"Victor?"
Victor yang merasa tersinggung dengan perkataan Devina mulai membalikkan tubuh dan berjalan menjauh.
"Ufff!" Devina menyemburkan napas penuh sesal.
"Kau terlalu banyak bicara, Devina. Sekarang kalau sudah begini bagaimana?" Dave mendesis penuh kecewa.
Setelah membersihkan tubuh Teddy, Victor mulai mengemasi barang-barang dan dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
"Apa kau benar-benar akan pergi?" Dave bertanya pada Victor setelah berjalan menghampirinya.
Victor menutup bagasi mobil dan berkata, "Sekarang tujuan kita sudah berbeda, kan?" ucap Victor. Pandangannya melirik ke arah Devina penuh arti.
Devina mulai berjalan ke arahnya. Wanita itu menarik napas dan menyemburkannya. "Victor… aku … aku minta maaf atas ucapan ku tadi. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Dengar, sebenarnya kami juga punya tujuan lain. Dan kami sangat meminta maaf tidak bisa membantumu dalam pencarian istrimu."
Victor menoleh ke arahnya. Kemudian menyunggingkan senyum simpul. "Tidak apa-apa. Aku mengerti. Semoga tujuanmu itu cepat terselesaikan, dan terima kasih untuk semuanya. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa menemukan anakku, Teddy," kata Victor.
Devina mengangguk-angguk.
"Ngomong-ngomong… kemana arah tujuanmu?" Dave bertanya pada Victor.
"Ke tempat terakhir kali istriku berada. Di rumah orang tuanya," jawab Victor.
"Di kota mana?" tanya Devina.
"Berlin," jawab Victor mantap dan berhasil membuat Dave dan Devina tertegun.
Kedua kakak beradik tersebut saling pandang, kemudian menatap ke arah Victor berkata, "Berlin?"
***
Teddy tampak berjalan, membawa langkah kecilnya menerjang rerumputan. Bergerak ke arah pria tua yang duduk sendirian tengah merenung.
"Apa yang kau lakukan?" Teddy bertanya pada Simon.
Lelaki baya tersebut sedikit terkejut dengan kedatangan anak tersebut yang secara tiba-tiba. Ia menoleh, menyunggingkan senyum ke arah Teddy.
"Lihat siapa ini yang datang? Kemarilah, Nak!" Simon mengangkat tubuh Teddy dan membawanya duduk di sebelahnya.
"Sekarang kau sudah bertemu dengan ayahmu. Apa kau senang?" tanya Simon.
Kedua mata binar bocah tersebut berkedip bersamaan dengan kepalanya yang mengangguk. "Aku sangat senang sekali." Teddy mengucap dengan penuh gembira.
Simon tersenyum memperhatikannya. Detik berikutnya wajahnya tersebut menjadi lemas serupa bunga layu. Terdapat embun yang menggumpal di kelopak matanya yang mengendap. Terlihat kalau kedua bola tua tersebut berusaha untuk menahannya agar tidak mencair.
"Kenapa kau sedih?" tanya Teddy saat melihat wajah lelaki tua tersebut sayu.
Simon menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak apa-apa," katanya dengan suara yang menahan tangis.
"Kau berbohong. Katanya kau temanku, kenapa kau berbohong?" Pertanyaan Teddy berhasil meluruhkan air mata pria itu.
"Kenapa kau menangis?" tanya Teddy sekali lagi. Wajahnya menjadi cemberut dengan bibir yang manyun. Seakan teringin ikut menangis.
"Kau sudah bertemu dengan ayahmu, sekarang kita akan berpisah. Aku akan sendirian seperti dulu."
"Kenapa kau berkata seperti itu? Kita tidak akan berpisah. Kau bisa ikut dengan kami mencari ibuku."
Simon menggelengkan kepala.
"Kenapa kau tidak mau? Apa kau benar-benar akan meninggalkanku?"
Simon terdiam.
"Jangan sedih dan jangan berpikir kau tidak memiliki siapa pun. Aku ada bersamamu." Seharusnya Simon yang menghibur anak tersebut, namun kini malah sebaliknya. Setidaknya hal itu membuat pria baya tersebut mengembangkan senyumnya.
"Kita sekarang menjadi keluarga." Kalimat yang Teddy lontarkan dari kerongkongannya tersebut seakan menjadi obat penumbuh luka Simon selama ini.
Selama ini pria tua tersebut merasa kesepian dan sendirian. Tetapi hadirnya Teddy dalam waktu singkat telah mengisi kekosongan hatinya. Hubungan mereka serupa sesama sahabat akrab, meskipun usia mereka terpaut sangat jauh. Dan terlihat seperti seorang kakek dan cucunya.
***
"Kenapa?" Victor bertanya dengan dahi mengernyit ke arah Dave dan Devina yang memberinya tatapan aneh.
Devina meneguk ludah. Mulai melangkahkan kaki, bergerak ke arah Victor dan berkata, "Sepertinya kita ada perubahan rencana."
"M-maksudmu?" Victor masih tampak bingung.
"Sebenarnya kota yang akan kau tuju sama seperti tujuan kami!" Dave yang memberi penjelasan.
"Oh ya?" Victor sedikit senang. "Kalau begitu kita bareng saja. Jika kalian masih mau bersamaku, sih," sambungnya.
"Hoamzz… sepertinya aku harus menahan kesabaran lebih banyak lagi saat bersamamu," seloroh Dave, membuat Victor dan Devina tertawa.
"Ngomong-ngomong di mana anakmu?" tanya Devina.
Victor langsung tersadar akan keberadaan putranya tersebut. "Oh iya, di mana anak itu?"
Pria itu mulai menggerakkan kaki, mencari sang putra. Dilihatnya putranya tersebut tengah bersama Simon duduk di kursi bawah pohon. Victor bergerak menghampirinya. Pun begitu dengan Dave dan Devina.
"Kau jangan menangis, kalau kau menangis, aku akan ikut menangis." Suara Teddy terdengar sayup-sayup.
Simon terlihat langsung memeluk tubuh mungil tersebut.
Victor menghentikan langkahnya sejenak. Melihat kedekatan sang putra dan lelaki asing baginya. Mereka tampak sangat akrab sekali.
"Teddy!" Setelah cukup lama terdiam, akhirnya pria itu melontarkan suaranya memanggil sang putra.
Teddy menoleh, melihat sang ayah yang berdiri di belakang sana.
"Papa!" Anak kecil itu turun dari bangku taman. Mengambil tangan tua Simon dan menggandengnya. "Ayo!" ajaknya.
Simon bejalan menuntun Teddy. Ah, tidak. Lebih tepatnya anak itu yang menarik tangan Simon untuk terus melangkah.
"Sayang, ayo… saatnya kita berangkat," kata Victor pada Teddy.
"Papa, bolehkan temanku ini ikut bersama kita?" tanyanya dengan mata menunjukkan penuh permohonan.
Victor menatap ke arah Simon sejenak. Lelaki baya itu hanya menunduk tanpa menatapnya. Beralih Victor menatap ke arah sang putra. Demi kebahagiaan Teddy, ia rela melakukan apa saja keinginannya. Lagi pula, Simon yang selama ini telah menyelamatkan putranya.
Victor mengangguk dengan senyum simpul. "Tentu. Jika dia mau," ujarnya.
"Yee!!!" Teddy bersorak gembira. Mendongak menatap ke arah Simon. "Kau mau ikut?"
Kedua mata Teddy itu menginginkan sebuah persetujuan. Simon pun mengangguk mantap. "Kau yang bilang kalau kita tidak akan berpisah. Jadi, ya!"
Teddy kembali bersorak. Simon mengusap pucuk rambut anak itu dengan penuh perhatian.
"Ayo, Teddy!" Victor melambaikan tangan ke arah sang putra.
Anak kecil tersebut langsung menggerakkan kaki kecilnya, melangkah dan menghambur di pelukan Victor.
Victor mengangkat tubuhnya yang ringan tersebut dan memutarnya. Mencium perutnya dan membuat anak tersebut merasa geli.
"Papa, geli!" celetuk Teddy dengan suara tawanya yang pecah.
Dave dan Devina tersenyum melihat pemandangan penuh kebahagiaan tersebut.
Lantas mereka pun mulai memasuki mobil. Dave yang menyetir duduk di bangku depan. Di sampingnya ada Simon. Sementara di bangku belakang, Victor duduk memangku sang putra. Dan Devina duduk di sebelahnya. Setelah semuanya siap, mobil tersebut akhirnya mulai bergerak maju. Meninggalkan halaman rumah kabin tersebut dan menuju jalan raya.
Sepanjang perjalanan mereka habiskan dengan candaan dan tertawa. Teddy sebagai objek yang terus mengembangkan senyum mereka. Seakan melupakan tentang masalah yang terjadi di sekitarnya, kota, negara, bahkan alam ini.