"Maaf, tidak bermaksud menakuti kalian. Hanya saja aku merasa buruk saat mengingat kejadian yang aku alami." Victor melangkahkan kaki menghampiri mereka.
"Sudahlah." Dave menyentuh bahunya dan mengelusnya sedikit kasar.
"Oh iya, luka itu!" Victor menunjuk pada luka yang tercetak di kening Dave dan Devina. "Maaf, karena aku berdebat denganmu, mobil jadi kehilangan kendali dan menabrak–"
"–hei… bukan kau yang salah. Tapi aku." Dave menimpali. "Sudahlah. Lebih baik kita lanjutkan perjalanan mencari anakmu," kata Dave.
Mereka bertiga mulai melangkah menuju mobil.
"Biar aku saja yang menyetir. Kepalamu pasti masih sakit kan?" Victor masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
"Baiklah." Dave membuka pintu samping dan memasukkan tubuh ke dalam.
Sementara Devina seperti biasa duduk di bangku belakang.
Victor segera memutar kemudi dan membawa mobil tersebut kembali melanjutkan perjalanannya.
***
"Sampai kapan kita akan bersembunyi?"
Simon sedikit terkesiap saat mendengar suara bocah di belakangnya. Lelaki baya itu menoleh, melihat sosok Teddy baru terbangun dari tidurnya.
"Kau sudah bangun?" tanyanya.
"Aku lapar." Kedua mata Teddy menunduk dengan memegangi perutnya yang keroncongan. "Kau bilang kau akan membawaku pada ayahku. Tapi kenapa kita masih berada di sini?"
Simon meneguk ludah. Mencoba menghibur anak tersebut yang semalam menangis memanggil nama ayahnya.
"Kita pasti akan menemukan ayahmu, tenang saja. Kau jangan menangis lagi." Kedua tangan Simon meraih pipi mungil bocah itu dan mengelusnya.
"Tanganmu kasar." Teddy berucap dengan sedikit bercanda. "Aku merasa geli."
"Oh, jadi kau merasa geli ya?" Simon semakin mengeluskan tangan kasarnya tersebut pada bocah itu.
Setidaknya hal itu berhasil menciptakan senyuman di wajah Teddy.
"Aku bosan di tempat ini. Ayo kita pergi dan cari ayahku. Kalau kau bisa menemukan ayahku, aku janji akan membujuk ayah untuk mengajakmu tinggal di rumah." Suara bocah itu terdengar sangat lugu.
"Oh ya? Memangnya seperti apa rumahmu?" Simon bertanya dengan ramah.
"Rumahku kecil. Tapi bagus. Ada televisinya. Aku biasa menonton kartun di sofa. Kamarku besar. Ada banyak mainan. Ada kuda poni, boneka Spiderman, dan juga Superman. Kau suka Spiderman?"
Simon tersenyum mendengar cerita anak itu, kemudian mengangguk. Sudah lama ia tak merasakan atau bahkan pernah mengobrol dengan anak sekecil itu. Hadirnya Teddy dalam hidupnya saat ini seakan menjadi pelengkap hidupnya yang tak pernah lengkap.
Yah, Simon tak memiliki siapa pun di dunia ini. Dia tidak beristri apa lagi memiliki anak. Ayah dan ibunya meninggal sejak ia masih berusia tujuh tahun. Dia tak memiliki saudara. Kerabatnya bahkan enggan melihatnya. Dia hanya sendirian. Seorang diri.
Simon tidak pernah mengenyam atau sekadar merasakan pendidikan di bangku sekolah. Dia buta huruf dan tidak bisa membaca. Dia bodoh dan terlihat seperti orang tidak waras. Tetapi, lelaki compang-camping itu memiliki keunikan dalam dirinya.
Dia bisa meramal masa depan.
Banyak orang yang tak percaya akan omongannya. Ketika lelaki itu memberi peringatan pada seseorang, maka orang-orang akan mencemooh dan menganggapnya membual.
Padahal, apa yang terlontar dari mulut pria itu terkadang menjadi sebuah kebenaran.
"Apa kau orang yang pandai seperti ayahku?" Teddy bertanya dengan posisi duduk yang dua kakinya dilipat di depan.
"Memangnya ayahmu seorang yang jenius?" balas Simon bertanya.
Bocah itu mengangguk mantap. Matanya berkedip dengan sangat menggemaskan. "Ayahku bahkan bisa menciptakan robot-robot di kantornya. Seperti robot pengantar barang. Kau pernah melihatnya?" Anak yang belum sepenuh genap tujuh tahun itu terbilang banyak bicara dan aktif.
Simon menganguk. "Aku pernah melihatnya, tapi tidak pernah berbicara dengannya."
Teddy seketika tergelak.
"Kenapa kau tertawa, Nak?" tanya Simon yang juga tersenyum lebar.
"Robot itu memang tidak diperuntukkan untuk menjadi teman bicara. Eh tapi, aku sering mengajaknya bicara. Suaranya sangat aneh dan besar. Haha!"
"Seperti ini?" Simon mulai menirukan suara-suara mesin yang pernah ia dengar. Dan tentu saja itu membuat gelak tawa di bibir Teddy semakin lebar.
Setelah mereka cukup lama bercanda, akhirnya Simon memutuskan untuk mengajak Teddy pergi dari sana guna mencari ayahnya, juga mencari sisa-sisa makanan yang mungkin masih layak untuk dimasukkan ke dalam perut.
Teddy naik di punggung lelaki tersebut. Simon pun merasa senang seakan melupakan rasa lelah punggung tulangannya yang sudah tak lagi muda.
Mereka menyusuri perumahan-perumahan yang dahulunya terlihat elit sekarang tampak usang. Tanpa sadar Teddy menjatuhkan sebelah sepatunya di jalanan.
***
"Kita tidak akan menemukannya jika terus-terusan mencari di dalam mobil seperti ini." Victor mengangkat suaranya dengan sangat letih. "Sebaiknya aku mencarinya dengan jalan kaki saja."
Pria itu menghentikan mobilnya.
"Jika kalian mau memakai mobil ini silakan. Aku mau berjalan saja," ujarnya ke arah Dave.
"Hei, apa yang kau katakan. Kita harus bersama-sama. Baiklah. Kita akan mencoba mencari berjalan kaki," ujar Dave. "Parkirkan mobilnya di bawah pohon situ, agar nanti kita bisa menggunakannya lagi," sambung pria itu.
Victor mengangguk tanda setuju. "Oke!"
Gegas Victor menderukan mesin mobilnya tersebut untuk sampai di sebuah halaman tepatnya di bawah pohon. Mobil berhenti dan mereka keluar satu persatu. Alas sepatu mereka menapak pada rerumputan yang pucuknya sudah layu seakan tak ada kehidupan.
"Kita cari sekitar sini. Mungkin Teddy tersesat di sekitar sini. Dan… akan bagus jika kita menemukan orang-orang yang bisa dikatakan manusia," kata Victor yang lantas menggerakkan kakinya beraksi.
"Apa menurutmu semua orang sudah menjadi mayat hidup?" Devina menumpangkan tangannya di bahu Dave.
"Lau berpikir demikian?" Dave balik bertanya dengan menaikkan kedua belah alisnya.
Devina langsung menjatuhkan tangannya dari bahu Dave. Menggeleng cepat seraya menunduk. "Aku tidak mau berpikir demikian. Karena aku yakin…." Wanita itu memotong ucapannya sejenak. Meneguk ludah kemudian melanjutkan perkataannya, "aku yakin mereka masih hidup."
"Teddy!" Suara Victor yang berteriak membuat Dave dan Devina sedikit terkejut.
Dua kakak beradik itu menoleh, gegas menghampiri Victor yang menunduk mengambil sesuatu.
"Sepatu ini. Sepatu ini milik anakku Teddy!" Victor memperlihatkan sepatu mungil berwarna putih berpadu hitam ke arah Dave dan Devina.
Dave mengambil sepatu itu dan memperhatikannya.
"Teddy pasti ada di sekitar sini." Victor mengatakan dengan penuh keyakinan.
Bergantian Devina yang mengambil alih memperhatikan sepatu tersebut. Mengecek dalamnya yang dengan telapak tangan, merasakan akan kehangatan yang masih melekat.
"Sepatunya masih hangat. Itu berarti ini kemungkinan jatuh tidak lama. Putramu pasti ada di sekitar sini," ujar Devina semakin menyakinkan Victor.
Victor tersenyum haru. "Kita harus bergerak cepat!" Victor meraih sepatu putranya dari tangan Devina. Bergerak maju dan berteriak memanggil nama sang anak.
"Teddy! Teddy!"
"Teddy!" Dave dan Devina ikut bersuara.
"Teddy!"
"Teddy, di mana kau, Nak?!"
Dave melirik sebuah tempat kosong yang di depannya terdapat bungkus roti yang dikerumuni oleh beberapa lalat. Dave segera bergerak menghampirinya.
"Dave, ada apa?" Devina yang penasaran ikut membuntutinya.
Dave merendahkan tubuhnya, membuat lalat-lalat merongrong semakin mengeluarkan suaranya. Pria itu menekuk lutut guna memungut wadah plastik bekas roti lantas mengendusnya. "Ini masih baru. Seperti habis dimakan," ujar Dave.
"Oh, jadi jiwa detektifmu mulai beraksi ya?" seloroh Devina.
"Apa kalian menemukan sesuatu?" Victor bertanya pada mereka sembari berjalan menghampirinya.