Terasa Sepi

1129 Words
Jelita terdiam beberapa saat, lalu menarik napas perlahan. “Apa yang kau lakukan di sini?” Beni menyeringai. “Hanya memastikan kau tidak membuat masalah untuk suamimu. Jangan sampai Dani terlalu percaya pada perempuan yang pernah jadi narapidana karena video murahan yang tersebar waktu itu!” Ucapan itu menusuk hati Jelita. Ia ingin membalas, tetapi tubuhnya justru membeku. Beni melangkah mendekat, menatapnya dari atas hingga bawah. “Kau masih sama. Keras kepala, sombong, dan terlalu naif.” “Aku tidak ingin berbicara denganmu. Kenapa kau masih mengurusi hal-hal tentangku? Kau hanya masa lalu ... masa lalu yang sudah kukubur dalam-dalam,” ujar Jelita tegas. “Silakan pergi sebelum aku memanggil keamanan!” Namun, Beni justru tertawa rendah. “Masih ada banyak hal yang belum kau ceritakan pada suamimu, bukan? Atau ... kau pikir Dani tidak akan tahu jika aku membuka semuanya?” Jelita mengatupkan rahangnya. Ia tahu Beni tidak datang untuk bercanda. Lelaki itu masih memegang sesuatu yang bisa merusak kehidupannya, sesuatu dari masa lalu yang kelam—yang belum sempat ia ceritakan pada siapa pun. Sementara itu, Dani kembali ke ruang kerjanya di lantai dua. Ia duduk termenung, memandangi koran yang sempat ia simpan. Koran yang dulu dilemparkan oleh sosok misterius yang ternyata adalah Beni. Dani memang tidak mengenal pria itu. Namun, wajah pria tersebut terpatri jelas dalam ingatannya. Bagaimana mungkin ia lupa pada orang yang pernah datang dengan gaya meremehkan itu? Jelita tidak pernah membantah soal berita masa lalunya. Ia tidak menjelaskan apa pun, hanya menunduk dan menerima. Ada luka yang terlalu dalam di sana, dan Dani kini menyadari bahwa istrinya tidak sedang menyembunyikan sesuatu—ia hanya belum siap membicarakan semuanya. Dan kini, pria dari masa lalu itu muncul kembali. Ya, Dani diam-diam baru saja melihat dan mendengar percakapan antara istrinya dan Beni. Dani berdiri dari kursinya. Pandangannya mengeras ketika teringat bagaimana istrinya dihina dan diremehkan. “Kalau kau berani menyentuhnya lagi, aku sendiri yang akan menghadapi semua ini,” gumamnya dengan nada pelan namun penuh ketegasan. Entahlah, ia tidak mengerti, tapi perasaan ingin melindungi itu tiba-tiba saja muncul begitu saja. Malam pun semakin larut. Di kamarnya, Jelita menatap langit-langit dengan mata terbuka. Suara Beni, sindiran ibu-ibu di pasar malam, dan tatapan Dani—semuanya bersatu memenuhi kepalanya. Ia tahu pernikahan ini hannyalah sebatas pernikahan kontrak. Tetapi anehnya, ia mulai peduli pada Dani. Pria itu memang pendiam, kaku, dan tidak banyak bicara. Namun, ada ketulusan tersembunyi dalam sikapnya. Hanya saja ... Jelita takut berharap. Tangannya mengepal di atas d**a. “Aku harus kuat. Aku harus buktikan kalau aku bukan seperti yang mereka bilang ....” Namun, di luar jendela, Jelita tidak sadar bahwa Beni masih belum pergi. Ia mengawasi rumah itu dari seberang jalan, rokok mengepul di tangan, pikirannya dipenuhi dendam dan niat belum selesai. *** Rumah besar itu tampak megah di pagi hari. Langit-langitnya tinggi, jendela-jendela besar terbuka menghadap taman, dan udara segar mengalir bebas ke dalam ruang makan yang luas. Tetapi, sekalipun cahaya matahari menembus kaca dan burung-burung berkicau di luar, ruangan itu ... tetap terasa dingin. Dani dan Jelita duduk berhadapan di meja makan. Tidak ada kata. Hanya denting garpu dan sendok menyentuh piring porselen. Dani mengenakan kemeja kasual berwarna biru tua, sedang Jelita masih mengenakan daster panjang berbahan katun. Mereka tampak seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi meja. Setelah beberapa saat, Dani menyandarkan tubuhnya ke kursi dan membuka laptop di sampingnya, mulai memeriksa data keuangan dari salah satu cabang perusahaan milik keluarga Wijayanto. Ia tidak melihat ke arah Jelita sama sekali. Sementara itu, Jelita hanya menunduk menatap mangkuk sup yang hampir dingin. Ia sudah berusaha mengatur diri, mencoba berbuat ramah, tapi pria itu masih bersikap sama: dingin dan menjaga jarak. “Apa kau akan keluar hari ini?” tanyanya perlahan, mencoba memecah sunyi. “Ya. Ada rapat jam sepuluh,” jawab Dani singkat, tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Perlu aku bantu siapkan sesuatu?” “Tidak perlu. Semua sudah diatur sekretaris.” Jelita mengangguk kecil, lalu kembali menunduk. Ia mulai terbiasa dengan jawaban satu-dua kata seperti itu, meski dalam hati ... tetap terasa sepi. Sorenya, suasana rumah berubah gaduh — bukan oleh pertengkaran, melainkan oleh suara tawa dan sorakan khas satu orang: Kakek Wijayanto. Ia datang dengan kursi roda, ditemani susternya, lalu langsung masuk ke ruang keluarga di mana Dani dan Jelita sedang duduk menonton televisi — lebih tepatnya, hanya menonton layar tanpa bicara. “Hei! Pengantin baru! Lihat siapa yang datang!” serunya ceria. Jelita langsung berdiri, menghampiri dan mencium tangan kakeknya. “Kakek belum waktunya keluar kamar, kan?” “Ah, siapa bilang? Aku bos di rumah ini. Kalau aku bilang waktunya jalan-jalan, ya berarti waktunya,” jawabnya sambil terkekeh. Dani hanya menghela napas dan menaruh remote TV. “Lihat apa yang kakek bawa!” Kakek Wijayanto memberi kode pada susternya. Wanita itu membuka kotak di pangkuan kursi roda. Isinya ... sepasang sarung tangan oven dan celemek bertuliskan Pasangan Idaman. “Aku sudah siapkan bahan-bahan di dapur. Hari ini kalian masak bareng. Kalian tidak bisa menolaknya!” ujar Kakek sambil mengacungkan jari telunjuknya seperti komandan. “Kakek serius?” tanya Dani, sedikit tidak percaya. “Tentu! Aku sudah bosan lihat kalian duduk berjauhan seperti karyawan magang dan atasannya. Ini rumah keluarga, bukan kantor. Jadi ayo—bangun, ke dapur sekarang!” Jelita menahan senyum, Dani memijat pelipisnya. “Baiklah, Kek ... tapi kalau rasanya tidak enak, jangan komplain!” Beberapa saat kemudian, suara panci dan spatula terdengar dari dapur besar rumah itu. Dani dan Jelita — meski kaku — mulai bekerja sama. Jelita memotong wortel, Dani memeriksa resep sambil salah memasukkan garam ke dalam adonan. Mereka bersenggolan sedikit, tertawa kecil, dan untuk sesaat ... dinding yang selama ini memisahkan mereka mulai retak. Namun, ketika makanan selesai disajikan dan Dani kembali ke laptopnya di ruang kerja, suasana itu menghilang seolah tak pernah ada. Malamnya, Jelita duduk di balkon kamarnya, mengenakan cardigan tebal. Udara cukup dingin, tapi ia terlalu lelah untuk kembali masuk. Pandangannya kosong mengarah ke taman. Baru beberapa hari tinggal di rumah ini, namun ia merasa seperti hidup dalam museum: indah tapi sepi, megah tapi tanpa suara. Pintu balkon terbuka. Dani berdiri di ambang pintu, memandangnya. “Anginnya cukup kencang malam ini. Masuklah!” Jelita menoleh. “Rumah ini terlalu dingin ... meski aku sudah di dalamnya.” Dani tak langsung menjawab. Ia menatapnya sejenak, lalu hanya berkata pelan, “Kalau dingin, jangan menunggu orang lain menyalakan perapian. Nyalakan sendiri!” Kata-kata itu menggantung di udara, tak selesai sebagai nasihat, tak cukup kuat sebagai sindiran. Dani lalu pergi meninggalkan balkon. Jelita pun terdiam. Malam itu, untuk ke sekian kalinya, mereka tidur di ranjang yang sama, tapi memunggungi satu sama lain. Udara malam seolah menyusup ke dalam selimut mereka, membuat dua hati itu semakin menjauh, meski hanya terpisah oleh beberapa jengkal kain dan dinding rasa yang tak kunjung runtuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD