"TEDDY!!!"
Victor terbangun dari tidurnya. Menyadari dirinya berada di dalam sebuah mobil miliknya. Napasnya serupa terpenggal-penggal. Namun setidaknya ia merasa lega lantaran semua kejadian yang baru saja dialaminya hanya mimpi belaka.
Atau….
Victor bergegas mendorong pintu mobil tepat di sampingnya. Keluar dari dalam sana dan memperhatikan suasana luar yang masih baik-baik saja. Tidak da retakan maupun belahan di tanah. Gedung-gedung masih berdiri utuh. Hanya saja suasananya tetap sama. Yaitu sunyi dan kosong.
Pria itu menyemburkan napas. Mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat. Di pagi-pagi seperti ini, keringat sudah mengucur padahal ia baru terbangun. Tidak sedang habis melakukan olahraga atau fitnes.
Di dalam mobil Dave mulai membuka matanya. Memegangi kepalanya yang terasa begitu pening. Bahkan ada darah kering yang menyumbat di keningnya tersebut.
Pria itu menggelengkan kepala, mencoba mengingat-ingat kembali kejadian apa yang telah ia alami.
"Apa yang terjadi?" gumam Pria itu.
Dave memulangkan ingatannya beberapa jam yang lalu. Sekitar lima belas jam yang lalu mereka masih menaiki mobil bersama. Dave berdebat dengan Victor lalu Devina mengambil alih kemudi dengan berteriak dan mobil tersebut menabrak sesuatu.
Setelah itu semuanya menjadi gelap.
Satu yang jelas kemungkinan, bahwa mereka pingsan dan terlarut sampai tertidur.
Dave menolahkan kepalanya ke samping. Harusnya Victor berada di sampingnya. Tetapi entah ke mana pria itu. Lantas, ia memutar tulang lehernya ke belakang. Melihat Devina yang masih terlelap di bawah bangku. Kemungkinan akibat guncangan di mobil membuat wanita itu jatuh pingsan di bawah.
"Devina!" Dave mencoba meraih tubuh adiknya tersebut dan menggoyang-goyangkan bahunya. "Devina! Bangun!"
Wanita itu mulia bereaksi. Tangannya bergerak perlahan. Sementara matanya menyipit, masih samar-samar. Ia memegang kepalanya yang pening.
"Di mana ini?" tanya Devina. Masih belum melihat dengan jelas atau pun sadar akan keadaannya yang memiliki sedikit lebam di kening.
"Devina, apa kau baik-baik saja?" tanya Dave.
Kedua mata biru Devina mulai jeli sedikit demi sedikit. Lantas mulailah ia melihat wajah kakaknya itu dengan jelas. "Dave?"
Devina kembali mengucek matanya. Mencoba memastikan kembali pandangannya.
Wajah Dave mulai terlihat jelas.
"Dave! Ada apa dengan keningku?" tanya Devina sedikit panik saat melihat darah kering yang menodai keningnya.
Dave memegangi keningnya tersebut dengan berkata, "Mungkin terbentur saat mobil ini menabrak sesuatu kemarin. Tapi kau tenang saja. Ini sudah kering, rasanya juga tidak terlalu sakit."
"Mobil ini menabrak sesuatu?" Devina berpikir sejenak. Mencoba memulangkan kembali ingatannya. Baru setelah itu ia ingat kejadian kemarin.
"Auuu….!" Bahkan ia juga mulai tersadar kalau ia memiliki luka yang sama seperti kakaknya itu di keningnya.
"Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Dave khawatir.
"Yah. Hanya… hanya sedikit pedih saja. Tapi tidak apa-apa." Devina mendesis. Melirik ke arah kursi samping Dave depan yang kosong.
"Di mana pria itu?" tanyanya terheran.
"Victor?" balas Dave. "Aku juga tidak tahu. Aku terbangun dan tak menemukan dia. Entah di mana dia. Atau jangan-jangan…." Kedua bola mata Dave melolong saat mengingat sosok zombie-zombie yang kemarin ia serbu. Dan ia berpikir mungkin saja Victor dibawa oleh salah satu dari mereka.
"Sial!" Dave menendang pintu mobil dengan kakinya. Segera keluar mobil. Menengok ke kanan dan kiri. Pria itu langsung lega saat melihat Victor yang berdiri membisu memperhatikan sebuah gedung pencakar langit.
"Di mana dia?" tanya Devina yang baru keluar dari mobilnya.
"Itu dia!" Dave menunjuk ke arah Victor.
"Sedang apa dia di sana?" Kedua mata Devina menyipit, menerawang sosok Victor yang hanya berdiam di sana.
"Entahlah. Ayo kita temui dia!" Dave menutup pintu mobilnya dan mulai bergerak ke arah Victor.
Devina membuntutinya dari belakang.
"Apa kau sedang memandangi tempat kerjamu dulu?" tanya Dave dari belakang Victor, membuat pria itu sedikit terkejut.
Victor menoleh ke belakang. Melirik ke arah Dave dan Devina yang masih berjalan menghampirinya. Lantas ia kembali meluruskan pandangan ke depan.
"Tidak." Victor menggeleng. "Ini bukan tempat kerjaku," sambungnya.
"Lalu, sedang apa kau di sini dan memperhatikannya? Kau bahkan bangun lebih awal tanpa membangunkan kami," ucap Dave.
"Sorry!" jawab Victor singkat.
"Untung pingsan kami tidak terbelanjur," seloroh Dave.
"Maksudmu?" Victor mengernyitkan dahi ke arahnya.
"Apa kau tidak tahu kalau kami berdua pingsan? Lihat, kami bangun dan mendapat stempel ini!" Devina menunjukkan lukanya.
Victor memperhatikan luka di kening dua kakak beradik tersebut. "Sorry, aku tidak menyadarinya. Aku terbangun dan merasa aneh. Lalu aku keluar. Bahkan aku tidak sadar kalian masih ada di dalam mobil. Karena pikirku kalian…." Victor tak jadi melanjutkan perkataannya.
"Kalian kenapa?" sambung Dave bertanya.
Victor mengerjap sembari menggeleng. "Lupakan. Aku hanya bermimpi buruk," katanya dengan wajah lemas.
"Kau bisa membagi mimpimu itu dengan kami," sahut Devina. Dari nada bicaranya itu seperti penasaran dan terdengar menuntut agar pria itu mau mengatakan pasal mimpinya.
"Umm… semalam aku bermimpi aneh sekali." Victor mulai menceritakan mimpinya para kedua kakak beradik tersebut. "Waktu aku terbangun. Kalian tidak ada di mana-mana. Lalu aku keluar dan mencarinya tapi tidak ketemu. Perutku lapar. Aku masuk ke dalam mall, berniat mencari makanan. Aku tak menemukan apa pun. Tapi, aku mendengar sesuatu. Lalu aku mencari sumber suara itu dan kalian percaya apa yang aku lihat?"
"Apa?" Dave dan Devina mengucap serempak dengan dahi berkerut tanda penasaran.
"Aku melihat zombie memakan tubuh kalian," ujar Victor membuat Dave dan Devina mengerling heran.
"Hah?"
"Iya. Setelah itu aku berlari. Zombie itu mengejarku. Setelah berhasil melewati dan keluar dari mall aku melihat anakku."
"Teddy?" Devina bertanya.
"Ehm." Victor mengangguk. "Tetapi, gempa bumi tiba-tiba datang. Kau tahu, jalan ini, tempat yang kita gunakan berpijak ini terbelah. Pohon-pohon roboh dan semua bangunan runtuh. Aku berhasil menyelamatkan anakku di sini, tepat aku berdiri di sini. Tetapi setelah itu, gedung ambruk menimpa kami."
Devina bergidik membayangkan mimpi pria itu.
"Itu hanya mimpi kan?" Suara Dave terdengar meremehkan.
Devina melempari tatapan tajam ke arahnya.
"Maaf, maksudku syukurlah itu hanya mimpi. Buktinya kami masi berdiri di sini dengan baik-baik saja." Dave menepuk bahu Victor berusaha menenangkan.
"Sudahlah… kau tidak perlu memikirkannya. Semua orang juga pernah mengalami mimpi buruk. Lebih baik kau lupakan dan mari kita mencari anakmu lagi," ujar Dave.
Victor masih mematung dengan pandangan kosong menatap bawah.
"Dave benar. Sebaiknya kita cari anakmu lagi." Devina yang bersuara. "Victor! Ayo!"
Dave dan Devina mulai membalikkan tubuh. Menggerakkan kakinya melangkah menuju mobil. Sementara Victor masih terdiam. Perlahan pria itu mendongakkan kepala. Menatap dua orang yang berjalan di depannya sana.
"Itu memang mimpi. Lalu, bagaimana jika itu terjadi beneran?" Perkataan Victor memancing dua orang di depan sana menghentikan langkahnya seketika.
Dave dan Devina membalikkan tubuh menatap Victor dengan tatapan penuh arti.