Victor menodongkan kepalanya tepat di kening Simon, membuat lelaki baya itu gemetar sekaligus ketakutan.
"A-apa yang k… kau lakukan?" Suara Simon tersebut terbata-bata dengan tangan yang diangkat setinggi kepala. Sebagai tanda seseorang menyerah dan agar tak ditembak.
Dave dan Devina yang melihat rencana mereka berhasil mulai bergerak.
"Ayo kita ke sana!" Dave mengambil pistol dan membuka pintu mobil lantas keluar dari sana.
Devina juga mulai keluar dari mobil. Berjalan membuntuti kakaknya yang bergerak menuju ke arah Victor dan Simon.
Victor membangkitkan tubuh, dengan tangan yang terus mengarahkan pistol ke arah Simon.
"T-tolong jangan lakukan itu?" Suara Simon menjadi bergetar penuh permohonan.
"Katakan di mana anak itu?" Dave bersuara membuat dua orang tersebut menoleh ke arahnya.
"Apa Teddy ada bersamamu?" tanya Victor pada Simon dengan nada penuh penghakiman.
"Di mana kau sembunyikan anak itu?" Devina ikut menginterogasi.
Simon yang berpikir mereka bertiga adalah penjahat yang hendak menculik Teddy, memilih untuk bungkam.
"A-aku tidak tahu," ujarnya beralasan.
"Jangan bohong!" Dave berkata sembari memperlihatkan sepatu milik Teddy. "Kau pasti tahu sepatu siapa ini?" Pria itu menaikkan sebelah alisnya. Menatap penuh arti ke arah Simon.
Simon tertegun melihat sepatu tersebut sudah berada di tangan Dave. Ia merogoh saku jasnya yang hanya berisi beberapa bungkus roti dan minuman. Tidak ada sepatu yang harusnya berdiam di sana. Itu artinya, sepatu tersebut telah jatuh saat ia berlari tanpa ia sadari.
"Katakan atau peluru ini akan menembus kelapamu?" Victor masih saja mengancam.
"Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh anak itu!" Suara Simon meninggi. Seakan melupakan rasa gemetarnya dihadapkan dengan sejata yang kapan pun bisa melukai keningnya tersebut.
Teddy yang berada di dalam sana dan tengah asyik bermain mulai mendengar suara gaduh di luar sana. Anak itu pun mulai menghentikan aksinya. Memilih untuk mengecek apa yang telah terjadi.
Teddy mulai menggerakkan kakinya, menapaki lantai kayu dengan langkah pelan. Begitu sampai di ruang tamu, ia bisa melihat dari jendela kaca yang besar akan keributan di sana. Ia juga melihat pintu rumah tersebut yang terbuka. Teddy masih ragu untuk keluar. Ia pun memilih bergerak ke arah jendela. Melihat dengan seksama wajah-wajah orang dewasa di halaman rumah kabin tersebut.
Tangannya menyentuh jendela kaca tembus pandang. Mengusap debunya. Baru setelah itu ia bisa melihat dengan jelas suasana di luar sana.
"Papa?" Anak itu bergumam saat melihat wajah Victor.
"Papa?" Gegas Teddy bergerak ke arah pintu dan keluar dari sana. Berlari menapaki rerumputan yang terhampar di halaman.
"Cepat katakan di mana anakku!" Suara Victor meninggi, membuat Simon terkesiap. Bukan karena nadanya yang tinggi, melainkan kata terakhir dari pria itu.
Anak? Itu berarti…
"Papa!" Suara Teddy menghentikan jemari Victor saat hendak melepaskan peluru dari pistolnya.
Victor dan yang lainnya langsung terfokus pada Teddy.
"Teddy!" Victor langsung terharu begitu melihat sang anak yang berlari menerobos rerumputan dan mengarah padanya.
"Anakku!" Victor membanting pistolnya ke sembarang arah, melupakan soal Simon, dan berpindah dari depan lelaki tua tersebut dan berlari menghampiri putranya.
"Papa!"
"Teddy!"
Kedua tubuh penuh rindu itu akhirnya berjumpa. Victor langsung mengangkat tubuh Teddy dan memeluknya. Teddy menghambur di pelukan sang ayah dengan penuh kasih. Kedua mata mereka saling terpejam merasakan rindu satu sama lain.
"Putraku!" Victor memeluk penuh haru.
Tiga orang—Dave, Devina, dan Simon yang melihatnya menjadi ikut terharu.
"Bagaimana kabarmu, Nak? Kau ke mana saja? Papa mencarimu seperti orang gila." Victor mencium tengkuk serta kepala Teddy berkali-kali.
"Aku merindukan mu, Papa!" kata Teddy dengan air mata mengembun.
Sementara kristal bening sudah luruh dari kedua sudut mata Victor.
"Bukankah ini sebuah akhir yang membahagiakan?" Devina maju selangkah demi menyamai barisan Dave. Ia mengucap penuh haru dengan sorot mata ke arah Victor dan putranya.
"Yah, setelah kita menginterogasi si penculik ini." Dave memutar tulang lehernya, kedua matanya menatap sinis ke arah Simon. Lantas, tangan kekarnya tersebut meraih tangan tua Simon dengan paksa.
"Kau telah menculiknya kan selama ini?" tuduh Dave pada lelaki tua tersebut.
"Apa?" Simon sedikit terkejut dengan tuduhan tak berdasar itu.
Victor mulai terfokus pada mereka. Menurunkan tubuh Teddy dari gendongannya, dan berniat memberi pelajaran pada Simon.
"Berani sekali kau menculik putraku?!" Kedua tangan pria itu mengepal sempurna dengan otot leher yang menonjol keluar sementara rahangnya menjadi sekeras batu.
"Dengar, aku tidak tahu kalau dia putramu. Aku–"
"–jangan coba-coba mengelak!" Dave menyelak cepat ucapan lelaki tua tersebut. "Aku tahu orang sepertimu. Menculik bayi dan menelpon orang tuanya meminta tebusan. Seperti itukah dirimu?!" Dave mengacungkan senjatanya lagi ke arah Simon, membuat pria baya itu melangkah mundur dengan ekspresi ketakutan.
"Dave! Turunkan pistolmu!" pinta Devina saat melirik ke arah Teddy yang ikut ketakutan.
Dave masih tak berkutik.
"Dave, ada anak kecil! Jangan kau menghukum pria ini di depannya!" ujar Devina lagi dengan suara berbisik tetapi penuh penekanan.
Dave melirikkan matanya ke arah Teddy yang menyanyukan mata. Segera pria itu menurunkan senjatanya.
Giliran Victor yang maju untuk menginterogasi Simon. "Apa motifmu menculik putraku?" tanyanya dengan penuh penghakiman.
"Papa, Simon bukan orang jahat." Suara Teddy yang lugu mengalihkan perhatian mereka.
Mereka semua menatap ke arah anak kecil yang polos tersebut.
Teddy memajukan langkah, bergerak ke arah Simon dan menghambur di pelukannya. Simon membalas pelukan tersebut bagai orang yang sangat kenal akrab. Tentu saja pemandangan itu telah berhasil membuat jidat mereka mengernyit penuh keheranan.
"Teddy!" Victor maju dan hendak mengusik pertemuan mereka. "Apa yang sudah kau racuni pada anakku sampai dia seperti magnet terhadapmu seperti ini?!" tuding Victor tanpa dasar. Bagaimana tidak, penampilan Simon sangat mencurigakan.
"Papa, Simon bukan orang jahat!" Teddy kembali bersuara membela lelaki tua itu yang telah menolongnya selama ini. "Dia yang menyelamatkanku dari Monster," sambung Teddy membuat mereka terkejut.
"Dengar, yang dikatakan anakmu itu benar. Waktu itu aku melihatnya sendirian. Dia hendak mendekati zombie, lalu aku membawanya bersamanya," jelas Simon.
"Papa, bahkan Simon membantuku mencari Papa!" tambah Teddy.
"Anak kecil tidak pernah berbohong," sahut Simon.
Mulut Victor bergetar. Kakinya melangkah maju ke arah Simon. Awalnya Simon mencoba menghindar, tetapi Victor malah memeluknya.
"Terima kasih. Terima kasih karena telah menyelamatkan putraku," ujar Victor penuh penyesalan.
Simon membalas pelukan tersebut dengan penuh ragu. Teddy tersenyum melihatnya.
"Ternyata endingnya melenceng dari apa yang kita bayangkan." Dave berbisik di telinga Devina. "Apa kau tidak ingin menjadi bagian dari kebahagiaan ini?" selorohnya.
Devina memicingkan mata ke arahnya. Kemudian memutar bolanya penuh kemalasan.