Ancaman

3109 Words
Celaka!” “Bagaimana jika pawang ular itu menangkapku? Lalu rahasiaku akan terbongkar sebelum waktunya?” “Terus bagaimana dengan balas dendamku yang masih belum tuntas? Masih ada empat orang yang belum aku lenyapkan, lalu bagaimana jika kedokku tertangkap basah?” Selena mulai kebingungan. Apa yang harus dilakukannya sekarang. Jika ia pergi secara tiba-tiba, maka itu malah akan mengundang kecurigaan yang mendalam. Tapi bagaimanapun, ia harus tetap pergi dari mautnya itu. Tiga pria berbadan besar dan bertubuh tinggi itu berjalan menghampiri Dave. Mereka memasang wajah senyum semringah padanya, namun pada ular mereka akan memasang wajah ganas. Seganas musang yang melihat sang ular. Mereka bersalaman pada Dave. Selena mengambil langkah mundur. Teringin ia segera angkat kaki dari sana, sebelum para pria berbaju hitam itu menerkamnya habis-habis. Ketika melihat trompet yang dipeganginya sudah membuatnya gemetar panas dingin, apalagi jika trompet itu dimainkan, bersiap gendang telinganya akan terbakar hangus. “Aku ingin kalian bertiga mengusir ular yang bersembunyi itu dari rumah ini!” ujar Dave pada mereka. “Kau tenang saja tuan, aku pastikan ular itu segera angkat kaki dari istana tuan,” janji salah satu dari mereka. “Bagus! Lakukan tugasmu sekarang!” Dave menyadari Selena tak lagi di sampingnya. Ia memalingkan wajahnya, kemudian ia melihat Selena yang gemetaran di sudut ruangan. Dave menghampirinya. “Selena, ada apa denganmu? Kenapa kau begitu ketakutan?” tanya Dave keheranan. “A-ku ... A-ku ... aku ....” “Sudahlah kau tak perlu takut. Ular itu pasti akan tertangkap!” ujar Dave. “Ularnya ada di sini, dan aku yang akan tertangkap,” batin Selena dalam hati. Tiga pawang ular itu menyongsong trompetnya, dan meniupnya bersama-sama. Bak malaikat Israfil yang meniup sangkakala kematian bagi Selena. Suaranya yang khas mulai menggema di seluruh ruangan. Bunyi khas seruling ular pada umumnya. Krystal tiba-tiba bangun dari tidurnya. Bersamaan dengan Simon, ia melihat bunyi bising apa yang memenuhi seluruh penjuru rumah itu. Mereka berdiri di antara pagar tangga. “Maaf teman, jika suara ini mengganggu istirahat kalian. Karena ini lebih penting untuk mengusir ular itu dari rumah kita!” ujar Dave pada mereka, ia agak sedikit meninggikan nada bicaranya, takut akan tersaingi suara seruling. Selena mulai tak tenang. Seperti ada api membara yang masuk ke dalam telinganya dan membakar gendangnya. Bersamaan dengan itu tubuhnya mulai panas, beberapa di antara kulitnya sudah mulai menonjolkan sisik hijaunya. Ia tak bisa apa-apa, hanya berdiri mematung di sudut ruangan. Lantaran Dave juga berdiri tak jauh darinya. “Tamatlah riwayatku sekarang!” gumamnya pelan. Ia mulai tak bisa mengontrol dirinya. Suara seruling itu memekakkan telinga dan memaksa tubuhnya untuk menari seiring alunan nadanya, hingga akhirnya ia berubah wujud menjadi ular. Jika ia terus-terusan berdiam diri di sana, maka semuanya akan berakhir. “Aku harus segera memikirkan sesuatu untuk segera pergi dari sini!” Selena mendekat ke arah Dave. Ia berkata, “Aku akan ke atas, melihat keadaan Devina,” pamitnya pada Dave. Dave mengangguk, mengiyakan permintaan Selena. Segaralah Selena berlari menuju tangga. Menaikinya saja sudah membuatnya pusing akibat terus terserang nada seruling ular sialan itu. Mata ularnya mulai menonjol, dan beberapa sisiknya terlihat di setiap betisnya. Ia berpapasan dengan Simon dan Krystal yang ada di tangga. “Kau mau ke mana, Selena? Apa kau baik-baik saja?” tanya Krystal yang keheranan melihat Selena yang seperti orang mabuk. “Aku baik-baik saja,” jawab Selena dengan menunduk, takut akan mata ularnya terlihat oleh Simon dan Krystal. Kemudian ia berlalu begitu saja. Selena memasuki kamar Nia. Ia tutup rapat pintu kamar Nia itu. Namun suara seruling masih saja menembus tembok tebal kamar. Selena tak tahan lagi, sepertinya ia akan berubah menjadi ular sekarang. “Aaaaaa!!!” Ia mengerang kesakitan. Tubuhnya roboh di lantai, dan menggeliat kepanasan. Seperti ada api membara yang membakar seluruh tubuhnya. Sedangkan kedua telinganya ia bungkam rapat-rapat dengan kedua tangannya. Sisik ular sudah memenuhi semua kulitnya. Gadis itu tersimpuh tak berdaya. Wajah cantiknya berubah menjadi mengerikan. Tak butuh waktu lama, akhirnya Selena berubah menjadi ular sepenuhnya. Tubuhnya yang seksi mendadak menjadi panjang. Sekujur tubuhnya telah benar-benar menjadi ular cobra. Ular jelmaan Selena menjulur-julurkan lidahnya. Leher di antara kepalanya juga kembang kempis. Dari mulutnya keluar desisan khas layaknya ular pada umumnya. Ular itu terus menggeliat di lantai kamar. Kemudian bergerak menyusur lantai dan ke atas, lalu keluar dari jendela belakang. Victor masih sibuk berbincang dengan Devina. Seolah mereka tak merasa terganggu dengan suara bising seruling ular yang menggema. Dari balik jendela kamar, Devina melihat seekor ular cobra berwarna hijau yang melintas. “Ular!” teriaknya. Victor keheranan. “Di mana?” “Di sana! Di balik jendela!” Devina menuju ke arah jendela. “Ular itu pasti sudah pergi, di bawah mungkin Dave menyuruh pawang ular memainkan seruling ini. Sudahlah, mereka akan menangkap ular yang telah berani mematukmu itu!” Victor mencoba menenangkan Devina. Pawang ular menghentikan serulingnya. Mereka tak juga menangkap ular mana pun. Mereka berpikir ular itu pasti sudah berlari begitu mendengar serulingnya. Setelah itu mereka berpamitan untuk pergi. Ular jelmaan Selena menyusur, menyelinap ke sela-sela jendela. Ia gerakkan tubuhnya yang panjang itu berkelok-kelok hingga tiba di dapur. Begitu ia menyadari kalau dapur itu sepi, ular itu langsung berubah menjadi Selena lagi. Krek! Suara seperti kaki menginjakkan sesuatu. Selena terkejut. Ia berbalik dan mengetahui ada pelayan dapur yang berada di belakang. Untung Selena berubah tepat waktu, ia berpikir pelayan yang seorang wanita itu pasti tak melihat perubahan wujudnya. Selena mendekat ke arahnya. Ia beralasan pada pelayan itu. “Aku tadi ke sini mengambil minum. Apa kau melihat ularnya?” “T-tidak ... Nona, a-aku tidak melihatnya,” jawab pelayan itu dengan terbata-bata, dan langsung pergi begitu saja. Selena keheranan. Pelayan itu tampak begitu takut sepeti melihat hantu. Apalagi saat ia menanyainya tentang ular. Selena berpikir, apakah pelayan itu melihat perubahan wujudnya tadi? Kalau iya maka celaka. Pelayan berjalan tergesa-gesa. Dengan wajah ketakutan ia mencari tuannya, Dave. Ternyata dia adalah pelayan yang sama yang melihat Selena memasukkan bisa ular ke dalam s**u Devina tadi. Ia mencari Dave berniat untuk memberitahukan semuanya tentang Selena. Begitu melintasi gudang, ia melihat Dave masuk ke dalam gudang. Pelayan itu langsung begitu saja ikut masuk dan menemui tuannya itu. “T-tuan, ada yang ingin aku katakan,” kata pelayan itu terbata-bata. Dave terheran. “Ada apa? Kenapa kau begitu ketakutan?” “Tuan, teman wanitamu itu bukan manusia, teman baru kalian itu punya niat jahat!” “Apa? Apa maksudmu? Siapa? Selena?” “Iya tuan! Dia bukan manusia, dia seorang jelmaan ular!” papar pelayan itu. Dave terkejut, tertegun, menelan ludah, dan mengerutkan keningnya. Ia tak percaya apa yang pelayan itu katakan. “Lancang kau? Siapa dirimu yang berani menuduhnya? Atas dasar apa kau mengatakan semua ini?” “Aku tahu posisiku tuan, aku hanya ingin kalian baik-baik saja. Tadi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau nona Selena memasukkan bisa ular pada minuman nona Devina. Dan matanya itu seperti mata ular, satu lagi, baru saja aku melihat perubahan wujudnya.” Ia berhenti sejenak. “Mataku melihat dengan jelas tuan, kalau ada seekor ular kobra yang berubah menjadi dirinya di dapur!” ungkapnya dengan jelas tanpa terbata-bata. Ssssttt... Dave mendekat. Dan mengisyaratkan untuk diam. “Jangan katakan pada siapa pun tentang semua ini. Kau menyembunyikannya dari semua orang. Victor, Devina, Simon, Krystal, mereka tidak boleh tahu.” “Dan satu lagi, kau harus menyembunyikan semua kebenaran tentang Selena dari tuanmu, Dave!” Mendengar perkataan Dave, membuat pelayan wanita itu keheranan. “Tapi tuan, kau sendiri sudah tahu, lalu ....” “Dia belum tahu!” bentak Dave. Tiba-tiba matanya mencorong seperti mata ular. Persis dengan mata ular yang dimiliki Selena. “Karena aku bukan Dave!” Dave tiba-tiba berubah wujud menjadi Selena. Pelayan itu terkejut sekaligus gemetar. Wajahnya penuh ketakutan yang luar biasa. Ia mendapati ternyata yang ia ungkap tentang kebenaran Selena adalah dengan Selena sendiri. Selena yang menyamar menjadi Dave. “Sebenarnya aku sudah curiga dengan raut wajahmu yang ketakutan tadi. Tapi aku tidak menyangka, kau orang pertama yang berani mengungkap diriku. Seberani itulah dirimu? Apa kau tak takut kematian?” Selena berubah menjadi ular seutuhnya. Ia perlihatkan taring tajamnya pada pelayan itu. “Lepas-kan ....” Selena memagut leher pelayan itu, hingga akhirnya pelayan itu roboh ke lantai. Tubuhnya menjadi biru keunguan dan kaku, hingga akhirnya pelayan itu meninggal. Selena berubah lagi menjadi manusia. Ia berbalik meninggalkan gudang dan menutupnya rapat-rapat. “Siapa pun yang menghalangi balas dendamku, maka dia juga akan bernasib sama seperti mereka yang telah berani berurusan denganku!” Senyum sinis menyeringai. Malam mulai merangkak, meninggalkan pagi yang berujung senja. Serayu malam tiada habisnya mengembus. Diterpanya setiap nyiur, memaksa daun untuk berguguran. Hari ini tepat pada malam bulan purnama, malam yang membawa sebuah kekuatan baru yang semakin dahsyat. Ssssttt.... Terdengar suara desisan ular yang menjadi baground malam penuh cahaya kala itu. Seekor ular cobra melata, menyusuri setiap dedaunan kering yang menghalangi jalannya. Ular itu berhenti ketika tiba di sebuah lempengan batu besar, namun gepeng. Ular cobra bersisik hijau itu mematung, menatap ke arah langit. Secercah cahaya bulan memancarkan sinar ke arahnya. Begitu bening dan berkilau. Bangkitlah ular itu, dan berbuah wujud menjadi manusia. Selena berdiri tepat di lempengan batu itu. Ia baru saja berubah dari wujud ularnya. Namun kulitnya masih dipenuhi sisik hijau semu kuning, dan berkilau ketika diterpa sang rembulan. Matanya pun masih berupa mata ular. “Malam ini adalah malam purnama, kekuatanku telah bangkit lagi dan semakin dahsyat! Malam ini salah satu dari pembunuhku itu harus mendapatkan ganjarannya!” teriaknya lantang di antara sayup malam. Selena mendungku, mengais tanah dan menggenggamnya. Kemudian ia berdiri lari, tegak nan tegap. Tangannya yang menggenggam tanah itu, ia ulur ke depan. Ia biarkan tanah itu ditiup sang angin malam hingga bertaburan. “Aku bersumpah! Dendamku akan terbalaskan! Pendosa akan musnah! Keadilan akan ditegakkan!” ucapnya mengakhiri perkataannya. Ia kembali mendungku, dan berubah lagi menjadi ular. Ular cobra bersisik hijau semu kuning. Ia seperti mendapat kekuatan baru yang lebih dahsyat, ketika wujud aslinya terpancar ke rembulan. Karena setiap jelmaan, jikalau purnama menyongsong pasti akan memberikan kekuatan baru pada setiap jelmaan yang bertatapan langsung pada sang rembulan. Selena yang sekarang menjadi ular, kembali menyusuri jalan berbau tanah. Ia terus mengerakkan tubuh panjangnya berkelok-kelok. Hingga tiba di sebuah rumah besar, rumah milik para musuhnya. Selena berhenti begitu sampai di ambang pintu. Lalu ia berubah wujud menjadi manusia. Ia langkahkan kakinya masuk ke dalam rumah bak istana itu, yang setiap malam terpancar Kilauan lampu terang. “Darah sudah tumpah, dan dendam juga sudah membara! Tidak ada yang bisa memadamkannya sebelum pembalasan itu selesai. Aku menginginkan keadilan pada mereka!” gumam Selena dengan nada sinis. Ia memiringkan senyumnya. Dan mengedipkan mata ularnya yang sedari tadi masih menonjol untuk kembali pada mata normal. Ia terus melangkah, matanya menatap tajam ke arah para pelayannya yang duduk santai di ruang utama. “Selena? Kau ke sini, malam-malam seperti ini? Ada apa?” tanya Krystal. Selena menghampiri mereka. “Sebenarnya ... bolehkan aku menginap di sini? Untuk malam ini? Orang tuaku keluar kota,” alasannya. Padahal ia sama sekali tak mempunyai orang tua. Lagi pula mana ada jelmaan ular yang mempunyai orang tua seorang manusia. Jadi, selama ini ia berbohong soal ayahnya yang seorang polisi. Hal ini ia lakukan agar bisa tetap fraktur dengan mereka, dan membunuhnya dengan mudah. “Tentu, kau bisa datang kapan pun kau mau ke sini,” ucap Dave. Ia sangat senang jika Selena selalu berada dekat dengannya. Sepertinya ia sudah mulai tertarik pada gadis jelmaan itu. Selena melirik ke arah Devina yang terlihat sudah bugar. Ia bertanya padanya, “Kau sudah baikkan, Ruch?” “Iya ....” “Karena ada seseorang yang selalu merawatnya,” sindir Simon tertuju pada Victor, hingga membuat semua orang tersenyum lebar. “Apa kau menyindirku teman?” bela Victor. “Oh, bagus kalau kau merasa,” kata Simon. “Kalian itu saling mencintai, tapi kenapa tidak saling mengungkapkan?” lanjut Simon. Devina menyangkalnya. “Apa yang kau katakan, Simon? Kami hanya berteman, iya kan, Victor?” Devina melirik ke arah Victor. Victor hanya menunduk, sejatinya ia memang benar-benar mencintai gadis penyanyi itu. Bicaranya saja sudah bisa menggetarkan gendang asmaranya, apalagi ketika ia mendengar lagunya. Hatinya begitu terpanah akan kecantikan dan suara merdu Devina. Selena ikut berkomentar. “Jika kalian menyukai seseorang, katakanlah. Jangan pernah menundanya.” Selena melirik ke arah Dave, seperti memberi kode padanya. Dave tersipu malu. Wajahnya begitu memerah ketika Selena mengatakan hal itu seraya menatapnya. Ia coba alihkan pembicaraan semua orang yang tiba-tiba mengobrol kan soal cinta, asmara, dan sebagainya. Karena selama ini Dave tak pernah peduli tentang cinta, yang ia pedulikan hanya uang dan pangkat. Namun, begitu ia bertemu Selena, seolah semua hal dalam dirinya berubah. Ia mulai merasakan ada gejolak yang terjadi. Entah itu cinta, atau nafsu belaka. “Sudah malam kalian tidurlah! Jangan mengobrol kan omong kosong saja!” ucapnya. “Lihat ketua kami marah, karena dia tak pernah mengenal apa itu cinta!” canda Simon. “Dave, percayalah cinta adalah sebanding dengan uang. Keduanya sangat penting di hati kita. Kau akan merasakannya jika kau sudah bertemu dengan cintamu!” sahut Krystal. Dave menatap ke arah Selena. Wajah lugunya itu membuatnya terlena sejenak. “Begitu cantik!” gumamnya dalam hati. “Selena, kau bisa menggunakan kamar Nia!” kata Dave pada Selena. Kemudian mereka semua beranjak, bersiap untuk menghampiri ranjangnya yang sudah mulai memanggilnya untuk segera ditempati untuk tidur. Selena masih mematung, ia terus menatap tajam ke arah mereka. “Untuk selalu dekat dengan mereka, aku harus mendapatkan posisi penting dalam hidup Dave. Terutama hatinya, aku harus bisa mengambil hatinya dan jatuh ke genggamanku. Baru setalah itu, pembalasan dendamku akan lebih mudah!” batin Selena dalam hati. Simon masuk ke dalam kamar Krystal. Ia membuka tirai jendela kamar, dan membiarkan cahaya rembulan masuk menerangi kamarnya. Krystal memeluknya dari belakang. “Lihat, cahaya rembulan itu begitu indah!” puji Simon. “Oh ya?” Krystal bergerak menuju depan jendela, berdiri tepat di samping Simon. “Tapi tidak lebih indah darimu!” puji Simon pada kekasihnya itu. Krystal memeluk erat tubuh Simon. Ia bebaskan semua rasa kasihnya pada pacarnya itu. Namun kali ini berbeda, entah kenapa ia merasa sangat merindukan Simon. Ia merasa malam ini adalah malam terakhir mereka. Krystal menyandarkan kepalanya di d**a Simon. Ia berkata, “Simon, entah kenapa aku merasa kita akan berpisah jauh.” Simon merenggangkan pelukannya, ia memegangi pipi Krystal dan berkata, “Jangan pernah berpikir seperti itu. Kita akan tetap bersama.” “Tapi firasatku mengatakan ....” “Cukup!” Simon membungkam mulut Krystal. Ia menggelengkan kepalanya. “Itu hanya firasat saja!” Simon melirik ke arah jendela yang memperlihatkan malam mulai larut. “Kau tidurlah, masih ada hari untuk esok.” Simon mengecup kening Krystal dan kemudian beranjak pergi. Krystal menutup kembali gorden kamar. Ia merapikan tempat tidurnya dan hendak pergi ke alam mimpinya. Namun tiba-tiba, pintunya terbuka. Selena yang masuk ke dalam kamarnya. “Selena? Apa kau butuh sesuatu?” Selena melangkah ke arahnya. “Tidak, tapi ... ada hal yang ingin aku katakan,” ucap Selena. “Ada apa Selena? Katakan saja,” kata Krystal. “Tadi aku berpapasan dengan Simon, dan dia sedang menelepon seseorang, tapi ....” Selena tak melanjutkan lagi perkataannya. “Tapi ... ?” Krystal penasaran. “Dia menelefon wanita, dan terlihat begitu romantis,” jawab Selena. “Ah, tidak mungkin! Itu mungkin hanya teman-temannya.” “Tapi Kris, dia berbicara begitu romantis. Sekarang pikirkan seseorang pria yang sudah memiliki pacar tapi masih bersikap romantis pada wanita lain, apa itu tandanya?” Selena mencoba menghasutnya. “Maksudmu Simon selingkuh? Dia selingkuh dariku?” “Mungkin saja!” Selena mencoba sok polos. “Aku temanmu Kris, dan aku juga seorang wanita. Aku tidak ingin hubungan kalian berantakan karena ada orang ketiga!” Dalam hati Selena ia begitu senang menguras emosi Krystal. “Kau masih baru Selena, kau belum mengenal Simon sepenuhnya. Berani sekali kau menuduhnya berselingkuh dariku?” Krystal mulai emosi. Selena menyentuh pundak Krystal. “Aku memang tak punya bukti sekarang, tapi kalau kau mau aku bisa menunjukkan padamu. Simon bilang mereka akan bertemu di hutan belakang rumah!” kata Selena. Krystal menatap dalam wajah Selena. “Ingat, jika kau tak bisa membuktikannya, maka aku tak akan memaafkanmu! Ayo!” Krystal berbalik dengan emosi, bergerak cepat hingga membuat tangan Selena tersingkir dari pundaknya. “Aku yang tidak akan memaafkanmu, Krystal!” sinisnya dalam hati, sesekali memperlihatkan mata ularnya. Selena mengajak Krystal keluar rumah. Mereka melewati pintu belakang. Dengan cepat mereka terus berjalan. Menepis rerumputan yang hijau tumbuh subur di belakang rumah. Di kegelapan malam, mereka berjalan menuju hutan. Untuk membuktikan apakah ucapan Selena itu benar atau hanya tipu dayanya belaka. Selena sudah membawa Krystal masuk ke dalam hutan. Di antara kerimbunan pohon dan padatnya semak belukar. Mereka berhenti. Namun tak juga melihat Simon ataupun seseorang di sana. Hanya pohon yang terus bergoyang diterpa sang angin. Devina menengok-nengok ke kanan-kiri. Tak jua menemukan penampakan pacarnya itu. “Mana Selena? Mana Simon? Kau bilang dia kesini kan?” Selena masih mematung di bawah pohon. Matanya menatap tajam ke arah Krystal. “Tak ada Simon, ataupun lainnya. Hanya kita berdua yang ada di sini sekarang!” Krystal memandang Selena. “Apa maksudmu?” “Sebenarnya Krystal, aku mengajakmu ke sini karena ada maksud lain.” Selena menghampirinya. Dan berjalan mengitarinya. “Aku mau ceritakan sebuah kisah padamu. Tentang pembunuhan seekor ular yang tak berdosa!” Krystal terkejut. Ia terus menatap Selena yang juga terus mengitarinya. “Kau bicara tak jelas!” “Apa harus aku perjelas, Krystal? Kalian adalah seorang pembunuh! Pembunuh!” “Lancang kau Selena. Kau telah menunjukkan sifat aslimu! Beraninya kau berteman pada kami?” Krystal mulai marah. Selena menghentikan langkahnya tepat di depan Krystal. Sontak ia mencekik leher Krystal dengan jemarinya. “Aku belum menunjukkan semuanya padamu. Jika aku tahu siapa aku, maka kau akan sangat terkejut. Kau mau lihat kebuasanku?” Selena tiba-tiba berubah menjadi mengerikan. Mata ularnya ia perlihatkan dan menatap tajam ke arah Krystal. Sisiknya mulai menghiasi wajahnya, begitu mengerikan. Ia juga mendesis ke arah Krystal. “Ka-kau bukan manusia! Kau jelmaan!” Krystal mendorong tubuh Selena ke tanah. Selena tersimpuh. Ia dongakkan kepalanya ke arah Krystal. Tatapan setajam pisau ia arahkan pada Krystal. Tangannya menunjuk dan berkata, “Kau akan lenyap. Aku akan menjadi mimpi buruk bagi kalian. Kutukan!” Selena berubah menjadi manusia setengah ular. Lalu berdiri tegak dengan ekor yang menggeliat. “Inilah wujudku yang sesungguhnya! Wujud ularku! Aku adalah jelmaan ular betina, yang menuntut balas atas kematianku!” Selena sudah terbakar api dendam. Tak ada yang bisa mengatasi dendam sang jelmaan ular yang telah dibutakan api dendam. Kemurkaan dan kebuasannya telah tergambar jelas. Lidah panjang terus menjulur ke arah Krystal. Krystal gemetaran. Ia berusaha melarikan diri dari kemurkaan Selena. Sebisa mungkin ia gerakan kakinya itu. Menepis setiap rumput, menerobos semak di bawah malam purnama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD