Penghalang Jalan

1283 Words
Mobil putih tersebut mulai menyusuri jalan perkotaan yang diapit oleh beberapa gedung pencakar langit. Roda-roda melingkar terus berputar hingga sampailah di sebuah tol panjang yang menghubungkan antara kota Ehisten dan kota Berlin, yang merupakan tempat tujuan mereka. "Apa ini terjadi kemacetan?" Dave bertanya saat melihat sekeliling juga depannya yang terdapat begitu banyak mobil-mobil yang berhenti. Pria itu mulai memelankan deru mobilnya, berjalan mencari celah yang kosong yang bisa digunakan untuk lewat. "Tapi semuanya seperti tampak kosong. Tidak ada orang di mobil tersebut." Devina berkata setelah mengamati mobil mobil di sekelilingnya dari jendela sampingnya. Simon ikut menoleh. Memperhatikan semua keadaan di luar sana. Dave tiba-tiba menghentikan mobilnya. Membuat mereka sedikit terkejut. "Ada apa?" tanya Victor di bangku belakang sana. "Jalan kita terblokir. Sepertinya kita harus menyingkirkan mobil-mobil di depan kita," saran Dave. "Memangnya mobilnya masih bisa dikendarai? Lihatlah, semuanya tampak usang." Victor berkata sembari melihat lihat mobil dari jendela sampingnya. "Kita coba saja dulu!" Dave mulai membuka pintu mobilnya. "Devina, ayo bantu aku!" sambung Dave sembari keluar dari mobil. Devina hendak keluar juga, tetapi Victor menghentikannya. "Tunggu! Biar aku saja yang membantu Dave. Kau jaga Teddy di sini. Oke?" kata Victor. Pria itu lantas menundukkan tubuh, terfokus pada sang putra. "Sayang, kau tidak apa-apa kan bersamanya? Sebentar saja." "Papa, aku ingin keluar bersama mu," pinta Teddy. "Teddy… jangan bandel. Kau harus tetap di sini!" titah Victor pada sang putra. "Kemarilah!" Devina mengambil tangan mungil bocah tersebut dan menuntunnya ke arahnya. Lantas ia memangkunya. "Kau di sini saja bersamaku, oke?" seru wanita itu. "Papa hanya sebentar, Sayang." Victor mengelus lembut pipi gempal sang putra dan beralih mengusap pucuk kepalanya penuh kasih. Teddy mengangguk mantap. "Iya, Papa." Gegas Victor membuka pintu sampingnya, mulai menurunkan kaki menapak ke aspal tol. Angin langsung menerobos masuk ke dalam mobil, tetapi kembali senyap saat daun pintu mobil tersebut dirapatkan kembali. Simon pun tampak hendak keluar. "Kau mau keluar juga?" Teddy dari belakang sana bertanya kepadanya. Simon memutar tulang lehernya ke belakang. Menatap Teddy sembari tersenyum, kemudian berkata, "Aku tidak akan duduk tanpa membantu ayahmu dan temannya itu, kan?" Teddy tersenyum. Simon memajukan tubuh, mengulurkan tangan demi bisa menyentuh pucuk rambut anak tersebut. Lantas ia mengusapnya. "Anak yang baik. Aku keluar dulu, ya!" Teddy menganggukkan kepalanya penuh gemas. Simon melempari senyuman sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar mobil. Begitu tubuhnya tersebut menyapa udara di luar, pria itu merasakan hal yang tak biasa. "Lihatlah, semua kacanya pecah. Banyak darah yang sudah mengering juga. Kira-kira apa yang terjadi pada para pemilik mobil mobil ini?" Dave bergumam sembari menganalisa setiap mobil di depannya. "Aku rasa mereka diserang zombie, lalu mereka berubah menjadi zombie juga dan berkeliaran entah ke mana," asumsi Victor. "Apa menurutmu di depan sana tidak ada orang sama sekali?" Kedua mata Dave memandang sepanjang tol yang tampak di penuh mobil-mobil tak bertuan. "Entahlah. Sebaiknya kita cepat singkirkan beberapa mobil yang menghalangi jalan, agar kita bisa melewati tol ini dengan leluasa dan sampai ke Berlin dengan cepat," saran Victor kemudian mulai bergerak membuka salah satu pintu mobil tersebut untuk dioperasikan dan ditepikan. "Tunggu!" Tiba-tiba saja Simon bersuara menghentikan aksi dan langkah mereka berdua. Kedua pria itu membelokkan tulang leher ke belakang, menatap ke arah Simon penuh keheranan. "Kenapa?" tanya Dave. "Sebaiknya kita putar balik dan lupakan so Berlin." Tentu saja perkataan lelaki tua tersebut membuat Dave dan Victor terkejut juga meradang. "Apa maksudmu? Aku tidak bisa kembali sebelum membawa istriku!" ujar Victor. "Aku juga tidak akan kembali sebelum mencapai tujuanku di sana!" Dave menambahi dengan penuh kemantapan. "Tapi aku merasakan di sana sangat berbahaya. Entitasnya sangat kuat." Simon masih mencoba menyakinkan mereka. "Tidak kah kau lihat ke sekeliling mu? Semuanya hancur. Kota ini seperti kota mati. Dan kita sedang berusaha mendapatkan kota seperti kota lama kita. Kota yang penuh dengan kehidupan. Mungkin Berlin adalah jawabannya. Aku rasa di sana tidak semencekam di sini." Dave berusaha memberi pengertian dengan asumsinya. "Percuma. Semuanya akan hancur tidak akan ada yang tersisa." "Hei, hello… apa kau seorang paranormal sehingga kau berbicara muluk-muluk tersebut?" tanya Dave dengan sedikit menyindir. Simon hendak menjawab, tetapi Dave kembali bersuara dengan cepat. "Sayangnya aku tidak percaya dengan omongan paranormal. Mereka hanya membuai saja!" ucap Dave penuh hardikan. "Aku setuju dengan Dave. Aku juga tidak terlalu percaya dengan paranormal. Di sana dunia kita sudah modern, teknologi di mana, dan–" "–dan semuanya hancur?" Simon menyahut cepat perkataan Victor. "Semua teknologi yang diciptakan manusia akhirnya akan kalah dengan alam ini." "Sudah cukup!" Dave mengakhiri perdebatan kala itu. "Jika kau tidak ingin ikut bersama kami maka pergilah. Jangan halangi kami!" ujarnya dengan penuh sindiran. Kini giliran Victor yang memberi pendapat. "Simon, aku sangat berterima kasih padamu karena telah menyelamatkan dan menemani putra ku selama ini. Tapi, tolonglah… Teddy sangat ingin bertemu dengan ibunya. Dan asal kau tahu, alasan dia sampai lari dari rumah itu karena dia ingin bertemu dengan ibunya. Aku tidak mau membuatnya kecewa lagi sehingga dia pergi jauh dariku lagi." Victor menggelengkan kepala dengan wajah sayu. Tak akan pernah membiarkan sang putra jauh darinya lagi. "Tidak, Simon. Aku tidak akan membiarkan Teddy jauh dariku hanya karena saranmu yang belum tentu benar itu. Jadi, maaf jika kata-kataku ini menyinggungmu, seperti yang Dave katakan, kau boleh pergi ke mana pun berpisah dengan kelompok kami jika kau mau," jelas Victor panjang lebar. Simon meneguk ludah, sedikit kecewa dengan sikap mereka. Tetapi ia sadar, siapa juga yang akan mempercayai omongannya tersebut. Di zaman yang serba modern, seorang paranormal sering kali dikucilkan. Namun firasat-firasat yang Simon rasakan sejak lahir tersebut terkadang terjadi sesuai kenyataan, meskipun sedikit melenceng. Sejak lahir pria itu sudah peka terhadap kondisi yang coba alam beri tahu pada dunia. Simon mengerjap. Sadar bahwa ia tidak bisa meninggalkan Teddy sendirian. Sekarang tujuan hidupnya adalah melindungi anak tersebut. "Baiklah, aku tidak akan melarang kalian. Aku juga tidak akan pergi. Karena aku sudah berjanji pada teman kecilku, Teddy, untuk selalu bersamanya," kata Simon pada mereka. "Oke. Itu lebih bagus." Victor menganggukkan kepala tiga kali. "Victor, ayo cepat! Kita tidak perlu membuang waktu lagi!" Dave memberi aba-aba. Lantas pria tersebut mulai membuka pintu mobil dan berniat menyingkirkannya ke tepian. Victor pun melakukan hal serupa dengan mobil lainnya. "Apa masih berfungsi?" tanya Victor pada Dave dengan sedikit berteriak. "Yah, mesinnya masih berfungsi dengan baik," jawab Dave sembari menjajal menderukan mobil tersebut. Victor juga mulai menyalakan mesinnya, membawa mobil tersebut ke tepian. Sementara Simon yang bertugas mengarahkan jalan, lantaran ia tak tahu bagaimana caranya mengemudikan kendaraan besi beroda empat tersebut. Dave menghentikan mobilnya. Keluar dan berniat ke mobil yang lainnya, yang sekiranya menghalangi jalan. "Haruskah aku mengambil salah satu mobil ini agar tidak menumpang denganmu lagi, Victor." Dave berkata dengan nada bercanda. Memasuki mobil polisi dengan pandangan ke arah Victor. "Yah, kau bisa memilih yang paling kau sukai tanpa harus khawatir mengeluarkan dollar. Hahaha!" seloroh Victor. "Kurasa yang ini sangat cocok untukku!" Dave menutup pintu mobilnya sembari duduk di bangku. Bersiap menyalakan mesinnya. Tetapi, suara dari sampingnya mengganggu indera pendengarannya. Pria itu menoleh perlahan, meneguk ludah saat melihat seorang polisi yang duduk membelakanginya. Dave menggerakkan tangannya, mencoba meraih punggung petugas polisi di depannya. Dengan sangat gemetar, akhirnya telapak tangannya tersebut berhasil menyentuh pundak sang polisi. "Hai…!" sapanya pelan. Perlahan, kepala petugas polisi itu bergerak. Membengkokkan tulang lehernya. Dave langsung meneguk ludah dan terkesiap. Matanya menjadi sebesar piring kala menyadari kalau petugas polisi tersebut sudah terinfeksi menjadi mayat hidup atau semacam zombie. Suara serupa kerumunan lebah menggema dari kerongkongan si petugas polisi. Liurnya yang bercampur akan darah berjatuhan membuat siapa pun merasa jijik kala memandangnya. Namun, bukan itu yang membuat Dave gemetar ketakutan. Tetapi karena kedua mata petugas polisi tersebut yang sepenuhnya memutih. Gerakan lehernya menjadi aneh seperti kepalanya hendak terputus. "Aarghh!" Dave buru-buru membuka pintu mobilnya, hendak keluar tetapi malah terjungkal jatuh menimpa jalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD