Benjamin menarik napas panjang. Mengumpulkan segala keberanian untuk menyatakan sebuah kebenaran yang cukup menyedihkan.
"Paman Ben…!" Kedua tangan Victor menumpu pada pundak pria baya di depannya. "Katakan!" sambung Victor dengan kedua mata penuh permohonan.
Benjamin meneguk ludah. Mulai merangkai kata-kata yang hendak dilontarkannya. "Sebenarnya… sebenarnya mereka sudah tiada sejak lama."
Mata Victor menjadi sebesar piring. Mulutnya membuka sedemikian rupa. "Tiada? Apa maksudmu tiada?"
"Dengar, Nak!" Kini tangan tua Benjamin mengelus bahu Victor. "Mertua dan istrimu sudah meninggal sejak lama. Mereka ikut terserang virus mematikan itu."
Jleg! Hati Victor serasa tersendat. Ada yang mencabut jantungnya itu tiba-tiba.
Kepala pria itu menggelengkan cepat. Air matanya luruh. Kedua tangan yang mulai menumpu pada kedua bahu Benjamin, kini mulai tersungkur.
"Tidak mungkin… istriku tidak mungkin meninggalkanku." Victor mencoba untuk mengelak sebuah kebenaran, tetapi… nyatanya itu nihil.
Kaki Victor menjadi serupa jelly. Persediannya tak lagi memiliki kekuatan yang cukup untuk menyokong tubuh, sehingga membuat tubuh itu ambruk tersungkur di antara rerumputan. Kedua pandangannya kosong dengan bulir yang terus merembes.
Teddy yang melihatnya dari depan teras rumah sana merasa bingung dengan apa yang terjadi pada sang ayah.
"Simon, papa kenapa?" tanya anak itu polos.
Simon yang sudah menyadarinya, raut wajahnya menjadi sendu. Pria baya itu tak berani menjawab pertanyaan Teddy dengan jujur.
"Simon, aku mau menemui papa!" ujar Teddy. Lantas tangan mungilnya tersebut terputus dari genggaman Simon. Mulai menggerakkan kakinya, menerobos rerumputan yang sudah mencapai lutut bocah tersebut.
"Papa!" Teddy memanggil Victor dengan terus menggerakkan langkah kakinya.
Victor tak berkutik. Dunianya runtuh. Rasa sakit serta kekhawatiran selama ini ternyata benar-benar menyerbu perasaannya.
"Papa!" Teddy kini sudah sampai di dekat sang ayah. Melihat wajah sang ayah yang sembab membuatnya ikut merasa sedih. Raut wajah anak itu menjadi murung. "Papa, kenapa papa menangis? Apa orang ini menyakiti papa?" tanya Teddy polos sembari menunjuk Benjamin.
Benjamin hanya bisa menunduk penuh iba. Mencoba mengelus pucuk rambut Teddy, tetapi tangannya langsung disempar oleh bocah tersebut.
"Kau jahat! Apa yang kau lakukan pada papa ku sehingga dia menangis? Papa tidak pernah menangis sebelumnya," celetuk Teddy.
Victor mulai menggerakkan kedua bola matanya menatap ke arah sang putra. Tangisnya semakin membanjir. Melihat wajah sang putra mengingatkan pada wajah sang istri yang amat dicintainya.
"Papa? Kenapa papa menangis?" Kedua tangan mungil Teddy meraih pipi sang ayah, kemudian menyeka bulir bening itu.
Victor langsung memeluk putranya itu dengan erat. Membocorkan tangisnya yang semakin menggigil. Sementara Benjamin dan Simon hanya menunduk diam, seakan merasakan akan kesedihan Victor dan anaknya.
***
Victor memandangi beberapa figura di dinding rumah yang sudah tampak tua. Mengambil salah satu dari figura tersebut yang merupakan berisi gambar sang istri.
Elena tampak gembira di foto tersebut. Senyumnya tercetak sempurna. Itu membuat Teddy tersenyum juga menitikkan air mata kesedihan.
"Saat itu virus menyerbu kota ini. Ibunya Elena terinfeksi sehingga membuatnya sakit parah. Lalu Elena ke sini untuk menjenguknya." Benjamin mulai bercerita kejadian beberapa tahun silam. Mereka kini sudah memasuki rumah tersebut, setelah Benjamin membukakan pintunya.
"Saat pemerintahan memberlakukan lockdown total, kami semua sudah jarang keluar rumah. Pagi itu Elena berteriak. Aku langsung datang ke sini. Ibunya sudah meninggal. Aku menyuruh Elena untuk tidak mendekatinya karena dia akan terinfeksi oleh virus dalam tubuh ibunya. Tetapi istrimu itu tidak bisa dikendalikan. Dia menangisi jasad ibunya. Lalu aku yang membantu menguburkan mertuamu dengan prosedur kesehatan ketat." Benjamin menjeda perkataannya sejenak. "Paginya Elena menjadi sakit parah. Dan malamnya dia… dia sudah tidak lagi bernapas," sambung Benjamin dengan napas berat. Mengingat bahwa Elena sudah seperti putrinya sendiri membuat hatinya sakit.
Victor mengerjap. Menahan beban berat dalam hati yang terasa begitu sakit. Menumbuknya setiap saat. Air mata pria itu kembali berlinang.
"Tabahkan hatimu, Nak!" Benjamin mengelus bahu Victor yang duduk lemah.
"Paman… apa Eliana berubah menjadi…." Victor tak bisa melanjutkan perkataannya. Membayangkannya rasanya sangat pedih.
"Zombie?" Benjamin akhirnya yang melanjutkan. "Setelah istrimu meninggal, aku langsung menguburkannya. Jadi, dia belum sempat berubah menjadi zombie. Dibutuhkan dua puluh empat jam setelah virus tersebut menginfeksi dan merubahnya menjadi zombie."
Setidaknya apa yang baru saja pria baya itu katakan pada Victor telah membuatnya sedikit lega. Istrinya itu tak menjadi bagian dari mayat-mayat hidup.
"Sekarang bagaimana aku mengatakannya pada putraku, Paman? Teddy terus saja bertanya tentang ibunya." Victor kembali membocorkan air matanya.
"Papa?" Tiba-tiba Teddy datang dari ambang pintu bersama Simon.
Anak itu melangkahkan kaki kecilnya menghampiri sang ayah. "Papa, kenapa Papa menangis lagi?" tanyanya.
Kini sorot matanya itu menatap sebuah bingkai foto yang Victor pegang.
"Ibu!" Teddy menyingkirkan tangan sang ayah yang menghalangi wajah sang ibu dalam bingkai tersebut.
"Papa, Ibu di mana?" Teddy kembali bertanya sembari menatap ke arah Victor. Dan itu kembali membuat hati Victor hancur.
"Bukankah Papa bilang kalau ini rumah ibu. Ibu ada di sini kan, Pa? Di mana dia? Aku ingin bertemu dengannya." Anak itu mulai merengek.
Victor langsung memeluk tubuh mungil itu kuat-kuat.
Sampai kapan ia akan membohongi tentang keadaan ibunya saat ini. Anaknya akan terus bertanya dan Victor pasti akan bosan berbohong. Namun, pria itu juga akan hancur jika melihat anaknya bersedih. Ibu yang didambakan selama ini ternyata sudah tiada untuk selama-lamanya.
"Ibu sudah bahagia di atas sana, Nak!" kata Victor bersemu tangis.
"Panggilkan ibu, Papa. Teddy ingin bersamanya. Teddy ingin meminta gendong ibu. Papa! Ayo panggilkan!" Anak itu menarik-narik pakaian yang dikenakan sang ayah. "Teddy ingin ibu!"
Victor tak kuasa lagi. Akhirnya ia mengatakan yang sebenarnya pada putranya itu. Dengan memeluk erat tubuh Teddy, Victor berkata, "Nak, ibu sudah tiada. Dia meninggalkan kita untuk selama-lamanya."
Tangis Teddy seketika langsung bocor. Mendorong tubuh ayahnya dari rekatan tubuhnya. "Papa bohong. Ibu pasti ada di sini. Aku mau ibu. Aku mau ibu!"
Benjamin dan Simon yang melihatnya ikut merasa penderitaan anak dan ayah tersebut.
Simon bergerak maju. Meraih tubuh Teddy dan memeluknya. Mencoba menenangkan bocah itu. Sementara Benjamin menenangkan Victor.
***
Sore itu Victor mengunjungi makam istrinya bersama sang anak. Benjamin yang menunjukkan makam tersebut. Tak lupa pula Simon selalu ikut bersama mereka.
Victor membawakan sebuah karangan bunga dan meletakkan di atas pemakaman. Wajahnya sembab. Istrinya yang dicintainya kita sudah membaur dengan tanah.
Teddy hanya terdiam di samping sang ayah yang menekuk lututnya dengan wajah sendu.
"Elena, lihatlah. Putra kita sudah besar," gumam Victor sembari mengelus punggung sang putra.
"Apa kau masih ingat, Elena. Dulu kau berjanji akan mengurus ku dan juga putramu. Lihatlah, kami sudah di sini sekarang. Kenapa kau pergi secepat ini, Elena? Tidakkah kau tahu, bahwa aku selalu hidup kesepian tanpamu. Hati ku hampa." Victor mengerjap. Membocorkan air matanya lebih banyak lagi.
"Papa, jangan menangis. Nanti ibu sedih." Teddy yang berada di samping Victor, mengucap demikian. Tangannya melingkar di leher Victor, bermaksud memenangkan sang ayah.
Victor menoleh sejenak ke arah sang putra. Tersenyum kemudian memeluknya erat. "Putraku." Pria itu mencium kening Teddy dengan sangat dalam.
"Maafkan, Papa, Nak! Papa tidak bisa menepati janji papa. Papa tidak bisa mempertemukan mu dengan ibu mu." Sengguk tangis Victor serupa virus yang kini mewabah dalam diri Teddy.
Anak kecil itu mulai mendung. Matanya serupa habis tersengat cairan bawang merah.
"Papa!" Teddy ikut menangis di pelukan sang ayah.
Benjamin dan Simon hanya menunduk di belakang mereka. Bisa merasakan dengan jelas, bagaimana mereka kehilangan seseorang yang mereka sayangi.
Benjamin maju selangkah. Berdiri tepat di belakang Victor. Tangan tuanya itu perlahan bergerak, menyapa pundak Victor yang gemetar. "Nak Victor, kau boleh bersedih. Tapi, kau harus tetap kuat demi putramu. Sosok ayah adalah semangat bagi sang putra saat sang ibu sudah tidak bersamanya lagi."
Petuah Benjamin itu direspon oleh anggukan Victor. Pria itu mulai menyeka air matanya. Merenggangkan tubuh sang anak. Menghapus bulir kristal yang mengalir pelan melalu kedua mata Teddy sampai pada pipi mungilnya.
Victor menarik air hidungnya. Menggeleng pelan dengan senyuman yang mencoba ia ukir—walau susah payah—dari garis bibirnya.
"Nak, papa akan menjagamu. Papa tidak akan membuatmu menangis."
Teddy mengangguk mantap. Menarik air hidungnya. Tangan mungilnya meraih pipi Victor dan mengelusnya. "Aku sayang Papa!" seru bocah itu.
Ada sebuah pancaran sinar yang langsung menerangi hati Victor. Pria itu merasa senang dengan apa yang baru saja terlontar dari mulut sang putra.
"Papa juga sangat menyayangimu, Nak!" Kembali kedua tangan Victor merengkuh tubuh mungil Teddy dan mendekapnya erat. Menciumi pucuk kepala berkali-kali. "Aku sayang mencintaimu!"
Benjamin dan Simon sedikit menarik garis bibirnya saat melihat mereka.
Usai berkunjung ke pemakaman sang istri, Victor membawa Teddy pulang. Begitupun dengan Simon dan Benjamin. Saat itu Benjamin masih berada di rumah istri Victor. Ia menceritakan tentang keadaan yang terjadi di kota itu selama beberapa tahun belakangan.
"Saat itu lockdown membuat orang-orang ketakutan. Ada beberapa yang menjadi zombie, tetapi orang-orang berhasil menahannya untuk tidak menyebarkan virusnya," kata Benjamin.
"Apakah ada orang sembuh dari virus itu, Paman Ben?" Victor bertanya.
Benjamin menggelengkan kepala. "Semuanya yang terinfeksi segera dijauhkan agar tidak menulari yang lainnya," kata Benjamin.
Mereka duduk bercerita sampai malam menjemput. Kemudian Benjamin pamit untuk keluar sebentar.
Di ruang tamu Simon duduk bersama Teddy. Mereka tampak mengobrol dan bermain. Saling menghibur satu sama lain.
Pemandangan tersebut tentu membuat Victor gembira. Melihat sang putra yang sedikit ceria, sudah bisa membangkitkan senyum yang tadinya lenyap dari bibirnya.
Saat ini, kebahagiaan pria itu adalah bersama dengan sang putra.
Kalau boleh dikata, Victor juga amat berterima kasih dengan Simon. Lantaran lelaki baya itu turut andil dalam mencetak senyum di garis bibir Teddy. Teddy yang dulu murung, selalu bermain dan berbicara sendirian dengan boneka bonekanya. Kini akhirnya dia mendapatkan lawan bicara sebagai sosok teman yang akrab. Yah, meski pun usia mereka terpaut sangat jauh.
Angin menyerbu ke dalam jendela dan membuat gorden putih beterbangan.
"Papa, gelap!" Teddy tiba-tiba bersuara, dan membuyarkan lamunan Victor yang sedari tadi asyik memandangnya.
"Ah, ya! Biar Papa nyalakan lampunya," kata Victor.
Pria itu mulai bergerak ke arah saklar, berniat menerangi rumah tersebut dari gulita yang menyerbu. Tetapi tak satu pun lampu yang bisa memancarkan cahayanya.
"Lampu tidak lagi berfungsi di kota ini." Benjamin tiba-tiba datang dari arah pintu, dengan menyongsong sebuah lentera di tangan kanannya. Sementara di tangan kirinya membawa beberapa lilin berukuran jumbo.
"Semua yang berhubungan dengan listrik mati total," sambung pria itu. Merapatkan kembali pintu rumah dengan kakinya, lantas berjalan ke arah meja. Ia mulai meletakkan lentera lentera tersebut di atas meja. Lalu berganti dengan lilin-lilin tersebut.
Victor maju mendekatinya. Membantu pria baya itu menyalakan lilin sebagai pencahayaan.
"Beginilah selama ini kami hidup. Di saat petang menyongsong, hanya cahaya dari api lilin ini yang menerangi ruangan. Bahkan cahaya langit tidak pernah lagi memancarkan sinarnya," ujar Benjamin.
Victor mengingat akan beberapa hari terakhir kalau langit dan alam memang tidak lagi bersahabat dengan manusia. Bencana tiba-tiba datang dan segalanya berubah. Kemudian ia juga ingat kalau lampu-lampu di sepanjang jalanan yang mati total, dan kini ia sudah menemukan jawabannya.
Semua lilin kini sudah menyala terang. Victor menempatkannya di sudut-sudut ruangan yang sekiranya bisa membuat cahaya lilin terpancar dengan maksimal.
Tiba-tiba angin kencang masuk menerobos jendela dengan paksa dan membuat tirainya beterbangan. Satu sumbu lilin menjadi korban hingga apinya padam.
"Alam sudah tidak lagi bersahabat dengan manusia." Benjamin bergumam sembari menyalakan lagi lilinnya.
"Bukan alam yang tidak bersahabat. Tetapi, manusia yang terlalu jahat kepada alam." Simon tiba-tiba menyahut, menentang perkataan Benjamin.
Benjamin menoleh ke arahnya dengan ekspresi penuh arti.
"Maaf." Simon kembalj berkata. "Tapi, coba berpikir dari sudut pandang berbeda. Jika saja manusia berhenti dengan egonya dan mulai mengasihani alam, pasti semuanya tidak akan seperti ini."
"Apa maksudmu?" Benjamin mulai sedikit tersinggung dengan semua yang dikatakan oleh Simon.
"Jika saja manusia tidak membuat gedung gedung yang tinggi dan merusak tanah, maka bumi ini tidak akan marah. Jika saja manusia tidak mencemari udara, membuat bumi semakin panas, maka alam akan baik-baik saja."
Victor yang ikut tersinggung dengan perkataan Simon mulai angkat bicara. "Lalu apa yang seharusnya dilakukan manusia? Tetap hidup seperti zaman batu dan tidak melakukan perkembangan apa pun?" Suara Victor sedikit bernada tinggi, membuat Teddy menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh arti.
Victor mengerjap. "Maaf, tapi… Simon. Kurasa kau tidak perlu menyalahkan tentang perkembangan tekhnologi di zaman ini. Karena, berkat perkembangan tekhnologi, semua kebutuhan hidup manusia menjadi sangat praktis dan terpenuhi. Mungkin kau tidak merasakan seperti yang kami rasakan, karena kau–"
"–lalu apa hasilnya sekarang?" Simon memotong perkataan Victor. "Dulu ada robot yang membantu kalian. Lampu-lampu bersinar terang memancar di setiap penjuru kota. Lalu di mana semua kecanggihan teknologi itu?" Simon menggelengkan kepalanya. "Semuanya lenyap, bukan? Lihat, bahkan kita kembali hidup seperti di zaman sebelum adanya listrik." Simon menyindir dengan sorot mata yang melirik ke arah lilin yang apinya terus bergoyang-goyang.
Victor dan Benjamin terdiam seketika. Menundukkan kepala dengan meneguk ludah. Mereka rasa, apa yang Simon sampaikan itu bisa dibilang sebuah kebenaran.
***
Angin meniup begitu kencang malam itu. Membuat udara semakin sejuk berlipat ganda. Victor menggerakkan kakinya, menuju ke arah jendela. Tangannya mencekal tirai putih yang terus beterbangan. Sementara kedua sorot matanya menatap ke arah luar. Melihat betapa mencekamnya suasana di luar sana.
Angin ribut tiada henti. Menerbangkan dedaunan kering juga sampah-sampah plastik. Langit gelap total. Tak ada cahaya sedikit pun. Bahkan rumah-rumah penduduk tampak remang-remang cahaya lilin. Beberapa di antaranya ada yang gelap total. Belum lagi jalanan yang sepinya serupa kuburan.
"Paman Ben, sebaiknya malam ini kau menginap di sini saja," saran Victor pada pria baya yang kini bergerak menghampirinya.
"Seperti inilah kalau malam. Semuanya ketakutan dan tidak ada yang berani keluar rumah. Bahkan, di dalam rumah pun mereka tetap saja merasa ketakutan." Benjamin menjeda ucapannya sejenak. Mengambil napas pelan dan menyemburkannya. "Tapi kau benar. Sebaiknya aku di sini saja menemani kalian. Lagi pula, aku juga sudah tinggal sendirian di rumah. Aku akan sedikit senang jika memiliki teman berbicara. Hehe," sambung pria itu dengan sedikit terkekeh.
"Apa istrimu sudah tiada?" tanya Victor.
Benjamin mengangguk. "Semua keluarganya tidak ada yang selamat. Virus itu benar-benar telah melenyapkan sebagai dari populasi manusia. Semuanya hancur. Tidak ada yang tersisa." Terdengar endusan napas berat penuh penderitaan dari dalam rongga hidung dan mulut Benjamin.
Victor mulai menggerakkan tangannya. Menyentuh bahu tua di depannya. "Sekarang kita berempat hanya memiliki satu sama lain. Bukankah kita harus saling menjaga satu sama lain?" Victor menaikkan kedua belah alisnya. Bibirnya tersenyum tipis.
Benjamin mengangguk sembari menarik garis bibirnya tersenyum.
"Oh iya, bagaimana kalian bisa sampai di sini? Bukankah di luar sana sangat berbahaya. Dan seperti mustahil orang yang dari luar bisa berpindah ke kota lainnya." Benjamin sejatinya sudah penasaran tentang pertanyaan yang baru saja dilontarkannya tersebut, tetapi ia baru sempat menanyakan sekarang.
"Sebenarnya kami awalnya berlima. Ada dua teman kami yang berpindah jalur," kata Victor. "Katanya mereka memiliki tujuan penting. Lalu kami berpisah saat sudah berada di kota ini."
Victor menjadi ingat tentang Dave dan Devina. Sampai saat ini, mereka belum menghubungi. Pria itu menunduk sejenak, memikirkan tentang dua temannya itu. Detik berikutnya pandangan Victor teralih pada sang putra yang sibuk bermain dengan Simon.
Teddy tampak ceria bermain dengan Simon. Mereka bermain bayangan api lilin, tangannya digerakkan membentuk sesuatu yang timbul akibat bayangan mereka sendiri di depan lilin.
Victor dan Benjamin memperhatikan mereka dengan senyuman. Lantas Victor mendekat, menimbrung pada mereka untuk ikut serta dalam kebahagiaan kecil tersebut.
***
Pagi itu mereka terbangun. Tetapi tak mendapati cahaya mentari yang menyinar. Langit masih gelap dan angin masih ribut di luar sana.
"Sampai kapan badai ini berlangsung?" Victor sudah mulai muak dengan kehidupan yang terus dicekam oleh teror alam.
"Ini tidak akan berakhir sampai semuanya hancur." Simon tiba-tiba datang dan menyahut perkataan Victor.
Victor memutar tulang lehernya. Menoleh ke arah Simon dengan tatapan penuh arti. "Simon, terkadang aku merasa gembira karena kau sudah membuat putraku tersenyum. Tetapi, terkadang kau juga sangat menyebalkan. Tidak kah bisa kau memikirkan hal hal yang baik di masa seperti ini?" gerutu Victor.
"Apa yang akan terjadi sudah akan terjadi. Aku bisa merasakannya, betapa mengerikannya dunia setelah ini–"
"–sudah cukup!" Victor memotong cepat ucapan lelaki itu. "Aku sudah muak mendengar omong kosongmu. Kalau kau benar-benar paranormal, bisa kau kasih tahu aku, bagaimana nasib kita semua ke depannya?!" tanya Victor dengan suara yang sedikit meninggi.
Simon hanya terdiam dengan ekspresi sulit ditebak.
"Papa!" Teddy tiba-tiba datang dengan wajah yang masih muka bantal. Ia mengucek matanya setelah semalam menutup kedua belah kelopak matanya tersebut.
"Teddy?"
"Papa kenapa marah-marah?" tanya Teddy dengan suara malas. Kaki mungilnya tersebut melangkah kecil menghampiri sang ayah.
"Papa tadi…." Victor tak jadi melanjutkan perkataannya. Kedua sorot matanya melirik ke arah Simon. Ia tak bisa mengatakan pada sang putra kalau ia habis berdebat dengan temannya itu.
Victor bergerak memapak sang putra. Merendahkan tubuh, mengambil tubuh Teddy lantas mengangkatnya untuk digendong. "Putraku… kau sudah bangun?"
Victor mencium kedua pipi Teddy secara bergantian. Baunya masih seharum bayi. Tetapi Victor mencoba bercanda dengan sang putra agar anak kecil itu mau mandi.
"Umm… masam sekali. Kau harus mandi!" seru Victor.
"Tapi papa… airnya dingin. Teddy tidak suka," celetuk bocah itu.
"Dingin ya? Nanti pakai shower hangat. Oke?" Victor baru tersadar kalau listrik dan teknologi lainnya tidak lagi berfungsi. "Oh iya, Papa lupa kalau semua listriknya tidak bisa digunakan. Kalau begitu papa akan coba menghangatkan airnya di kompor ya? Kau tunggu di sini dulu!" Victor kembali menurunkan tubuh sang putra.
"Simon, tolong jaga Teddy dulu, ya!" pinta Victor. Lantas bergerak menuju kamar mandi.
Teddy mulai berjalan ke arah Simon dan mereka mengobrol. Sementara Victor mengecek kamar mandi yang showernya tidak lagi berfungsi. Bathtub-nya juga sudah digunakan sarang laba-laba. Keran air mati dan ia tak menemukan air sama sekali. Maklum, tempat itu sudah tidak digunakan selama berbulan-bulan.
"Sebaiknya kami mandi di rumah Paman Ben saja," gumam Victor.
Gegas pria itu mencari Benjamin tetapi tak ditemukan sama sekali. Ia pun bertanya pada Simon.
"Simon, apa kau melihat Paman Ben?"
Simon yang bersenda gurau bersama Teddy langsung terfokus pada Victor. Pria itu menggelengkan kepalanya. "Aku terbangun dia sudah tidak ada. Mungkin dia ke rumahnya," pikir Simon.
"Tapi kenapa dia tidak bilang dulu."
"Mungkin dia tidak enak membangunkan kita," balas Simon lagi.
Victor terdiam beberapa jenak.
"Kalau begitu, Simon, tolong kau jaga Teddy, ya! Aku akan coba ke rumahnya," ucap Victor.
"Sebaiknya jangan. Di luar sedang ada badai," saran Simon.
Victor menoleh ke arah jendela. Di luar masih baik-baik saja, hanya saja suasananya yang sedikit gelap. Kadang Victor tak mengerti dengan jalan pemikiran Simon, yang terbilang mengada-ada.
"Ted, Papa keluar sebentar, ya! Kau main saja sama temanmu itu." Ada nada penuh sindiran saat mengucapkan kalimat terakhir. Seakan menggambarkan kalau ia tengah kesal dengan lelaki yang kini duduk bersama sang putra.
"Papa mau ke mana?" tanya Teddy.
"Papa mau ke rumahnya Paman Ben. Sebentar saja."
"Tapi, Pa. Kata Simon di luar berbahaya."
"Teddy! Jangan terlalu percaya dengan omongan temanmu itu!" Suara Victor sedikit naik. "Papa akan segera kembali."
Victor yang keras kepala tersebut akhirnya menggerakkan langkahnya menuju pintu. Membuka daun pintu tersebut dan keluar lantas menutupnya rapat-rapat.
Kepalanya mendongak ke langit. Melihat suasana yang begitu mencekam. Awan hitam tampak bergerombol di atas sana. Seperti hendak turun hujan yang begitu lebat.
"Sebaiknya aku harus segera cepat ke rumah Paman Ben!" Gegas pria itu menggerakkan kakinya, menerobos rerumputan liar setinggi betis.
Sesampainya di jalan, ia mulai berlari. Mencari rumah Benjamin di antara perumahan yang sunyi.
"Yang mana ya rumahnya?" gumam pria itu.
Saat ia sibuk memperhatikan beberapa rumah, tiba-tiba angin menyerbu. Menerbangkan begitu banyak daun-daun. Victor bahkan sampai menggunakan tangannya untuk menangkis semua dedaunan tersebut dan menghalau debu agar tidak menerobos indera penglihatannya.