Multivers

1467 Words
Malam semakin larut. Krystal berlari secepat kilat untuk lari dari cengkeraman Selena. Dengan peluh keringat yang terus merembes, ia menerjang setiap semak belukar yang menghalanginya. Sesekali pandangannya ia arahkan ke belakang, untuk mengecek apakah Selena masih mengejarnya atau tidak. Seekor ular cobra hijau terlihat sudah di belakangnya, menyusur mengejar Krystal. Desisannya sangat kuat merasuk ke gendang telinga Krystal. Ular cobra sebesar pohon pisang dan sepanjang sekitar 5 meter itu, bergerak ke arahnya dengan gesit. Kepalanya mengembang sempurna bak sendok raksasa, dan lidahnya yang terus menjulur mengeluarkan desisan mengerikan dari mulutnya. Krystal histeris, ia tahu itu pasti Selena yang sudah berubah wujud. Krystal berdiri, menatap ke arahnya dan berjalan mundur. Sebongkah akar pohon yang menonjol ke permukaan, menjerat kakinya hingga terjatuh. Ular cobra itu terus bergerak ke arahnya dengan buas. "Aaaa!!!" Krystal berteriak keras. Dengan tubuh yang tersimpuh ke tanah, ia gemetaran. Degupan jantungnya terpompa kencang, ia mengesot ke belakang. Kulitnya lembap akan peluh keringat, disertai tangisan mengisak. Ular itu berubah menjadi setengah manusia, dengan wajah Selena. Selena tertawa terbahak-bahak, dengan terus mengerakkan ekornya yang panjang ke arah Krystal. Ia memamerkan mata ularnya yang berwarna kuning dengan setitik bola mata biru yang mencorong. Seluruh kulitnya ditumbuhi sisik-sisik mengerikan, sisik ular berwarna hijau berlapis kuning muda. Lidah panjang menjulur ke luar dari dalam mulutnya yang berbisa. Tangan geram mengepal sempurna, seluruh ototnya menonjol diperlihatkan dari lehernya, mulutnya bergetar menyimpan dendam dan amarah yang menggebu. Krystal masih gemetaran melihat wujud mengerikan Selena, ia seperti melihat monster dalam film. ia tak kuasa untuk berdiri lagi dan berlari. Hanya bisa menggeret tubuhnya mundur, dan wajah sayu penuh ketakutan. "Selena, aku mohon lepaskan aku! Kami minta maaf karena telah menyiksamu!" Krystal terus membujuknya dengan melipat tangannya memohon ampun, seraya gemetar. "Siapa pun tidak bisa menghindar dari kemurkaanku! aku sudah membunuh Ravi dan Nia. Dan sekarang adalah giliranmu! Dendam akan terbalaskan!" Selena menggerakkan ekornya untuk bermain peran. Ia lilit tubuh Krystal dan mengangkatnya tinggi-tinggi, lalu ia jatuhkan kembali tubuh itu. Begitu keras terhantam ke tanah. Krystal mencoba bangun dari jatuhnya. Tulangnya itu seperti retak akibat lontaran keras. Nafasnya tak beraturan. Segala peluh keringat terus bercucuran menembus pori-pori Krystal. Ia terus memohon sebisa mungkin agar Selena mau mengampuninya. “Ingatlah malam itu, Krystal! Kalian menyiksaku di bangunan kuno itu. Apa kalian memberiku ampun? Ha!” bentak Selena. “Bahkan saat itu aku sudah mau pergi, tapi kau! Kalian! Semuanya menghujaniku dengan batu! Apakah aku harus menimbunmu dengan batu juga sekarang? Ha? Katakan!” lantang Selena. “Kami minta maaf telah menyiksamu, tolong ampuni kami!” Krystal terus saja memohon, dengan tangan melipat dan wajah penuh ketakutan. “Pembalasan lebih kejam dari pada perbuatan! Jika aku mengampunimu sekarang, maka para manusia tidak akan jera dengan perbuatannya. Mereka harus tahu, kalau setiap tindak kejahatan akan mendapat balasan yang setimpal. Apa yang tertanam pasti akan tertuju, apa pun itu!” Ekor panjang Selena melilit tubuhnya lagi dan mengangkatnya sampai ia sulit untuk bernafas. Selena menjatuhkan Krystal lagi, hingga menimpa batang pohon. Dari balik semak, terlihat seseorang menyongsong handphone. Orang itu merekam semua adegan pembunuhan seekor ular terhadap manusia, yang penuh brutal dan buas. Semua gerak-gerik telah terekam jelas dalam sebuah ponsel. "Bangun Krystal! Bangun! Kau ingat kau pernah melemparku dengan batu, memukuliku tak kenal ampun! Dan sekarang kau memohon ampun padaku! Sayangnya aku tak sebaik itu!" “Selena, kau adalah teman kami. Ka-kami mengajakmu berteman bukan untuk membunuh. A-kan ... akan kuberi kau uang, iya uang ... Kau mau kan?” tawar Krystal sesenggukan. “Bodoh! Manusia bodoh! Bisa-bisanya kau menyogokku dengan uang! Apa kau tak lihat wujud asliku? Aku adalah jelmaan ular! Kematianmu sudah berada di genggamanku! Bahkan malaikat maut tidak bisa menghentikanku saat ini!” Selena berubah menjadi ular seutuhnya, ular cobra dengan taring tajam yang menonjol dari mulutnya, mengeluarkan desisan mengerikan dan bergerak ke arah Krystal yang di landa ketakutan. Ular itu semakin dekat ke arahnya, kepalanya yang mengembang sempurna begitu buas berada tepat di wajah Krystal. Ssssttt.... Desisannya menjadi baground tegang pada d**a Krystal. Ular itu membuka mulutnya, terdapat gigi runcing dan juga taring tajam yang saling berhadapan. Lidahnya merah lengket, dan terus menjulur ke arah Krystal. Bayangkan saja jika dua taring berbisa itu mencabik-cabik setiap tubuh, dan mengoyak-ngoyaknya. Sungguh mengerikan nan sadis. Detak jantung Krystal tak kuasa lagi mendengar desisan mengerikan itu. Jantungnya itu seperti lari kuda yang berusaha meloncat dari dalam d**a. Krystal terpenggal-penggal, pasrah akan hidupnya. Selena menarik kepalnya ke atas, dan menjatuhkan begitu kuat. Menukik dan mematuk leher Krystal dengan taringnya yang berbisa. Krystal tergeletak di atas tanah. Tubuhnya lemas tak bertenaga. Ia tak lagi bisa lari, apalagi melawan ular itu. Kematiannya sudah di ujung tanduk. Malaikat mau sudah siap untuk menjemputnya. Kreekkk...!!! Terdengar suara kaki yang menginjak ranting pohon. Itu adalah suara seseorang yang diam-diam merekam semua adegan tadi. Seseorang yang berada di balik semak, yang tak sengaja menginjak ranting. Begitu suara itu terdengar dalam telinga sang ular, Selena buru-buru membelokkan kepalanya ke arah ranting. Mata tajamnya mengarah pada segerombolsemak itu, yang terus bergoyang dengan sendirinya. Selena yakin ada seseorang yang berada di balik semak itu, dan mungkin saja seseorang itu menyaksikan semuanya. Ular cobra jelmaan Selena menyusur ke arah semak itu. Namun tak menemukan apa pun. Mata ularnya yang tajam itu tak bisa merekam apa pun kecuali hanya semak-semak belukar. Ia berubah menjadi manusia lagi. “Siapa yang sebenarnya orang itu? Atau itu hanya hewan liar saja?” Selena berpikir. Sementara di sisi lain, Simon tak menemukan Krystal di kamarnya. Sudah ia cari di mana-mana tapi tak bisa ditemukan. Ponselnya juga masih ada di kamarnya. Ke mana dia malam-malam seperti ini? Simon mulai khawatir akan terjadi apa-apa pada pacarnya itu. Ia membangunkan semua orang. Kini semua orang berkumpul di ruang utama. Hanya Selena saja yang ada. “Ke mana mereka berdua?” Dave keheranan. “Mungkin mereka jalan, cari udara segar,” pikir Victor. “Selarut ini? Krystal tak biasa berada di luar, dengan udara sedingin ini,” sangkal Simon. Bahkan penjaga rumah mereka