"Baiklah, mulai hari ini bapak Eza akan kembali bekerja dan beliau kembali ke jabatan semula sebagai direktur eksekutif. Jadi mulai sekarang semua permintaan persetujuan setiap dokumen adalah kepada beliau."
Tepuk tangan dari beberapa direktur yang mengikuti rapat terdengar cukup riuh setelah Sasa memberikan pengumuman di ruang rapat.
Satu persatu yang ada di ruangan itu keluar meninggalkan Sasa, Eka, Edrick dan juga Eza yang masih duduk di kursi masing-masing.
"Selamat datang kembali," ujar Eka. Eka adalah suami dari adik kembar kekasih Eza yang sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Tangannya ia ulurkan pada Eza sebagai tanda ucapan selamat. Eza menjabat tangan Eka dengan sedikit senyum di bibirnya.
Eka sudah berbicara pada mertuanya bahwa dia akan keluar dari perusahaan Property Rahardian jika Eza sudah kembali bekerja. Saham milik kakak iparnya yang masih ada akan ia serahkan pada Eza untuk kemudian di kelola oleh Eza karena itu semua adalah milik Eza.
Eka juga harus mengurus perusahaan milik ayah mertuanya. Jika ia masih tetap tinggal di perusahaan Eza maka fokusnya akan terbagi dan terlalu berat untuk dijalani.
"Lo yakin mau keluar?" Sasa bertanya pada Eka. Sasa adalah adik kembar Eza yang juga bekerja di perusahaan itu.
"Iya, sekarang di sini udah gak kekurangan orang. Kamu bisa balik posisi kamu lagi Sa." Eka kembali tersenyum, "dan Edrick bisa jadi pegawai tetap di sini, jadi kalian gak akan jauh-jauhan lagi."
"Bukan maksud aku mau keluarin kamu, Ka." Eza memotong pembicaraan.
"Aku juga gak berpikir seperti itu, aku bersyukur kamu mau balik lagi ke kantor."
Ketika tengah mengobrol pintu ruangan terbuka, seorang pegawai cleaning service masuk ke dalam diikuti oleh seorang gadis berambut biru yang tidak asing bagi Eza.
Iya, gadis yang Eza lihat kemarin di pemakaman. Gadis berambut biru yang berdiri memaki sebuah makam. Tatapan Eza tak lepas dari gadis itu, apakah ini memang sebuah kebetulan atau memang gadis itu sengaja mengikuti Eza, pikir Eza.
"Maaf pak, saya kira sudah tidak ada orang." Seorang cleaning service yang lain berbicara pada keempat orang yang ada di dalam ruangan itu. "Kami permisi."
"Gak, Pak, kita juga udah selesai." Eka segera menyahut sebelum kedua cleaning service itu pergi. "Bapak boleh beresin."
Edrick dan Sasa berjalan terlebih dahulu, diikuti oleh Eka. Eza yang berjalan di urutan paling belakang masih menatap lekat pada gadis berambut biru yang tampak acuh dengan lingkungan itu. Ia bekerja seperti robot, wajahnya seolah selalu penuh amarah. Tak ada senyum, sama percis dengan ekspresi ketika ia memaki di pemakaman pagi itu.
* * *
Tidak ada waktu santai, segera setelah menyelesaikan rapat pertamanya Eza mulai bekerja. Ia memeriksa beberapa berkas yang memang sudah diletakkan di atas meja kerjanya.
Sembari bekerja kilasan kenangan di antara dirinya dan kekasihnya muncul begitu saja. Bagaimana tidak, ruangan yang saat ini ia tempati adalah ruangan di mana dulu dia memulai penghianatan pada kekasihnya.
Sasa sudah menawarkan pada Eza untuk pindah ke ruangan yang baru, namun Eza bersikukuh menolaknya. "Gak apa-apa, sekalipun diganti semuanya akan tetap sama." Begitu jawab Eza pada adik kembarnya itu. Eza sedang belajar menerima, sesulit apapun itu menerima adalah cara yang terbaik untuk mengobati hatinya yang hancur dengan sebuah penyesalan yang begitu besar.
Tiga tahun lalu ruangan ini adalah neraka bagi Eza. Semenjak kepergian anak angkatnya banyak sekali pertengkaran yang terjadi. Rumah maupun kantor sama-sama tempat yang bisa dijadikan tempat melampiaskan kemarahan dirinya dan kekasihnya itu. Dan di sinilah semua berawal, ketika Eza memilih membuka hati untuk orang ketiga di dalam hubungannya. Tempatnya untuk melampiaskan segala kemarahan pada kekasihnya, mencoba membalaskan rasa sakit atas kehilangan anak angkatnya dan mencoba untuk mengusir jauh-jauh kekasihnya dari kehidupannya. Malam itu mata Eza menatap lekat seseorang yang berdiri di balik pintu ruangannya, menatap Eza yang menikmati cumbuan mesra dari wanita lain. Tatapan nanar kekasihnya itu seolah memancing Eza untuk semakin menyakiti perasaan kekasihnya itu. Begitu puas Eza menatap kekecewaan kekasihnya itu.
Tok ... tok ...
Lamunan Eza buyar ketika pintu ruangannya diketuk. Ia segera mengusap wajahnya, mencoba menghapus kesedihan di wajahnya. Kembali ke ruangan ini seolah menyiksa batin Eza, menguji betapa besar nyali Eza untuk mengakui segala kesalahannya di masa lalu.
"Masuk."
Seorang pegawai membuka pintu dan menyelinap masuk ke ruangan Eza.
"Ada titipan surat untuk Bapak," ujar pegawai itu.
Eza menoleh saat mendengar suara itu, lagi-lagi gadis berambut biru yang ia temui di pemakaman beberapa hari yang lalu.
"Tolong letakkan di atas meja."
Gadis berambut biru itu meletakkan beberapa amplop surat yang ia bawa di atas meja kerja Eza. Tanpa berbasa-basi lagi gadis itu keluar dari ruangan Eza.
* * *
Jam makan siang Eza memilih untuk tetap di ruangannya, ia berkutat dengan beberapa kontrak kerja yang harus ia periksa dan tanda tangani. Mulai mencoba menyibukkan diri, melupakan kenyataan yang sering kali membuat Eza kembali merasa terpuruk.
"Lo gak makan siang?" Edrick melangkah masuk ke ruangan Eza yang memang pintunya sudah terbuka sedari tadi.
Dulu saat masih ada kekasihnya, Eza dan Edrick juga Sasa, adik kembar Eza, mereka berempat selalu makan siang bersama. Menghabiskan waktu makan siang untuk sekedar membahas pekerjaan atau berencana berlibur ke luar negri yang sampai sekarang pun tidak pernah mereka lakukan karena kesibukan pekerjaan.
"Oh ... sebantar lagi, tanggung tinggal dikit." Eza menatap sebentar Edrick kemudian kembali berkutat dengan semua kertas-kertas di atas meja kerjanya.
Edrick menarik kursi di sebrang meja kerja Eza, ia menghela nafas sebentar. Eza yang mendengarnya mencoba untuk tidak peduli.
"Hidup emang harus maju, Za. Dia juga pasti mau lo kembali seperti dulu, menikmati hidup ..." ujar Edrick pelan.
Eza menatap ke arah Edrick, ia tau arah pembicaraannya akan ke mana. Tak ingin terlarut Eza lebih memilih diam dan tak menjawabnya.
"Dengan begini lo akan lebih mudah buat maju." Lanjut Edrick.
"Tiga tahun bukan waktu yang mudah Drick."
"Tapi bukan berarti lo harus terpuruk dan terus-terusan menyesali semuanya."
"Iya, Thank You, Drick." Eza benar-benar tak ingin berdebat, ini adalah hari pertamanya bekerja.
"Kalo gitu gue turun dulu," tak ada jawaban dari Eza, Edrick kemudian meninggalkan Eza di ruangannya sendirian.
Eza memang harus belajar kembali menjalani hidupnya seperti biasa. Hidup normal meski hatinya sudah mati rasa. Tapi bukan berarti semua orang bebas untuk memberikan penghakiman padanya tentang bagaimana ia harus hidup dan melupakan segalanya begitu saja.
* * *
Eza beranjak dari ruangannya, ia hendak mengambil air minum di pantry. Beberapa pekerja ada yang masih duduk di meja kerjanya dan memakan makanan cepat saji yang mereka pesan dari layanan ojek online, sedang beberapa yang lain turun ke loby untuk menyantap makan siang di kantin kantor. Eza kembali berpapasan dengan gadis berambut biru itu, sejenak mata Eza mengarah pada name tag yang tergantung di tubuh gadis itu, Annasya Alindra, ya, nama gadis berambut biru itu Annasya Alindra. Eza masih terus menatap Anna yang baru saja keluar dari pantry.
Melihat gerak-gerik Anna, Eza sedikit menepi untuk menghindar karena Anna tampak kerepotan membawa beberapa tumpukkan kertas di tangannya. Namun tiba-tiba tangan Anna lebih dulu melayangkan jurnal kecil yang ia pegang ke arah kepala Eza, ternyata di sana ada seekor laba-laba sedang menggerayang.
"Aw ..." Eza meringis sembari memegangi kepalanya.
Beberapa pegawai yang mendengarnya segera menoleh menatap ke arah Eza dan Anna. Mereka tampak tidak percaya Anna berani melakukan hal itu pada Eza yang notabene adalah direktur utama perusahaan property Rahardian.
"Maaf, ada kecoa di kepala Bapak." Seolah tidak terjadi apa-apa, Anna kembali berjalan dan meninggalkan Eza begitu saja yang masih meringis kesakitan. Eza menatap ke arah lantai di mana kecoa itu terjatuh.
Eza menatap ke sekeliling, para karyawan yang lain menoleh berpura-pura tidak memperhatikan lagi kejadian barusan. Baru kali ini ada seorang pegawai yang begitu berani padanya dan mengacuhkannya begitu saja.
* * *
Sudah satu bulan Anna bekerja di perusahaan Property Rahardian. Dia bekerja sebagai pegawai lepas, apapun harus bisa ia kerjakan, salah satunya menjadi kurir pengantar surat kantor. Awalnya ia melamar untuk menjadi tenaga pemasaran di lapangan, namun karena keterampilannya dalam bekerja adalah cekatan, HRD perusahaan menetapkannya di kantor sebagai pengganti salah satu pekerja lepas yang baru saja keluar.
Jika pegawai office boy yang lain harus memakai seragam maka Anna diperbolehkan untuk memakai pakaian bebas namun tetap sopan, mengingat pekerjaan Anna bisa saja ditugaskan untuk keluar mengantar surat dan lain sebagainya. Ia pun diberi meja kerja serta komputer. Ruangan Anna tak jauh dari tempat mesin fotocopy berada. Di ruangan itu ada rak besi tinggi yang berisi tumpukkan kardus berisi kertas-kertas yang mungkin sudah tidak terpakai. Sekarang ini, Anna disuruh oleh salah satu karyawan lain untuk mencetak beberapa lembar surat.
"Eh, rambut biru, kalo udah selesai lo lanjutin ini ya, masing-masing fotocopy seratus lembar." Seorang pegawai perempuan dari divisi pemasaran meletakan sebuah map berisi beberapa lembar kertas di atas mesin fotocopy.
Anna menatap tidak suka pada pegawai itu, ia mengungkapkan ketidaksukaannya lewat pandangannya. Namun apa daya, memang itu sudah tugasnya, ia tidak akan marah hanya karena dipanggil rambut biru. Anna mengambil map itu dan kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.
"Rambut biru!"
Anna kembali menoleh ketika salah satu pegawai memanggilnya.
"Anna, namamya Anna." Ujar Melli, sekertaris Eza yang sedang berjalan menghampiri Anna.
"An, oper tugas ini ke yang lain, kamu dipanggil pak Eza." Lanjut Melli.
Anna hanya menatap sebentar pada Melli kemudian pergi begitu saja. Anna memang tak banyak bicara, bahkan selama satu bulan bekerja di kantor itu, Anna tidak punya teman sama sekali. Bagi Anna fokus bekerja adalah tujuannya, bukan bergosip atau mencari teman untuk berkeluh kesah tentang hidup.
Hidupnya sudah terlalu berat, ia tidak mau jika masalah orang lain pun menjadi beban hidupnya. Membantu untuk memikirkannya, mencarikan solusi, tapi tetap saja dibicarakan di belakang. Hidup ana terlalu berharga untuk melakukan itu semua. Lebih baik ia hidup mencari uang, menjadi orang berada agar semua orang tak memandangnya sebelah mata.
* * *
Tok ... tok ...
"Permisi, Pak ..."
Eza menoleh sebentar ke arah pintu, ternyata pegawai yang dimaksud oleh Melli untuk membantu membereskan berkas-berkas di ruangannya adalah Anna. Sejenak Eza menatapnya.
"Ada yang bisa saya bantu, pak?" Dengan nada suara datar Anna menegur atasannya itu.
"Ah ... iya, masuk."
Eza segera menyuruh Anna untuk masuk ke ruangannya.
"Karena saya baru masuk lagi, sepertinya banyak kertas yang sudah tidak terpakai di lemari itu." Tangan Eza menunjuk salah satu lemari yang ada di pojok ruangan. "Tolong kamu letakkan di dalam kardus lalu bawa ke bagian ob, minta mereka buat taroh di gudang." Lanjut Eza.
"Baik, Pak."
"Kalau cuma surat dari Bank dan ada alamatnya kamu sobek alamatnya sampai hancur."
"Baik, Pak."
Anna kembali menjawab dengan seadanya. Ia melangkah mendekati almari yang ada di pojok ruangan itu. Satu persatu rak yang ada di almari itu Anna bersihkan. Sesekali dia menyobek kertas dengan penuh tenaga.
Srekk , srekk!! Beberapa kali suara robekan terdengar, tangan Anna begitu gesit menyobek semua kertas-kertas itu hingga menjadi kepingan kecil.
Eza kehilangan fokus, dia kini memperhatikan Anna yang tidak berhenti menyobek kertas-kertas itu. Seolah sedang memutar kembali sebuah video, ingatan Eza melayang pada saat menyaksikan Anna menaburkan potongan kertas di atas makam di pagi hari itu.
"Apa saya menganggu bapak?" Anna yang merasa diperhatikan oleh Eza segera bertanya. "Saya bisa bawa ini semua keluar dan mengerjakannya di luar."
"Tidak, teruskan saja."
Keheningan kembali menyergap dua orang yang sedang sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
* * *
Sebelum pulang Eza meletakkan beberapa file di atas mesin fotokopi yang ada di pojok ruangan. Ia menempelkan kertas kecil di atas file tersebut, bertuliskan keterangan berapa jumlah yang harus di fotokopi. Saat hendak keluar, tatapan Eza mengarah ke Pantry kantor. Seseorang masih di sana, rambut berwarna birunya begitu kontras, ia berdiri menghadap ke arah laci. Orang itu adalah Anna.
Eza masih tetap memperhatikan Anna. Setelah menyelesaikan secangkir kopi di tangannya, Anna segera membuka laci dengan kakinya. Ia mengambil beberapa bungkus kopi instan dan beberapa cemilan kecil kemudian memasukannya ke dalam tas kerjanya yang begitu sederhana, warnanya pun sudah seoerti tas yang umurnya bertahun-tahun. Eza hanya diam, dia tidak menegur Anna sama sekali sampai Anna keluar dari pantry dan menghilang di ujung lorong.
"Kenapa dia harus ngambil itu semua?" Eza sedikit bergumam.
Setelah melihat Anna pergi, Eza melangkah masuk ke pantry, ia membuka kembali lemari dan laci yang berisi makanan ringan dan minuman instant di sana. Ia tidak mempermasalahkan jika memang para karyawannya mengambil atau menikmati apa yang disediakan oleh kantor pada saat jam kerja. Namun jika ia membawa pulang untuk di rumah maka sudah lain ceritanya. Besok Eza akan memanggil kepala HRD perusahaan ke ruangannya, bahwa apa yang di lakukannya sama saja dengan mencuri.
Kenapa bisa karyawan seperti Anna bekerja di perusahaan miliknya, apa yang dilihat oleh HRD perusahaan sampai mau menerima orang seperti Anna, pikir Eza. Tidak ada keterampilan, tidak ada sopan santun dan tatakrama sama sekali.
* * *
Temaram lampu jalanan menemani langkah Anna selepas turun dari angkutan umum yang ia tumpangi dari depan kantor tempatnya bekerja. Rambut Anna yang di cat berwarna biru seolah memudar terkena sorot lampu jalanan yang berwarna kuning. Sebelum memasuki sebuah gang, Anna mempir terlebih dahulu ke sebuah minimarket. Ia membeli beberapa makanan instan seperti mi dan bubur instan yang cukup ia seduh dengan air panas. Di tempat Anna mengontrak saat ini tak memiliki dapur. Hanya sepetak kamar yang mampu Anna sewa untuk tempat tinggalnya bersama Maria, adiknya.
Satu bungkus mi dan satu bungkus bubur instan di genggaman Anna, sebelum menuju kasir tangan Anna merogoh saku jaketnya terlebih dahulu. Mengambil semua uang yang tersisa di sana. Lembaran uang seribu, limaribu, duaribu dan beberapa koin limaratusan. Anna menghitungnya sebentar, mengingat harga yang tertera pada rak makanan tadi. Untunglah uang itu cukup untuk membayar makanannya.
Sembari menenteng kantong belanjaannya Anna berjalan menyusuri gang kecil yang padat penduduk, sesekali ia melewati lorong di antara rumah warga yang saling berhimpit. Suara musik yang riuh, saling menyahut satu sama lain. Beberapa anak-anak masih ada yang berlarian, bermain bola tanpa peduli waktu.
Sungai dengan aliran air yang hitam pekat, serta sampah yang mengambang adalah pemandangan yang setiap hari Anna nikmati semenjak tinggal di tempat yang ia sewa sekarang ini. Entah sudah berapa kali Anna harus berpindah tempat, dari satu tempat ke tempat yang lain.
Sampailah Anna di depan sebuah kamar kontrakan yang kecil, berjejer beberapa bangunan kecil dengan warna cat yang sama, putih gading yang mulai dipenuhi dengan tulisan-tulisan dan jejak tangan kotor yang menempel begitu saja. Hanya ada pintu kayu berwarna cokelat tua yang sudah memudar dan jendela kecil yang kacanya hampir dituyupi oleh selotip karena retakannya. Bangunan itu ukurannya mungkin hanya 3×4 meter. Hanya ini yang bisa Anna sewa untuk tinggal di kota yang besar dengan penghasilan yang minim. Selain dirinya, ia juga harus menghidupi adiknya. Maria Alindra, namanya. Usianya saat ini adalah duabelas tahun. Bukan hanya untuk makan dan tempat tinggal, Anna juga harus menyisihkan hasil keringatnya untuk pengobatan Maria serta terapi Maria yang mengidap leukimia.
"Maria ..." sembari mengetuk pintu Anna memanggil Maria yang ada di dalam. Beberapa orang yang sedang duduk di depan kontrakan mereka masing-masing tampak acuh dengan teriakan Anna. Suara musik masih terdengar begitu kencang, asap rokok yang hampir mengepung di sana-sini, serta obrolan yang terkadang terdengar seperti umpatan. Tak jarang keluar nama-nama binatang yang tak salah apapun dibawa-bawa. "Maria ..." sekali lagi Anna memanggil adiknya. Tak lama pintu terbuka. "Kenapa kamu gak matiin lampu?" Ujar Anna sembari masuk ke dalam rumah.
"Maria belajar, Kak." Maria menerima tas belanjaan yang Anna bawa. Maria meletakkannya di atas meja kecil, ia lalu mengisi sebuah teko listrik yang disediakan oleh pemilik kontrakan tersebut dengan sebotol air mineral. Setelah penuh, Maria menyalakannya dan membiarkannya sampai mendidih. Sembari menunggu mendidih Maria menyiapkan mi instan dan bubur instan yang harus ia siram dengan air panas itu.
"Bisa belajar kamu?"
Anna melepas jaket yang ia gunakan, serta mengeluarkan beberapa kopi instan yang ia bawa dari kantor.
Tangan Anna mengambil dua buah gelas, ia hendak menyeduh kopi instan itu sembari menikmati makan malamnya.
"Kak, mulai besok aku mau kerja juga." Bukannya menjawab, Maria malah meminta ijin.
Anna tidak terkejut, ini sudah entah keberapa kalinya Maria berujar seperti itu. "Mau kerja apa, emangnya ada yang mau terima orang penyakitan kaya kamu?"
"Jaga toko,"
"Kamu gak perlu capek-capek, biar kakak yang urus semuanya.."
Basa-basi bukanlah tipe Anna, dia tidak akan memutar omongan hanya untuk memperhalus penyampaian maksudnya. Hidup Anna sudah sangat sulit, bukan hanya dirinya yang harus ia tanggung, adiknya Maria yang memiliki riwayat leukimia mau tidak mau harus ia tanggung. Ibu Anna meninggal karena ulah Ayahnya sendiri, ayah Anna seorang pemabuk dan penjudi. Setiap hari yang ia lakukan hanyalah berjudi dan terus meminta uang pada Anna. Belum lagi rentenir yang datang menagih hutang pada Anna. Beban Anna jauh dari kata ringan. Di usianya yang ke duapuluh lima tahun ia harus memikul semuanya. Tak ada waktu untuk menikmati hidup atau sekedar bersantai.
"Aku bosen banget, setiap hari aku duduk di sini, baca buku, tidur, baca buku, tidur." Tangan Maria menepuk-nepuk lantai kamarnya yang hanya terbuat dari acian semen itu.
"Kamu udah minum obat?"
Maria berpaling, ia menyembunyikan tangannya. "Udah."
Anna yang merasa janggal segera menarik Maria hingga tubuh Maria menghadap ke arahnya. Dilihatnya lengan Maria yang memar dan kebiruan.
"Siapa yang tadi dateng?"
Maria menatap takut pada kakak perempuannya itu.
"Siapa?!"
"A-ayah Hendra ..."
Mendengar nama itu Anna segera memeriksa seluruh bagian tubuh Maria.
"Kak ..."
"Apa yang dia lakuin ke kamu?" Anna membuka baju Maria, memeriksa bagian punggung Maria.
"Aw ..."
Benar saja, ada memar di punggung Maria. "Kenapa kamu gak telfon kakak?!"
"Dia ambil handphonenya ..."
Anna hanya menelan ludah pahit, untuk membeli ponsel itu Anna harus mati-matian menabung, dia tidak mau jika Hendra datang dan dirinya sedang tidak ada, bisa saja Hendra membawa Maria pergi.
"Kalau dia datang, kamu harus segera lari-"
Brak!!!
Pintu kontrakan Anna ditendang sekencang mungkin, Maria yang menghadap pintu melonjak kaget. Orang yang paling ia takuti sekarang ini muncul di hadapannya, Hendra, ayah angkat Anna dan Maria.
"Lu pikir lu bisa lari, anak b*****t?!" Hendra menarik rambut Anna hingga kepalanya mendongak. "Lu gak akan bisa ke mana-mana!"
Anna menelan ludah dalam-dalam, bukan kali pertama Hendra melakukan ini pada Anna. Maria meremas kasur lantai tempatnya ia duduk sekarang ini. Anna tidak akan melawan, percuma saja. Pada akhirnya tubuh ringkihnya kalah.
"Mana duit yang gua minta?!"
Tanpa bersuara Anna merogoh saku celananya, ia memgambil beberapa uang lembaran limapuluh ribuan. Entah ada berapa, Anna segera melemparkannya ke arah pintu. Anna tidak sudi harus melihat wajah Hendra. Mata Hendra mengikuti arah tangan Anna yang membuang uang itu, ia segera memunguti uang yang berserakan itu.
"Ambil dan cepat keluar sekarang juga." Seolah tak terjadi apa-apa, begitu suara teko air selesai memasak, Anna bergegas menyeduh mie instan dan bubur instan untuk makan malam.
"Besok gue datang lagi, lo harus siapin yang lebih banyak." Hendra membanting pintu sekeras-kerasnya, meninggalkan kedua anaknya.
"Kak ..." panggil Maria lirih.
Anna sibuk membuka plastik bumbu mie instan itu, dua mangkok plastik berwarna merah yang ia beli di pasar saat mereka pindah ke tempat tinggal mereka saat ini adalah satu-satunya harta yang mereka miliki. Bahkan kasur lantai yang mereka gunakan saat ini Anna temukan di tempat pembuangan.
"Makan, keburu dingin." Anna menyodorkan semangkok bubur instan pada Maria.
Mereka berdua menikmati makan malam dengan penuh keheningan. Hanya ada suara sendok dan piring beradu. Lampu berwarna kuning yang ukurannya hanya 5 Watt itu pun tak mampu menerangi seluruh ruangan berukuran 3×4 meter itu.
Dulu, saat ibu angkat Anna masih hidup, Anna tak pernah menyangka kalau masadepan akan seburuk yang ia jalani sekarang ini. Masa kecil Anna seperti pelangi, penuh warna. Seperti gulali, begitu manis. Selepas pulang sekolah Anna membantu ibu angkatnya membereskan lapak nasi uduk, di mana setiap pagi ibunya berjualan. Sembari menemani ibunya mempersiapkan dagangan untuk besok hari, Anna mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan oleh bapak atau ibu guru di sekolahnya.
Menunggu ayahnya pulang dari menarik angkot adalah hal kesukaan Anna. Sate ayam, martabak manis atau nasi goreng adalah menu andalan yang dibelikan oleh ayah angkatnya setiap kali pulang dari menarik angkot. Setiap sore Anna duduk di teras rumahnya yang jauh dari kata mewah itu. Menatapi tanaman hias yang di rawat oleh ibunya. Berjejer pot kecil di atas bangku kayu yang dibuat seadanya oleh ayah angkatnya itu.
Hidup sesederhana itu seperti syurga bagi seorang gadis kecil bernama Annasya Alindra. Orangtua yang menyayanginya, sekalipun mereka hanya orangtua angkat. Anna tak pernah merasa berkekurangan, apa yang Anna inginkan selagi ayah dan ibu angkatnya bisa memenuhi, Anna pasti akan memilikinya.
"Besok habis makan siang Kakak antar kamu terapi, jadi kamu jangan pergi ke mana-mana."
"K-ka-lo Maria ikut Kakak dari pagi aja gimana?" Dengan terbata Maria bertanya pada kakaknya, berharap Anna akan mau membawanya ke tempatnya ia bekerja.
"Gak bisa, di sana bukan tempat buat main."
"Aku takut, Kak ..."
Anna menatap Maria sebentar, bukan sekali dua kali Maria ingin ikut dengan Anna. Dulu Anna bisa menitipkan Maria pada tangga, tinggal di rumah tetangga jadi ayah angkatnya tidak akan mengganggu Maria. Tapi, di lingkungannya sekarang ini, Anna adalah pendatang. Tak ada satupun orang yang ia kenal, bahkan orang yang disebut tetangga terkadang menutup pintu keras-keras saat melihat Hendra datang dan mengamuk di kontrakan Anna. Tak ada yang peduli, tak ada yang mau menolong Anna.
"Aku gak punya hp, kalo dia datang dan ngamuk lagi gimana? Aku mau minta tolong sama siapa?"
Anna menghentikan tangannya yang sedang mengaduk mie instan di mangkoknya. Ada benarnya juga, pikir Anna.
"Besok kamu ikut, tapi kamu kakak titipin di parkiran, di basement."
Maria menghembuskan nafas lega, tak apa di basement pikir Maria, yang terpenting ia tidak bertemu dengan ayah angkatnya. Maria bukan Anna yang bisa diam saat ayahnya bermain tangan. Tubuh Maria bisa hancur atau bahkan mati jika terkena tamparan dan tendangan dari ayahnya itu.
* * *
Suara penyiar radio terdengar nyaring di telinga, memecah sunyi di dalam mobil Eza. Sesekali Eza tersenyum mendengar celotehan si penyiar radio. Hanya radio yang menemani Eza di tengah kemacetan sepanjang pergi ke kantor dan pulang dari kantor. Malam ini jalanan sedikit bersahabat, tidak terlalu macet, mungkin karena jam pulang kantor sudah terlewat beberapa puluh menit yang lalu. Dulu dia dan kekasihnya selalu memilih untuk pulang lebih awal atau terlambat tiga puluh menit dari jam pulang kantor pada umumnya. Alasannya, supaya mereka tidak terjebak kemacetan. Jurus yang diajarkan oleh kekasihnya itu nyatanya ampuh dan kadang membuat mereka berdua sampai lebih cepat.
Hidup Eza begitu teratur, meski banyak pekerjaan di kantor yang menumpuk Eza sama sekali tidak mengeluh. Tidur, makan, pakaian dan keseharian Eza, kekasihnyalah yang mengurusnya. Eza tak pernah sakit meski banyak pekerjaan di kantor yang harus ia bereskan, bahkan ia terkadang bisa lembur setiap hari. Semua itu tak terasa saat kekasihnya ada di sampingnya.
Eza menatap jalanan di depan, sedikit senyum terusngging di bibirnya. Sedikit belok kiri dan masuk ke dalam jalanan komplek, akan ada tukang nasi goreng langganan Eza dan kekasihnya. Saking seringnya Eza makan di sana sampai si penjual hafal dengan wajah Eza dan kekasihnya itu. Tak perlu berkata mau pesan apa, Eza hanya perlu memanggil si tukang nasi goreng, maka ia akan mengacungkan jempol, pertanda paham dengan apa yang Eza pesan.
"Kamu pasti takut kalo masakan aku gak enak, kan?"
Pertanyaan itu selalu keluar dari mulut kekasihnya, saat Eza memilih untuk memesan makanan atau membeli makanan di luar.
Eza tau kekasihnya pun pasti kelelahan, mereka berdua pergi dan pulang dari kantor bersama. Saling melihat bagaimana pekerjaan di kantor yang begitu banyak dan melelahkan. Eza tidak mau menuntut hal kecil yang bisa mereka berdua lakukan di luar rumah, misalnya membeli makanan. Bagi Eza dirinya sudah cukup bahagia bisa selalu menghabiskan waktu bersama kekasihnya itu. Andai waktu bisa kembali diputar, ia tidak akan menyia-nyiakan semuanya. Ketika kesempatan hanya datang sekali dan penyelasanlah yang datang tiada henti. Hanya kenangan yang bisa mengobati, sedikit rindu yang menyelinap di antara celah penyesalan yang tak bertepi.
Sesampainya di rumah Eza bergegas menuju kamar. Foto dalam bingkai kecil di atas meja kecil menjadi objek pandangannya. Senyum yang begitu sumringah, gambar diri kekasihnya bersama anak angkat mereka berdua. Senyum yang seolah mengejek Eza, meninggalkan Eza dalam kesedihan di dunia. Secuil pun Eza tidak bisa melawan kesedihannya, ia terlalu lemah. Terpuruk dalam penderitaan di tengah malam ketika ia tidak bisa terlelap tidur. Rasa sakit yang jauh lebih sakit dari apa yang ia bayangkan, luka yang lebih dalam dari apa yang ia rasakan, saat semuanya terjadi dan Eza harus kehilangan semuanya.
Mata Eza menatap tak percaya, setelah mendnegar ucapan kematian dari dokter yang merawat kekasihnya, dengan langkah gontai ia memasuki ruangan di mana kekasihnya itu berada.
"Sayang ..."
"Sayang ... kamu denger aku, kan?" Jemari Eza tertaut, menerobos di antara sela jemari kekasihnya. "Kamu gak mau genggam tangan aku?" Sedikit senyum dan air mata yang mulai menetes, tampak di wajah Eza. "Sayang ..." Eza mengelus pipi kekasihnya itu, tatapan matanya yang kosong membimbing bibirnya mencium lembut kening kekasihnya itu.
"Aku mohon bangun, sayang ... bangun. Aku mohon ..." air mata itu terus mengalir, sekuat tenaga ia menggenggam jemari kekasihnya yang sudah tak lagi bernyawa. Wajah pucat pasi, mata yang terpejam dengan begitu tenangnya. "Bukan ini yang aku mau, aku mohon bangun, Al, aku mohon, bangun." d**a Eza begitu sesak, rasanya lidahnya mulai kelu, mengucapkan kata-kata yang tidak mungkin bisa membuat kekasihnya itu kembali membuka mata. "Jangan pergi, jangan tinggalin aku sendirian, Al..."
Eza memeluk kepala kekasihnya dengan erat, tangisnya pecah, memggema di ruangan itu. Ia tak tau jika kehilangan adalah rasa sakit yang paling sakit, rasa sakit yang tidak ada obatnya.
Bagaimana Eza akan menghadapi dunia, bagaimana Eza akan berdiri menatap masa depan, ketika separuh dari hidupnya sudah pergi. Meninggalkannya selama-lamanya. Masih adakah keberanian dalam diri Eza, masih adakah Eza dalam diri Eza. Betapa bodohnya Eza, betapa lemahnya Eza, ketika ia menghadapi segalanya. Nyatanya ia tak benar-benar rela ketika berlutut di hadapan ayahnya dulu, ketika kekasihnya datang ke rumahnya, untuk meminta agar Eza dipisahkan dari sleingkuhannya. Namun apa? Eza lebih memilih berlutut, meminta pada ayahnya agar mengusir kekasihnya itu, menjauhkannya, sejauh mungkin dari kehidupannya. Eza sudah muak dengan segala t***k-bengek tentang kekasihnya itu.
Eza mengusap airmatanya, hampir selama tiga tahun ini Eza tidak pernah tidur pulas. Perasaan bersalah yang begitu menyiksa. Perlahan Eza mulai memejamkan matanya, mendekap erat foto kekasihnya. Lelah itu mulai menghampirinya, perlahan ia terbawa dalam alam bawah sadarnya. Namun, wajah sedih Anna muncul begitu saja.
"Kenapa dia lagi?" Eza bergumam sendiri. Ia memgambil ponselnya dan mencari kontak sekertarisnya, Melly.
"Tolong besok bawa data diri pegawai yang kamu suruh buat beresin ruangan saya."
* * *
Ana sudah memikirkan banyak kemungkinan, apalagi saat ini Hendra sudah tau di mana ia tinggal. Mungkin sekarang ini hanya lengan Maria yang memar, bagaimana jika besok Maria dibawa pergi atau kemungkinan yang terburuk, Maria akan meninggal. Jalan satu-satunya memang Ana harus membawa Maria ke tempat kerjanya.
"Nanti, kakak titipkan kamu di pos satpam, di basement."
Ransel hitam, satu-satunya harta yang Ana dan Maria miliki. Yang selalu mereka bawa, ke manapun mereka pergi, Ana letakkan di samping tubuh Maria.
"Mau ke mana? Kenapa cuma pakaianku yang kakak masukan?"
"Kita akan pindah."
Hal pertama yang terlintas dalam benak Ana adalah menyembunyikan Maria dari Hendra. Keselamatan Maria lebih penting dari dirinya. Trauma yang dimiliki oleh Hendra pada Maria, membuat hidup Maria terancam. Bagi Hendra kelahiran Maria adalah sebuah kesalahan.
"Kakak mau titipin aku di mana? Di panti asuhan? Kayak dulu lagi?"
Dua tahun yang lalu, saat usia Maria menginjak 9 tahun, Ana menitipkan Maria di salah satu panti asuhan. Saat itu Ana benar-benar tidak punya tempat untuk pergi. Untuk mencukupi kebutuhan dirinya saja, Ana sampai harus bekerja di tiga tempat dalam jangka waktu satu hari.
Namun, panti asuhan pun bukan tempat yang tepat untuk Maria. Lepas dari Hendra, justru Maria masuk dalam kandang singa. Ibu panti asuhan justru menyuruh Maria untuk bekerja. Maria mendapat perlakuan buruk. Ana yang tidak punya uang untuk mencoba menuntut ibu panti asuhan atas perlakuannya pada Maria itu, hanya bisa diam. Ia pergi membawa Maria dari panti asuhan itu, mereka berdua bahkan sempat hanya tidur di emperan toko.
"Kakak harus pastikan, kalau manusia iblis itu tidak akan menemukan jejak kita lagi."
Mencari kontrakan yang murah itu tidak mudah, apalagi saat ini para pemilik kontrakan meminta untuk dibayar di muka. Ana harus kembali mengekuarkan uang, padahal ia baru saja membayar uang sewa untuk satu bulan di kontrakan barunya ini. Sayang, Hendra sudah mengetahui keberadaan kontrakan Ana dan Maria, keselamatan mereka berdua lebih penting ketimbang uang sewa kontrakan. Untuk makan tiga hari ke depan, Ana bisa mengambil sisa makanan dari restoran di mana ia bekerja.
"Apa kakak gak capek?"
Capek, rasanya Ana sudah lupa dengan arti kata itu. Tak ada waktu untuk mengeluh.
"Kapan kita bisa hidup bahagia, kapan kita bisa lepas dari ayah Hendra?"
Sampai Hendra mati, batin Ana. Ana memang membenci Hendra, tapi bagaimanapun Maria adalah anak kandung Hendra. Ana tidak akan menambah benih-benih kebencian agar tertanam dalam diri Maria. Rasanya cukup dengan sikap Hendra pada Maria, Maria sudah bisa menafsirkan sendiri bagaimana ia harus bersikap.
* * *
Pagi ini Eza meminta Melly, sekertarisnya untuk memberikan data diri milik Ana dan siapa yang menandatangani ijin penerimaan pegawai di kantor.
"Melly, profile yang saya minta semalam sudah kamu siapkan?"
Profile Ana, gadis yang semalam menyita pikiran Eza, yang beberapa hari ini membuatnya terkagum sekaligus terheran.
"Sebentar, Pak."
Melly memberikan sebuah map berwarna kuning pada Eza.
Perlahan Eza membaca data diri milik Ana. Ana melamar untuk menjadi freelance dan yang menandatangani penerimaan Ana adalah Edrick.
"Dia harusnya ada dibagian lapangan, tapi kenapa dia ada di kantor?"
"Waktu itu, HRD bilang bagian lapangan sudah memenuhi kuota Pak, kebetulan salah satu OB kita berhenti karena harus dirawat di rumah sakit. HRD menempatkan dia untuk mengganti OB tersebut."
"Ok, makasih. Kamu boleh keluar."
Eza teringat Ana yang kemarin malam mengambil makanan instan di pantry kantor. Apa Edrick tau kalau dia memasukan seorang pencuri ke kantornya? Belum lagi, Ana tidak memiliki pengalaman sama sekali di bidangnya.
'Apa aku perlu memecatnya, ah, mungkin lebih baik ku selidiki saja dulu di mana dia tinggal dan apa maksud dia melamar kerja di sini.' Pikir Eza.