Teka Teki Pelaku

3697 Words
Selena menyengir ke arah mereka. Dalam hatinya berkata, "Ini yang aku inginkan, membuat kalian cemas akan kematian! Setiap detik kalian akan merasa di hantui, kalian tak akan bisa tenang! Tunggu giliran kalian satu persatu!" sinis Selena. Dave mulai kebingungan. Tak tahu harus emosi, marah, atau sedih. Pikirannya kacau. Satu lagi temannya telah tiada. “Kalian harus bawa mayat Krystal dari pintu belakang. Polisi masih berada di luar. Kita tidak boleh sampai terlihat oleh mereka!” ujar Dave. Simon membopong tubuh Krystal yang sudah tak bernyawa itu. Dengan begitu terpukul ia terus menggerakkan langkahnya ke depan. Air mata tiada hentinya menerobos dari kelopaknya. Selena berjalan paling belakang. Mata ularnya ia keluarkan dan menatap ke arah mereka. Ia terus menyengir pada mereka. “Tiga! Tiga dari kalian telah lenyap! Dan tinggal kalian berempat yang harus lenyap. Selamat hari berkabung!” gumamnya pelan. “Dendam adalah sesuatu yang tidak dibenarkan, tapi dendam untuk keadilan juga tidak persalahkan!” Senyum sinis dari bibir manis Selena menyeringai. Malam semakin mereda. Fajar hampir menyongsong. Mega kuning sudah siap untuk membentang, dan rembulan sudah mulai kehabisan masanya itu memanjakan malam. Simon berhasil membawa mayat Krystal ke dalam rumah, lewat pintu belakang. Mereka semua seperti mendapat mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Dave menyuruh pelannya untuk membersihkan mayat Krystal. Baru setalah itu mereka bisa menguburkannya. “Apa kita tak mengirimkan pada orang tuanya saja?” usul Selena. “Tidak Selena, kami akan tetap menyembunyikan semua ini dari siapa pun,” ucap Dave. “Sampai kapan?” bentak Devina. “Bahkan orang tua Ravi tak tahu kalau anaknya itu sudah terkubur dalam tanah, lalu Nia? Orang tuanya juga tak tahu kalau putrinya itu sedang menjadi buronan polisi! Dan sekarang Krystal?” “Apakah nanti kau juga akan menyembunyikan kabar kematianku, Dave?” Victor ikut memberontak. “Omong kosong apa yang kau katakan, Victor?” Dave menjadi emosi. “Simon, apa kau juga berpikiran seperti mereka?” Dave menatap ke arah Simon yang merenung bersandar pada kursi. “Baiklah! Sekarang kita beritahu semuanya, orang tua mereka, polisi, bahkan massa! Lalu setelah itu kita yang akan dimintai pertanggungjawaban dan akhirnya kita semua mendekam di penjara! Apa itu yang kalian inginkan?” bentak Dave. Selena mencoba menenangkannya. “Dave, jangan berteriak. Polisi masih ada di luar.” “Aku melakukan semua untuk melindungi kalian, aku sayang pada kalian. Kalian bagaikan adik-adikku. Apa kalian aku tak terpukul atas kematian mereka?” Dave tak lagi bisa berpikir. “Kematian mereka juga menjadi kutukan bagiku! Karena aku orang pertama yang akan disalahkan!” Mendengar ocehan Dave, semuanya menunduk. Mereka tak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang, kecuali menurut para Dave. VictorDave memandang ke arah ventilasi. Agaknya malam gelap sudah beranjak. Dan secercah cahaya fajar dari mega kuning langsat sudah menyongsong. “Kalian bersiaplah, kita akan segera membumikan Krystal, di halaman belakang dekat pemakaman Ravi,” pungkas Dave, lalu enyah dari sana. Langit mulai terang, terpancar sinar mentari dari ufuk timur. Rembulan pun sudah pamit undur diri, kini berganti sang surya yang melaksanakan tugasnya, menerangi dunia. Mega kuning membentang lepas di cakrawala, menyingkirkan awan hitam yang masih menggantung. Tepat di halaman belakang rumah, mereka bersama-sama menguburkan jenazah Krystal di samping makam Ravi. Setelah semuanya selesai, mereka kembali ke rumah. Duduk termenung, di ruang utama. Pandangan mereka kosong tak berisi. Hanya setitik kristal yang menggumpal di kelopak mata, sebagian sudah ada yang mencair membasahi pipi. Ini adalah hari berkabung yang ke sekian kalinya. Mereka telah dikutuk oleh sang ular. Ular yang mereka bunuh telah membawa petaka bagi persahabatan mereka. Hancur lebur, terbakar api dendam. Bahkan salah satu temannya yang ternyata sudah meninggal belum mereka ketahu. “Ular itu telah membawa petaka bagi kami,” lirih Simon. “Bahkan Nia juga belum ditemukan,” sahut Devina. Selena ikut berkomentar. “Mungkin ular itu juga sudah menghabisiny.” “Selena, jaga bicaramu!” Devina marah dengan kata-kata Selena. “Maaf, aku hanya berpikiran saja. Karena kalian bersama-sama membunuh ular itu kan? Mungkin Nia juga sudah menjadi korbannya.” Selena mulai menguras emosi mereka. “Selena benar, mungkin Nia sudah bersama dengan Ravi dan Simon,” pasrah Victor. “Sudah pagi, sebaiknya aku pulang dulu.” pamit Selena. “Kau hati-hati,” ucap Dave padanya. Selena tersenyum ke arahnya. Lalu berbalik keluar rumah. Ia begitu bahagia melihat kehancuran mereka. “Nikmati hari berkabung kalian, semasa itu tunggulah giliran kalian. Selena sudah bangkit untuk menegakkan keadilan!” senyum sinis menyeringai. Selang beberapa hari, salah satu pelayan menemukan mayat temannya yang kaku di dalam gudang. Mayat pelayan dapur, yang juga menjadi korban Selena kemarin. Dave dan lainnya begitu syok mendengar kabar itu. Namun itu tak dipikirkan. Mereka kini menjadi takut akan keluar rumah. Rasa cemas dan waswas akan kematian menyelimuti setiap diri mereka. Mereka menyadari, semua ini adalah ular yang telah mereka bunuh malam itu, di Wastu kuno. Mereka berempat saling berduka cita, berkabung atas kehilangan ketiga temannya, bahkan lebih dari teman, mereka sudah layaknya keluarga sendiri. Kini mereka berkumpul di ruang utama. "Aku yakin ular itu telah bangkit dan mengincar nyawa kita semua! Pertama Ravi, kemudian Krystal, dan pasti Nia juga menjadi korbannya. Lalu siapa lagi di antara kita yang akan menjadi target selanjutnya?!" cemas Victor. "Victor tenangkan dirimu! Tidak akan ada yang terjadi pada kita selagi kita bersama-sama!" tutur Dave. "Tapi ular itu telah bangkit, dia mengincar kita!" tambah Devina. "Aku dengar ular yang bisa bangkit bukanlah ular biasa! Dia jelmaan, ular yang bisa berubah wujud apa pun sesuai kehendaknya," sahut Victor. "Kalau benar, siapa dia? Siapa jelmaan itu?!" Dave bertanya-tanya. “Siapa pun itu, dia pasti sangat dekat dengan kita. Dia bisa mengawasi gerak-gerik kita setiap saat!” tambah Victor lagi. Simon tertawa membuat mereka terheran dan menatapnya. "Tidakkah kalian menyadarinya? Orang yang baru menjadi bagian dari kita!" "Maksudmu, Selena?!" cerca Dave. "Siapa lagi? Saat dia datang, Ravi tiada! Gerak-geriknya juga mencurigakan, apa kau tidak menyadari Dave? Saat dia mencoba menggodamu?!" "Cukup! Dia bukan wanita seperti yang kalian kira! Kau tahu dia anak dari seorang polisi!" tepis Dave. "Bagaimana bisa ada maling mengakui kejahatannya? Dia ular, dan ular itu sangat licik, bisa saja dia berbohong pada kita!" timpal Devina. “Dan kemarin, kemarin saat di kolam renang, aku melihat matanya itu seperti mata ular!” lanjutnya. "Berpikirlah Dave, jangan sampai kau terlalu jauh dengannya, kita harus waspada!" Victor juga ikut menggertak. "Cukup! Hentikan!" Dave berdiri tak mau lagi mendengar hal buruk tentang Selena. Ia beranjak, hendak meninggalkan mereka namun langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang tiba-tiba datang dari balik pintu. Victor, Simon, Krystal pun ikut berdiri dari duduknya. Mereka terbengong melihat seseorang itu. Seketika tubuhnya kaku tak berkutik. Mulut menganga sebagai tanda keterkejutan. Cahaya lilin menyala sendu memancarkan suasana romantis nan syahdu. Api tenang menyulut di atas berbagai batangan putih nan merah yang tertata rapi di sebuah ruangan. Ruangan dengan aroma parfum yang menyerbak. Kasur putih berbalut selimut lembut tertata rapi, dengan taburan mawar yang tersebar luas di atasnya. Minuman dan anggur merah telah tersaji, komplit dengan gelasnya di atas meja kaca. Dave menggandeng Selenakanya menuju kamar itu. Selenakanya dengan gaun seksinya dan mata tertutup kain merah. Ia membuka pintu ruangan itu dengan perlahan. Pintu telah terbuka lebar bersamaan dengan semburan parfum yang keluar. Hidung mancung nan indah Selenakanya mengembus aromanya dengan dalam. Dave membuka balutan kain merah yang membungkam mata indah Selenakanya. Sorot mata Selenakanya akhirnya bisa mengedar ke segala penjuru ruangan. "Bagaimana? Apa kau suka dekornya?" Dave mengajak Selenakanya masuk lebih dalam lagi. Udara dingin dari pendingin ruangan menyentuh pori-pori mereka. Selenakanya menatap ke arah Dave. "Apa kau melakukan semua ini untukku, Dave?" pertanyaan lembut keluar dari mulut gadis jelmaan itu. "Tentu saja! Aku ingin kita lebih dekat lagi, maksudku lebih dari teman!" bisik lembut Dave di telinga Selenakanya. Selenakanya meraba d**a bidang Dave dan tangannya naik begitu saja di atas pipi yang terselimuti bulu tipis. "Aku pun juga ingin seperti itu!" ucapnya pelan. Mata Selenakanya menatap dalam pada bola mata Dave, bibir berlapis lipstik merah mengoreskan tersenyum manis. Namun berbeda dengan hati dan niatnya, dalam benak ia bergumam, "Agar aku bisa membunuhmu dengan mudah!" Dave merogoh remot kecil di sakunya dan menekan tombolnya. Musik romantis nan syahdu terputar tenang merasuk dalam telinga. Dave dan Selenakanya berdansa dengan saling bertatap muka, beradu pandang menikmati malam yang begitu romantis. "Kalau benar Selenakanya jelmaan ular, maka dia akan membunuhku sekarang! Tapi kalau tidak, dugaan mereka telah salah!" batin Dave dalam hati. "Sebenarnya tak ingin membunuhmu sekarang, tapi kau memaksaku untuk melakukannya! Aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini!" sinis Selenakanya dalam benaknya. Selenakanya menghentikan dansanya. Ia bergerak mundur, berjalan dengan gaya yang menggoda. Hingga tiba di sebuah meja kaca, ia berhenti. Tangannya meraih segelas jus anggur biru dan memamerkannya pada Dave. Jemarinya mengambil sebuah anggur ungu yang tersedia di atas piring, ia mencium anggur itu dan diam-diam memasukkan bisa ularnya dalam anggur, lalu anggur itu ia masukkan dalam jus biru dengan gerakkan yang menggoda. Dave memandanginya dengan senyuman, ia melangkah pelan ke arah gadis cantik nan seksi itu. Mereka saling dekat satu sama lain. "Kau mau minum ini Dave? Jus anggur rasa ciumanku!" tanya Selenakanya dengan nada menggoda. Dave memegangi segelas jus beracun itu, ia hendak meminumnya. Ujung gelas sudah menyentuh bibirnya, namun tiba-tiba ia mengetikkannya. Lalu menaruhnya kembali di atas meja. Selenakanya kesal dalam hati. Namun ia coba untuk tetap bersinar. "Aku akan meminumnya nanti, tapi biarkan aku mempersembahkan segelas minuman yang sama untukmu!" Tangan Dave menuangkan sebotol anggur merah dalam sebuah gelas kaca bening. Air menggerojok dengan buih-buih di permukaan. Lalu Dave menyodorkannya pada gadis yang tengah berdiri di depannya itu. "Minumlah! Kau akan merasakan kenikmatan yang luar biasa!" bisik Dave dalam telinga Selenakanya. "Atau aku harus menyuapimu?" tanya Dave. "Jika kau mau, maka baiklah!" balas Selenakanya dengan nada pelan dan mendesah. Dave meraba pipi mulus Selenakanya, sementara tangan kanannya memegangi segelas anggur merah untuk di minumkan pada Selenakanya. Gadis jelmaan itu memejamkan matanya, merasakan sentuhan telapak tangan kekar Dave yang mengelus lembut pipinya. Begitu dalam dan penuh perasaan. Ia biarkan begitu saja tangan itu menjelajahi pipi lembutnya. Dave meminumkan segelas anggur merahnya ke mulut seksi berlapis lipstik milik Selenakanya, hingga tak menyisakan sisa. "Bagaimana apa ini lezat??" tanya Dave. Selenakanya membuka matanya, dan berkata, "Minuman ini membuat darahku mendesir!" "Tunggulah beberapa saat lagi, kau akan merasakan kenikmatan yang luar biasa!" seru Dave sembari meletakkan gelas kosongnya di atas meja. Selenakanya melirik ke arah gelas satunya, yang berisi bisa ularnya. "Sekarang giliranmu untuk meminumnya!" ucapnya menggoda. Tangannya hendak meraih gelas itu, namun tiba-tiba Kepalanya terasa pusing. Ia meremas keningnya yang seperti dipukul seribu kayu, pandangan menjadi bergoyang seolah terjadi gempa bumi dalam kamar itu. "Dave apa yang terjadi padaku?!" ucapnya di sela-sela pusingnya. Tiba-tiba terdengar suara rekaman dari ponsel. "Selena, aku mohon lepaskan aku! Kami minta maaf karena telah menyiksamu!" "Siapa pun tidak bisa menghindar dari kemurkaanku, aku sudah membunuh Ravi dan Nia. Dan sekarang adalah giliranmu! Dendam akan terbalaskan!" Selenakanya terkejut, ia menyadari itu adalah suaranya dan juga suara Krystal. Nada suara yang sama saat ia mencoba menghabisi Krystal. Selenakanya terheran dari mana sumber suara itu, ia menatap ke arah Dave yang memandang sinis ke arahnya. Tiba-tiba pintu terbuka lebar, Karan, Victor, dan Devina, datang mengagetkan Selenakanya. Selenakanya lebih terkejut lagi ketika melihat seorang wanita yang tengah memegangi ponselnya dengan mengangkatnya setinggi bahunya. Selenakanya melotot ke arahnya. "Kau? Bagaimana ini mungkin?!" Gadis itu tak lain adalah Nia, yang berhasil lolos dari mautnya. Nia memiringkan senyumnya, dan melempar-lempar kecil ponselnya dan menangkapnya lagi, ponsel yang terus mengeluarkan suaranya. "Bangun Krystal! Bangun! Kau ingat kau pernah melemparku dengan batu, memukuliku tak kenal ampun! Dan sekarang kau memohon ampun padaku! Sayangnya aku tak sebaik itu! Aku adalah jelmaan ular." Ponsel telah berhenti, kini giliran Nia yang siap melanjutkan. "Kenapa Selena? Apa kau terkejut? Kami sudah tahu wujud aslimu!" ketus Nia. "Bagaimana ini mungkin?!" Selenakanya keheranan dengan terus memegangi kepalanya yang mendadak pusing setelah meminum jus anggur tadi. "Itu mungkin!" sahut Dave. Di saat Victor, Karan, dan Devina, menuduh Selenakanya adalah seorang jelmaan ular, Dave marah dan hendak pergi, namun langkahnya terhenti ketika melihat datangnya seseorang. Mereka semua terkejut melihat kedatangan Nia dengan wajah kusam dan penuh noda tanah. "Nia? Kau? Kau masih hidup?!" Mereka terheran. "Iya aku masih hidup, dan kau tahu siapa yang melakukan semua ini?!" "Siapa?" "Tak lain dan tak bukan adalah Selena! Dia adalah penipu, licik, dan seorang jelmaan ular!" jelas Nia mantap. "Tidak mungkin!" Dave menggelengkan kepalanya. "Kau akan percaya setelah melihat dan mendengar ini!" Nia menunjukkan ponselnya yang berisi rekaman video pada mereka. Ternyata yang merekam Selena ketika membunuh Krystal adalah dirinya, yang bersembunyi di balik semak-semak waktu itu. Ponsel itu merekam semua adegan di mana Selena membunuh Krystal dan mengungkapkan hati dirinya. Mereka semua terkejut mendengar dan melihat apa isi ponsel itu. "Bagaimana kau bisa selamat?” tanya Karan. Nia menjawab, "Selena kira aku telah jatuh ke jurang, tapi aku masih bertahan di antara dahan pohon, aku mencoba naik ke atas dan selama itu bersembunyi untuk membongkar semua kejahatannya!” "Sekarang kau percaya, kalau Selena adalah musuh kita, Dave?" gertak Devina. Dave terpukul namun juga marah. "Baiklah! Sama seperti dia menjebak teman-teman kita, kita juga akan menjebaknya!" ucapnya mantap. *** Selena merasakan pusing yang luas biasa di keningnya, aliran darahnya mendesir hebat seperti ada sengatan listrik di dalamnya. "Kau sudah menunjukkan kekuatanmu! Sekarang kami yang akan menunjukkan kekuatan kami!" bentak Karan. "Kita yang mulai, dan kira juga yang mengakhiri!" sahut Victor. Dave ikut bicara, "Tunjukkan wujud aslimu jika kau bisa! Jus yang kau minum itu bukanlah sekedar jus, itu adalah minuman bercampur daun Bilva, racun bagi jelmaan ular! Minuman itu akan menetralisir semua bisamu hingga kau tak berdaya!" Selena bergerak ke arah mereka. Dave memencet tombol remot-nya, dan tiba-tiba terdengar suara seruling ular merasuk gendang telinga Selenakanya, hingga membuatnya merasa kepanasan. Selena mengerang kesakitan dengan tangan yang membungkam telinganya. "Hentikan!" teriaknya. Selenakanya berubah menjadi setengah ular, namun sebelum ia menyerang, tiba-tiba jaring kawat jatuh dari atap menimpanya. Tubuhnya terjerat hingga membuatnya tak bisa bergerak. Ia terus mencoba menggerakkan tubuhnya, ekornya mencoba menyingkirkan jaring kawat yang menjeratnya, namun justru ia malah semakin terjebak. Efek daun Bilva juga sudah mulai menyerang racun di dalam tubuh, perlahan bisanya mulai hilang. Mereka semua tertawa melihat gadis jelmaan itu tak bisa apa-apa. Devina berbicara padanya. "Kenapa Selena? Tunjukan kekuatanmu itu! Gadis jelmaan yang bodoh! Kau meminum jus ini!" Devina memegangi segelas jus yang ada di majalah. Jus itu berisi racun ular Selenakanya, yang tadinya disuguhkan untuk Dave. "Bagaimana mana kau meminumnya tadi? Ha? Apa seperti ini?!" Devina meminum segelas jus ungu itu, tanpa disadari jus itu sudah berisi bisa ular yang Selenakanya masukan tadi. "Ufff... Sangat lezat!" Mereka menertawakan Selenakanya lagi. Namun Selenakanya membalasnya dengan tertawa terbahak-bahak hingga membuat mereka terdiam. "Apa kau tertawa itu terakhir kalinya Selenakanya?!" ujar Dave pada Selenakanya. "Siapa yang bodoh? Kalian atau diriku?” Selenakanya menatap ke arah Devina. “Kau tahu apa yang kau minum, Devina?!" Selenakanya tertawa lagi. "Racunku! Kau telah meminum segelas racun yang harusnya diminum oleh Dave!" Tiba-tiba Devina merasakan sesuatu dalam tubuhnya, daranya seperti tersengat listrik. Buih putih mulai keluar dari mulutnya. Semua temannya terkejut melihatnya, sedangkan Selenakanya terus tertawa memekik. "Devina!" teriak Victor. Devina hendak roboh, namun Victor segera membopongnya keluar kamar. Victor membaringkan tubuh Devina yang sudah mulai membiru, dengan mulut berbusa di atas kursi panjang. Air matanya menetesi kulit Devina yang sudah kaku. "Z-Victor!" Suara dengan nada berat keluar dari mulut Devina yang terus menyumber buih-buih putih semacam busa. Sepertinya, racun Selenakanya sudah menyebar sempurna di setiap aliran darahnya. "Devina! Aku tidak akan membiarkanmu kenapa-kenapa!" Victor memegangi pipi Devina. Tangan Devina bergerak dan menyentuh pipi Victor, menyeka air mata yang sedari tadi berlinang dari sudut pupilnya. "Z-Victor ... Sebelum aku tiada ... Aku ingin katakan sesuatu padamu!" "Tidak! Tidak Devina, tidak! kau tetap hidup!" "Victor ... racun itu sudah menyebar ke seluruh tubuhku, dengarkan kata-kataku ini!" lirih Devina dengan nada suara pelan dan semakin pelan. Ia mengelus pipi Victor. "Victor ... aku ingin katakan padamu, bahwa sebenarnya ... sebenarnya aku sangat mencintaimu! I love you, Victor!" Seketika Devina langsung menghentikan perkataannya, tangan yang awalnya mengelus pipi Victor kini tergeletak, bersamaan dengan itu matanya juga tertutup untuk terakhir kalinya. Victor panik, histeris, ia menggoyang-goyangkan tubuh Devina tanda tak terima, gadis yang dicintainya selama ini meninggalkannya untuk selama-lamanya. Dan ternyata dia juga menyimpan perasaan yang sama terhadapnya. "Devina! Bangun! Kau bilang kau mencintaiku, kan? Kenapa setelah kau mengatakannya kau pergi meninggalkanku? Kenapa? Sejak dulu aku mencintaimu, aku menunggu saat di mana kau juga mengatakan perasaan yang sama, tapi sekarang setelah itu terjadi kenapa kau malah tiada!" Victor terpuruk, terpukul, dan terenyuh! Ia dekap erat kepala Devina dalam pelukannya. Air mata tak ada habisnya mengalir deras dari sudut matanya, seolah mata itu adalah sumber air yang terus mengalirkan mili air. Mulutnya berteriak memekik seperti orang gila, dengan mendongakkan kepalanya ke atas. "Devinaaaa.......!!!!" Di sebuah kamar, Selenakanya berubah menjadi ular seutuhnya, dua taring tajam menonjol ke luar dari mulutnya. Kepalanya mengembang sempurna, dengan mata kuning menyala tajam. Desisannya begitu berat mencoba mengalahkan suara seruling ular. Bunyi seruling ular yang keluar dari DVD membuatnya terhipnotis. Ular cobra hijau berukuran sebesar pelepah pisang, dengan panjang 3 meter itu menggeliat kesakitan akan ramuan daun Bilva yang menyerang bisanya dalam tubuh. Lidah yang panjang selalu ia julurkan, kepalanya kembang kempis dengan sorot mata tajam kuning mencorong. Desisannya sangat kuat keluar dari mulutnya. Ia terus gerakkan tubuh panjangnya yang terkurung dalam jaring kawat. Karan, Nia, dan Dave terus menyaksikannya dengan tatapan sinis. Mereka menikmati setiap sakit yang Selenakanya rasakan, rasa sakit tak sebanding dengan kehilangan tiga temannya. Ravi, Krystal, dan Devina. Karan memiringkan senyumnya, menatap tajam ke arah ular jelmaan Selenakanya. "Selenakanya! Apa kau merasakan apa yang kami rasakan sekarang? Kau telah membunuh teman-temanku, sekarang kami yang akan memberikan kematianmu dengan sangat kejam!" "Tipu daya yang kau lakukan! Kepercayaan yang kuberikan! Kau telah hancurkan semua itu, sekarang terimalah apa yang menjadi imbalanmu!" sinis Dave. Nia bergerak keluar kamar meninggalkan mereka. Ketika ia menuruni tangga, pandangannya terpacu pada Victor yang menangisi kematian Devina. Ia mendekat ke arahnya. “Victor, kuatkan dirimu! Aku juga pernah merasakan hal ini,” lirihnya. “Bagaimana Selenakanya begitu kejam? Dia telah membunuh orang yang aku cintai bahkan sebelum aku bisa mengungkapkan perasaanku padanya,” isak Victor. “Kematian Devina tidak akan sia-sia, Selenakanya harus merasakan sakit terlebih dahulu sebelum kematiannya menjemput. Aku bersumpah, aku akan menyiksanya. Dia datang untuk membalas dendam pada kita bukan, lihat biar dendam itu yang akan membakar dirinya!” murka Nia. “Sebelum Selenakanya lenyap untuk selama-lamanya, kita tidak akan menguburkan jasad Devina!” sahut Victor. Nia mendungku, dan mengelus kening Devina yang sudah kaku. “Kematianmu akan terbalaskan Devina, tenanglah di alam sana. Dan katakan pada Ravi dan Krystal bahwa kami sudah menangkap musuh terbesarnya!” ucap Nia pada jasad Devina. Kemudahan ia berdiri. Bergerak menuju pintu belakang rumah. Dan keluar dari sana. Karan dan Dave mengikat Selenakanya dengan rantai besi besar dan menyeretnya keluar ruangan. Dengan penuh kekuatan, akhirnya mereka berdua berhasil menarik ular sebesar pelepah pisang itu hingga keluar menuju halaman rumah belakang. Di tengah malam buta, angin mendesir, suasana pekat nan sunyi tergambar. Lambaian dedaunan dari pohon saling menggugurkan daunnya. Diterpa serayu malam. Malam gelap, tanpa ada rembulan. Nia memegangi obor yang menyulutkan api kecil biru, dengan asap yang terus menyembul. Lalu berdiri tegak penuh kemarahan. Di sampingnya terdapat tumpukan kayu dan bara api yang tertata rapi di bawah kayu. Matanya tertuju pada Karan dan Dave yang datang dari pintu dengan menggeret ular cobra jelmaan Selenakanya ke arahnya. "Bawa ke sini, ular jelmaan itu!" teriak Nia dengan nada penuh kemarahan. Dave dan Karan terus menggeret ular cobra yang sudah lemah itu, dengan rantai yang melilit tubuhnya. Tepat di depan tumpukan kayu itu, Dave mengikat rantainya di sana. Sedangkan Karan mengambil setangki bensin bercampur minyak tanah, dan menyiramnya ke seluruh tubuh ular cobra jelmaan Selenakanya. Nia menatap ke arah ular itu dengan sinis, dan berkata, "Permainanmu sudah berakhir Selenakanya! Game over! Kau sudah kalah dan kami yang menang!" Ular cobra itu tak bisa apa-apa, cairan daun Bilva yang ada di tubuhnya telah membuatnya melemah. Hanya bisa memandangi mereka dengan mata tajamnya. Nia memandangi obor api yang di peganginya, matanya terfokus pada kobaran api yang terus menyulut. "Kau telah menghabisi kekasihku! Sekarang kau akan terbakar habis dengan semua dendammu!" Ia menyulutkan api ke arah tumpukan kayu yang di tengahnya terdapat ular cobra jelmaan Selenakanya, terikat erat dengan rantai besi. Api dengan begitu cepat menjalar dengan sempurna, hingga meraih tubuh panjang Selenakanya Karan ikut mengambil obor api dan bersiap melemparkan ke arahnya juga. "Dan ini untuk Krystal, yang telah kau habisi dengan kejam! Hanguslah kau Selenakanya!" Karan melemparkan obor yang dipeganginya hingga membuat api semakin menyebar. Semburan asap hitam pekat mulai keluar. Ular cobra itu menggeliat kepanasan. Victor keluar dari pintu, menuju halaman. Langkah demi langkah ia ambil ke arah teman-temannya yang tengah membakar ular jelmaan Selenakanya. Victor berjalan dengan pandangan ke arah api yang terus menyulut, penuh kebencian atas meninggalnya wanita yang ia cintai selama ini. Teman-temannya mengalihkan pandangannya ke arahnya. Menunggu kedatangan Victor untuk ambil bagian pembakaran masal itu. Victor pun malangkah lebih dekat ke arah mereka. Nia mengambil obor api, dan memapaknya lalu memberikan obor itu pada Victor. "Dia telah meracuni Devina, Sekarang giliranmu membakarnya habis!" sinis Nia. Victor melangkah ke arah kobaran api itu, dengan obor yang dipeganginya. Pandangan tajam terus terfokus pada ular yang menggeliat kesakitan dalam kobaran api. Victor memiringkan senyumnya. "Kau lihat Selenakanya, siapa yang tersenyum akhirnya? Kesombonganmu telah terbakar habis, nikmati hidupmu dalam kobaran api ini!" Victor melempar obor apinya hingga membuat api semakin membesar, dengan sekejap melahap dan meraibkan tubuh Selenakanya. Ular cobra jelmaan Selenakanya telah terbakar hangus, semburan api dan kepulan asap abu-abu menyembul ke atas. “Selamat untuk kematian keduamu Selenakanya!” kata Dave. Sejatinya Dave tak tega melihatnya. Baru saja ia mulai tertarik pada Selenakanya, tapi ternyata gadis yang dicintainya bukanlah manusia, melainkan jelmaan ular. Jelmaan yang telah merenggut tiga temannya darinya. Ravi, Krystal, dan Devina, telah dihabisi secara kejam olehnya. Mereka berempat memandangi kobaran api yang terus membakar, merentakkan kayu-kayu yang mengikat tubuh Selenakanya. Bersamaan dengan itu, Selenakanya telah musnah, tiada untuk selama-lamanya. Apakah ini adalah akhir dari kisah Selenakanya? Apakah ini ending dari segalanya? Lalu bagaimana dengan balas dendamnya yang belum usai? Sementara pelaku kejahatannya masih bisa bernafas bebas! pembunuhnya masih berdiri tegak! Lalu bagaimana dengan keadilan? Keadilan harus di tegakkan bukan? Sementara wujud dari keadilan itu telah sirna ditelan api.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD