Serangan Zombie Tol

1033 Words
Brak!!! Tubuh Dave terjungkal dari mobil dan menyapa kerasnya permukaan tol. "Hei, Men… ada apa? Kenapa kau terjatuh?" Victor bertanya dengan santai, mengira bahwa temannya tersebut jatuh dengan sengaja. "Victor, menjauh dan selamatkan putramu!" Dave memberi aba-aba. Victor hanya mengerutkan dahi heran. Sementara Simon yang menyadari akan adanya sesuatu di dalam mobil, mulai melotot. Dave mencoba membangunkan diri. Namun sosok zombie berbaju polisi di dalam mobil mulai merangkak keluar. Seakan menjadi buas begitu melihat manusia di sekitarnya. Mata Victor menjadi sebesar piring kala melihat penampakan zombie tersebut. Tenggorokan basah akan ludah saat ia menelannya begitu saja. Sementara tangannya gemetar memegang setir mobil. Dave bangkit dari jatuhnya. Berusaha lari, tetapi kakinya tercekal oleh tangan zombie. "Aarghh!" Dave kembali terjatuh. Ia menendang zombie tersebut tetapi rasanya sangat sulit untuk menggerakkan kakinya, lantaran dua-duanya juga digenggam. Simon bergerak. Mencari sesuatu sesuatu di sekitarnya untuk menghalau zombie tersebut. Matanya melirik sebongkah batu yang berada di pinggiran tol. Gegas ia bergerak, mengambil batu tersebut dan melemparkannya ke arah zombie. Namun, bukan sang zombie yang tertimpa melainkan malah mobil lain. Dan bagian terburuknya, mobil-mobil tersebut juga ternyata berisi zombie zombie. Para zombie mulai turun keluar. Matanya seakan menjadi bugar kala melihat manusia. Mereka mulai berlarian menghampiri Simon. Simon yang panik hanya bisa gemetar saja. Sementara itu, Victor masih berada di dalam mobil. Ia memilih menghalau zombie-zombie tersebut dengan menabraknya satu persatu. Dave meninju wajah zombie di depannya. Zombie tersebut sedikit menjauh, membuat kaki Dave berhasil terlepas. Gegas ia membangunkan diri. Semakin lama zombie mulai keluar dari mobil satu persatu, seakan mencium aroma otak manusia yang begitu segar. Simon berlari menjauh. Bukan karena ia menjadi pecundang, tetapi saat ini yang dipikirkannya adalah menyelamatkan Teddy yang berada di dalam mobil. Namun sayang sekali, sosok zombie meloncat ke arah tepat mengenai punggungnya. Lelaki tua tersebut terjatuh. Di atasnya terdapat zombie yang siap menggerogoti tubuhnya. Sementara itu, Devina tampak bersenda gurau bersama Teddy di dalam mobil. Lantaran mereka duduk di bangku belakang, jadi suara-suara keributan seketika senyap tak mampu menembus gendang telinga mereka. Terlebih, saat ini mereka tengah bermain tepuk tangan. Teddy tertawa terbahak, pun begitu dengan wanita yang di depannya yang kini tengah menghiburnya. Detik berikutnya sebuah benda tampak menghantam kaca mobil samping bagian belakang. Benda tersebut membekaskan cairan merah menyerupai darah, atau memang itu merupakan darah sungguhan. Hal tersebut tentu sangat mengejutkan Teddy dan juga Devina. Bahkan Devina sampai berteriak dan memeluk anak kecil di depannya. Devina membuka mata. Melihat cairan merah kental yang mengalir pelan di kaca jendela. Perasaan wanita tersebut sudah ketar ketir. Perlahan, wanita itu mendekat. Menengok ke luar jendela kaca. Terkesiap saat melihat sebuah kepala manusia berlumur darah yang tergeletak tepat di samping mobil. Yah, benar. Itu merupakan kepala manusia dan darah yang membanjir masih tampak segar. Jantung Devina berdetak secepat lari kuda. Kedua matanya menjadi sebesar piring dan bibirnya gemetar hebat. Lantas ia mulai memutar tulang lehernya, memandang ke depan sana. Dari kaca mobil, ia bisa melihat bahwa begitu banyak zombie-zombie yang bermunculan. "Ada apa?" Teddy yang masih didekapnya, bertanya pada Devina. "Tidak ada apa-apa. Tidak ada." Devina menggeleng cepat dan semakin mempererat pelukannya terhadap anak tersebut. Teddy merasa ada sesuatu, mulai curiga. Ia merenggangkan pelukannya, mencoba melihat keadaan luar. Namun sebisa mungkin Devina menahannya. Sayang sekali anak kecil itu sangat kerasa kepala. Kedua retinanya berhasil menangkap penampakan zombie-zombie di luar sana. "Monster itu?" Teddy berdecak gemetar. "Papa!" Ia teringat sang ayah dan berniat untuk keluar mobil. Namun Devina menahan tubuh mungilnya tersebut. Sementara itu, di depan sana, Simon tampak gemetar. Mengira bahwa dirinya sudah digerogoti oleh zombie. Hal itu mungkin akan terjadi jika saja Dave tidak menolongnya. "Bangunlah!" ujara Dave, dengan napas yang memburu. Kedua tangannya tersebut mengangkat sebuah pintu mobil yang ia ambil begitu saja dan ia gunakan untuk memenggal kepala zombie yang mencoba menyakiti Simon. "Kau pergilah ke mobil dan bilang pada Devina untuk jangan keluar!" perintah Dave pada Simon. Lelaki baya tersebut segera beranjak. Tak mempedulikan detak jantungnya yang terpacu begitu cepat. Bergerak cepat menuju ke arah mobil. Sementara itu, Dave masih sibuk menghalau zombie-zombie yang mencoba menyerbunya. Ia memukul kepala serta tubuh zombie dengan pintu mobil yang disongsongnya. Sedangkan Victor sibuk menabraki zombie-zombie yang melewati ke ke arahnya. "Aku ingin bersama papa!" Teddy berteriak. Tangisnya pun pecah dengan bulir bening yang mulai membanjir, membasahi pipi. "Di luar sangat berbahaya. Kita harus tetap di sini, oke?" Devina mencoba membujuknya. Namun Teddy yang keras kepala tersebut tak mau menurut. Ia tetap ingin bersama sang ayah. Tangisnya semakin menggigil. Brak!!! Sebuah tangan penuh darah tiba-tiba menyentuh jendela samping bagian depan. Devina terkesiap melihatnya. Namun saat meneliti lagi, ternyata itu adalah Simon. Simon yang masih gemetar mencoba membuka pintu mobil, lantas masuk ke dalamnya. "Simon!" Teddy berdecak. "Apa kau baik-baik saja?" Devina bertanya dengan tertegun. Simon menggangguk. Masih mencoba mengatur napasnya. "Tapi tanganmu…." Devina bisa merasakan ngilu saat melihat tangan tua itu penuh darah. Simon melihat tangannya yang berlumur darah. "Ini bukan darahku. Ini darah zombie tadi. Kau tenang saja, aku baik-baik saja," ujar Simon sembari mengontrol napasnya. "Bagaimana dengan Dave dan Victor?" tanya Devina. "Mereka masih mencoba menghalau zombie-zombie," jawab Simon. "Apa kau bisa mengendarai mobil?" tanya Devina sekali lagi. Simon menatap ke arah Devina sejenak, sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu cepatlah ke belakang dan temani Teddy!" Devina beranjak dari duduknya, berpindah tempat ke bangku depan. Simon mengambil kain di depan dan mengelap tangannya tersebut yang berlumur darah hingga bersih. Lantas, mulai memindahkan tubuhnya ke belakang. Duduk bersama Teddy dan memeluknya. "Di mana papa ku? Aku ingin bersamanya!" Teddy menarik kemeja lelaki baya itu. "Papa mu baik-baik saja." Simon kembali mengeratkan pelukannya. Devina mulai menyalakan mesin mobilnya. "Apa yang ingin kau lakukan? Dave menyuruhku untuk menjaga kalian. Kau tidak boleh ke mana-mana sampai mereka kembali ke sini," kata Simon. "Dan kau akan menunggu ke sini sampai mereka terluka?" Devina berkata dengan tangan yang mulai memutar setir mobil. "Aku tidak bisa tinggal diam begitu saja!" Mobil putih tersebut mulai bergerak maju. Dave yang berdiri di sana melihat pergerakan mobil tersebut. "Uff… Devina, kau memang keras kepala!" gerutu pria itu yang sudah menebak kalau adiknya yang mengemudikan mobilnya. "Aarghh!" Sosok zombie yang di belakang Dave berhasil meraihnya. Memegang pundaknya dan melebarkan mulutnya. Bersiap untuk menggigit leher pria itu. "Dave!!!" Victor berteriak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD