Takdir

1120 Words
Dengan langkah gontainya, Jelita lalu berjalan keluar dari rumahnya. Dia dengan sangat terpaksa harus meninggalkan rumah di mana tempat dirinya lahir dan dibesarkan. Rumah yang begitu banyak kenangan di dalamnya. Jika dia bertahan di sana, itu tidak akan mengubah apa pun. Dia pikir, dirinya hanya akan tersiksa saja di sana. Menjadi bulan-bulanan bagi ibu dan juga saudara tirinya. Dia tak mau jika sampai hal tersebut terjadi. Jalan yang paling tepat saat ini adalah pergi. “Apa yang harus aku lakukan? Ke mana aku harus pergi?” Dengan keadaannya dan statusnya sebagai mantan narapidana tentu saja akan sulit baginya untuk meminta pertolongan kepada teman dan sanak saudaranya. Jelita pun hanya berjalan terus tak tahu arah tujuan. Hingga dia melihat seorang kakek yang tengah berjalan di zebra cross sendirian. Dia baru menyadari jika pria tua berusia kira-kira setengah abad itu berjalan di saat lampu masih menyala hijau. “Kakek, berbaliklah! Itu berbahaya!” teriak Jelita mengingatkan. Si Kakek memang mendengar teriakan Jelita. Akan tetapi, kakek itu malah berbalik, tersenyum dan melambaikan tangannya saja. Mobil tampak berlalu lalang dengan sangat cepat, tak memedulikan keberadaannya di sana dan membuat Jelita semakin khawatir. “Ada apa dengan kakek itu? Kenapa dia malah terus berjalan? Menyusahkan saja!” gerutu Jelita. Meskipun menggerutu, tapi dengan cepat Jelita bergerak. Dia berlari dan bermaksud untuk menolong kakek tadi. Jelita menahan mobil-mobil yang melaju dan bergegas menggandeng sang kakek sampai menuju ke seberang jalan. Mereka berhenti di trotoar. “Kakek! Apa yang kau lakukan?! Kau membuat dirimu dalam bahaya!” teriak Jelita geram. Napasnya tersengal-sengal. Dia tak habis pikir dengan kelakuan kakek yang seperti anak kecil itu. “Aku … ingin pulang,” sahut kakek dengan santainya. “Di mana rumahmu?” tanya Jelita. Kakek berpikir lama sebelum berucap, “Di jalan Rambutan ….” “Kalau begitu, pulanglah!” Si kakek berbelok dan bermaksud untuk kembali menyeberang. Untungnya Jelita menyadari hal itu dan segera menarik tangan si kakek yang keriput. “Berhenti untuk terus menyeberang jalan! Aku sudah bilang, hal itu berbahaya! Menyusahkan saja. Baiklah, aku akan mengantarmu.” Si kakek mengangguk. Dia tersenyum dan segera menggandeng tangan Jelita. Awalnya Jelita agak risi, tapi dia juga merasa kasihan dengan nasib kakek itu. Luntang-lantung seperti dirinya saat ini. Jelita cukup mengetahui jalan-jalan yang ada di daerah Jakarta meskipun sudah lama dirinya berada di dalam penjara. Dia mengantar si kakek dengan berjalan kaki. “Maaf, aku tidak bisa mengantarmu dengan menggunakan kendaraan. Aku sama sekali tidak punya uang.” Sebenarnya Jelita sangat malu mengakuinya. “Uang? Ah, aku punya banyak. Banyak sekali sampai memenuhi rumahku.” Jelita menatap tajam pada kakek. “Berhentilah membual, Kakek! Bagaimana mungkin seseorang yang banyak uang ditelantarkan begitu saja seperti dirimu sekarang ini? Oh iya, siapa namamu?” “Nama?” Kakek berpikir lagi. “Iya. Namaku … Jelita dan kau?” “Wijayanto. Aku … Wijayanto.” “Oh, kau dari Jawa, ya?” Jelita mengangguk-angguk. Langkah si kakek lalu terhenti di sebuah toko roti. Jelita bisa melihat si kakek yang menelan ludahnya kasar. Dia bingung, apa yang harus dilakukan jika si kakek meminta roti itu? Dirinya sama sekali tidak mempunyai uang. “Aku … lapar,” ucap Kakek Wijayanto. Dan, benar saja, pria tua itu meminta hal yang ditakutkan oleh Jelita. “Tidak. Aku tidak mempunyai uang. Maafkan aku ….” Uang terakhir yang dimiliki Jelita telah habis untuk membayar taksi pada saat dirinya keluar dari penjara. “Katanya kau ingin pulang, nanti setelah pulang kau minta saja pada anak atau cucumu! Ayo!” Jelita membujuk dan menarik tangan Kakek Wijayanto. Sementara itu, pria tua berkepala plontos yang baru saja ditemuinya tersebut sama sekali tak mau bergerak. Dia masih menatap jajaran roti yang terpampang nyata di etalase sambil memegangi perutnya. Memang tampak menggiurkan. Jelita menghela napas sambil berpikir. Hingga dia melihat seseorang yang baru keluar dari toko. Orang tersebut membuang roti yang tampak masih baru dan baru dimakan sebagian saja. Jelita awalnya ragu dan jijik, tapi tak ada jalan lain. Dia pun mengambil roti tadi yang sudah mendarat di tempat sampah. “Belum lima menit,” ucap Jelita cepat. Lantas buru-buru dia membersihkan luaran roti tadi dengan tangannya. Menepuk-nepuk debu yang menempel. Saat dirinya berbalik, dia melihat seorang pria yang diduga pemilik toko tersebut tengah menyadari keberadaan Kakek Wijayanto. Pria muda itu segera mendorong kakek yang sendirian. Melihat itu, Jelita tentunya tak bisa diam saja. “Jangan berlaku kasar padanya! Dia adalah orang tua.” Jelita bergegas menolong sang kakek. “Kalau begitu, bawa kakek yang menjijikkan ini pergi dari sini! Pembeli akan kabur jika sampai melihat para pengemis ada di sini. Kotor!” bentak pria muda yang memiliki tompel di wajahnya. Tangan Kakek Wijayanto gemetar. Menutup kedua telinganya. Dia tampak amat sangat ketakutan. “Dasar kurang ajar! Berhentilah berteriak! Kau menyakiti telinganya. Kami akan pergi dari sini, tidak perlu berlebihan seperti itu!” Jelita membawa Kakek Wijayanto berjalan meninggalkan toko tersebut sambil terus menggerutu. Mereka lalu berhenti di sebuah pohon besar di pinggir jalan. Jelita memberikan roti tadi pada kakek. “Terima kasih,” ucap Kakek Wijayanto. Tanpa babibu dia memakan roti tersebut. Raut wajahnya kini tampak lebih tenang. Jelita sedikit tenang. “Maaf, aku tidak memberimu air.” Kakek Wijayanto tak mendengarkan Jelita. Dia malah kembali berjalan dengan tangannya yang masih memegang roti tadi. Jelita bergegas mengejarnya. “Tunggu, Kek! Kau harus makan sambil duduk. Kau mau pergi ke mana?” “Aku mau pulang. Rumahku dekat dari sini,” sahut Kakek. “Astaga! Kenapa semua jadi rumit seperti ini? Kenapa aku malah terjebak dengan seorang kakek yang linglung ini?” Sementara Jelita menggerutu, Kakek Wijayanto malah masuk ke pekarangan sebuah rumah besar di sana. Jelita sangat cemas. Takut jika mereka berdua diusir dengan kata-kata yang kasar lagi. Jelita berusaha menghentikan langkah Kakek Wijayanto. “Kakek, sebaiknya kita pergi dari sini! Aku takut.” “Ikuti aku! Aku tahu di mana tempat banyak makanan di rumah ini,” kata Kakek Wijayanto yang terus berjalan dengan menatap ke depan. Langkahnya semakin cepat saja. “Apa?!” sepintas Jelita berpikir buruk. Dia pikir, Kakek Wijayanto akan mengajaknya untuk mencuri makanan di rumah itu. Kepala Jelita bergerak ke kanan dan ke kiri, mengawasi sekitar. Tampak sepi memang, tapi dia tak bisa terus menunggu. Dia benar-benar takut. Mereka berdua berjalan menuju ke arah dapur. Beberapa saat kemudian, Jelita melihat ada dua orang penjaga yang hendak datang menghampirinya. Dia lalu dengan cepat menarik tangan Kakek Wijayanto dan mengajaknya untuk bersembunyi di balik semak-semak. “Hampir saja kita ketahuan. Lebih baik kita segera pergi dari sini!” Saat Jelita berbalik, dirinya tak mendapati sang Kakek di sampingnya. Jelas saja dia panik bukan main. Matanya segera bergerak mencari dan akhirnya dia pun melihat Kakek Wijayanto masuk ke dalam dapur. “Oh, tidak. Astaga! Apa yang harus aku lakukan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD