Awan Yang Pekat

1095 Words
Roda yang awalnya berputar kini tiba berhenti, bergesekan dengan aspal, membuat benda besi tersebut ikut mandek. Akibat berhenti secara mendadak membuat Victor hampir terjungkal ke depan, namun untungnya sabuk pengaman yang melilit di perut menahannya. Pria itu menoleh ke samping dengan dahi berkerut. Menatap seorang pria yang sedari tadi mengambil alih kemudi. "Hei, kenapa kau berhenti tiba-tiba?" tanya Victor. Dave terdiam belum menjawab. Pandangannya hanya menatap ke arah kaca tembus pandang di depannya. "Lihatlah!" Akhirnya suara tersebut terlontar dari kerongkongannya bernada parau. Sementara pandangannya tetap menatap ke depan. Victor meluruskan mata. Melihat ke arah kaca tembus pandang di depannya. Ia langsung tertegun dengan mata membola. Meneguk ludah saat melihat awan hitam yang menggulung di atas sana. Mendung tidak pernah seperti itu. Awan itu berbeda dari yang pernah ia lihat. Seperti gulungan asap yang membumbung begitu kenal. "Ada apa?" Devina yang duduk di bangku belakang mulai penasaran. Lantaran kedua pria di depan sana belum juga menjawab dan sibuk dengan rasa keterkejutannya, Devina akhirnya memilih untuk melihat sendiri. Wanita itu mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua tangannya meraih punggung kursi dan menyentuhnya. Sementara pandangannya ia arahkan pada kaca tembus pandang. Dari sana ia bisa melihat langit yang begitu mencekam. "Apa itu?" Devina meneguk ludah. "Itu seperti mendung," kata Dave menyahut. "Itu bukan mendung sembarangan." Victor berucap dengan mata waspada. Lantas ia melepas sabuk pengamannya yang sedari tadi mengalung di perutnya, kemudian membuka pintu sampingnya dan berniat keluar. "Hei, kau mau ke mana?" tanya Dave yang juga mulai melepaskan sabuk pengamannya. Devina melakukan hal serupa. Victor keluar mobil. Angin langsung menyerbunya, membuat tangannya ia arahkan ke depan bermaksud menghalau dedaunan serta debu yang menerobos dirinya. "Oh My God!" Devina tertegun saat pertama kali membuka pintu mobil dengan pandangan yang langsung menatap langit atas sana. "Apa akan terjadi hujan badai?" tanyanya kemudian. "Aku tidak tahu." Dave menyahut dengan menggeleng serta pandangan yang sibuk memperhatikan gulungan awan hitam. "Tapi sebaiknya kita harus pergi dari sini!" ujarnya kemudian. "Aku rasa semuanya tidak beres!" Devina mendesis. Mereka mulai melihat awan tersebut bergerak lebih dekat. "Ini sangat mengerikan." Devina kembali berceloteh dengan kepala yang menggeleng-geleng. "Kalian cepat masuk mobil kembali!" ujar Dave yang merasa akan terjadi sesuatu yang mengerikan. Pria itu kembali masuk mobil dan membanting pintunya dengan sangat keras. Pun begitu dengan Devina yang kembali masuk ke dalam kendaraan besi tersebut. Namun, berbeda dengan Victor yang masih berdiam memperhatikan awan hitam tersebut. "Hei, Victor! Cepatlah. Kita harus pergi dari sini!" Dave memberi aba-aba. Victor masih terdiam. Devina membuka pintu sampingnya, mencondongkan kepala keluar menatap Victor yang mematung. "Hei, apa yang kau lakukan di sana? Ayo cepat masuk!" kata Devina sedikit berteriak saat angin kencang mencoba menyamarkan suaranya. Victor kembali tersadar dari lamunannya sesaat. Membalikan tubuh. Melirik ke arah Devina sejenak sebelum akhirnya tangannya menyentuh pintu mobil dan membukanya. Victor mulai masuk lantas duduk dan menutup kembali pintu bersamaan dengan Devina. "Sesuatu yang mengerikan akan terjadi." Victor memberi tahu firasat yang dirasakannya pada mereka berdua. Dave tanpa banyak bicara langsung memutar mobilnya dan mengemudikannya dengan cepat. "Apa yang terjadi sebenarnya dengan dunia ini?" Devina bergumam dengan terus memandang ke arah jendela kaca di sampingnya. "Saat teknologi mulai melemah, maka kehancuran yang akan terjadi." "Jangan bicarakan hal buruk!" Dave mencoba menyangkal. Dave membawa mobil tersebut menyusuri jangan yang sepi. Angin kian menderu membawa dedaunan kering serta sampah-sampah plastik yang beterbangan seakan berlomba adu kecepatan dengan mobil mereka. "Sekarang kita mau ke mana?" tanya Devina. "Apa yang kau tanyakan? Tentu saja mencari anakku!" Victor kembali berucap. "Dari tadi kita mencarinya tapi tidak ketemu juga!" Dave menyahut. "Atau jangan-jangan anakmu sudah pulang ke rumahmu sendiri?" asumsi pria itu yang langsung disangkal oleh Victor. "Tidak mungkin. Teddy belum tahu pasti jalan pulang. Dia pasti masih berkeliaran di luar," kata Victor. "Kalau begitu itu jauh lebih buruk. Dengar, aku tidak mau menakut-nakutimu. Tapi, banyak zombie yang berkeliaran mencari mangsa, kemudian awan hitam, alam menunjukkan keadaannya yang tidak baik-baik saja. Dan anakmu berkeliaran di luar sana seorang diri–" "–jangan coba-coba kau mengatakan hal buruk yang akan terjadi pada putraku, Teddy!" Suara Victor menegas, tak terima dengan perkataan Dave. "Aku tidak mengatakan kalau anakmu–" "–tapi arah pembicaraanmu merujuk ke sana!" timpal Victor. Mereka mulai berdebat. Sementara Devina hanya pusing memperhatikannya. Sampai pada akhirnya Dave kehilangan fokus jalan dan mobilnya bergerak melenceng. "Dave!!!" Devina yang menyadarinya beberapa teriak. Bergerak maju secara spontan dan mencoba mengambil alih kemudi. Namun usahanya tersebut sia-sia. Brak!!! Mobil mereka menubruk sebuah pohon pinggir jalan dan membuka mereka pingsan. Semuanya menjadi gelap. *** Angin menderu begitu kencang, membawa sampah-sampah yang beterbangan. Bahkan tong yang mulanya berdiri kini ikut roboh diterjang angin. Victor keluar dari mobil. Melihat langit yang begitu gelap. Cahaya lampu tak ada yang menyala semuanya padam. Serta, tak ada siapa pun di sana. Kosong nan sunyi. "Dave! Devina!" Pria itu berteriak di tengah gelapnya malam. Mencari dua tamannya yang seharusnya bersamanya tetapi tak di temukan jua. Ia memilih menggerakkan kakinya, berjalan mencari mereka, atau setidaknya dia bakal bertemu manusia lain. Udara dingin semakin menyesap jaket pria itu. Ia merogoh sakunya. Mengambil benda pipih dan mengoperasikannya. Menyalakan senter guna menerangi keadaan. Kilatan di langit sana membuatnya terkejut. Juga petir yang tiba-tiba menyambar. Rupanya, sebentar lagi akan turun hujan yang begitu dahsyat. Victor kembali mempercepat langkah. "Teddy!" "Dave!" "Devina!" Walau pun mulutnya berteriak sedemikian rupa, tetapi hanya suara alam yang menyahut. Guntur bergemuruh begitu hebat, membuat Victor semakin ketakutan. Tubuhnya gemetar dengan jantung berdegup kencang. "Di mana kalian semua?" tanyanya pada diri sendiri dengan suara bergetar. Cukup lama ia menggerakkan kakinya ke sana kemari. Kelelahan mulai menguasainya. Juga, rasa lapar dan dahaga yang menggertak jiwanya. Namun, tak ada apa pun yang bisa ia gunakan untuk mengganjal perut. Meskipun ia kini duduk dia kursi depan sebuah mall besar, tetapi mall tersebut seperti kosong. Bangun-bangun yang menjulang tinggi juga tampak sunyi nan gelap. "Sebaiknya aku masuk ke dalam saja. Hujan juga sebentar lagi akan turun. Mungkin, di dalam aku bisa menemukan sesuatu yang bisa aku gunakan mengganjal perut." Usai bergumam dan berpikir, pria itu mulai bergerak masuk ke dalam. Mencari pintu tetapi pintu tersebut tak bisa dibuka. Victor tidak kehabisan akal, ia mengambil batu di sekitar yang cukup besar dan melemparkannya ke pintu kaca bangun mall mewah tersebut. Kaca tersebut pecah dan kemudian ia segera masuk ke dalamnya. Jika itu dilakukan lima tahun yang lalu, maka CCTV akan merekamnya dan dia akan langsung dijerat hukuman. Tetapi, kini keadaannya berbeda. Tak ada seorang pun yang bisa melihat serta menangkapnya. Victor memperhatikan mall tersebut yang benar-benar sunyi. Ia menjadi ingat tentang film horor yang biasa ia tonton. Kengerian mengusiknya. Bahkan bulu romanya kian berdiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD