"Kemungkinan ada manusia yang menempati tempat ini sekitar beberapa menit yang lalu sebelum kita sampai di sini. Bau roti ini masih harum. Dan kau lihat lalat-lalat ini, tiada henti menyerbunya." Dave memberikan asumsinya.
Devina mengangguk-angguk. "Sepatu anakmu juga masih hangat. Itu berarti anakmu memang ada di sekitar sini. Kalau pun sudah pergi, pasti tidak terlalu jauh," kata Devina menambah asumsi kakaknya tersebut.
Victor melirik ke arah tempat kosong yang gelap di depan mereka. "Sebentar." Pria itu menggerakkan langkahnya, melewati Dave dan Devina untuk mencapai persegi panjang yang menjadi akses masuk tempat kosong.
"Apa mungkin anakmu bermalam di sini?" tanya Dave yang ikut memasuki tempat tersebut.
Devina mengoperasikan ponselnya untuk menerangi tempat tersebut. "Lihatlah, ada kasur." Wanita itu bergerak cepat.
Dave dan Victor membuntutinya.
Mereka menemukan bungkus roti lagi dan juga botol minum yang masih setengah.
Dave bergerak ke arah kasur. Mengecek dengan telapak serta punggung tangannya. Kasur tersebut terasa hangat. Tanda jika seseorang telah menggunakannya berbaring semalaman.
"Apa anakmu benar-benar bermalam di sini?" Dave berasumsi sekali lagi.
"Sendirian? Tapi, yang aku tahu Teddy takut kegelapan. Saat aku mematikan lampu kamarnya, dia selalu berteriak ada monster," ujar Victor.
"Dia terpaksa tidur di sini sampai air katanya terus membanjir." Devina menyahut sembari melirik ke arah bagian kasur yang tampak basah. "Lihat!" Wanita itu mengarahkan cahaya ponselnya ke arah bagian yang basah tersebut.
"Apa dia menangis semalaman?"
"Teddy." Perasaan Victor mengerut seketika. Tulang-tulang seraya menjadi jelly. Ia tak bisa membayangkan jika putranya uang masih sangat belia harus mengalami kejadian seperti ini. Sama sekali tak pernah terlintas dalam pikirannya.
"Dengar!" Dave menatap ke arah Victor dan menyentuh dua bahunya dengan kedua bahunya. "Jika memang putramu bermalam di sini, kemungkinan besar dia tidak sendirian. Anakmu masih kecil, dia tidak mungkin mendapatkan makanan-makanan ini. Pasti ada seseorang bersamanya," kata Dave.
"Bagaimana jika dia penculik?" Victor benci mengatakan itu, tapi rasa khawatir membuatnya berpikir aneh aneh.
"Hei… jangan berkata seperti itu. Kau harus yakin kalau putramu akan baik-baik saja." Devina ikut menenangkan pria itu yang mulai rapuh.
Kedua mata Victor mengembun. Pandangannya menunduk dan air mata tiba-tiba luruh begitu saja.
"Tenanglah!" Dave menepuk-nepuk bahunya. "Sebaiknya kita cari anakmu cepat, sebelum pergi terlalu jauh."
Victor mengangguk-angguk. Mengusap air matanya dengan punggung tangan.
Dave dan Devina mengandeng Victor untuk keluar dari tempat tersebut. Mereka kembali berjalan menuju mobilnya.
Victor masuk ke dalam. Duduk rapuh sembari mengelus sepatu mungil milik putranya. Ia masih ingat betul saat dirinya memberikan hadiah sepatu tersebut sebagai hadiah ulang tahun anaknya. Saat itu Teddy sangat gembira sekali. Bahkan, saking senangnya sampai melupakan soal ibunya yang tidak pulang-pulang.
"Ini hadiah ulang tahunnya. Aku memberikannya tiga bulan yang lalu." Victor bercerita dengan mata yang masih mengembun. "Sebenarnya aku sudah lama membeli sepatu ini. Bahkan saat pertama kali diberlakukan lockdown. Karena sepatunya kebesaran, aku menyimpannya sampai sepatu ini muat untuknya."
Dave dan Devina mendengarkan dengan antusias.
"Apa putraku akan baik-baik saja?" Victor bertanya dengan wajah sayu ke arah Dave.
"Apa yang kau tanyakan, Kawan. Tentu saja. Dia pasti akan senang ditemukan!" kata Dave penuh keyakinan.
"Kau percayakan saja pada polisi yang tak berseragam ini." Dari bangku belakang Devina menyahut dengan bercanda. Menyebut kakaknya sebagai polisi yang tak mengenakan seragam.
Dave menoleh ke belakang. Menatap ke arah adiknya. "Kau tahu, Devina. Justru polisi yang tak berseragam seperti ini yang justru bisa menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Karena kebanyakan, polisi hanya memamerkan seragamnya saja, tetapi kinerjanya nol besar. Haha!" Dave bergurau. Setidaknya hal itu berhasil membuat Victor ikut tertawa bersama Devina.
"Terima kasih. Jika tidak ada kalian, mungkin aku akan stress mencari putraku sendirian." Victor berucap dengan penuh emosional pada kedua kakak beradik tersebut.
"Itu gunanya teman, bukan?" celetuk Dave. "Ngomong-ngomong, kita memang sudah berteman kan?" tanyanya meminta pendapat pria di sampingnya.
"Tentu saja!" Victor berseru.
Dave pun mulai melanjutkan perjalanannya, mengemudikan mobil tersebut dengan kecepatan sedang guna menilik sekitar untuk memastikan keberadaan Teddy.
"Sial!" Dave tiba-tiba menghentikan mobilnya secara mendadak saat seekor anjing menggonggong di samping mobilnya.
Mereka juga melihat seorang pria baya yang mengenakan topi.
"Apa itu manusia?" tanya Victor begitu saja.
"Apa yang kau tanyakan, tentu saja. Lihatlah, tubuhnya masih bugar. Dia belum terinfeksi. Bagaimana kalau kita turun dan bertanya padanya?" usul Dave.
"Dave, apa kau yakin? Bagaimana jika…." Devina tampak ragu.
"Asal kita tetap waspada." Victor terlebih dahulu membuka pintu mobilnya dan keluar. Berjalan menghampiri seorang pria paruh baya yang menuntun anjing.
"Hei!" sapa Victor.
Dave dan Devina mulai keluar. Devina tampak mengerutkan dahi saat memperhatikan anjing tersebut yang terus-menerus mengonggongi ban mobil.
"Siapa kalian?" Pria paruh baya tersebut bertanya langsung.
"Kami polisi," kata Dave berbohong.
Pria tersebut memasang ekspresi sedikit takut.
Devina memutar mata dengan malas. "Dia berbohong. Kami bukan petugas polisi," katanya ke arah pria itu yang langsung lega.
"Sebenarnya kami sedang mencari seorang anak. Apa kau melihat ada anak kecil yang lewat di sekitar sini?" tanya Victor pada intinya.
"Aku bahkan tidak percaya kalau masih ada manusia yang hidup." Perkataan pria itu membuat mereka bertiga mengeryitkan dahi.
"Dengar, kalian cepatlah pergi dari sini. Semuanya menjadi sangat berbahaya," kata pria itu memberi saran.
"Kau sendiri mau ke mana? Dengan seekor anjing ini?" Dave bertanya sembari memperhatikan anjing tersebut yang tiba-tiba langsung menggonggong ke arahnya.
"Bukan urusanmu!" Pria itu menjawab dingin dan hendak pergi.
"Hei, tunggu dulu!" Victor menghentikan langkah pria itu. "Kami hanya ingin bertanya, apa kau melihat anak –"
"–aku melihatnya," kata pria itu tiba-tiba.
"Benarkah?" Dave tampak ragu dengan ucapannya tersebut.
"Yah, aku melihatnya. Dia lari masuk ke sana!" Pria itu menunjuk ke arah bangunan penjara bawah tanah.
"Apa kau serius?" Devina bahkan merasa aneh.
"Ehm. Aku melihatnya tadi."
"Buat apa Teddy ke sana?" Victor bergumam.
"Mungkin anakmu berniat meminta bantuan polisi. Ngomong-ngomong, aku juga mau ke sana. Kalau kalian mau ikut, ayo!" Setelah mengatakan itu, pria tersebut lantas membawa anjingnya kembali berjalan.
Devina spontan menjingkat saat kakinya itu hendak diendus oleh anjing tersebut yang mulutnya terdapat liur yang bergelantungan hendak menetes.
"Victor, jangan percaya. Aku rasa dia orang aneh." Devina berbisik di telinga Victor.
"Tapi bagaimana jika dia berkata jujur?" kata Victor.
"Dengar, Victor. Gerak gerik pria itu sangat aneh. Bagaimana jika dia berniat macam-macam pada kita. Mungkin_"
"–Aku tidak peduli." Victor menyelak perkataan Dave secara cepat. "Dave, yang aku pikirkan sekarang adalah putraku. Aku akan ke sana mengeceknya. Kalau kalian tidak mau tidak masalah. Kalian bisa menungguku di sini." Setelah mengatakan hal tersebut, Victor lantas membalikkan tubuh dan bergerak menghampiri pria dan anjingnya tadi.
"Hei tunggu!"
"Dia sangat keras kepala!" gerutu Dave.