Monster?

1066 Words
"Kau terlalu banyak bicara. Sekarang giliranmu. Ayo ceritakan pada kami tentangmu!" Devina menyahut cepat perkataan Victor. "Bahkan kami belum tahu siapa namamu," sambungnya dengan mengerling. Victor dengan terus memutar kemudi mobil mulai menceritakan tentang dirinya pada dua saudara tersebut. "Namaku Victor Kinkade. Aku bekerja di perusahaan di bidang teknologi dan ilmu fisika." "–jadi kau seorang peneliti juga?" Devina menyela cepat. "Umm… bisa dikatakan seperti itu." Victor mengangguk. "Aku tinggal bersama anak laki-lakiku yang baru berusia enam tahun. Aku tinggal di dalam rumah tanpa keluar selama beberapa bulan. Itu sungguh sangat mengganggu. Dan lebih parahnya lagi, anakku sekarang menghilang entah ke mana. Tadinya aku berpikir akan meminta bantuan polisi, tapi… aku malah bertemu dengan kalian. Dan seperti inilah akhirnya," ungkap Victor. "Istrimu? Di mana?" tanya Devina. Victor terdiam untuk beberapa kenak. Menarik napas dan menyemburkannya. "Istriku berada di rumah orang tuanya. Aku berencana untuk menjemputnya setelah menemukan anakku." "Jadi kalian hidup terpisah selama ini?" Dave yang bertanya. Victor menganggukkan kepalanya pelan. "Ehm. Aku benci mengatakan ini, tapi… kami juga putus komunikasi. Sinyal dan keadaan ini sangat menyiksaku." "Kapan terakhir kali kau bertemu dengannya?" Devina bertanya. "Mungkin… sekitar setahun yang lalu," jawab Victor. Dave yang duduk di sampingnya tersenyum tipis penuh arti. "Sudah setahun lalu tanpa kabar, dengan keadaan dunia yang seperti ini, apa kau yakin kalau–" "–Dave tutup mulutmu!" Devina menyela ucapan kakaknya dengan cepat. "Victor, coba kau bayangkan. Lihat ke sekelilingmu. Semuanya berbeda. Orang-orang menjadi zombie–" "–apa kau mencoba mengatakan kalau istriku sudah menjadi bagian dari mereka?" Suara Victor terdengar geram. Dave menghela napas berat. "Aku benci mengatakan ini, tapi… mungkn … yah!" "Dave!" Devina di kursi belakang mencoba menahan kakaknya itu untuk tak menyakiti perasaan orang lain dengan ucapannya. "Istriku masih hidup. Aku yakin itu!" Victor mengerjap dan mengatakan hal itu, walau dalam hatinya ada rasa bimbang yang tertahan. "Victor, terkadang kebenaran sangat menyakitkan, tapi…." "–aku bilang dan sangat yakin istriku masih hidup! Kau dengar?!" Victor menghentikan mobilnya dan berteriak ke arah Dave. Dave langsung terdiam meneguk ludah. "Demi Tuhan, kalau tidak bisa bicara dengan benar sebaiknya tutup mulutmu itu, Dave!" ujar Devina yang mulai kesal dengan tingkah kakaknya. Dave menyemburkan napas. "Baiklah… baiklah. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyinggungmu, tapi aku membantumu untuk menerima keadaan. Aku tidak mau kau terlalu sakit saat mengetahui kebenarannya nanti!" Dave berkata dengan sangat mantap, seolah bukan hanya untuk Dave saja perkataannya tersebut, tetapi juga untuk adiknya yang duduk di belakang. Devina meneguk ludah. Menundukkan kepalanya sembari mengerjap. "Tapi, kawan!" Dave menggerakkan tangannya, menyentuh bahu pria di sampingnya dan menepuk-nepuknya kecil. "Kalau kau yakin istrimu masih hidup, maka pasti itulah kebenarannya." Senyuman Dave yang tulus menjadi pelengkap perkataannya tersebut. Hal itu langsung melenyapkan rasa kesal Victor terhadap Dave. Victor menerbitkan senyum. Lantas kembali menatap depan, dan mulai mengemudikan mobil kembali. "Bagaimana Teddy bisa hilang?" tanya Devina. "Sebentar sebentar, bagaimana kau tahu kalau nama anakku adalah Teddy? Padahal dari tadi aku belum menceritakannya," tanya Victor dengan dahi berkerut. Devina tertawa kecil. "Bukannya kau tadi selalu menyebut namanya?" "Oh iya." Victor terkekeh. "Waktu itu aku sedang ke kamar mencoba menghubungi istriku. Teddy menonton televisi. Tapi, aku tak lagi mendengar namanya. Mungkin dia kabur." "Kabur?" Dave mengerling heran. Victor menyemburkan napas berat. "Dia selalu menanyakan soal ibunya. Dia ingin bertemu ibunya. Berkali-kali aku memberinya pengertian kalau di luar sangat berbahaya tapi… dia masih anak-anak bukan. Sudah setahun lebih tidak bertemu dengan ibunya dan tidak keluar rumah. Huftt…" Rasa sedih kembali menyelimuti hati Victor. "Dia pasti ditemukan!" Dave kembali menyentuh bahu Victor dan mengelusnya. "Tapi dia masih kecil. Di luar berbahaya. Dan para zombie itu…." Victor kembali menundukkan pandangannya dengan menggeleng. "Aku bahkan tidak bisa membayangkannya." "Jangan membayangkan hal yang buruk!" Devina dari belakang ikut memberinya semangat. Menyentuh punggung Victor dari belakang. "Kau yakin istrimu masih hidup, itu juga berlaku untuk putramu. Yakinkah bahwa dia baik-baik saja." Mendapat dukungan dari kedua kakak beradik itu membuat Victor semakin semangat. Kembali ia mengangkat kepalanya. Menatap mereka secara bergantian dengan menyunggingkan senyum. "Terima kasih," ucapnya. "Kita harus segera menemukannya. Entah di mana kau nak!" *** "Papa!" Teddy terbangun dari tidurnya. Melihat langit-langit rumah yang tak sama dengan kamarnya. Tidak ada boneka kuda beserta koboinya yang menggantung di lampu. Plafon itu terbuat dari seng yang sudah rusak. Tidak ada Spiderman yang seharusnya menempel di dinding kamarnya bagai cicak. Tidak ada pula Superman yang terbang tertempel dinding. Dinding itu hanya berupa batu bata dengan berbagai sarang laba-laba. "Di mana aku?" Suara lugunya kembali terdengar. Dari persegi panjang, terdapat cahaya. Namun cahaya tersebut terhalang oleh siluet. Teddy gemetaran dibuatnya. Duduk memeluk lutut dengan mata terpejam. Namun masih mencoba mengintip suasana luar. Siluet terus berjalan. Hingga pada akhirnya menyerupai tubuh manusia. Tidak lagi gagah. Tubuh itu terlihat tua. Semakin lama semakin terlihat jelas. Semakin pula membuat Teddy ketakutan. "Kau sudah bangun?" Suara lelaki itu membuat Teddy merenung. Ia kenal suara itu. Suara yang baru di dengarnya satu jam yang lalu. Teddy memulangkan kembali ingatannya. Cukup mudah untuk anak seusia enam tahun mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Teddy keluar rumah. Terjebak. Mencari ayahnya. Lalu bertemu pria tua yang menyelamatkannya dari makhluk mengerikan. "Aku membawakan minum untukmu!" Lelaki tua itu sudah sampai di hadapan Teddy. Mulai merendahkan tubuhnya. Duduk di hadapan anak kec itu. "Ini minumlah. Ada sedikit roti juga untuk mengganjal perutmu." Pria itu menyodorkan sebotol minuman air putih dan sebungkus roti. Awalnya Teddy ragu untuk menerima, tapi mengingat pria itu telah menyelamatkannya, tidak ada alasan untuk takut lagi dengannya. Meskipun, wajahnya itu terbilang cukup seram bagi anak seusia dirinya. "Terima kasih." Dengan sangat lugu anak itu berkata seperti itu. "Sini aku bukakan!" Lelaki tadi membuka bungkus roti dan memberikannya pada Teddy. Teddy dengan lahapnya memakan sampai habis. Kemudian meminum minuman pemberian sang pria. "Siapa namamu, Nak? Dan kenapa kau berkeliaran di sini? Di mana orang tuamu?" Lelaki baya itu memberondong pertanyaan. "Aku Teddy. Ayahku bernama Victor dan Ibuku bernama Elena. Aku keluar rumah untuk mencari ibuku. Tapi aku malah tersesat." Teddy bercerita dengan sangat polos. Gaya cerita anak itu membuat senyuman terbit di garis bibir tua milik lelaki tersebut. "Di mana ini? Kenapa gelap sekali?" tanya Teddy sembari memperhatikan suasana ruangan yang gelap. "Kita sedang bersembunyi di sini," jawab Lelaki itu. "Dari monster? Monster yang tadi itu? Yang matanya merah dan banyak darah ditubuhnya?" Teddy ingat betul bagaimana penampakan zombie yang dilihatnya tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD