“Apa kau mau menikah dengan cucuku yang menyebalkan itu?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Kakek Wijayanto. Ucapan santai itu sontak menghentikan aktivitas semua orang yang ada di sana. Bahkan waktu seolah ikut membeku.
Jelita menatap kakek tua di depannya dengan mata membulat. Sementara Dani yang sejak tadi berdiri dengan sikap malas, kini langsung menegakkan tubuhnya.
Pria itu berdehem sambil membenarkan posisi dasi yang menggantung di lehernya, sedikit melonggarkannya. Berusaha untuk tetap menjaga image-nya. Tetap tenang meski ia juga sangat terkejut dengan keputusan yang mendadak itu. “Kakek? Apa maksud Kakek?” tanyanya pelan pada sang Kakek.
“M-maaf, Kakek bilang apa tadi?” Jelita akhirnya bersuara, ragu-ragu.
“Menikahlah dengan Dani!” ulang Kakek Wijayanto dengan nada yang sama tenangnya. “Kau sudah menyelamatkan nyawaku. Aku ingin membalas budi.”
Setelah tak lama berpikir, Jelita pun menggeleng pelan, bibirnya menegang. “Maaf, Tuan … aku tidak bisa menerima tawaran itu.”
Dani yang awalnya masih diam, kini menoleh cepat menatap Jelita. Sorot matanya membesar tak percaya.
“Apa?!” serunya nyaris setengah berteriak. “Kau menolakku?!”
Jelita menoleh padanya, dengan tatapan tegas namun sopan. “Ya. Aku hanya berniat untuk menolong karena itu yang harus kulakukan. Aku tidak berharap imbalan, apalagi perjodohan seperti ini. Maaf.”
“Memangnya siapa kau sampai berani menolakku?!” Dani menatapnya dengan ekspresi terkejut sekaligus tersinggung. “Apa-apaan ini?!”
Jelita berdiri. Wajahnya pucat, tapi suaranya tetap tenang. “Saya tidak ingin jadi beban siapa pun, dan saya tidak merasa pantas diberi hadiah hanya karena sebuah pertolongan kecil. Mohon maaf jika ucapan saya menyinggung.”
Ia membungkuk hormat ke arah Kakek Wijayanto. “Terima kasih atas jamuannya. Saya pamit.”
“Jelita, tunggu dulu!” ucap Kakek, namun Jelita sudah melangkah cepat keluar dari ruangan itu, meninggalkan Dani yang masih berdiri dengan rahang yang mengeras.
***
Di ruang kerjanya, Kakek Wijayanto memandangi berkas informasi yang baru saja diserahkan oleh asistennya. Senyum samar mengembang di wajah keriputnya.
“Cucu dari Pratama Santosa,” gumamnya lirih. “Jadi itu kamu, Jelita.”
Ia menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Kenangan masa lalu muncul satu-persatu. Dulu, Pratama adalah sahabat sejatinya. Saat ia terpuruk, Pratama datang tanpa diminta, menawarkan bantuan, pinjaman, bahkan semangat. Tapi ketika bisnisnya mulai bangkit, Pratama menghilang. Rumahnya kosong. Tak ada jejak. Bahkan semua surat yang ditulis dan dikirimkannya tak pernah dibalas. Mungkin saja karena memang tak pernah sampai.
Kakek Wijayanto menghela napas panjang. “Belum sempat kubalas kebaikanmu … tapi kini, aku tahu apa yang harus kulakukan.”
Ia berdiri, penuh tekad. “Pokoknya Dani harus menikahi gadis itu!”
“Kau bercanda, kan, Kek?” Dani masuk ke ruang kerja dengan langkah besar dan mendengar apa yang baru saja kakeknya katakan. Padahal kala itu, wajahnya masih panas karena malu dan marah bercampur jadi satu. “Aku ditolak mentah-mentah tadi! Dan sekarang kau ingin aku tetap mengejar gadis itu?!”
“Dia cucu dari Pratama,” jawab sang Kakek, singkat.
Dani terdiam. Lalu mengerutkan kening. “Pratama … Santosa? Yang pernah menolong bisnis kita waktu itu?”
Sudah sangat sering Dani mendengarkan cerita tentang pria yang bernama Pratama Santosa itu. Pria yang sangat berjasa bagi kelangsungan kehidupan keluarganya.
Kakek mengangguk.
“Dan kau mau menjadikan aku sebagai alat untuk membalas budi, begitu?” Nada suara Dani tajam.
“Bukan sekadar membalas. Ini tentang kehormatan. Jika dulu aku bisa berdiri karena Pratama, maka kini cucunya yang harus kubantu berdiri. Dia gadis baik. Tidak silau harta. Punya prinsip. Justru itu yang harus kau cari dalam mencari pasangan. Kakek yakin jika dia adalah gadis yang cocok untukmu.”
Dani membuang napas kasar. “Kalau dia tidak mau, aku juga tidak akan memaksa. Lagi pula, aku bisa cari sendiri pasangan hidupku.”
Kakek hanya mengangguk tipis. Tapi dalam hatinya, ia tahu, Jelita bukan sekadar gadis yang lewat begitu saja dalam hidup mereka.
Sementara itu, Jelita berjalan menyusuri trotoar tanpa arah pasti. Langit mulai beranjak gelap, lampu-lampu kota menyala satu-persatu. Akan tetapi, langkahnya terus melaju.
Ia merasa sedikit kesal dan bingung. Entah kenapa, wajah Dani terus membayang di kepalanya. Bukan karena perjodohan itu, tapi karena ekspresi terkejut dan kesal pria itu ketika dirinya menolak.
“Kenapa dia begitu marah?” gumam Jelita. “Seolah ditolak itu aib baginya.”
Ia menghela napas. “Tapi … kenapa aku terus mengingat wajahnya?”
Angin malam meniup rambutnya lembut. Di tengah hiruk pikuk kota, Jelita terus berjalan, tanpa tahu akan ke mana. Hanya langkah yang menuntunnya, dan satu wajah yang diam-diam mulai tertanam dalam pikirannya.
Keesokan paginya, Jelita duduk termenung di halte bus. Perutnya kosong sejak malam tadi. Tetapi, pikirannya hanya satu. Ya, tentu saja, bagaimana caranya agar ia bisa bertahan hidup?
Ia pun mencari koran bekas di dalam tong sampah, bermaksud mencari lowongan pekerjaan di sekitar tempatnya kini berada. Tak lama, matanya menangkap iklan: Dibutuhkan pegawai harian untuk mencuci piring – Gaji dibayar harian.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung menuju alamat yang tertera. Restoran sederhana itu tidak jauh dari sana.
“Pernah cuci piring?” tanya pemilik restoran dengan nada malas.
“Pernah,” jawab Jelita cepat, meski itu bukan sepenuhnya benar. Ia siap belajar apa pun.
Pemilik restoran mengangguk. “Langsung kerja. Gaji harian. Kalau lambat, out.”
“Siap!” seru Jelita dengan senyum mengembang. Meski hanya pekerjaan kasar, hatinya sedikit lega.
Siang harinya, ia bekerja dengan giat. Tangannya cekatan membilas piring-piring kotor, keringat membasahi dahinya. Tetapi, senyumnya tak pernah pudar.
Sampai tiba-tiba, suara televisi di sudut ruangan restoran itu membuat semua berhenti.
“Berita hari ini: setelah menjalani proses hukum selama tiga tahun, wanita bernama Jelita Cantika Maharani akhirnya dinyatakan bebas dari tuduhan video panas .…”
Di layar, wajah Jelita terpampang jelas. Dilihat oleh semua pengunjung di restoran di mana kini dirinya bekerja. Alhasil, seketika senyum semangatnya lenyap dalam hitungan detik saja.
Pemilik restoran menoleh, matanya membulat. “Kau … kau ini si Jelita dari TV itu, ya?!”
Jelita hanya bisa diam.
“Keluar! Saya tidak butuh mantan narapidana di sini! Jangan bikin restoran ini jelek!”
“Tapi Pak, saya tidak bersalah … saya difitnah .…”
“Bilang saja ke hakim sana, bukan ke saya! Minggir! Keluar!”
“Tapi, bagaimana dengan bayarannya?” desak Jelita yang memang sangat membutuhkan uang.
“Bayaran katamu?!” Si pemilik restoran menatap lama Jelita. Gadis itu memang tampak memprihatinkan. Hingga rasa iba itu muncul dan ia pun dengan tergesa merogoh saku celananya. Lalu melempar beberapa lembar uang pada Jelita.
Jelita menatap lembaran-lembaran uang yang terbang dan jatuh di hadapannya. Ia merasa harga dirinya sudah diinjak-injak.
“Itu bayaran untuk hari ini! Pergilah cepat!” kata si pemilik restoran sambil berlalu.
Dengan tubuh gemetar dan wajah yang menahan air mata, Jelita pun terpaksa memunguti lembaran-lembaran uang tersebut dan tak mengindahkan tatapan orang lain terhadapnya. Tentu saja dia sangat membutuhkannya untuk membeli makanan. Ia mengesampingkan rasa malu. Karena tentu saja, rasa malu tidak akan pernah bisa membuat perutnya kenyang.
Lalu ia pun meninggalkan restoran itu. Langkahnya kembali tak tentu arah, seperti semalam.
Namun kali ini, di dadanya tumbuh satu hal baru: tekad untuk bangkit, bagaimanapun caranya.