Pagi itu Dani terbangun lebih lambat dari biasanya. Cahaya matahari menembus tirai putih kamar, menyorot ke dinding yang kini dihiasi dengan balon warna emas dan perak bertuliskan “Selamat Ulang Tahun!”
Dani mengerjap, duduk perlahan sambil mengusap wajah. Napasnya masih berat ketika ia menatap sekeliling dengan alis mengernyit.
“Hiasan? Siapa yang ulang tahun hari ini?” pikirnya, bingung.
Di sisi lain ranjang, Jelita juga mulai menggeliat pelan. Rambutnya sedikit berantakan, dan matanya masih berat saat ia menoleh ke arah dinding yang penuh dekorasi. Matanya membulat perlahan.
“Hah? Ulang tahun siapa ini?” gumamnya nyaris bersamaan dengan Dani.
Keduanya saling menatap, sama-sama belum menyadari jawabannya. Dani bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke ambang pintu. Sepanjang lorong sudah dipenuhi bunga segar dan pita merah. Suara riuh rendah pelayan terdengar dari arah dapur.
Langkah kakinya terhenti saat seorang pelayan muncul dari tikungan, membawa nampan perak di atasnya sebuah kue bulat sederhana dengan lilin menyala berbentuk angka 7 dan 8.
Dani membelalakkan mata.
“Selamat pagi, Tuan Dani. Ini kue pertama untuk Tuan Besar Wijayanto,” ujar pelayan itu dengan senyum sopan.
Jelita yang kini ikut berdiri di belakang Dani, menutup mulutnya dengan tangan. “Ya, Tuhan! Hari ini ulang tahun Kakek?”
Jantung Dani seperti dicubit. Matanya masih terpaku pada angka 78.
“Aku bahkan belum menyiapkan apa pun ... kado, ucapan ... apa pun ....”
Wajahnya berubah tegang. Ia menoleh ke sekeliling, seolah berharap ada seseorang yang bisa menolongnya. Tetapi, yang ada hanya bunga-bunga, balon, dan kue— seakan mengejek kelalaiannya.
Jelita menoleh padanya, ragu. “Kau ... tidak ingat?”
Dani hanya menatap lurus ke depan. “Aku ... memang cucu durhaka ....” Lalu mengacak rambutnya, frustrasi.
Jelita menghela napas pelan. “Oke ... kita harus cari cara buat menebus ini. Segera!”
Dani menelan ludah. Panik mulai merayap di dadanya. Di usia sang kakek yang makin menua, ia tahu hari seperti ini sangat berarti. Dan ia ... nyaris melupakannya.
Hari ini, sang kakek merayakan ulang tahun ke-78 — momen yang sudah ia tunggu-tunggu bukan hanya karena usia, tapi juga karena satu harapan sederhana yang diam-diam ia simpan: kejutan dari pasangan barunya, Dani dan Jelita.
“Cucuku, aku tidak butuh kado mahal,” kata Kakek Wijayanto yang muncul secara tiba-tiba di belakang Dani dan Jelita sambil tersenyum licik. “Yang penting ... kasih Kakek kejutan romantis, ya! Bikin jantung Kakek muda lagi!”
Jelita dan Dani hanya bisa saling pandang dengan bingung dan canggung. Kejutan romantis? Untuk kakek? Bahkan rasanya mereka seolah tak diberi kesempatan untuk merencanakan sesuatu. Waktunya begitu sempit.
Dan sekarang, saat acara ulang tahun itu dimulai, Dani mengenakan kemeja biru muda yang dirapikan tanpa cela. Jelita memakai gaun sederhana berwarna putih gading, rambutnya disanggul anggun dengan hiasan kecil bunga melati. Cantik, namun tetap sopan.
Di tengah pesta kecil yang meriah, Kakek duduk di kursi rodanya di halaman, dikelilingi para kerabat yang tertawa dan berbincang. Tetapi matanya terus menatap Dani dan Jelita. Ia menyipit, lalu berdehem keras.
“Loh?! Mana kejutan romantisnya? Masa Cuma berdiri saja seperti patung lilin?”
Beberapa tamu tertawa geli. Dani langsung melirik Jelita yang juga menahan napas. Dalam sekejap, Dani menggenggam tangan Jelita — gerakan spontan yang bahkan membuat Jelita terkejut. Ia menoleh padanya, dan untuk sesaat, mata mereka pun bertemu.
“Mainkan saja,” bisik Dani, pelan namun hangat.
Jelita mengangguk kecil. Ia tersenyum manis — senyum yang tidak dibuat-buat, tapi tulus dan ... menyentuh. Dani menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Ada sesuatu di balik senyuman itu yang membuat dadanya terasa sedikit hangat. Seolah ada pintu kecil dalam hatinya yang mulai terbuka.
Kemudian Dani berlutut di hadapan Jelita. Semua tamu langsung bersorak riuh.
“Kakek ...,” katanya sambil menggenggam tangan Jelita lebih erat. “Kado ulang tahun terbaik dari kami adalah ... doa agar cinta ini tumbuh setiap hari — seperti harapan Kakek.”
Jelita terperangah mendengar kalimat itu. Tak ada yang pernah membisikkan kata-kata semanis itu padanya — bahkan dari seorang yang hanya sedang akting sekalipun. Tetapi, yang membuatnya lebih bingung, Dani mengatakan itu tanpa naskah, tanpa persiapan. Kata-kata itu terdengar ... nyata.
Kakek berseru gembira. “Ya! Itu baru cucuku! Cepat, peluk! Cium pipi, boleh, kan?!”
Senyum Kakek Wijayanto belum juga pudar, bahkan ketika beliau meminta sesuatu yang membuat waktu seakan berhenti di antara mereka.
“Berikan kakek satu kado yang paling manis malam ini ... cium pipinya!” ujar Kakek enteng, seperti memesan segelas teh.
Jelita membeku.
Permintaan itu datang begitu tiba-tiba, membuat pikirannya berputar tanpa kendali. Ia mencoba menilai ekspresi Dani di sudut matanya. Apakah Dani akan benar-benar melakukannya? Apakah pria itu lupa kalau ini semua hanya sandiwara? Bahwa mereka hanya pasangan di atas kertas?
Tenggorokannya terasa kering. Dalam hati, Jelita bertanya-tanya, “Kalau Dani benar-benar mendekat, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menolak? Atau ... membiarkannya saja?”
Di sisi lain, Dani juga terpaku.
Permintaan sang kakek yang terdengar jenaka bagi semua orang di ruangan itu, justru menjadi dilema tersendiri dalam benaknya. Ia tahu ini hanya akting. Semua ini adalah bagian dari kontrak yang mereka sepakati. Namun, mengapa dadanya terasa sesak? Mengapa ia merasa seperti tengah melangkah melewati garis tak terlihat yang memisahkan kepura-puraan dan kenyataan?
Ia menatap Jelita — gadis yang selama ini dikenalnya sebagai keras kepala, tapi juga tak pernah berhenti mengejutkannya dengan ketulusan yang tak ia duga.
“Apakah dia akan menolak? Apakah aku akan terlihat memaksa jika melakukannya? Atau … apakah ini saatnya aku berhenti melihatnya hanya sebagai istri palsu?”
Sejenak, waktu seperti membeku di antara keraguan dan bisikan hati. Semua suara pesta mendadak mengabur, menyisakan denyut yang menggema di d**a masing-masing.
Lalu, perlahan Dani menghela napas, menenangkan dirinya, dan membuat keputusan — keputusan yang akan membuka bab baru, walau kecil, dalam hubungan semu yang perlahan-lahan mulai berubah arah.
Wajah Dani dan Jelita merah seketika. Tapi demi sang kakek, Jelita akhirnya mendekatkan wajahnya, dan Dani pun menunduk ... perlahan menyentuh pipi Jelita. Menempelkan bibirnya di sana.
Tepuk tangan pun menggema.
Namun, bukan hanya para tamu yang terpukau. Di hati Dani, ada sesuatu yang berdenyut tak biasa. Ia bisa mencium samar aroma bunga dari rambut Jelita. Ia bisa merasakan detak jantung gadis itu yang tak kalah gugupnya dengan miliknya.
Setelah momen itu berlalu dan pesta mulai mereda, Dani berjalan pelan ke taman samping rumah. Udara dingin menyegarkan wajahnya, tapi dadanya justru terasa hangat.
Ia tidak mengerti. Kenapa tadi degup jantungnya berbeda? Kenapa saat memandang Jelita, ia ... tak ingin berpaling?
Di balik dinding, Jelita berdiri menyentuh pipinya yang tadi disentuh Dani. Tak ada siapa pun di sana untuk melihat rona merahnya yang muncul tanpa ia sadari.
Mereka hanya sedang berpura-pura ... bukan?
Tapi kenapa rasanya terlalu nyata?
Di tengah riuh rendah pesta ulang tahun Kakek Wijayanto, para tamu terlihat menikmati hidangan dan musik. Dani dan Jelita yang masih berada dalam sorotan, terutama setelah adegan ‘romantis’ yang mereka tampilkan barusan kini kembali berbaur dengan tamu. Beberapa kerabat senior bahkan mulai berbisik-bisik membicarakan betapa serasinya mereka.
Namun, tidak semua pandangan bersahabat.
Seorang wanita paruh baya bergaun ungu muda berdiri tak jauh dari meja utama. Matanya tajam mengamati setiap gerak-gerik Jelita. Sesekali ia menyipit, lalu mendekat sambil berpura-pura mengambil minuman dari pelayan yang lalu-lalang.
Seketika, pandangannya tertumbuk pada cincin di jari manis tangan Jelita. Alisnya naik, dan bibirnya membentuk seringai kecil penuh ejekan.
“Hm,” gumamnya lirih. “Batu murah ... pantas saja. Cincin kawin imitasi, rupanya.”
Ia mendesis rendah, namun cukup untuk didengar oleh dua wanita di sebelahnya. Mereka tertawa kecil dengan tangan menutupi mulut.
“Anak itu mungkin cantik, tapi dari cara berpakaiannya saja sudah kelihatan. Cincinnya pun bukan berlian asli. Bagaimana bisa jadi menantu keluarga Wijayanto?”
Jelita yang saat itu sedang berbicara dengan tamu lainnya tidak menyadari adanya hinaan. Tetapi Dani, yang sedang berdiri agak jauh di dekat pohon kamboja, mendengar jelas kalimat itu. Kepalanya perlahan menoleh ke arah sumber suara, namun wajahnya tetap tenang. Tangannya terkepal di balik saku celana.
Dadanya sesak, bukan karena malu, tapi karena marah. Ada dorongan kuat untuk melangkah dan membela Jelita. Tapi ia menahan diri. Dia tahu ... wanita itu tidak tahu apa-apa.
Dan ironisnya, dalam hati Dani tak bisa menyangkal, jika cincin itu memang imitasi. Ia sengaja memilih yang tiruan saat membeli di toko perhiasan tempo hari. Alasannya waktu itu sederhana: pernikahan ini hannyalah kontrak, tidak perlu simbol yang terlalu serius.
Namun sekarang, mendengar Jelita dihina seperti itu, ada sesuatu yang menusuk dalam dadanya.
Kenapa ia merasa bersalah?
Kenapa tiba-tiba, cincin itu terasa ... terlalu ringan untuk dipakai oleh seorang wanita sebaik Jelita?