Melawan Kepasrahan

3184 Words
Tubuh Devina gemetar hebat. Ada begitu banyak kepulan asap yang menghadang di luar mobilnya. Belum lagi ledakan mobil, gempa yang menggerogoti jalan tol, juga tak lupa zombie-zombie yang masih berkeliaran. Semua teror itu membuatnya frustasi. Devina mulai memelankan deru mobilnya. Kepalanya ia robohkan bertumpu pada tangan yang menempel di setir mobil. Menyemburkan napas penuh kepasrahan. Bagai seseorang frustasi dan menyerah. "Hei, Devina… lihatlah ke depan!" Simon mencoba membuatnya sadar. Namun Devina tak mengindahkan perkataannya sekali pun. "Devina! Jangan menyerah. Tetap kemudikan mobilnya!" Devina menggeleng. Kepalanya masih menundukkan, membungkam pada kedua tangannya. "Aku tidak bisa lagi, Simon. Aku tidak bisa." "Kau bisa, Devina. Yakinlah!" ujar Simon. "Tidakkah kau lihat di sekelilingmu, Simon?" Devina mengucapkan hal itu dengan sedikit berteriak. Kelapanya juga mulai ia angkat. Bulir bening merembes dari sudut pupilnya. "Lihatlah sekelilingmu. Semuanya hancur. Bahaya menghadang di mana-mana." Teddy yang sedari tadi menangis mulai menghapus air matanya dengan punggung tangannya yang mungil tersebut. Dengan wajah yang masih cemberut, ia berkata, "Ku mohon, antarkan aku pada papa ku. Aku ingin papa!" Devina memanyunkan bibir, seperti orang yang menangis pada umumnya. Kepalanya ia gelengkan pelan. "Maaf, Teddy. Aku tidak bisa." "Kau pasti bisa!" ujar Teddy ikut menyemangati. Brak!!! Suara dari luar yang menggebrak pintu kaca mobil terdengar nyaring, berhasil membuat tubuh mereka menyembul kaget. Itu merupakan tangan zombie, yang berusaha untuk memecah kaca mobil tersebut. "Devina, ayo kemudikan mobilmu, sebelum mereka menyerang kita lagi!" perintah Simon. Semakin lama retakan semakin menyambar hebat, dan sebentar lagi akan menyerang mobil mereka. "Devina, ayo!" Simon terus saja menggertaknya seakan tak pernah lelah untuk menyuruh wanita itu untuk jangan hilang semangat. Namun, Devina tak kuasa lagi. Ia terus menggeleng dengan tangis menderu. Kembali ia menundukkan kepalanya, menempelkan keningnya di setir mobil. "Devina! Kumohon. Pikiran Teddy. Pikirkan juga tujuanmu!" "Devina!" Kali ini bukan suara Simon yang meneriakinya, melainkan suara seorang wanita yang begitu lembut. Menggema tepat di gendang telinga Devina. Devina kenal betul suara tersebut. "Ibu?" Seketika wanita itu mengangkat tangannya. Menengok ke kanan dan kiri. "Devina!" Suara tersebut kembali terdengar. Namun sepertinya hanya Devina saja yang mampu mendengarnya. "Ibu?" Devina tertegun. Mulutnya gemetar dengan kedua mata yang semakin berair saat melihat penampakan ibunya bergaun putih bersih di depan mobilnya sana. "Ibu? Kau kah itu?" Devina hendak membuka pintu mobil, berniat untuk keluar dan menghampiri sang ibu. "Devina, tunggu! Kau harus mengemudikan mobil ini. Jangan pernah menyerah, Nak! Kau belum kalah. Kau masih bisa berjuang." "Tapi, Bu… aku tidak bisa sampai pada tujuan. Semua bahaya menghadang ku di luar sana. Dan asap-asap ini, aku tidak bisa melihat dengan jelas jalan menuju ke depan," kata Devina dengan suara lirih. Tentu saja itu membuat Simon dan Teddy tertegun heran. Mereka berdua merasa Devina telah berbicara sendiri, karena mereka sama sekali tak melihat lawan bicara wanita itu. "Ayo, Devina… bangkitkan semangatmu. Ibu tidak suka kau menyerah seperti ini. Mari, Ibu tunjukan jalannya!" kata wanita bergaun putih tersebut. Devina mengangguk. Mengusap air matanya punggung telunjuk, kemudian menarik napas panjang. Kedua tangannya kembali memegangi setir mobil. Bersiap untuk melakukannya. Detoks berikutnya mesin mobil tersebut mulai menyala. Devina kembali melajukan mobilnya. Membuat zombie di samping mobil terhempas jatuh. Devina tak mempedulikan hal itu. Ia hanya fokus pada sang ibu yang seperti melayang di udara menunjukkan jalannya. Simon tersenyum dan memberikan pelukan pada anak di pangkuannya lagi. Sementara itu, Dave dan Victor masih cemas menunggu di ujung sana. Keduanya masih saja berdebat. "Dave, aku tidak bisa tinggal diam dan menunggu saja di sini. Aku harus ke sana menyelamatkan anakku. Aku tidak peduli jika terjadi sesuatu padaku, yang aku cemaskan adalah putraku!" Victor berkata pada Dave dengan nada meninggi. "Astaga, Victor. Kau pikir aku juga tidak khawatir dengan mereka? Aku juga cemas memikirkannya!" balas Dave. "Kau hanya bicara saja. Kalua kau benaran cemas, kau pasti akan langsung ke sana. Atau setidaknya biarkan aku pergi!" Victor menyemburkan napas gusar. Kedua matanya memandang ke arah jalan tol di depannya, yang mulai tertimbun asap tebal. "Lihatlah, entah apa yang terjadi di sana. Aku rasa akibat listrik yang roboh membuat mobil-mobil meledak. Astaga, Dave. Aku tidak bisa tinggal diam lagi." Victor mengerjap. "Sudah cukup. Aku ke sana. Kalau kau tidak mau ikut, terserah. Aku akan ke sana sendirian!" Final! Itu keputusan Victor. Pria itu gegas bergerak, melangkah maju ke depan. Tetapi kemudian langkahnya berhenti saat melihat sebuah mobil yang melaju ke depan menerjang asap. Victor mulai bisa menganalisa mobil tersebut saat sudah semakin dekat. "Itu mobilku. Itu artinya itu mereka!" Victor sedikit lega, dengan senyum yang mengembang. "Aku bilang juga apa. Adikku pasti bisa menyelamatkan putramu!" Dave berjalan, menghentikan langkah di samping Victor sembari menepuk pundak temannya tersebut. Kedua mata pria itu terus memandangi mobil yang melaju ke arahnya. Tak lama akhirnya mobil tersebut berhasil melewati tol dan berhenti di depan Dave dan Victor. Victor bergerak cepat. Membuka pintu mobil. Tersenyum gembira saat melihat sang putra baik-baik saja. "Papa!" Suara Teddy langsung menggema di gendang telinga Victor. Victor mengambil tubuh mungil itu dan menggendongnya. Memeluknya erat dan menciumi pipi serta pucuk kepalanya. "Anakku!" "Papa! Aku takut sekali," ucap Dave. "Sekarang kau baik-baik saja, Nak! Papa tidak akan membiarkanmu dalam bahaya lagi." Victor kembali menciumi leher dan pipi mulus sang anak. Devina tampak keluar dari mobil. Langsung menghambur di pelukan Dave. Sementara Simon hanya memperhatikan mereka dengan penuh haru. Suara ledakan kembali terdengar dahsyat, berhasil mengalihkan perhatian mereka. Kini semua sorot menatap ke depan. Menyaksikan betapa ganasnya gempa meluluh lantakkan tol tersebut hingga benda-benda yang tergeletak di atasnya lenyap seketika. Mobil-mobil bagai mainan, tubuh zombie bagai boneka, semuanya saling terlontar ke bawah dengan sangat keras. Kemudian melebur di permukaan samudera dan lenyap ditelan ombak. Victor mendekap kepala sang putra di dadanya, tak membiarkan anak kecil tersebut menyaksikan betapa mengerikannya fenomena tersebut. "Sebaiknya kita segera pergi, sebelum marabahaya kembali mengejar kita." Dave berkata pada mereka. Lantas mulai menggerakkan kakinya melangkah ke arah mobil. Devina juga mulai bergerak. Duduk di kursi depan. Sementara Victor menggendong Teddy duduk di bangku belakang bersama dengan Simon. Setelah mereka membenarkan posisi masing-masing, Dave segera melajukan mobilnya. Mobil tersebut menyusuri jalanan perkotaan. Kali ini mereka merasakan suasana yang berbeda dari kota sebelumnya. Kota tersebut tampak seperti adanya sebuah kehidupan. Tetumbuhan masih tampak hijau. Udara juga lumayan bersih. Hingga tak lama mulai terlihat manusia-manusia yang bisa dikatakan normal. Mobil berlalu lalang seperti biasa, walau tidak sepenuhnya padat. Pejalan kaki juga masih tampak ramai. Namun tak ada robot-robot yang seharusnya juga ikut menjalankan setiap aktivitas. Mereka seperti mendapatkan kehidupan baru setelah cukup lama diserbu oleh bencana. Victor menjadi yakin, kalau istrinya masih selamat lantaran tinggal di kota yang masih bisa dikatakan sebagai kota berpenghidupan. ®®® "Lihatlah kota ini, masih tampak berpenghidupan." Dave berkata sembari memandangi suasana depan melalui kaca mobil. Sementara kedua tangannya sibuk memutar setir kemudi. "Itu artinya orang-orang yang tinggal di sini belum terkontaminasi virus-virus mematikan itu dan bebas dari mayat-mayat hidup." Devina bergumam. Kedua matanya merasa segar setelah cukup lama melihat suasana kota yang mati, dan kini melihat kota yang kembali hidup. "Tapi… yang aku heran kan, kenapa mereka tidak bisa dihubungi?" tanyanya kemudian. "Mungkin karena itu masalah jaringan yang ada di kota lama yang kita tempati. Keadaannya sangat tidak memungkinkan untuk menerima signal dari luar." Sebenarnya Victor tidak yakin akan jawabannya sendiri itu, tetapi… ia harus berpikir positif dan yakin kalau Elena—istrinya—tidak bisa dihubungi karena masalah jaringan saja. "Yang terlihat baik bukan berarti jauh dari bahaya." Tiba-tiba saja Simon bergumam. "Danau yang tenang bukan menjadi jaminan jauh dari gerombolan buaya." "Hei… apa maksudmu?" Dave bertanya dengan nada kurang suka akan perkataannya tersebut. Kedua matanya melirik ke arah kaca depan, yang menampilkan bayangan Simon. "Apa kau melihat buaya, Simon?" Tiba-tiba Teddy bertanya dengan polos. "Yah, kurasa dia memang mendambakan seekor buaya di kebun binatang. Haha!" canda Dave yang direspon gelak tawa Victor dan Devina. Sudah sejak lama mereka tak tertawa saling bercanda seperti itu. Simon hanya terdiam tak menanggapi candaan mereka. Ia berpikir, perkataannya itu tak direspon serius oleh para pemuda yang usianya di bawahnya. Usia antara Simon dan ketiga pemuda tersebut—Victor, Dave, Devina—itu bagaikan anak dan bapak. "Dave, ke mana kau setelah ini?" tanya Victor kemudian. "Tujuan kami akan ke arah timur," ujar Devina menyahut cepat. Seakan perkataannya tersebut menekankan pada pria di sebelahnya—Dave—untuk tidak lupa akan tujuannya. "Ehm. Yah." Dave membenarkan dengan nada suara yang canggung. "Kau sendiri?" tanya Dave pada Victor. "Sialnya aku ke barat. Itu artinya arah tujuan kita berbeda," jawab Victor. "Lalu bagaimana sekarang?" Devina kembali menoleh ke arah kakaknya. "Kita akan berhenti di pertigaan jalan. Lalu aku dan Devina akan ke timur dengan kendaraan umum. Dan kau Victor, kau bisa membawa mobil buntutmu ini," ujar Dave dengan sedikit bercanda akan mobil Victor. "Mobil buntut? Yang benar saja. Mobil ini yang telah membawamu sampai ke sini." Victor berseloroh. Dave dan Devina terkekeh pelan. Mobil mereka akhirnya sampai di sebuah pertigaan jalan besar. Ada dua jalur di depan mereka. Satunya ke barat dan satunya ke timur. "Apa ada kendaraan umum yang berlalu lalang?" tanya Victor sembari celingukan. "Ah, itu bus!" Devina menunjuk sebuah bus yang berhenti. "Dave ayo cepat sebelum bus itu kembali berjalan!" ajak Devina. "Iya … iya … kau memang tidak sabaran!" Dave menengok ke belakang. "Kawan saatnya kita berpisah di sini," ujarnya pada Victor. "Kau ingin pergi?" Suara Teddy yang polos merasuk gendang telinga mereka. "Sayangnya begitu, Anak manis!" Devina meraih pipi Teddy dan mengelusnya. "Senang bertemu denganmu." "Tunggu dulu. Sebaiknya kita keluar saja!" Victor membuka pintu sampingnya, dan mulai menggendong Teddy untuk keluar. Lantas menurunkan Teddy. Dave, Davina, dan Simon juga mulai keluar. "Jadi, kita akan berpisah di sini?" Dave berkata dengan bibir tertarik tersenyum tetapi hatinya sedikit sedih. Ia menggendong Teddy sejenak. "Jagoan, titip salam untuk ibumu, ya!" kata Dave. "Kau masih saja belum melupakan mantanmu?" Victor tampak bercanda. "Aku jadi ingin bertemu dengan mantanku itu," kata Dave balas bercanda. "Jangan sampai kau pertemukan mereka, Victor. Aku dengar, cinta lama memang suka bersemi kembali!" seloroh Devina. "Apa itu mantan?" tiba-tiba Teddy bertanya polos. Membuat mereka terdiam sejenak kemudian tertawa. "Itu hanya candaan orang dewasa, Nak!" kata Victor. "Benarkah? Tapi Papa, aku kan sudah dewasa. Lihat, aku sudah besar dan teman-temanku juga kalian orang dewasa. Artinya aku sudah dewasa," decak Teddy yang masih berada di gendongan Dave. "Bahkan temanmu sepantaran dengan ayah kami. Itu artinya kau sudah dewasa lebih jauh dari kami?" "Yeah!" jawab Teddy yang langsung membuat mereka tergelak. "Okey… sudah saatnya kita pergi!" Devina kembali mengingatkan akan perpisahan mereka. Wanita itu bergerak maju untuk lebih dekat dengan Victor. Tangannya ia ulurkan bermaksud untuk dijabat. "Sampai jumpa lagi, senang bertemu kalian!" ujarnya. Victor menjabat tangan mulus tersebut. Lantas Devina beralih pada Simon dan berjabatan. Dave menurunkan Teddy. Bergerak ke arah Victor. Menjabat tangannya dan berkata, "Aku harap kita bisa bertemu lagi." Victor mengangguk seraya tersenyum. Kemudian mereka saling berpelukan ala seorang teman. Victor merenggangkan pelukannya dan kembali mengandeng sang putra, Teddy. Dave berpamitan dengan Simon. Mereka bahkan tampak sudah akrab. Usai berpamitan, Dave dan Devina melambaikan tangan ke arah mereka dan kemudian berjalan cepat menuju bus. Victor dan Simon masih menunggu sampai bus tersebut berjalan. Mereka melambaikan tangan pada bus tersebut yang bergerak ke timur. "Apa kita akan bertemu lagi dengan mereka, Papa?" tanya Teddy. Victor mengangguk seraya tersenyum. Kedua matanya masih memandang ke arah punggung bus yang terus melaju. "Yah, tentu!" Pria kini menurunkan pandangan. Terfokus pada sang putra dan berniat menggendongnya. "Sekarang saatnya kita bertemu ibumu, oke?" serunya. "Yeyy!!" Teddy bersorak gembira. Sementara Simon hanya terdiam memperhatikan mereka. Raut wajahnya itu mengandung seribu arti yang sulit untuk ditafsirkan. Namun satu hal yang pasti, tatapannya itu mencoba menggambarkan akan sesuatu buruk yang akan terjadi. "Papa, aku ingin duduk di belakang bersama temanku!" decak Teddy dengan sorot mata ke arah Simon. Simon tersenyum padanya. "Baiklah." Simon membantu membukakan pintu mobilnya. Victor langsung mendudukkan sang putra semata wayangnya ke dalam sana. Lantas bergantian dengan Simon yang masuk. Kemudian Victor kembali menutup pintunya. Pria itu kini bergerak ke arah pintu depan. Membukanya, mendudukkan pantatnya di kursi depan setir, sebelum akhirnya kembali merapatkan pintu mobil tersebut. "Kalian sudah siap?" seru Victor. "Tentu!" Teddy yang menjawab dengan penuh antusias dan semangat. "Simon jaga baik-baik teman kecil mu itu, ya!" seloroh Teddy. "Papa, aku yang akan menjaga kalian. Aku kan sudah besar!" celetuk Teddy membuat Simon terkekeh. "Oh ya?" "Iya, Papa!" "Bagus. Anak papa sudah besar. Sekarang saatnya bertemu ibumu!" "Yey!!" Victor pun segera menyalakan mesin mobilnya dan mulai membawa mobil tersebut berjalan menuju jalur barat. Sepanjang perjalanan mereka tampak asyik bersenda gurau sembari menikmati pemandangan yang masih layak untuk dipandang mata dari pada pemandangan dari kota sebelumnya. Mobil tersebut melaju dengan leluasa di jalan raya yang lebar nan panjang. Beberapa tahun yang lalu, sebelum virus menyerbu dan sebelum adanya peraturan tentang lockdown, jalanan ini biasanya akan padat setiap harinya. Sedangkan di sisi jalan akan tampak robot-robot yang berlalu lalang. Robot-robot tersebut diciptakan untuk membantu pekerjaan manusia seperti mengantar barang dan sebagainya. Namun kini, setelah lockdown diberlakukan semuanya menjadi sangat berubah. Dan ya, sesuatu yang masih mengganjal di pikiran Victor saat melihat rambu lalu lintas yang sama sekali sudah tidak berfungsi. ®®® Mobil Victor tampak menyusuri sebuah perumahan elit yang tampak sepi. Hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang di sana. Rumah-rumah tertutup rapat. Tak ada anak kecil yang berkeliaran. Seharusnya, perumahan elit tersebut ramai akan anak-anak yang tengah bermain di halaman. Seperti suasana yang tergambar lima tahun silam. Komplek perumahan elit tersebut merupakan tempat di mana sang mertua tinggal. Dan di sana pula, terdapat sang istri yang sudah setahun tanpa kabar. Victor pun berinisiatif untuk menghubungi nomor sang istri, lantaran ia kini sudah berada di area yang mungkin tersedia sinyal. Berkali-kali pria itu mengoperasikan ponselnya, tetapi tetap saja tak ada jawaban. "Sial!" Frustasi pria itu meletakkan benda pipih berteknologi canggih tersebut ke bangku samping dengan kasar. "Papa kenapa?" Teddy yang mulanya sibuk bersenda gurau bersama Simon langsung teralih pada sang ayah. "Ah, tidak apa-apa, Nak! Hehe." Sebisa mungkin pria itu menyembunyikan kekhawatiran juga kekesalannya. Tak lama akhirnya mobil mereka sampai di halaman rumah yang mereka tuju. Victor memandangi suasana rumah tersebut yang sepi. Ia masih ragu untuk keluar dari dalam mobilnya. "Papa, apa kita sudah sampai?" Teddy bertanya pada sang ayah dengan pandangan yang mengintip rumah berdinding putih dengan gaya arsitektur Eropa tersebut dari balik pintu kaca mobil. Anak itu tak ingat bahkan tak tahu sama sekali bentuk rumah neneknya tersebut. Lantaran terakhir kali ia berada di sana itu saat ia masih bayi. Anak itu beralih memindahkan kedua pandangan ke arah sang ayah yang masih saja terdiam di bangku depan. Ia mulai menurunkan kakinya menapaki alas mobil. Tangan mungilnya meraih jaket yang Victor kenakan dan menariknya pelan. "Papa!" Baru akhirnya pria di depan sana tersadar akan lamunannya. "Ah, iya, Nak!" kata Victor sembari menoleh ke arah putranya. "Apa kita sudah sampai?" tanya Teddy sekali lagi. "Ehm. Aku rasa kita sudah sampai," jawab Victor tidak begitu yakin. Lantas pandangannya kembali terarah pada rumah di sana. "Kalau begitu ayo turun, Papa!" decak Victor lagi. "Yah, Baiklah. Ayo!" Ada sebuah rasa kesedihan yang mendongkol di hati, yang membuat perasaan Victor bercampur aduk. Tentang keberadaan sang istri di dunia ini yang masih diragukan. Perlahan tangan Victor mulai mendorong pintu mobil di sampingnya. Terasa canggung saat kakinya menapaki rerumputan yang sudah setinggi betis. Pandangannya melirik sejenak ke arah rumah sang mertua, dan bergerak ke arah pintu mobil. Membuka pintu tersebut agar sang putra bisa keluar. "Papa!" Teddy langsung menghambur di pelukan sang ayah. Sementara Simon masih tampak merenung di dalam sana. Tak juga menggerakkan kakinya untuk melangkah keluar. Sama seperti Victor, ia merasakan akan sebuah kesedihan jika harus mengetuk pintu rumah sana. "Simon, kau tidak ingin turun?" tanya Victor. Lelaki baya itu masih saja terdiam. "Simon!" Kini suara Teddy yang berdecak, mengagetkan Simon. "Oh, ya!" Simon mulai menggerakkan kakinya turun. Mereka kini sudah berada di luar mobil dan siap untuk melangkah ke depan. Langkah Victor terasa gemetar saat membawa kakinya tersebut menapaki rerumputan liar yang menghuni halaman rumah tersebut. Tiba di teras rumah, Victor mulai merasakan akan kesunyian tempat tersebut. Ia menurunkan Teddy dan mulai mengetuk pintu rumah. Berkali-kali ia mengetuk namun tak ada respon. Bel yang tertempel di dinding pun juga sepertinya tak lagi berfungsi. "Elena!" Victor memanggil sang istri dari luar. "Elena! Apa kau ada di dalam?!" "Ibu!" Teddy ikut menyerukan suaranya memanggil sang ayah. Sudah cukup lama mereka menunggu di depan pintu dan terus mencoba memanggil sang pemilik rumah, tetapi tetap saja tak ada jawaban. Bahkan Victor sudah mengecek lewat jendela kaca yang buram penuh jaring laba-laba. Mengetuknya berkali-kali tak tak ada respon. Perasaan mereka mulai panik, juga khawatir. Bahkan Victor terus saja mencoba melenyapkan pikiran buruknya yang menggelayuti otaknya. Namun tetap saja pikiran tersebut terus terpendam dan menyerbunya di ruang kepala. "Elena, di mana kau?" Perasaan pria itu benar-benar mulai resah. Seorang pria baya yang merupakan seorang penduduk sana terlihat baru pulang dari peternakan. Lelaki itu berdiri memandangi mereka. Merasa aneh dengan orang asing yang terus menggedor pintu tetangganya. Namun saat mata tuanya itu memperhatikan kembali, akhirnya ia bisa mengenali kalau itu adalah Victor. Menantu tetangganya sang pemilik rumah. Lelaki tua itu pun mulai berjalan mendekat. "Victor?" panggilnya dengan suara sedang. Victor yang mendengar mulai memutar kepala, menoleh ke arah pria tua itu dengan sedikit heran. Jelas saja, Victor tak tahu atau pun mengenal siapa pria itu. Tetapi, bagaimana pria itu bisa tahu namanya? Victor mulai mendekat. "Nak Victor!" Lelaki tua yang tampak akrab tersebut mengelus bahu Victor. "Maaf, kau siapa? Aku tidak mengenalmu," kata Victor berterus terang akan keheranannya. Lelaki tua itu terkekeh. "Aku tetangga mertuamu. Rumahku ada di seberang jalan sana!" Lelaki tua itu menunjuk ke arah sebuah rumah yang berada di seberang jalan. "Kau memang tak melihatku, tetapi aku tahu sedikit tentangmu. Dulu, saat aku dunia ini masih baik-baik saja, aku sering berkunjung ke rumah temanku. Ya rumah itu," kata lelaki tersebut sembari melirik ke arah rumah yang di depannya berdiri Teddy dan Simon. "Mertuamu cerita banyak tentangmu. Saat kau berlibur ke sini bersama istrimu, aku juga melihatmu. Tapi sayangnya waktu itu kita belum sempat berkenalan." Lelaki itu memberi jeda sejenak. "Namaku Benjamin. Kau bisa memanggilku Paman Ben, kalau kau mau. Karena Elena juga memanggilku demikian," sambungnya. Victor berpikir sejenak. Memulangkan pikirannya beberapa tahun ke belakang. Mengingat akan kenangan di mana sang istri pernah bercerita tentang sosok "Paman Ben". "Oh jadi… Paman Ben yang sering Elena ceritakan padaku itu kamu?" seru Victor. Pria bernama Benjamin itu terkekeh. "Tidak kusangka kita akan bertemu seperti ini," ucap Victor. "Oh iya, di mana Elena dan ibu mertuaku?" tanya Victor kemudian. "Kenapa aku panggil tidak ada yang menjawab? Bagaimana keadaan mereka? Apa mereka sudah pindah atau bagaimana?" Pria itu memberondong pertanyaan. Benjamin terdiam tak tahu harus menjawab pertanyaan yang mana. Lantaran semua pertanyaan yang Victor tanyakan tersebut memiliki jawaban dan itu sangat menyedihkan yang akan membuat hati pria itu terguncang. "Paman Ben!" Victor menepuk bahu pria baya itu sehingga tersadar akan lamunannya. "Kenapa? Apa kau baik-baik saja?" tanyanya. Lelaki itu mengangguk. "Di mana mereka, Paman? Terakhir kali, sekitar setahun yang lalu Elena bilang ibunya sakit karena itu dia ke sini menjenguknya. Tapi, sampai sekarang bahkan aku tak mendengar kabar dari mereka sekali pun." Victor membasuh tenggorokannya yang kering dengan saliva. "Di mana mereka, Paman?" tanya Victor sekali lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD