Dave menyiku tubuh Zombie yang hendak menggigitnya dari belakang, sehingga pegangan tangan zombie tersebut terlepas dari punggungnya. Lantas ia membalikkan tubuh menatapnya, memukul kepala zombie tersebut berkali-kali dengan kerangka pintu mobil yang dipegangnya.
Sementara itu, Devina mulai menderukan mobilnya. Berjalan oleng menghindari kendaraan yang menghalau jalannya. Itu membuat Teddy berteriak ketakutan, lantran mobil tersebut seperti kehilangan kendali.
"Simon, jaga Teddy baik-baik!" pinta Devina dengan suara menegang.
Simon memberikan pelukan erat pada Teddy.
Brak!
Mobil yang Devina kendarai berhasil menabrak salah satu tubuh zombie. Zombie tersebut terpental. Namun dari arah lain mulai berdatangan dengan begitu banyaknya.
"Sial!" Devina melirik ke arah depan, melihat sebuah pistol yang tergeletak. Tangan kanannya ia gunakan meraih pistol tersebut sedangkan tangan kirinya fokus mengemudikan setir mobil.
Pintu kaca samping dibukanya dengan cepat. Dan gegas wanita itu mengeluarkan tangannya, menodongkan pistol ke arah zombie-zombie. Beberapa saat kemudian, peluru dilepaskan dan berhasil mengenai tubuh zombie.
Darah memuncrat hebat dari setiap lubang yang tertembus peluru. Namun tubuh itu serasa tak merasakan sakit, yang ada di pikiran mereka, bagaimana cara menangkap manusia-manusia tersebut dan memakan otaknya.
"Arghh!" Dave menginjak leher zombie tersebut. Menghancurkan bagian kepalanya dengan senjata yang sama, yaitu sebuah kerangka pintu mobil.
Menyadari zombie tersebut tak lagi bergerak, Dave berinisiatif untuk berlari ke arah mobil Devina. Tetapi, zombie-zombie mulai menghadangnya dari berbagai arah.
Terpaksa, pria itu melangkahkan kakinya mundur. Memasang tubuh waspada dengan kedua mata yang awas.
Sementara itu, entah sudah berapa puluh tubuh mayat hidup yang sudah Victor lindas dengan roda mobilnya, sehingga mereka benar-benar menjadi mayat.
"Dave!" Victor berteriak ke arahnya. "Ayo cepat ke sini!" perintahnya.
Dave mendengar suara tersebut, tetapi hanya melihat sekelebat mobil yang Victor tumpangi, lantaran betapa padatnya tempat tersebut bagai lautan zombie saja.
Pria itu berusaha mencari celah yang kosong. Bergerak mengecoh para zombie- zombie tersebut, dengan cara membawa tubuh zombie yang sudah mati. Dengan bantuan tangan kekarnya tersebut, ia mengangkat salah satu tubuh zombie, ia gunakan tameng, saat sudah dekat dengan sekawan zombie yang masih bernyawa, gegas pria itu melempar tubuh zombie tak bernyawa tersebut ke arah mereka.
Para zombie yang mengira itu adalah tubuh manusia, mulai terkecoh dan menggerogoti daging-dagingnya. Mereka membentuk kerumunan, bagai sekelompok ayam yang ditaburi jagung.
Dave segera memanfaatkan hal itu. Ia berlari secepat mungkin menuju ke arah mobil yang Victor tunggangi.
"Cepat!" Tangan Victor yang ia ulurkan ke pintu samping mobil, bersiap untuk meraih tangan Dave.
Gerakan kaki Dave semakin bertambah kelincahannya saat zombie-zombie di belakangnya mulai tersadar dan kembali mengejarnya.
"Dave ayo!!" Victor berteriak, sembari menderukan mobilnya pelan, lantaran jika ia berhenti, maka zombie-zombie akan mudah menangkapnya.
Dave akhirnya berhasil mencapai mobil tersebut. Ia meriah tangan Victor dan langsung dibantu oleh pria itu untuk masuk ke dalam mobil.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Victor.
Dave mengangguk dengan masih yang mencoba mengatur napasnya yang memburu.
"Tanganmu penuh dengan darah." Victor sesekali menoleh ke arah pria itu sembari terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Kau tenang saja. Ini bukan darahku. Bahkan aku tak membiarkan satu pun dari zombie-zombie sialan itu menumpahkan darahku," ujar Dave sedikit angkuh.
Victor tersenyum kecil. "Kau memang cocok menjadi petugas polisi dan semacamnya."
"Apa kau sedang memuji atau menghinaku?" tanya Dave dengan nada bercanda.
Victor tiba-tiba mengerem mobilnya mendadak, membuat suara decitan terdengar pilu akibat gesekan ban mobil dengan aspal yang begitu keras.
"Hei, ada apa? Apa kau ingin membunuhku?" Dave berkata sembari memegang bagian depan mobil guna menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Aku baru tersadar akan putraku. Putraku Teddy dan adikmu masih ada di belakang." Victor berkata dengan nada kepanikan.
"Aku tadi melihat Devina sudah mengendarai mobil menuju ke depan," kata Dave.
"Apa? Bagaimana jika zombie-zombie itu mengerangnya? Lalu bagaimana dengan Simon?" tanya Victor lagi.
"Simon mungkin sudah bersama mereka," ucap Dave. Lantas kedua maniknya tersebut melirik sebuah spion. Kembali jantungnya berdegup kencang. "Victor, kau harus tetap mengemudikan mobilnya. Lihat, mereka para zombie sudah berada di belakang kita!"
Victor menoleh ke arah spion. Melihat para zombie yang sudah meraih ekor mobilnya. Gegas pria itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat zombie-zombie di belakangnya langsung berjatuhan. Dua di antaranya masih saja menggantung, seakan tak mempedulikan kakinya yang mengucur banyak darah lantaran bergesekan dengan aspal dengan sangat keras.
"Dave, apa kau yakin mereka akan selamat?" tanya Victor gugup, merujuk pada Devina, Teddy, dan Simon.
"Aku sendiri tidak tahu, Victor. Tapi kuharap mereka akan selamat." Dave mendesah pasrah.
Tiba-tiba jalanan tol mulai retak. Tercipta seperti kilatan petir yang merambat dan kemudian bergoyang.
Dave dan Victor bisa merasakan akan getaran tersebut, sehingga membuat mobilnya sedikit oleng.
"Victor, apa kau tidak bisa menyetir dengan benar. Biar aku saja kalau begitu," kata Dave yang mengira temannya tersebut kehilangan kendali saat menyetir.
"Dave, kurasa ada sesuatu yang lain," Victor bergumam sembari mulai memelankan deru mobilnya.
"Maksudmu?"
"Lihat di sekitarmu. Mobil-mobil bergetar dengan sendirinya," ujar Victor sembari melirik ke sekeliling melalui jendela mobil.
Mobil-mobil yang mulanya tenang, kini mulai bergetar dengan sendirinya. Tak hanya itu, di bawah rodanya juga terlihat retakan seperti petir yang tercetak di beton tol tersebut.
"Apa ini sebuah gempa?" Dave tanpa sadar mengucapkan hal tersebut. Pandangannya melototi setiap gerakan retakan tersebut.
"Sepertinya tol ini akan ambruk!" firasat Victor.
"Victor, cepat lajukan mobil ini dan keluar dari tol ini!" perintah Dave.
"Lalu bagaimana dengan anakku di belakang sana?!" Victor masih mencemaskan sang putra.
"Victor tidak ada waktu lagi!" Dave menggertak pria itu lantaran getaran tol tersebut mulai terasa kuat.
"Aku tidak akan meninggalkan putraku sendirian!" Victor masih membangkang.
"Percayalah, mereka akan selamat!" Dave ikut berteriak. "Sial!" Pria itu lekas menggeser tubuhnya mendekat ke arah Victor. Dengan cepat mengambil alih kemudi. Gegas membawa mobil tersebut melewati beberapa mobil yang terparkir di sembarang tempat dengan kecepatan cukup tinggi agar cepat bisa keluar dari tol tersebut.
Sementara itu, di belakang sana, Devina masih mengemudikan mobilnya menabraki zombie-zombie yang menghalau jalannya. Sesekali ia menembakinya dengan satu tangannya.
"Di mana papa?" Teddy merengek. Air matanya tidak berhenti untuk terus membanjir.
"Tenang, Nak! Papa mu ada di depan sana. Kita juga akan cepat ke sana!" Simon berusaha menenangkan dan membujuk anak itu.
Detik berikutnya, Simon terdiam. Merasakan getaran aneh dari jalan yang merambat hingga ke jantungnya. Firasat sedang tidak baik-baik saja.
"Devina, cepat tambah lagi kecepatan mobilnya. Kita harus segera melewati tol ini sebelum jatuh ke bawah," ujar Simon yang tentu saja membuat Devina keheranan.
"Apa maksudmu jatuh ke bawah?" Dengan perasaan panik, dan ditambah keheranan tentang ucapan Simon, Devina gemetar memutar setir mobil tersebut.
Tanpa sadar mobil Devina hendak menabrak mobil di depannya. Devina segera memutar setir, berniat menghindari tabrakan tersebut tetapi getaran jalan tol membuatnya harus benar-benar menyapa ekor mobil di depannya.
"Aaa!"
"Brak!!!"
Mobil tersebut berhenti mendadak.
Devina memegangi keningnya yang terbentur setir. Ada sedikit darah yang mengalir.
"Kalian tidak apa-apa?" tanyanya sembari menoleh ke belakang.
Simon terlihat memeluk erat Teddy. Tubuh mereka hampir tergelincir. Namun syukurlah semuanya baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa." Simon bersuara.
"Keningmu!" Teddy menunjuk ke arah kening Devina yang sedikit berdarah.
"Tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja," kata Devina. Lantas kembali menoleh ke depan, fokus pada kemudi.
Devina memundurkan mobilnya. Terasa sulit saat rodanya bergesekan dengan jalan yang retak.
Tiba-tiba, sesaat kemudian… mobilnya kembali bergetar akibat tekanan tol tersebut. Mobil tersebut bergetar sampai mempengaruhi tubuh mereka yang juga ikut bergetar.
Simon mendekap erat tubuh Teddy yang mendadak bergetar. Kepala mereka juga terasa begitu pusing.
"Apa yang terjadi?" Devina melirik ke sekitar. Melihat jalanan yang mulai retak. Merambat begitu cepat hingga tepat di samping mobilnya. Lantas, tol tersebut terbelah.
Mobil yang mulanya berdiam di pinggiran kini mulai berjatuhan bersamaan dengan beton. Jatuh melayang dan mencebur ke lautan di bawah sana.
Devina berteriak pilu. "Aaaa!"
"Jangan melihatnya. Cepat kemudikan mobil ini sebelum kita ikut terjatuh!" perintah Simon.
Dengan gemetar Devina mulai memutar setir. Menderukan mobil tersebut dengan kalang kabut. Berjalan berlenggak lenggok mencari celah jalan yang kosong, lantaran beberapa tubuh zombie serta mobil yang tak berpenghuni berserakan di sembarang tempat.
Devina semakin mempercepat laju mobilnya saat di belakang sana bencana mengintainya. Retakan jalan semakin lama semakin lebar dan membuat tol tersebut hancur. Pondasi betonnya saling berjatuhan. Mobil-mobil dan tubuh-tubuh zombie serupa mainan saja yang dijatuhkan dari ketinggian dan mencebur ke lautan yang luas di bawah sana.
"Devina awas!" Simon berdecak saat sosok zombie hendak meloncat dari sampingnya ke arahnya.
Dengan sigap wanita itu meraih kembali pistolnya dan melontarkan pelurunya langsung ke arah zombie.
Dor!!!
Peluru berhasil menembus kening zombie tersebut. Membuat sang zombie langsung tergeletak tak bernyawa.
Retakan tak mau berhenti. Terus menyebut jalan tol bagai rayap yang menggerogoti kayu tua.
Kini mobil itu sudah sampai di pertengahan jalan. Dan seperempat jalan sudah hancur. Tak lama lagi bakal merambat sampai di ujung. Jika mobil mereka tak segera sampai di ujung, maka mereka bakal berjatuhan langsung ke laut sana dan kemungkinan kecil bakal selamat.
"Menyingkirlah, Dave!" Victor mendorong tubuh Dave yang menghalanginya. Lantas ia kembali mengambil alih kemudi. Memutar setir tersebut dengan panik, dan menambah kecepatan lajunya. Mobil tersebut terus bergerak maju dengan mencari celah yang bisa digunakan berjalan.
"Aku kira kau akan memutar dan kembali ke belakang," ujar Dave sedikit lega.
"Diamlah. Aku terpaksa melakukan ini. Jika anakku tidak selamat, maka kau yang harus bertanggung jawab!" gerutu Victor.
Sedikit lagi mereka bakal sampai di ujung. Sosok zombie tampak menghalangi di depan sana. Victor tak segan-segan untuk langsung menabraknya dengan keras.
Mobil mereka sedikit oleh. Menubruk pada tiang lampu. Victor kembali menundurkan mobilnya. Tiang lampu tersebut sedikit bergetar. Kemudian roboh seketika. Mengenai depan mobil mereka.
Kaca mobil itu retak. Detik berikutnya mulai pecah. Dave dan Victor saling menutup wajah dengan lengan mereka. Beruntung wajahnya masih baik-baik saja.
"Sebaiknya kita keluar dan lari!" ajak Dave.
Victor masih saja berdiam. Terpaksa Dave menggeret tubuh itu dan membawanya keluar.
"Ini ide gila!" Victor berteriak.
"Lebih gila kalau kita tetap di mobil dan mobil tersebut meledak," ujar Dave dengan terus menggerakkan langkahnya berlari secepat mungkin.
Detik berikutnya… suara ledakan mobil terdengar di belakang mereka. Victor menoleh sejenak, melihat semburan api yang keluar dari mobil yang baru saja ditumpanginya. Andai mereka telat sedikit saja untuk keluar dari dalam sana tadi, maka tidak bisa dipungkiri tubuh mereka bakal menjadi daging panggang.
"Jadi kau sudah tahu kalau mobil itu bakalan meledak?" Victor bertanya pada Dave sembari terus menggerakkan kakinya cepat.
"Tidakkah kau lihat kabel lampu tadi. Kilatan api tersebut yang membuat mobil tersebut meledak. Kau pikir aku tidak tahu banyak tentang hal mekanika?" Masih sempatnya Dave menyombongkan keahliannya di keadaan genting seperti itu.
Namun hal itu justru membuat Victor menggelengkan kepala dengan sedikit tertawa.
Beberapa saat kemudian akhirnya mereka berhasil mencapai ujung tol.
"Yey… Akhirnya!"
Dave dan Victor tampak gembira. Mereka saling berpelukan membagi rasa kebahagiaan karena berhasil melewati mara bahaya yang mencoba menyerbu mereka.
Namun, detik berikutnya… Victor merenggangkan pelukannya. Wajahnya menjadi suram. Kembali ia mengingat sang putra yang masih berjuang di sana.
"Mereka masih saja belum terlihat. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan mereka?" ucap Victor cemas.
Dave juga tampak mencemaskan adiknya, Devina.
"Dave, aku tidak bisa berdiam di sini. Aku harus ke sana dan menyelamatkan putraku!" kata Victor dengan gusar.
"Apa kau bercanda? Tidak kah kau ingat baru saja kita lari dari bencana. Sekarang kita sudah berhasil lolos, dan kau berniat untuk kembali ke sana?" Dave mengerling heran.
"Putraku ada di sana, Dave! Tidak kah kau tahu bagaimana perasaanku?" Victor mulai berdebat dengan temannya itu.
"Adikku juga di sana! Jangan lupakan itu!" bantah Dave.
"Devina sudah dewasa. Dia tahu bagaimana cara menyelamatkan diri. Sedangkan putraku, dia masih anak-anak. Bisakah kau bayangkan?!"
"Kau pikir Devina akan meninggalkan putramu seorang diri?" Dave menggelengkan kepalanya. "Percayalah, dia akan menyelamatkan putramu dan segera membawanya ke sini!" Pria itu berusaha menyakinkan temannya.
"Bagaimana aku bisa percaya jika adikmu saja sebenarnya tidak ingin membantuku!"
Dave memutar mata bosan mendengar ucapan Victor. "Dengar, adikku bukan orang jahat. Memang benar awalnya dia menolak untuk membantumu mencari Elena, itu karena kami juga punya tujuan lain. Kau berniat mencari istrimu, dan kami berniat mencari…." Dave langsung memotong perkataannya begitu saja.
Pria itu mengerjap sejenak. "Sebaiknya kita hentikan perdebatan ini!"
"Yang kau mengajakku berdebat!" Victor masih tidak mau menyerah.
"Astaga… kau benar-benar menyebalkan!"
Saat mereka sibuk berdebat, Devina berusaha membawa mobilnya untuk selamat dari serangan zombie juga gempa dadakan.
Simon masih mendekap Teddy, memberikan ketenangan pada anak itu. Sementara matanya menatap ke kaca belakang mobil. Melihat tol yang semakin terkikis sedikit demi sedikit dan berjatuhan ke bawah. Zombie-zombie yang masih hidup juga ikut berjatuhan.
"Ya Tuhan… tolong selamatkan kami!" Dalam hati Devina berdoa dengan tangan gemetar yang terus memutar setir mobil.
Di sekelilingnya tersebut terdapat begitu banyak Zombie yang mencoba meraih mobilnya. Tetapi zombie-zombie tersebut langsung berjatuhan kala aspal yang dipijaknya retak kemudian hancur ke bawah.
Tiang-tiang listrik di pinggiran ikut roboh. Saling bertubrukan dan menciptakan aliran listrik yang menjalar ke kendaraan-kendaraan kosong yang berserakan di sepanjang jalan. Tidak butuh waktu lama untuk menciptakan api yang membakar kendaraan tersebut. Bunyi ledakan beriringan dengan bunyi hancurnya cor beton serta teriakan Zombie-zombie.
Semuanya terlihat begitu mencekam.
Kepulan asap mulai menghalangi pandangan jalan. Devina tak bisa lagi melihat dengan jelas jalan di depan sana. Semuanya tampak pekat, serupa kabut yang menyembunyikan arah.
Wanita itu menyalakan wisper mobil, namun sia-sia saja. Itu bukan air yang bisa dihapus dengan menggesernya begitu saja. Itu merupakan asap yang begitu pekat.
Asap tersebut bahkan sampai memasuki mobil lewat celah-celah ruang kosong, sehingga membuat mereka terbatuk-batuk.
Suara batu Teddy terdengar mengigil. Simon segera mengambil sebotol air dan memberikan anak itu minum. Gegas Teddy meneguknya. Sementara Simon kemudian mengambil kain dalam ransel milik Victor dan ia gunakan untuk mengusir asap.
Devina terus melajukan mobilnya.