tak melihat mereka berdua. Jam pun sudah menunjuk pukul 3 dini hari. Dan sebentar lagi fajar pasti menyongsong. Mereka semua berencana untuk mencarinya keluar. Mereka panik tak juga menemukan keberadaan Krystal maupun Selena. Mereka saling berpencar, hingga masuk ke dalam hutan belakang rumah. Semuanya saling memekik memecah keheningan malam, berteriak memanggil nama Krystal dan Selena. "Krystal!” "Selena!" pekik mereka saling bersahutan. "Ke mana mereka berdua pergi?!" Dave mulai gusar. Simon semakin panik, ia khawatir akan terjadi sesuatu pada kekasihnya itu. Ia tak bisa membayangkan jika harus kehilangan Krystal. Malam semakin larut. Selena mendengar pekikan mereka. Selena mulai berpikir bagaimana jika mereka melihat Krystal dalam keadaan seperti ini. Racunnya juga belum sepenuhnya bereaksi dalam tubuh Krystal, entah berapa lapis kekebalan tubuhnya itu. “Aku harus berpura-pura di depan mereka,” gumam Selena. Ia mengambil sebongkah kayu tajam, dan menggoreskan pada kulit lembutnya. Tumpahlah darah beracunnya itu. Kemudian ia berteriak. “Aaaaa!” Mendengar teriakan Selena, Dave dan lainnya langsung bergegas menghampirinya. Di sebuah pohon besar, mereka melihat Selena tengah menggigil ketakutan dengan raut wajah yang dibuat-buatnya. "Selena? Ada apa?!" tanya Dave, sembari bergerak ke arahnya. Selena memeluk erat Dave, ia mulai berakting. "Krystal" "Apa yang terjadi pada Krystal?!" sahut Simon mulai tak tenang. Selena mengerakkan tangannya, jari telunjuknya menunjuk ke arah Krystal yang tergeletak lemas di bawah akar-akar pohon yang menonjol, dengan tubuh yang kaku dan membiru, mulutnya mengeluarkan berbagai buih-buih putih semacam busa. "Krystaaaall....!!!!" pekik Simon berlari ke arah kekasihnya. "Siapa yang melakukan ini?!" bentak Dave. Simon menghampiri Krystal yang di ambang maut. Ia letakkan kepala lemas Krystal dalam pangkuannya. Air mata menitik dari sudut pupilnya dan menjauhi pipi Krystal. “Bagaimana ini bisa terjadi, kenapa?” isak Simon. Krystal teringin mengerakkan bibirnya. Namun begitu sulit. Matanya terfokus pada Selena yang cengengesan memandanginya. “U-ular ... Den-ndam ....” Krystal tak berkutik lagi. Kepalanya sudah tersungkur ke samping. Nafasnya juga tak ditemukan lagi. Ia telah tiada. Simon mengecek nadi Krystal, tak menunjukkan aliran apa pun. Kekasihnya itu telah tiada dengan mengenaskan, seluruh tubuhnya dipenuhi racun yang mematikan. Hingga sekujur tubuhnya membiru, sedangkan mulutnya berbusa. “Krystaaaal.....!!!” pekik Simon tak terima. Ia terus berteriak histeris menghadap ke atas dengan menyebut nama Krystal. “Selena, katakan pada kami, kenapa semua ini bisa terjadi?” tanya Devina. “Sebenarnya ... Ular ... Ular besar, berwarna hijau ... Dia menyerang kami!” alasan Selena. Dave melirik lengan Selena yang berdarah. Darah karena goresan yang Selena buat dengan sendirinya. “Kau tak apa?” “Tidak!” jawab Selena. "Kalian tahu mengapa ular itu menyerang Krystal?! Kenapa hanya Krystal yang diserang, dan ular itu tak menyerangku sama sekali!” Selena berlagak polos. Dave tampak berpikir. Victor menghampirinya dan berbicara padanya. "Kau tahu ini semua pasti akan terjadi! Ular itu telah bangkit untuk membalas dendam! Kalian menertawakanku kan, saat di mobil? Sekarang lihat apa yang terjadi pada Krystal?!" bentak Victor. "Victor, diamlah! Aku juga bingung!" Dave ikut membentak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD