk, menatap tajuk utama itu dengan rahang mengeras. Ia memungut koran tadi dan membawanya masuk.
Di ruang tamu, Jelita muncul dari dapur. “Siapa?”
Dani tak langsung menjawab. Ia hanya memandang wajah istrinya itu dengan sorot mata penuh pertanyaan.
“Bukan siapa-siapa,” sahut Dani akhirnya. Padahal ia sendiri tidak tahu siapa pria tadi.
Sementara itu, dari kejauhan, pria yang menemui Dani tadi tengah duduk di dalam mobil gelap yang terparkir di ujung jalan kompleks. Di tangannya, layar ponsel menyala, menampilkan foto Jelita.
“Kau muncul dan menikahi orang terpandang. Pintar sekali!” gumamnya.
Ia tersenyum dingin. Lalu menyalakan mesin mobil dan melaju perlahan ke kegelapan malam.
***
Sudah lebih dari seminggu sejak pernikahan mereka berlangsung. Jelita tinggal di rumah besar milik keluarga Dani, namun ia merasa seperti tahanan. Bukan karena perlakuan buruk Dani, melainkan karena tekanan lingkungan dan desas-desus yang terus berdengung, menusuk hingga ke dasar hatinya.
Setiap hari, waktu terasa membeku. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, membaca buku-buku lama milik mendiang nenek Dani, atau membersihkan rumah demi mengisi kekosongan. Namun, rasa bosan itu lambat laun menggerogoti pikirannya. Ia merasa tidak berarti hanya dengan berdiam diri. Dan seperti biasanya, ketika rasa tertekan terlalu lama, Jelita memilih untuk bangkit.
“Aku tidak ingin menggantungkan hidup pada siapa pun,” gumamnya lirih saat berdiri di depan cermin. Rambutnya dikepang sederhana, wajahnya polos tanpa riasan. Ia mengenakan blus putih dan celana kain gelap, sederhana namun bersih.
Jelita memutuskan untuk keluar rumah. Ia berjalan kaki ke arah pasar malam yang ramai di pinggiran kompleks. Dengan sisa uang yang ia miliki, ia membeli bahan-bahan sederhana: tepung, gula, kelapa parut. Malam itu, ia membuat kue putu dan kue apem. Ia mengemasnya rapi dalam kotak-kotak kecil, lalu keesokan harinya, ia membawa dagangannya ke pasar malam.
Awalnya, Jelita berdiri canggung di antara para pedagang. Tapi perlahan, dengan senyum dan kesabaran, ia mulai menarik perhatian beberapa pembeli. Kue buatannya ternyata cukup enak dan cepat laku.
Namun, di antara hiruk pikuk itu, suara menyakitkan menembus suasana.
“Eh, itu bukan istri pengusaha muda yang katanya kaya raya itu? Kenapa dia malah berdiri di pasar seperti pemulung?” seru seorang ibu dengan nada sinis kepada temannya.
Beberapa orang menoleh, beberapa tersenyum mengejek, yang lain berpura-pura tidak mendengar. Jelita menunduk, menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis. Namun, matanya mulai memerah.
Apa salahnya berjualan? Apa hina menjadi perempuan yang mandiri?
Dari kejauhan, sepasang mata mengawasinya. Dani berdiri di sisi jalan, setengah tersembunyi di balik deretan gerobak. Ia sedang dalam perjalanan pulang ketika tanpa sengaja melihat Jelita berdiri dengan dagangan di tangannya. Ia tidak menyangka, gadis yang baru saja menikah dengannya memilih mencari penghasilan sendiri.
Ia melihat bagaimana istrinya berdiri tegak meski dihina, bagaimana tangan Jelita bergetar saat memberikan uang kembalian kepada pembeli, dan bagaimana sorot matanya menahan tangis.
Hatinya mendadak sesak. Pria itu menarik napas dalam. Matanya berkaca-kaca, namun langkahnya tetap tertahan. Ia tidak berani mendekat. Ada semacam tembok tak terlihat yang menghalangi mereka.
“Kenapa kau tidak bilang ingin bekerja?” gumamnya sendiri. “Kenapa tidak meminta bantuanku?”
Tetapi, Dani tahu jawabannya. Meski ia belum lama mengenal istrinya, tapi ia tahu betul jika Jelita adalah perempuan yang terlalu keras kepala untuk sekadar bergantung pada orang lain, bahkan pada suaminya sendiri—suami kontrak, tepatnya.
Ia memilih menjauh, meninggalkan tempat itu dengan rasa bersalah yang tidak bisa ia jelaskan.
Beberapa malam kemudian, saat Jelita kembali dari pasar malam, ia mendapati seseorang sudah menunggu di depan pagar rumah.
Sosok itu bersandar santai pada sebuah mobil. Wajah yang tidak asing, mata yang penuh sinisme, dan senyum yang pernah membuatnya jatuh hati—dulu. Ya, Beni, pria dari masa lalunya.
“Beni?!” sebut Jelita dengan mata yang terbuka lebar.
“Jelita ... bagaimana, apa kue buatanmu itu habis terjual?” tanya Beni dingin. Sebelah ujung bibirnya terangkat.