Victor memandangi sebuah rumah kabin berbentuk piramid yang tampak apik membawakan gaya arsitektur Eropa.
"Milik siapa ini? Tidak mungkin milikmu, kan?" Dave bertanya terlebih dahulu.
Simon menanggapinya, "Aku hanya bersinggah sementara."
"Kalau begitu kita bisa bermalam di sini." Victor menggendong Teddy dan mulai melangkah menuju ke arah rumah kabin.
"Dave, bawa mobilnya ke halaman," ujar Devina.
Dua kakak beradik tersebut lantas bergerak ke arah mobil dan mulai menderukan mobilnya menuju ke halaman tersebut.
Simon dan Victor sudah memasuki rumah kabin. Sementara Dave dan Devina membawa barang-barang kebutuhan makanan yang mereka ambil dari toko tadi.
"Cukup bagus." Devina memuji interior rumah kabin tersebut. "Baiklah, aku akan menyiapkan makanan untuk kita semua."
"Apa kita akan makan roti-roti ini?" tanya Dave.
"Kalau kau mau aku juga akan memasakkan sapi panggang untukmu," seloroh Devina. Lantas wanita itu mulai melangkah menuju dapur.
"Apa yang ingin kau lakukan? Tidak ada apa pun di dapur. Aku sudah mencari bahan makanan tetapi tak ada sama sekali," ujar Simon menghentikan langkah Devina.
Devina menyemburkan napas.
Terpaksa, mereka memakan hidangan seadanya. Makanan yang ia ambil dari toko tadi. Mereka pun mulai makan malam dengan sedikit berbincang.
"Siapa namamu?" Dave bertanya pada Simon.
Simon menghentikan aksinya yang saat itu tengah meneguk sebotol air.
"Simon!" Itu suara Teddy, yang berdecak mendahului Simon yang hendak menjawab. "Dia yang menjagaku selama ini," sambungnya.
Dave dan Devina tersenyum ke arah Teddy. Melihat tingkah anak tersebut yang aktif mengingat akan masa kecil mereka.
"Dan kah pasti Teddy!" Devina berseru pada bocah tersebut. "Perkenalkan, namaku Devina."
"De-vi-na?" Teddy mengeja nama wanita itu.
"Tepat sekali. Kau pandai sekali!" Devina mengulurkan tangannya demi bisa meraih pucuk kepala anak itu dan mengusapnya lembut.
Kedua sorot mata Teddy beralih pada Dave. Masih agak takut saat memandang wajah pria tersebut, lantaran ia melihatnya membawa senjata tadi.
"Dia Dave! Kakakku," ujar Devina memberitahu Teddy.
"Apa dia seorang polisi?" tanya Teddy polos.
Devina tertawa mendengarnya. "Apa dia terlihat seperti seorang polisi?"
"Lihat, anak kecil saja tahu kalau aku cocok menjadi polisi!" sahut Dave membanggakan diri.
"Karena dia membawa pistol tadi," ujar Teddy yang langsung membuat gelak tawa mereka.
Mereka pun terus bercanda dan menghangatkan suasana malam yang mencekam. Setelah perutnya kenyang, akhirnya mereka memilih untuk tidur lantaran kantuk sudah membisik mata mereka seakan menyuruhnya untuk menutup.
***
Pagi itu Simon terbangun dari tidurnya. Jam sudah menunjuk pukul tujuh pagi tetapi suasana masih sangat gelap. Simon yang berjalan menuju ke arah jendela kaca tembus pandang. Melihat langit yang masih menggulita. Mendung menggerombol dan tak mau singgah.
Dave yang tidur di sebuah sofa mulai membangunkan tubuh. Merasa sangat lelah lantaran tak bisa mengistirahatkan badan dengan tenang sejak semalaman. Ia mengucek mata, melihat sosok lelaki tua yang berdiri mematung di depan jendela kaca tanam.
Pria itu mulai beringsut, menurunkan kakinya menapaki lantai kayu. Terasa dingin menyerap pori-pori telapak kaki.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Dave sembari berjalan menghampiri Simon.
Simon masih terdiam tak menjawab atau memberikan respon apa pun.
Dave menghentikan langkah tepat di sampingnya. Kedua matanya memandang ke arah langit dari balik jendela kaca. Tertegun saat menyaksikan gerombolan awan hitam yang begitu pekat.
"Apa itu? Apa akan turun hujan yang lebat?" gumam Dave bertanya.
"Itu adalah sebuah pertanda." Simon berkata dengan pandangan kosong.
Dave menoleh ke arahnya. Mengerling heran dengan apa yang baru saja lelaki aneh itu katakan. "Pertanda?" tanyanya.
Simon mulai melirikkan matanya ke arah Dave. Hendak mengeluarkan suara dari kerongkongannya, tetapi tertahan saat derap langkah kaki terdengar mendekat ke arah mereka.
"Ada apa?" Itu suara Victor.
Simon dan Dave menoleh ke arahnya secara bersamaan.
Victor lantas mengalihkan pandangannya ke arah awan pekat di langit sana. Namun gumpalan awan tersebut tampak bergerak menjauh. Dan sinar mentari tiba-tiba datang menerobos benda bening tembus pandang tersebut.
"Syukurlah tidak jadi hujan." Victor mulai menggerakkan langkahnya menghampiri kedua pria itu. "Akhir-akhir ini alam sangat aneh. Semua tidak bisa dipikir dengan logika."
"Kau kan seorang ilmuan, harusnya kau tahu apa yang terjadi saat ini," kata Dave berseloroh. "Selamat pagi," ujarnya kemudian sembari menepuk bahu Victor dan bergerak ke arah meja.
Dave ngambil botol air mineral sisa tadi malam dan meneguknya. "Apa rencanamu selanjutnya?"
Victor memasang badan menatap ke arahnya. "Aku akan–" Suara Victor terpotong tiba-tiba saat teriakan Teddy mengiang memanggilnya.
"Papa!"
"Teddy?" Victor yang terkejut gegas bergerak menuju kamarnya.
Dave dan Simon tampak membuntutinya dari belakang.
"Teddy! Ada apa?" Victor mendapati putranya yang masih berada di atas ranjang. Gegas ia menghampirinya dan langsung memberikan pelukan erat penuh kasih sayang dan ketenangan.
"Papa!" Kedua tangan anak itu mencoba mendekap tubuh kekar sang ayah.
Simon dan Dave berdiri di ambang pintu memperhatikan mereka.
"Hei… hei … ada apa?" Victor merenggangkan pelukannya sejenak, menyentuh pipi mungil Teddy dan mengelusnya sembari mengusap bulir bening yang menerobos pupil mata indah anak itu.
"A-aku takut… a… aku kira kau pergi meninggalkanku lagi." Suara Teddy bersemu tangis.
Victor langsung mensayukan wajah dan kembali mendekap kepala anak tersebut dengan erat. "Papa tidak akan ke mana mana, Nak! Papa masih di sini bersamamu." Victor berkata penuh haru dengan terus mengecupi kepala sang putra.
"Papa janji tidak akan membiarkanmu jauh lagi dengan papa."
"Ada apa?" Devina yang tampak baru bangun ikut menimbrung, berdiri di belakang Dave.
"Anaknya bermimpi buruk," gumam Dave memberi tahu.
"Ooo…!" Devina mengangguk-angguk.
"Kau sudah merasa jauh lebih baik sekarang?" tanya Victor pada Teddy setelah merenggangkan pelukannya.
Teddy mengangguk. Namun wajahnya masih tampak murung.
"Tenanglah. Papa akan selalu menjagamu," ucap Victor memberi janji.
"Papa, bagaimana dengan ibu? Kau akan mencarinya, kan?" tanya Teddy yang langsung membuat Victor merenung.
"Papa?" Teddy meraih pipi sang ayah agar kembali menatapnya. "Kau akan membawaku bertemu dengan ibu, kan?" tanya bocah itu sekali lagi.
Victor meneguk ludah. Kemudian mengangguk penuh keraguan. "Iya, Nak. Papa pasti akan menemukan ibumu." Kembali ia memberikan pelukan hangat pada sang anak.
Devina menoel bahu Dave. Seakan mengajaknya untuk berbicara berdua.
Devina berjalan, dan Dave membuntutinya dari belakang. Sementara Simon ikut pergi dari sana.
"Ada apa?" Dave bertanya pada Devina.
Devina membalikkan tubuh, menatap ke arah kakaknya itu. "Dengar, kita sudah sangat jauh dengan tujuan kita. Kita sudah membantu Victor menemukan putranya, sekarang kita harus melanjutkan perjalanan kita."
"Tapi Elena–" Dave menghentikan perkataannya sejenak. Meneguk ludah dan kembali melanjutkan, "Maksudku… ibunya Teddy belum ketemu."
"Istrinya Victor. Ingat, istrinya Victor dan ibunya Teddy. Jangan bilang kau mau mencarinya juga!" Devina tampak tak setuju. "Dengar, aku tahu istrinya Victor adalah mantan kekasihmu. Siapa namanya?"
"Elena!" jawab Dave.
"Yah, siapa pun itu. Kita tidak harus terus menolong orang lain dan melupakan tujuan kita." Devina memajukan langkah hingga sampai tepat di depan Dave. "Kita punya tujuan yang harus kita lakukan, Dave. Tolong jangan membuatku kecewa."
"Devina–"
"Aku bukan orang jahat, Dave, yang tidak mau membantu orang lain. Tapi, kita juga punya tujuan yang harus kita selesaikan." Devina meneguk ludah kemudian berkata, "Aku tidak mau kau ikut mencari ibunya Teddy! Final! Itu keputusanku!" ujar Devina penuh penekanan.
Dave tertegun. Bukan karena ucapan adiknya. Tetapi karena hadirnya seorang pria yang juga mendengar ucapan Devina.
Devina yang melihat ekspresi wajah Dave mulai penasaran. Wanita itu membalikkan tubuh, tertegun melihat Victor yang berdiri di belakang sana dan pasti mendengar apa yang baru saja katakan.
"V-victor?"