Ditatapnya roti yang tinggal setengah bekas Kakek Wijayanto yang tertinggal di atas rumput. Hampir saja roti itu terinjak. Jelita kembali memunguti roti tersebut. Kebetulan dia pun masih merasa lapar karena acara makannya tadi pagi harus terganggu oleh hal yang sangat menyebalkan.
“Tidak. Lebih baik aku pergi dari sini. Aku tidak mau terlibat dalam masalah besar.”
Jelita melangkahkan kakinya. Dia tidak mau mengambil sebuah risiko besar dengan tertangkap dan malah menjadi tersangka atas tuduhan pencurian. Dia tak mau menghabiskan waktu dan hidupnya di dalam penjara lagi. Lalu dirinya pun bergegas pergi dari tempat itu.
Jelita berjalan dengan perasaannya yang tak karu-karuan seraya menatap roti bekas gigitan Kakek Wijayanto yang hendak dimakannya. Perlahan langkah kakinya pun melambat.
“Bagaimana bisa aku memakan barang yang sudah menjadi milik orang lain? Tidak. Aku harus kembali. Mana mungkin aku membiarkan pria tua menyebalkan itu dicaci maki lagi di sana. Dia pasti akan sangat ketakutan.”
Akhirnya Jelita mengalah pada hatinya, dia kembali berbelok. Tak lupa juga memasukkan roti tadi ke dalam saku celananya dan berlari ke tempat di mana Kakek Wijayanto berada. Dia berjalan dengan sangat cepat, setengah berlari.
“Apa benar dia masuk ke dalam sana?”
Dengan sangat berhati-hati, Jelita pun masuk ke tempat terakhir kali dia melihat Kakek Wijayanto berada. Dan, dirinya sangat terkejut melihat seisi ruangan tersebut. Benar kata Kakek Wijayanto, banyak makanan berada di sana. Berbagai macam dan jenis makanan yang tampak lezat berada di sana. Jelita menelan ludahnya beberapa kali. Perutnya bereaksi melihat itu semua. Dia usap perut ratanya yang berbunyi.
“Tidak boleh. Aku tidak boleh tergoda. Aku harus mencari pria tua itu. Tapi, di mana Kakek Wijayanto sekarang?”
Mata Jelita mengabsen setiap wajah yang berada di sana. Ya, karena di dalam selain banyak makanan tentu saja banyak orang berlalu-lalang. Mereka tampak sibuk. Jelita mengintip dari balik meja yang ditutupi oleh kain taplak yang panjang menjuntai. Hingga dia pun sangat terkejut saat melihat sosok pria yang tengah dicarinya kini telah berada di atas sana. Pria tua itu berjalan menuruni anak tangga bersama seorang pria muda yang sangat tampan.
“Astaga! Kakek Wijayanto tertangkap. Aku harus segera menolongnya,” batin Jelita kaget.
Lantas Jelita segera berlari dan menghadang Kakek. Tanpa berpikir panjang, dia bertekuk lutut di depan anak tangga yang pertama. Semua tampak terkejut dengan kehadiran Jelita yang sangat tiba-tiba dan dengan apa yang tengah wanita itu lakukan.
“Tolong lepaskan Kakek Wijayanto! Dia hanya seorang pria tua yang kelaparan,” ucap Jelita. Dia mengatup kedua tangannya, memohon.
Kemudian Jelita menarik tangan si Kakek dan menjadikan tubuhnya sendiri bak tameng. Bermaksud untuk melindungi Kakek Wijayanto. Semua orang hanya menatapnya dengan bingung.
“Tolong maafkan dia,” ucap Jelita lagi.
“Tidak, Jelita. Ini rumahku,” kata Kakek Wijayanto dengan wajah polosnya.
“Tidak, Kakek. Kau pasti salah. Ayo, lebih baik kita pergi dari sini sebelum mereka memarahi kita! Ini rotimu tadi. Apa kau ingat?” Jelita memberikan roti yang tadi hendak dimakannya. Kini roti tersebut telah kembali kepada pemiliknya.
“Rotiku ….” Kakek Wijayanto menyambar roti tadi.
Sedang Jelita merunduk sambil bergerak. Berpura-pura tak menghiraukan orang-orang yang berada di sana. Tak lupa dia juga mengajak Kakek Wijayanto ikut bersamanya.
“Tunggu, Nona!”
Belum jauh, langkah Jelita pun terpaksa harus terhenti saat mendengar teriakan seseorang dari belakang. Jelita mematung di sana padahal pintu keluar hanya tinggal beberapa langkah lagi.
Jelita berbalik dengan ragu dan sama sekali tidak mengangkat kepalanya. “I-iya, Tuan. Maaf kami mengganggu acara Anda.”
Pria muda yang tampan tadi berjalan menghampiri Jelita. Tubuhnya tinggi dan memiliki tubuh yang proporsional. Jantung wanita itu seakan mau copot saja mendengar derap langkah sang pria. Bukan melihat hantu, tapi dia takut jika pria itu akan menangkapnya.
“Tidak. Maksudku … mau kau bawa ke mana Kakekku?”
“Kakekmu?” ulang Jelita tak paham. Barulah kepalanya mendongak tak percaya.
“Ya, beliau adalah kakekku.”
“Apa?! Apa itu benar?” Jelita menatap Kakek Wijayanto. Dia membandingkan kedua wajah itu. Sekilas memang wajah mereka tampak sedikit mirip.
“Dia adalah cucuku yang paling tampan,” sahut Kakek Wijayanto dengan nada bicaranya yang begitu santai.
“Apa?! Jadi ini benar rumahmu? Jadi kau adalah ….” Mata Jelita terbelalak.
“Beliau adalah pemilik perusahaan properti terbesar di Jakarta. Tuan Wijayanto,” ucap sang cucu.
“Apa?!”
Jelita terkejut bukan main. Dia tak menyangka jika kakek tua yang menyebalkan baginya itu adalah seseorang yang kaya raya. Bahkan Kakek Wijayanto yang tadi dicaci maki ternyata adalah seseorang yang sangat disegani di rumah itu.
“Kau jangan terkejut Jelita! Mmm … Dani, dia adalah Jelita. Dia yang menolongku tadi,” kata Kakek Wijayanto memperkenalkan Jelita pada cucunya.
“Ah, terima kasih, Nona. Tadi Kakekku memang hilang. Kami kehilangan jejaknya saat mencari udara segar di luar. Lagi, Kakekku terkena demensia dini. Maaf telah merepotkanmu,” ucap Dani. Dia mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan.
Kakek Wijayanto sejatinya adalah seorang pria tua yang didiagnosa mengalami penyakit demensia. Selain dari faktor umur, penyakit itu terjadi karena kata Dokter, dirinya terlalu banyak mengonsumsi obat tidur. Pekerjaan yang banyak memaksanya untuk tetap terus terjaga. Gejalanya memang terkadang kambuh. Di mana terkadang penderitanya akan seperti seseorang yang linglung dan hanya mengingat sebagian saja dari kehidupannya.
Kini Kakek Wijayanto hanya tinggal berdua bersama sang cucu terlepas dari beberapa pelayan yang bekerja di rumah yang sangat besar tersebut. Di mana anak tunggalnya–ayah Dani–telah tiada akibat kecelakaan kapal laut. Setidaknya menurut kabar yang beredar seperti itu. Tetapi, keluarga Kakek Wijayanto sendiri tidak pernah menemukan dan melihat langsung jasad dari kedua orang tua Dani itu.
Jelita tampak masih bingung, tapi dia dengan cepat menerima jabatan tangan Dani sesaat setelah dirinya mengelap tangannya yang kotor pada pakaiannya.
“Jelita, aku sudah bilang, di sini banyak makanan. Ayo cepat cicipi salah satunya!” ajak Kakek Wijayanto yang tampak begitu antusias.
“Ti-tidak usah, Tuan.” Jelita masih malu. Dia pura-pura menolak tawaran si pria tua padahal perutnya sudah keroncongan.
“Kenapa kau jadi seperti itu? Aku tahu pasti kau juga lapar, bukan?” Kakek berkata seolah sudah mengenal Jelita sangat lama.
“Tapi ….” Jelita melirik Dani. Dia tidak mau dicap sebagai seorang wanita yang tidak tahu diri, sebagai wanita yang memanfaatkan kelemahan sang kakek untuk mendapatkan sesuatu sebagai imbalan.
“Sebagai ucapan terima kasih, aku akan memberimu banyak uang. Seperti kataku. Aku punya banyak uang di rumah ini,” tambah Kakek Wijayanto.
Kini bukan kakek yang tampak linglung, justru Jelita yang masih tampak tak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya.
“Ta-tapi ….” Jelita bingung harus menjawab apa.
“Satu hal lagi, apakah kau mau menikah dengan cucuku yang menyebalkan itu?” tanya Kakek Wijayanto sangat tiba-tiba, berbicara dengan entengnya sesaat setelah melahap habis roti pemberian Jelita tadi.
“Apa?!” Jelita dan Dani berucap serentak sambil menatap satu sama lain.