Nightmare

1059 Words
Victor mulai menggerakkan langkahnya. Menuju lantai atas tempat yang biasa tersedia sebuah cafe. Ia memilih naik menggunakan tangga karena ia tahu pasti liftnya sudah tidak lagi berfungsi. Setiap gerakan terdengar nyaring tercipta dari gesekan antara sepatu pria itu dan anak tangga. Padahal, Victor sudah berusaha memelankan langkahnya. Setelah mencapai ujung tangga, pria itu mencari-cari cafe dengan cahaya ponselnya. Sesekali ia menoleh ke belakang, samping, atas, dan sekitar untuk melihat dan memastikan tidak ada bahaya yang mendekat. Setelah menemukan area cafe dan resto, segera ia masuk melewati pintu kaca. Ia menuju dapur masak. Membuka-buka lemari penyimpan makanan tetapi hanya makanan-makanan busuk yang ia temukan. "Sial!" Victor kembali menutup pintu lemari tersebut dengan sangat keras. Kemudian ia duduk. Mencoba mengatur napasnya juga perutnya yang mulai sakit. Tiba-tiba, bunyi dari arah lain menyerbu indera pendengarannya. Ia mendengar suara seperti seekor kucing yang menggerogoti tulang-tulang. Victor kembali berdiri menegakkan tubuhnya. Mulai bergerak melangkah. Berjalan dengan bantuan cahaya senter dari ponselnya. Mencari tahu sumber suara tersebut dan peristiwa di baliknya. Setelah ia cari sumber tersebut semakin dekat mengarah padanya. Oh tidak, lebih tepatnya, dia yang mengarah pada sumber suara tersebut. Bunyi seperti seekor binatang yang mengunyah daging-daging merasuk gendang telinga Victor dengan sangat kuat. Hal itu memancing kaki pria itu untuk bergerak melangkah lebih cepat. Setelah menemukan sumber suara tersebut, mata Victor menjadi sebesar piring. Ia melihat sosok zombie yang sibuk menyantap dua daging untuk manusia yang masih tampak segar. Manusia tersebut berjenis kelamin pria dan wanita. Yang pria masih utuh namun tak lagi bergerak, sedangkan yang wanita hanya tersisa sebagian tubuhnya saja. Pakaian yang dikenakan dua korban tersebut sangat amat ia kenali. Saat Victor menyorot bagian kepalanya, tangan Victor semakin gemetar. Mulutnya menganga tanda keterkejutan yang tiada tara. "Dave! Devina!" Victor tak menyangka kalau dua temannya itu kini sudah menjadi santapan zombie. Karena suara Victor yang sedikit meninggi lantaran terkejut, membuat zombie tersebut berhenti mengunyah. Memutar tulang lehernya ke belakang menatap Victor yang menegang. Zombie tersebut tersenyum, membuat usus yang panjang yang sedari tadi dikunyah di mulutnya terjatuh. Wajahnya begitu memberikan dengan darah yang membasahi mukanya. Victor gemetar dibuatnya. Kakinya bergerak mundur dengan langkah gemetar. Lantas, ia membalikkan tubuh dan segera lari dari sana. Namun, sialnya zombie tersebut mengejarnya. Suara derap langkah kaki Victor yang menggema, membuat beberapa zombie yang menghuni tempat tersebut menjadi terpancing dan keluar dari tempat persembunyiannya. Victor semakin ketakutan saat para zombie bermunculan dari berbagai arah. Pria itu mengambil tongkat pengepel lantai. Berjaga-jaga jika ada zombie yang bergerak ke arahnya dan dia akan langsung memukulinya. Sosok zombie meloncat menghalangi jalan Victor yang mulai menuruni anak tangga. Hal itu membuat Victor menghentikan langkahnya dengan mata membola. Ia menaruh ponselnya ke dalam saku dan memasang tubuh waspada. Zombie di depan sana bergerak ke arahnya. Saat sudah dekat, Victor memukul kepalanya dengan sangat keras. Zombie tersebut tak tinggal diam. Terus saja ia mencoba meraihnya. Victor menendang perutnya hingga zombie tersebut mengguling jatuh ke lantai. Tetapi tak berakhir begitu saja. Kini dari belakang Victor di hadapkan dengan makhluk yang sama. Zombie yang dimulutnya masih mengunyah usus manusia membuat Victor teringin muntah. Victor menonjol perut zombie tersebut dengan ujung tongkat yang dipeganginya. Lantas memukul kepalanya berkali-kali. Menendangnya hingga zombie tersebut terjatuh. Di atas dan di bawa sana para zombie mulai menghadangnya lebih banyak lagi. Victor akhirnya memutuskan untuk meloncat dari tengah tangga hingga mengguling di sebuah sofa ruang tunggu. "Sial!" Pria itu mengangkat meja kaca dan melemparkannya ke arah Zombie yang menghalangi jalan keluar. Meja tersebut pecah dan kaca-kacanya menancap di tubuh zombie tadi. Victor lantas bergerak untuk segera keluar dari sana. Sesampainya di luar, petir menyambar dengan sangat ganas. Menyambar pucuk apartemen. Masuk ke dalam dan membuat benda yang beraliran listrik menjadi terbakar. Api tiba-tiba membulat dari dalam sana. Victor tertegun melihatnya. Lama kelamaan api tersebut merambat ke bawah, membuat Victor cepat-cepat berlari. Di tengah perjalanan ia merasakan sesuatu yang aneh. Jalanan aspal tempatnya berpijak saat ini tiba-tiba bergetar. Bergoyang dan membelah dengan perlahan. Victor terjatuh. Pria itu tertegun melihat keadaan di sekitarnya. Matanya menjadi sebesar piring dan mulutnya membuka. Tangannya yang berada menyentuh permukaan tanah mulai bergetar akibat tanah tersebut mengguncang. Detik berikutnya pohon-pohon mulai roboh. Lampu lalu lintas menyapa tanah dengan sangat keras. Victor mencoba mendirikan tubuhnya. Berlari di kejar tanah yang retak. Kemudian ia melihat siluet anak kecil yang juga berlari. "Teddy!" Pria itu berteriak kencang. Siluet tersebut berhenti sejenak. Menoleh ke arah Victor. "Papa!" Itu suara Teddy yang langsung membuat Victor mengharu biru, namun juga ketakutan akan keadaan yang terjadi di sekitarnya. "Teddy!" Victor berlari secepat mungkin untuk mencapai bocah di sana. Dahan pohon tiba-tiba jatuh di depan Victor, sehingga menghalangi jalannya. Beruntung tidak jatuh mengenai dirinya. "Sial!" Victor mengumpat dan mencari celah lain. "Teddy!" Victor berteriak dan bergerak cepat ke arahnya. "Papa!" Teddy yang melihat itu benar ayahnya juga berteriak dan berlari ke arahnya. Namun tiba-tiba jalan di depannya terbelah memisahkan antara dirinya dan sang ayah. "Teddy! Jangan bergerak!" Victor berteriak memberi peringatan. Karena, jika anak itu bergerak maju maka akan masuk ke lubang tanah. Victor mulai mencari cara agar ia sampai pada putranya. Yang jelas, ia tak akan bergerak maju karena ada lubang yang bisa menelan dirinya di depan sana. Ia lantas bergerak ke samping. Naik pada dinding bangunan untuk sampai di jalan tempat Teddy berdiri. Akhirnya pria itu berhasil. Dengan penuh haru ia berlari cepat ke arah Teddy. Namun tanah kembali bergetar, menciptakan retakan seperti kilat. "Papa! Aku takut!" kata Teddy gemetar memperhatikan sekitarnya yang mulai berguncang. "Teddy, jangan bergerak. Tetap diam! Papa akan segera ke sana. Oke? Kau diam saja." Sebisa mungkin pria itu menyuruh anaknya tetap tenang dan diam. Karena bergerak sedikit saja akan langsung membuat tanah tersebut kembali terbelah lantaran entah mengapa tanah tersebut menjadi sangat rapuh. "Teddy! Pegang tanganku, Sayang!" Victor memberi perintah dengan nada penuh kasih sayang. "Ayo pegang, Nak!" Tangan Teddy yang gemetar mulai bergerak. Hendak menyentuh tangan sang ayah yang terulur ke padanya. Saat ujung tangan mungil itu berhasil menyentuh tangan Victor, tiba-tiba sesuatu terjadi. Tanah di dalam sana kembali mengamuk. Mengguncang hingga benda-benda di atasnya ikut terguncang. Sebuah gedung tinggi mulai bergetar. Sebagian pucuknya mulai berjatuhan. Detik berikutnya gedung tersebut mulai runtuh. Beton dan material kaca remuk. Gedung tersebut ambruk. Victor dan Teddy melihat ke atas. Semakin panik saat reruntuhan gedung tersebut tepat berada di atasnya dan sebentar lagi mereka akan tenggelam tertimbun ke dalam reruntuhan. Sangat kecil kemungkinan untuk selamat jika terhantam pondasi sebentar itu. Brak!!!! "TEDDY!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD