Wajah Baru

2926 Words
Silir hari berganti, membawa masa kesedihan yang telah usai. Mereka telah melupakan semua yang terjadi. Dan berniat untuk melanjutkan kehidupannya lagi, walau tanpa Ravi, Krystal, ataupun Ruchika. Bahkan kasus penyelidikan Nia juga telah berhenti. Ia divonis tidak bersalah di mata hukum. Mobil hitam melaju dengan santai, menyusuri setiap jalan. Debu tersembul singkir ketika ban bulat menyentuhnya. Suasana jalanan yang tadinya lancar kini mendadak macet, hingga mengharuskan mobil itu menghentikan gerakkannya. "s**t!" kesal Dave menepuk setir mobil, matanya melihat kemacetan jalan di depan mobilnya. "Kenapa mendadak macet seperti ini?" Victor keheranan. Nia yang duduk di samping Dave membuka jendela kaca mobilnya, ia tonjolkan kepalanya keluar. Matanya memandang suasana sekitar yang dipadati orang-orang. Penuh hilir pekik. "Sepertinya ada pekan raya yang digelar di sini!" ujarnya. "Di tengah jalan seperti ini?" sahut Simon yang duduk di kursi belakang bersama Victor. Nia tertawa kecil. "Maksudnya, ini macet karena ada pekan raya di sana! Dari pada kita menunggu di sini dan membuat kita semakin emosi, bagaimana kalau kita ikut andil ke sana!" tawar Nia. "Ide bagus!" Dave memakai kaca mata hitamnya dan keluar dari mobilnya. Begitu pun dengan Nia, dan juga di susul Victor dan Simon yang ikut keluar mobil. Mereka berjalan bersama untuk melihat keramaian pekan raya, untuk refreshing juga setelah keluar dari keterkutukan atas meninggalnya ketiga teman-temannya. Di tengah keramaian, telinga mereka mendengar bunyi seruling ular, yang merasuk menembus gendang telinga. Mata mereka tertuju pada Segerombolan orang yang mengerumuni seseorang yang tengah asyik memainkan seruling ular. Mereka tergerak untuk melihatnya. Satu persatu dari mereka menerobos orang-orang yang menghalangi pandangannya. Hingga akhirnya mereka bisa melihat jelas apa yang ada di depan itu. Seorang wanita dengan lipstik hitam pekat, dan dandanan yang lumayan cantik tengah memainkan seruling yang menghipnotis ular-ular di depannya, hingga membuat ular itu menari-nari. Terdapat tiga ular cobra di sana. Ketika mata ular itu menatap ke arah Nia dan teman-temannya, seketika ular itu menghentikan tariannya dan langsung bergerak ke arah mereka, dengan kepala yang mengembang sempurna bak sendok raksasa. Semua orang ketakutan, dan memekik meninggalkan tempat pertunjukan, sedangkan Nia dan teman-temannya masih di tempat dengan wajah keheranan. Wanita pawang itu menghentikan serulingnya, ia berdiri di depan mereka dan menenangkan ular-ular. Pawang ular wanita itu berbicara pada mereka. "Bahaya! Bahaya telah mengintai kalian!" Perkataan wanita itu membuat Dave, dan lainnya tertegun sekaligus keheranan, bercampur keterkejutan. Seorang wanita pawang ular, namun masih terlihat muda nan cantik menawan itu memiliki bibir yang tergores lipstik hitam. Wanita itu mendekati Dave, Victor, Simon, dan Nia yang dilanda kebingungan, lantaran ularnya itu menyerang mereka. "Bagaimana ular-ularku bisa menyerang kalian? Itu pasti ada alasannya! Bahaya telah mengintai kalian!" ucap pawang itu. "Kami baru saja melenyapkan bahaya itu!" tepis Nia. Wanita itu tertawa, pandangan setajam pisau mengarah pada mereka. "Kau telah menghabisi salah satu dari mereka, apa mereka akan tinggal diam? Jangan bodoh!" "Siapa sebenarnya dirimu?" tanya Simon. Wanita itu menjawab, "Aku adalah penakluk mereka, aku bisa saja menjadi musuh, ataupun teman bagi mereka!" Wanita itu memegangi salah satu ularnya dan mematukkan tepat di lengannya, namun tak terjadi apa pun, seolah bisa yang ada dalam tubuh ular tak mau menyentuh kulitnya. "Aku kekal akan racun! Racun mana pun tak akan mempan menyentuh tubuhku!" ucapnya sinis. "Siapa namamu?!" tanya Victor serius. Wanita itu memiringkan senyumnya. "Vishaka! Vishaka raichand, seorang pawang ular!" jawabnya mantap. Simon menghampirinya. "Vishaka, aku mohon selamatkan kami dari jelmaan-jelmaan ular itu!" pintanya. "Kami akan membayar berapa pun yang kau mau!" bujuk Dave. Vishaka memiringkan senyumnya. "Baiklah! Tapi kalian harus menuruti apa yang aku katakan, jangan gegabah! Bersikaplah tenang! Jika kalian takut, maka ular itu akan tahu rencana kita! Kita tidak tahu jelmaan ular mana yang mengincar kalian, jadi tetaplah waspada!" Pawang ular Vishaka merogoh sebuah kantung hitam yang di sematkan di pinggang. Jemarinya mengambil 4 butir liontin. Ia memberikannya satu-satu pada mereka. "Liontin ini akan melindungi kalian dari mereka, selagi kalian memakainya tak akan ada bahaya apa pun yang menyentuh kalian!" pesannya. Victor memandangi liontin sebesar batu kerikil yang diikat dengan rantai kecil menyerupai kalung. "Sekeras apa pun Selena menghantui kita, itu tak masalah, karena kita punya penawarnya, Vishaka!" ujarnya sembari memiringkan senyumnya. Satu persatu dari mereka mengikatkan kalung liontin di lehernya. "Terima kasih Vishaka! Nanti malam kami akan mengadakan pesta penyambutan tahun baru, ular itu pasti akan membuntuti kami, kau datanglah! Aku akan mengirimkan alamatnya nanti!" ujar Dave. Vishaka mengangguk, dan mempersilakan mereka pergi. Vishaka memandangi mobil mereka yang melaju, dalam hatinya bergumam. “Tunggu dan lihat saja! Kalian akan memuji pekerjaanku nanti!!" sinisnya. Malam purnama terakhir tiba, sebuah pesta mewah nan megah telah digelar di sebuah gedung perusahaan milik Dave dan ayah-ayah mereka. Dave sengaja mengadakan pesta tahun baru ini untuk menarik perhatian sang ular agar datang, lalu bersamaan dengan itu, Vishaka akan menangkapnya. Pesta tak digelar di dalam perusahaan, namun di taman milik Perusahaan, dengan kolam yang memancar indah diterpa sang rembulan. Simon duduk termenung, memandangi rembulan purnama malam itu. Ia mengingat kebersamaannya dengan Krystal di sebuah Wastu, mereka pernah berjanji di bawah suasana malam bertabur bintang untuk hidup bersama selamanya, dan malam itu juga yang mengubah segalanya. Mengawali sebuah kejadian mencekam layaknya mimpi buruk, kesalahan fatal mereka hingga membangkitkan Selena dari dendamnya. Teman-temannya datang menghampiri Simon, dan menyingkirkan dalam lamunannya. Mereka semua tak lupa untuk selalu mengikat kalung liontin pemberian pawang ular Vishaka di lehernya. Nia bertanya pada Dave. "Di mana Vishaka? Kenapa dia belum datang, apa kau sudah memberinya alamat?" "Iya, mungkin dia sedang dalam perjalanan!" jawab Dave. "Aku di sini!" Vishaka tiba-tiba datang dari belakang mengagetkan mereka. Sontak mereka berbalik dan memandangnya. Simon pun ikut berdiri dari duduknya. Mata mereka melongo melihat penampilan Vishaka yang tidak bisa dikatakan sebagai seorang pawang ular pada umumnya. Gaun mini berwarna ungu kehitaman dengan high hills di kakinya membuatnya terlihat seksi. Rambutnya pun tergerai lepas dengan ujung yang dibuat ikal, tak terkecuali bibirnya, yang tergores lipstik pink membuatnya tampak begitu menawan. Vishaka dengan gayanya berjalan menghampiri mereka. "Apa ada yang salah?” tanya Vishaka keheranan, memandangi mereka yang melotot tak berkutik seolah melihat seorang artis lewat. "Tidak! Hanya saja kau terlihat berbeda!" ucap Dave pelan, sembari terus memandangi Vishaka. Vishaka memiringkan senyumnya. "Aku juga butuh penyamaran, kau tahu jelmaan itu akan mengenaliku jika aku berdandan layaknya pawang ular. Dan soal gayaku ini, perlu kalian tahu, bahwa aku ini tak jauh beda dari kalian. Aku putri sulung Raichand, ayahku juga pengusaha besar seperti orang tua kalian. So ... apa salahnya aku berdandan seperti kalian?!" "Benarkah? Berarti kau memang cocok menjadi teman, sekaligus pelindung kami!" seru Nia. Vishaka melirik ke arah leher mereka masing-masing, terdapat kalung liontin yang terikat di setiap leher. Vishaka menyudutkan senyumnya. "Bagus! Kau melakukan apa yang aku perintahkan!" katanya. Mereka mengobrol dengan asyik. Tiba-tiba perbincangan mereka dihentikan oleh sesuatu. "Ular!!!" Pekikkan salah satu pengunjung pesta mengagetkan mereka. Selena langsung bereaksi. "Di mana?!" "Di sana!" Vishaka melirik ke arah tanaman yang tumbuh dalam sebuah pot besar, ia melangkah perlahan mendekatinya dengan mata yang terus terfokus pada pot itu. Tanaman dalam pot itu terus mengerakkan dirinya tanpa sentuhan angin. Vishaka membilah dengan tangannya, seekor ular cobra hitam menatapnya dengan kepala yang mengembang sempurna, lidah menjulur keluar seakan ingin memagut gadis pawang ular seksi itu. Vishaka mengerakkan tangganya, dan mencekik leher ular itu hingga bisanya muncrat mengenai wajahnya. Namun Vishaka kekal akan racun, bisa ular itu tak membuatnya bereaksi sekalipun. Gadis pawang ular itu terus mencekik leher sang ular dengan erat, dan menariknya hingga tubuh panjangnya keluar dari tanaman itu. Semua orang yang melihatnya sangat ketakutan sekaligus terkejut, menyaksikan aksi hebat Vishaka. Dave dan teman-temannya juga terkejut, bukan karena kehebatan Vishaka, tapi karena melihat ular sebesar lengan tangan itu mendekam di antara tanaman hias. Vishaka menyongsong ular itu ke arah mereka. Mereka juga berjalan menghampirinya. "Apa dia juga jelmaan manusia? Seperti Selena?" tanya Nia. "Kita akan mengetahuinya setelah aku memainkan seruling. Jika memang dia bukan ular biasa, maka dia akan berubah menjadi manusia, dan dia pasti teman Selena!" jelas Vishaka sembari terus mencekik ular itu. Vishaka melempar ular itu di lantai, dan mengambil seruling ularnya. Ia segera meniup pangkal trompet yang membendung itu hingga mengeluarkan bunyi nyaring. Ular cobra hitam itu mulai terhipnotis akan musik yang terus mengiang di telinganya. Hingga akhirnya ular itu menari sesuai instruksi Vishaka. Namun tak terjadi perubahan apa pun pada ular itu. Vishaka menghentikan suara serulingnya, ia beralih menatap teman-temannya. "Ini bukan ular jelmaan!" ujarnya mantap. "Tapi kenapa dia ada di sini?!" Victor keheranan. "Untuk mengecoh kita!" jawab Vishaka mantap. "Tetaplah memakai liontin yang kuberikan, dia pasti sudah datang! Teman Selena yang akan melanjutkan misi balas dendamnya pada kalian," lanjutnya lagi. Vishaka membiarkan ular itu pergi menyusur dengan cepat dan berkelok-kelok. "SeSimong apa yang harus kita lakukan?!" tanya Simon. "Mengecohnya juga!" ujar Vishaka. "Bagaimana?!" sahut Dave ikut tanya. Vishaka memiringkan senyumnya, ia berjalan kecil membelakangi mereka. "Selena menyerang kalian dengan tipu dayanya, kali ini kita juga akan menipunya. Salah satu dari kalian akan menjadi umpannya!" "Maksudnya?" Mereka keheranan. "Salah satu dari kalian harus menjadi mabuk! Setelah dia tahu kalau kalian mabuk dan tak bisa berpikir, maka dia akan menampakkan wujudnya!" jelas Vishaka. "Lalu bagaimana kalau ular itu benar membunuh kita?" cemas Nia. Vishaka menatap ke arah mereka, "Apa kalian masih saja tak mengerti? Liontin yang kalian kenakan itu, bahaya apa pun tak akan menyentuh kalian!" janji Vishaka. "So...? Apa langkah kita selanjutnya?!" tanya Dave. "Vishaka bilang salah satu dari kita harus mabuk, lalu jelmaan itu akan datang. Maka baiklah! Aku yang akan mabuk!" Victor mengusulkan diri. "Are you seriously?!" "I'm sure!" Dave melihat ke arah jam tangannya. Jarum pendek dan panjang bersamaan mengarah ke angka 12, itu artinya malam pergantian tahun telah dimulai. "Inilah saatnya! Pesta akan dimulai, bersamaan dengan itu kita akan menangkap jelmaan itu!" sinisnya. "Kalian nikmati saja pestanya, aku yang akan mengawasi Victor. Ketika jelmaan itu datang, aku akan segera menangkapnya lalu menghabisinya!" ambisi Vishaka. Pesta telah dimulai, berbagai minuman telah disajikan. Semarak kembang api bertaburan, pekikkan orang-orang pecah saling berteriak. Menyambut malam pergantian tahun yang indah. Langit tidak sepi, bintang tidak kesunyian, rembulan juga tak sendirian. Karena mercon dan kembang api saling terlontar menghiasi angkasa, suara trompet pun ikut mengsukseskan malam tahun baru ini. Dave, Simon, dan Nia, menari-nari heboh. Mereka saling menikmati semarak pesta malam ini. Sedangkan Victor duduk di sebuah kursi dengan meja kaca yang di atasnya tersaji berbagai minuman. Mulai dari anggur merah, wiski, alkohol, dan berbagai jus lainnya. Beberapa gelas sudah ia teguk, namun masih saja tak mau berhenti. Memang ini rencana mereka, agar ia menjadi mabuk dan kemudian baru jelmaan ular yang mereka cari-cari menampakkan dirinya. Sementara Vishaka dari jauh duduk dengan memegangi segelas jus anggur. Ia tengah asyik memerhatikan Victor yang terus meneguk alkohol. Matanya tak bisa lepas dari setiap gerak-geriknya. "Teruslah minum Victor! Buat dirimu mabuk! Baru setelah itu dia akan datang, ular itu akan menampakkan dirinya yang sebenarnya!" gumam Vishaka, dengan mata yang terus tersorot ke arah Victor. Victor mulai pusing, tinggal 1 botol lagi yang masih tersisa penuh. 3 yang lainnya sudah kosong tak menyisakan sedikit pun. Ia menatap ke arah teman-temannya dan orang-orang yang merayakan pesta tahun baru. Nia menari menghebohkan seisi pesta, model cantik itu menebar suasana malam kala itu. Pandangan Victor mulai samar-samar, ia membayangkan Ruchika menari di depannya. Kepala Victor pun semakin pusing. Tangannya meremas keningnya. Matanya mulai memerah, dengan sedikit bulir yang menutupi bola matanya. Pikirannya pun mulai melayang, ia mengingat di mana Ruchika mengungkapkan cinta kepadanya, dan dia pergi begitu saja meninggalkannya untuk selama-lamanya. Nafasnya mulai tak beraturan, emosi yang ada dalam dirinya mulai keluar. Ia mengempar beberapa gelas kaca yang ada di depannya hingga pecah menghantam alas. Vishaka terus memperhatikannya. "Dia sudah mulai mabuk! Inilah saatnya, ular akan datang!" sinis Vishaka. Malam semakin pelik, bukan malam lagi, tapi dini hari. Fajar baru, di tahun yang baru. Semarak kembang api masih bertaburan memeriahkan tahun baru ini. Suasana pesta pun semakin heboh. Victor merasa pusing luar biasa di kepalanya. Pikiran dan otaknya sudah terguyur oleh berbagai alkohol dan minum-minuman keras. Mata merah bengkak terpampang jelas di wajahnya. Rasa gundah dan pikiran yang melayang tak pernah luput dari sorot wajahnya. Ia berdiri, memandangi teman-temannya yang asyik memeriahkan tahun baru. Matanya terpejam, hampir ia terjatuh namun Vishaka menahannya. "Victor, apa kau baik-baik saja?" tanyanya sembari terus memegangi tubuh Victor yang lemah. Pria malang itu sudah mulai kehilangan dirinya. Alkohol telah menguasainya. Victor melempar tangan Vishaka yang mencoba menolongnya. "Pergi! Biarkan aku sendiri!" ketusnya. Ia melangkah sempoyongan, meninggalkan keramaian pesta. Sementara Vishaka terus memperhatikannya. Gadis pawang ular itu menelan ludah, berdiri mematung dengan sorot mata ke arah Victor, yang terus memijakkan kaki dengan terseok. "Kau telah melakukan kesalahan Zian! Dia akan menghabisimu! Dia telah datang, untuk membalas dendam atas kematian Selena!" ucap Vishaka pelan. Suara bising dan nyanyian pelik di sertai kembang api yang menyatu padu, kini hanya terdengar gemanya saja. Telinga Victor tak lagi mendengar keramaian luar lagi. Pantas saja, ia berdiri di depan cermin besar yang terpajang di dalam kamar mandi. Di bawahnya terdapat keran air komplit dengan bak ubinnya. Victor mengerakkan tangannya, memutar keran air hingga mengeluarkan setetes bening. Ia menunduk, dan membasuh mukanya dengan air keran. Lalu kepalanya menatap ke arah cermin. Betapa terkejutnya ia, setelah menatap ke depan, bukan karena pantulan bayangannya, tapi karena tergores sepatah kata dengan noda darah yang bertuliskan 'YOU WILL BE DIE!' Victor memundurkan langkahnya, ia berbalik hendak pergi namun disambut dengan seekor ular cobra bersisik ungu bercampur merah muda yang mematung, di depan pintu yang tertutup rapat. "U-ular!" ucap Victor terbata-bata. Ular cobra dengan sisik yang berkilau, dan mata mencorong, serta kepala yang terus kembang kempis itu terus mendesis ke arah Victor. Taring tajam di perlihatkan, hingga membuat Victor tak bisa bernafas dengan tenang. Ular itu terus melata ke arahnya, perlahan tubuhnya membesar hingga seukuran tubuh manusia. Sssssttt.... Desisannya semakin kencang merasuk gendang telinga Victor, yang mulai bercucuran keringat. Langkah terus memundur dengan gagap tak bisa berkata-kata, seolah mulutnya terkunci oleh gembok besar. Victor semakin gemetaran, tubuhnya menggigil kaku. "K-kau? U-ular jelmaan?!" ucapnya di sela-sela nafasnya. Ular cobra penuh ambisi dan kemurkaan, mendekatkan kepalanya ke arah Victor. Tubuhnya yang panjang melilit tubuh Victor dan mengangkatnya ke langit-langit. Mulut terbuka lebar, dua taring runcing menonjol keluar. Lidah panjang menjulur ke leher Victor, namun Victor berhasil menghindar. Dengan sekuat tenaga ia memukuli tubuh ular itu, hingga ular itu mau melepaskannya. Tubuh Victor menghantam lantai, ia hendak kabur dari kamar mandi itu. Tangannya meraih ganggang pintu dan memutar-mutarnya, namun tak juga mau membuka. Ia menatap lagi ke arah ular itu. Ia tak tahu lagi harus bagaimana, badannya panas dingin bercampur keringat yang terus bercucur. Kali ini ia pasti akan tamat. “S-siapa pun dirimu, aku mohon lepaskan aku ... Lepaskan aku dan biarkan aku pergi ....” Victor ingat liontin pemberian Vishaka. Ia meraba-raba lehernya dengan gugup. Begitu tangannya berhasil menggenggam liontin itu, ditariklah liontin itu hingga terputus dari lehernya. Ia arahkan berkali-kali liontin itu ke arah ular yang semakin buas. Namun tak terjadi apa pun, ia mulai keheranan. Apakah baterai dalam liontin itu habis atau memang tak berfungsi lagi. Victor geregetan. Ia lempar begitu saja liontin itu ke arah ular itu. Liontin itu tepat mengalung pada leher sang ular. Ular itu semakin murka, ia mainkan ekornya yang panjang melilit tubuh Victor. Di angkatlah tubuh Victor itu ke langit-langit. Lilitannya yang semakin erat kini ular itu lepaskan lagi, hingga tubuh Victor terlontar menghantam ubin. Dan melilitnya lagi, lalu menjatuhkannya lagi. Begitu pun seterusnya, hingga tubuh Victor lemah. Darah segar mulai keluar dari mulut Victor. Terus membanjiri badannya hingga memerah. Tubuhnya lemas tak berdaya lagi. Ia tersimpuh di lantai kamar mandi dengan kepasrahan. Ular cobra yang penuh kemurkaan itu melilitnya kembali, dan meretakkan semua tulang belulangnya. Lalu kemudian mematuk tubuhnya dengan taring tajam yang dimiliki. Hingga akhirnya, Victor tak bernyawa lagi. Tubuhnya sudah terpenuhi bisa ular beracun yang sebentar lagi akan menyebar ke seluruh tubuh. Ular itu melemparnya begitu saja ke lantai. Seolah merasa tak berdosa karena telah membunuh manusia. Ular pasti ada sangkut pautnya dengan Selena, mungkin itu temannya yang berusaha membalaskan dendam Selena. Dari luar, pintu kamar mandi yang Victor gunakan tadi, seperti ada yang mencoba membukanya dari dalam. Ganggang pintunya bergerak dengan sendirinya, seperti ada yang menarik dari dalam. Perlahan pintu itu terbuka lebar, kaki ramping dengan high heels hitam menonjol dan melangkah ke luar. Gaun mini yang dikenakannya mengilat, ketika terpancar sinar lampu. Gaun berwarna ungu kehitaman, rambut panjang dengan ujung yang ikal, dan lipstik merah muda yang merona memperlihatkan dia adalah seorang gadis, tapi siapa itu? Dave, Nia, dan Simon tak menemukan keberadaan salah satu temannya, yaitu Victor. Bahkan Vishaka juga tak terlihat batang hidungnya. Entah ke mana mereka berdua, atau mungkin mereka telah menemukan teman Selena? Jelmaan ular lain yang membalas dendam atas kematian Selena. “Victor...???!!!” “Victorn.....!!!??" teriak teman-temannya memanggil Victor yang tak di temukan. Seorang wanita yang merupakan tamu pesta hendak menuju kamar mandi, ia membuka pintunya. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat mayat seorang pria yang tergeletak di dalamnya. "Aaaa....!!!" pekiknya histeris. Dave dan teman-temannya yang mendengarnya, segera menghampiri ke arah sumber suara. Mereka bergegas menuju kamar mandi. Satu persatu dari mereka melangkah masuk, dan mendapati seorang wanita yang menggigil ketakutan. “Ada apa?!” tanya Dave. “Mayat!” Wanita itu menunjukkan telunjuknya ke arah Victor yang tergeletak. Betapa terkejutnya mereka. Jantung mereka terasa tersendat seperti ada yang menariknya dari d**a. Mata melotot bak mata keong. Mulut teringa-inga seperti hendak menelan nasi. Mereka melihat dengan jelas, bahwa Victor yang tergeletak itu. Teman mereka mati mengenaskan. “Zaiinnnn....!!!” teriak mereka histeris. Mereka berlari menghampirinya. Dave mengecek pergelangan tangannya. Denyut nadinya sudah tak mengalir lagi. Tubuhnya mulai kaku, biru keunguan, dengan mulut yang terus menyumberkan busa. Sama seperti yang Krystal dan Ruchika alami. Semua tanda itu dipastikan karena serangan sang ular. Dan bukan ular biasa, melainkan jelmaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD