Masa Lalu

1002 Words
Lelaki berpakaian compang-camping itu mengangguk. "Iya. Mereka akan menyerang kita jika kita tidak bersembunyi." "Tapi aku harus mencari papa," ucap Teddy mengingat sosok ayahnya. "Kita akan mencarinya bersama-sama. Kau tenang saja." Lelaki tua itu menyakinkannya. "Kau janji?" Lelaki itu mengangguk. "Oh iya, siapa namamu?" tanya Teddy. Lelaki tua itu tersenyum sebelum menjawab. "Kau bisa memanggilku Simon." "Simon? Itu seperti tokoh kartun dalam televisi. Hahaha!" Teddy tergelak, membuat lelaki tua bernama Simon itu ikut tertawa. "Apa kau memiliki anak juga?" tanya Teddy sekali lagi. Simon terdiam beberapa jenak. Memasang ekspresi sedih kemudian kembali tersenyum. Ia menggelengkan kepala. "Tidak. " "Apakah kau punya keluarga?" tanya Teddy lagi. Simon kembali menggeleng dengan ekspresi sedih. "Jadi kau sendirian di sini?" Teddy bergumam. "Aku juga sendirian. Kita sama-sama sendirian. Bagaimana kalau kita sama-sama mencari keluarga kita?" Tingkah anak itu sangat lugu sekali, tapi bisa juga dikatakan sangat dewasa. Simon mengangguk dan langsung memeluk anak itu kuat. *** "Lihatlah, semuanya tampak sunyi! Dulu aku selalu melewati jalanan ini dan tak pernah sesunyi ini. Justru selalu ramai dua puluh empat jam. Kendaraan berlalu lalang tiada henti. Orang-orang berlarian di tepian jalan. Saling bertegur sapa saat bertemu." Dave berkata sembari mengingat masa-masa lima tahun yang lalu saat keadaan kota masih baik-baik saja. "Dulu di sini banyak sekali robot pengantar barang yang berkeliaran. Sekarang hanya ada sampah-sampah berjatuhan." Saat Dave dan Devina sibuk memperhatikan suasana luar dari balik kaca jendela mobil, Victor hanya membisu sembari terus memutar setir kemudi. Auranya suram, sesuram langit sore kala itu. Tubuhnya berada di tempat, tetapi isi kepalanya berada entah ke mana. Yang jelas, hanya satu yang di pikirkannya. Yaitu tentang anaknya, Teddy. Dave menoleh ke samping. Menyudahi melihat pemandangan luar, dan memilih menengok ke arah pria yang murung di sampingnya. "Apa kau kelelahan? Biar aku saja yang menggantikan menyetir," tawar Dave pada Victor. Victor tersadar akan lamunannya tersebut. Melirik sekilas ke arah Dave sembari berkata, "Tidak apa-apa. Aku masih baik-baik saja." "Sebaiknya biar kakakku saja yang menyetir. Aku tahu kondisimu lemah, apalagi terus mengingat putramu." Devina angkat suara di belakang sana. "Dalam kondisi seperti itu, sangat tidak dianjurkan untuk menyetir." Victor menyudutkan tawanya kecil. "Itu kalau berada di jalan yang penuh hilir pekik kendaraan lain. Tapi, kalau kalian memaksa baiklah." Victor menoleh ke arah Dave sejenak. "Kau saja yang menyetir. Dengan begitu mungkin aku bisa fokus menajamkan pandanganku melihat-lihat ke sekeliling siapa tahu aku menemukan anakku," sambungnya. "Baiklah," ucap Dave setuju. Lantas Victor segera menghentikan mobilnya. Bergeser ke samping, berlawanan arah dengan Dave yang juga menggeserkan tubuh ke samping. Saat mereka sudah di posisi masing-masing, giliran Dave yang mulai memutar kemudi mobil dan kembali menjalankan mobil putih tersebut melewati jalanan yang kanan kirinya berdiri gedung-gedung pencakar langit. "Bolehkah aku melihat foto putramu? Yah, siapa tahu aku melihatnya nanti," kata Devina. "Tentu saja!" Victor menoleh ke belakang. "Tolong ambilkan tasku di sampingmu. Ponselku ada di dalam sana," pintanya pada Devina. Wanita itu melirik ke samping. Tepat terdapat sebuah ransel besar yang tampak menggemuk dengan barang-barang di dalamnya. Segera ia mengangkat tas tersebut dan memberikannya pada Victor. "Uff… berat sekali. Rupanya kau sudah merencanakan untuk kabur dari rumah ya!" seloroh Devina. "Apa kau tidak berniat untuk kembali lagi ke rumahmu?" sambungnya bertanya dengan nada bercanda. Victor ikut terkekeh. "Sebenarnya saat Teddy tiba-tiba menghilang, ada kejadian lain yang mengharuskanku keluar rumah," kata Victor. "Oh, ya? Apa itu?" Dave yang asyik mengemudi menyahut bertanya. "Gempa!" jawab Victor mantap langsung membuat Dave menghentikan mobilnya secara mendadak. "Apa?" Dave dan Devina terkejut bersamaan. "Aku tidak tahu. Tanah bergerak. Genting berjatuhan. Ada bunyi dan sesuatu yang seperti hendak keluar dari kerak bumi. Waktu itu aku berdiam sejenak. Tetapi lama-kelamaan bumi benar-benar bergoyang. Retakan di mana-mana. Aku langsung berlari ke dalam rumah. Mengemasi semua barang-barang dan berlari dengan mobil ini." Dave dan Devina mendengarkan dengan serius cerita pria itu. "Lalu aku bertemu dengan kalian," sambung Victor. Pria itu membuka resleting ranselnya yang bagian depan. Merogoh ke dalam dan menemukan sebuah foto bergambar dirinya, istrinya, dan anaknya yang tengah tersenyum penuh kebahagiaan. "Ini dia fotonya." Pria itu menyodorkan benda tipis ke pada Devina. Dave kembali mengemudikan mobilnya. "Foto itu di ambil tujuh tahun yang lalu saat usia Teddy masih sekitar tiga tahun. Kau lihat baground belakangnya? Itu di taman. Dahulu indah sekali bukan?" Victor berkata penuh emosi. Devina memerhatikan foto tersebut. Tersenyum ramah. "Anakmu sangat lucu. Dan istrimu juga sangat cantik," pujinya. "Yah, kau benar. Itu kenapa aku sangat menyayangi mereka berdua." Victor tersenyum ramah. "Mana coba lihat!" Dave rupanya juga sangat penasaran. Devina memberikan foto itu padanya. Dave mengambil dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih fokus pada setir mobil. Begitu ia melihatnya, ia sedikit terkejut. Terutama, saat melihat sosok wanita yang tersenyum lebar di foto tersebut. "Tidak mungkin. Elena?" kata Dave dengan mata mengerling. Victor mengeryitkan dahi penuh tanda tanya. "Kau tahu tentang istriku?" tanya Victor terheran. Dave menyudutkan senyuman tipis. "Istrimu sangat cantik. Kau beruntung mendapatkannya." Dave berkata sembari memberikan foto tersebut pada Victor. "Aku mengenalnya. Tapi itu dulu. Bahkan aku sangat dekat dengannya." Dave menyambung ucapannya. "Jangan bilang dia wanita yang membuatmu berdebat dengan ayah waktu itu." Devina menyahut dengan bertanya sekaligus terkejut. "Sebentar sebentar … kau mengenal istriku?" Victor bertanya sekali lagi pada Dave. "Kalau aku katakan yang sejujurnya, apa kau akan cemburu?" Dave berkata dengan tertawa ke arah Victor. "Asal kau tahu, dia mantan pacarku saat sekolah dulu." "What?!" Kerutan di dahi Victor semakin banyak saja. "Ayah tidak setuju Dave dengannya. Jadi mereka putus." Devina menimpali dengan nada santai. "Bahkan sebelum dia mengenalkannya padaku," sambungnya. "Tapi itu lebih baik, bukan?" Dave berkata dengan menoleh ke arah Victor sejenak. "Jika ayahku menyetujui hubungan kami, mungkin Elena sudah menjadi milikku sekarang. Bukan denganmu. Hahaha," candanya dengan tertawa. Victor ikut tertawa. "Elena tidak pernah cerita tentang cinta pertamanya. Aku kira, cinta pertama diriku." Victor menertawakan dirinya sendiri. "Jangan harap wanita akan berterus terang, Victor. Wanita itu sangat hobi menyembunyikan sesuatu," ucap Dave menegaskan seolah menyindir Devina di belakangnya. "Hei hello… kami kaum wanita punya alasan untuk menyembunyikan sesuatu!" sahut Devina menimpali perkataan kakaknya. "Lihatlah, dia mulai mengamuk!" gerutu Dave.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD