Sebelum jam makan siang, Ana sudah meninggalkan meja kerjanya. Ia mengambil satu cup mie instan yang ada di pantry kantor. Jatah makan siangnya hari ini.
Menahan lapar bagi Ana adalah hal yang biasa, ia bisa untuk tidak makan dalam sehari. Kemiskinan seolah sudah menjadi hal yang biasa bagi Ana. Ia tidak akan mengeluh ataupun perlu untuk dikasihani. Baginya setiap orang sudah memiliki masalah tersendiri dalam hidupnya.
Setelah memasukan air panas ke dalam cup mie, Ana segera menghampiri Maria yang ia titipkan pada kepala saptam di Basement.
"Makan,"
"Mie lagi?" Maria menatap Ana yang kini duduk di hadapannya. Maria bisa melihat wajah lelah Ana, ada luka bekas pukulan di bagian pelipis sebelah kanan. Mungkin kemarin malam Ana tidak sadar jika ia terkena pukulan dari Hendra. "Kakak saja yang makan," Maria menyodorkan cup mie instan itu pada Ana.
"Itu punya kamu, cepat makan. Nanti sore kita gak pernah tau, bisa makan atau gak."
Maria tersenyum, sudah biasa Maria mendengar kalimat itu keluar dari mulut Ana. Tapi, tak pernah sekalipun Maria tidak makan tiga kali sehari, meskipun itu hanya bubur instan atau nasi goreng yang sudah dingin. Ana selalu mencukupi perut Maria.
"Pak satpam tadi kasih aku makan soto ayam."
Ana menoleh, menyelidik beberapa satpam yang masuk shift pagi ini. Ada satu satpam yang kadang memang memperhatikan Ana, bahkan Ana pernah dibantu oleh satpam itu.
"Yang mana?"
"Itu," Maria menunjuk salah satu satpam dengan kumis tebal khasnya.
Benar tebakan Ana, satpam itu bernama pak Ari. Ana sempat bertanya kenapa Pak Ari sangat baik padanya, Pak Ari hanya menjawab kalau ia teringat akan anak gadisnya di kampung. Ana teringat akan Hendra, dulu Hendra adalah orang yang begitu penyayang. Ana masih ingat bagaimana dulu Hendra menyayanginya dengan sepenuh hati.
"Kenapa orang bisa berubah?"
Pak Ari kembali menengok Ana, sweater cokelat yang dikenakan Ana tampak sudah begitu lusuh. "Jangankan orang mbak, cuaca saja bisa tiba-tiba berubah, mbak." Pak Ari mencoba mencairkan suasana,
"Rasanya mudah sekali, dari seorang malaikat menjadi iblis."
"Siapa?"
Kebencian dan trauma mendalam benar-benar mengubah Ana menjadi pribadi yang jauh dari kata kebaikan. Hal terkeji yang pernah Ana lakukan mungkin bukan lagi meracuni tikus atau bahkan membunuh gerombolan semut. Tapi, mencelakai Hendra.
"Apa bapak pernah membenci anak bapak?"
Tegukan pertama dari air mineral botol di tangan Pak Aris seolah hendak Pak Ari kembalikan lagi ke dalam botol.
"Tuhan menitipkan malaikat kepada saya, bagaimana saya bisa membenci? Kadang yang tidak bisa memiliki keturunan saja sampai berusaha untuk bisa memiliki keturunan, kita yang sudah punya keturunan bukannya bersyukur malah membenci."
"Walau dalam usaha itu, istri bapak harus yang dikorbankan?"
Pak Ari kembali menatap Ana, apa yang Ana tanyakan barusan membungkam mulut Pak Ari. Seolah tak ada jawaban jika di dunia ini, siapa yang harus ia pilih untuk diselamatkan, anak atau istri?
"Kak? Kak Ana?"
Percakapan Ana dan Pak Ari beberapa hari lalu terlintas begitu saja, apa ucapan Ana mengusik Pak Ari?
"Malah ngelamun, ayo kakak makan dulu." Maria kembali berucap sembari menyodorkan cup mie instan yang mulai mendingin.
Dari kejauhan Eza yang hendak pergi untuk makan siang, memperhatikan Ana dan Maria.
"Jadi dia bawa keluarganya untuk makan juga di sini?"
Eza benar-benar harus mencari tau tentang gadis ini, jangan sampai gadis tanpa keterampilan ini menjadi parasit di kantornya. Eza mulai melajukan mobilnya, niatnya berubah tak lagi mencari makan siang, ia akan pergi ke alamat yang tercantum pada resume milik Ana.
* * *
Mobil sedan mewah berwarna hitam itu parkir tepat di depan sebuah apotik. Jalan yang menuju alamat rumah milik Ana harus masuk melalui gang kecil dan sempit. Suasana kumuh tampak begitu jelas, kali hitam penuh sampah yang baunya begitu menguar, jelas sekali menggangu pemandangan dan pernafasan.
Eza masuk ke dalam sebuah apotik, ia bertanya tentang alamat yang ia bawa dan menyebutkan ciri-ciri Ana dengan jelas.
"Oh, mbak rambut warna biru. Iya, dia sering datang pak, buat nebus obat. Biasanya dia datang pas toko mau tutup." Pegawa apotik itu mulai menjelaskan.
"Obat? Obat apa mbak?"
"Kalau itu saya tidak bisa memberitahu pak, itu privasi konsumen."
Eza hanya mengangguk, "kalau alamatnya, mbak tau di mana?"
"Ini, bapak tinggal lurus, lewatin jembatan, terus masuk gang kecil lagi, nanti di situ berjejer kontrakan pak."
Berbekal penjelasan dari pegawai apotik, Eza bergegas menuju kontrakan Ana. Eza seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini, kontrakan kumuh dengan suasana lingkungan yang begitu padat bisa membuat Ana nyaman tinggal di rumah itu.
"Pak, permisi, apa saya bisa bertemu pemilik kontrakan ini?"
Bapak-bapak yang ditanyai Eza tampak menatap Eza dengan seksama, tidak mungkin jika lelaki berdasi rapih dengan yang tampak kaya raya ini akan menyewa sebuah kontrakan kumuh di pinggiran seperti ini, pikir laki-laki itu.
"Dia kagak ade, rumahnye bukan di mari. Kenapa tanya-tanya?"
"Oh, kalau sama yang namanya Ana, bapak kenal?"
"Ana? Ana siape?"
"Gadis, tingginya kira-kira 160 centi-an, rambutnya warnanya biru."
"Oh, tu, nomor 7 kontrakannya. Sering banget bikin masalah."
"Masalah?" Eza rasa Eza sudah mendapat alasan untuk bisa memecat Ana.
"Kemarin mereka bikin ribut. Adeknya yang udah bengek, masih aja dipukulin ama bapaknya. Bapaknya b******n, masa anaknye ndiri digebukin."
Apa ini, ada apa dengan Ana, atau jangan-jangan yang tadi dia bawa di parkiran itu adiknya?
* * *
Pukul 17.30 WIB Ana sudah keluar dari kantor. Hari ini Maria mendapat antrian pertama di rumahsakit. Dokter yang merawat Maria sudah menelpon Ana agar Ana dan Maria segera datang.
Uang yang Ana pegang saat ini hanya cukup untuk menebus obat milik Maria. Dari pekerjaannya menjadi tukang cuci piring di sebuah restoran, Ana mendapatkan upah harian. Tak seberapa, tapi cukup untuk membeli obat milik Maria.
"Apa aku berhenti berobat saja, Kak?"
Maria yang menggandeng Ana berhenti berjalan. Sejenak ia menatap layar besar dengan lampu ynag gemerlap, terpampang sebuah iklan produk kecantikan di sana.
"Kamu mau mati?"
Sedikit senyum terpatri di bibir Maria, kalau ia mati sekarang pun rasanya ia tak akan rugi. Justru Maria mungkin akan mengurangi beban Ana.
"Apa itu bisa mengurangi beban, Kakak?"
Haruskah Ana berkata jujur, haruskah Ana saat ini mengutamakan egonya, haruskah Ana bilang kalau Maria bukanlah adik kandungnya?
Naif, apa dengan begitu semua permasalahan akan selesai?
Apa dengan begitu Hendra akan berhenti mengejarmya?
Apa dengan begitu Ana bisa menikmati hidupnya, layaknya gadis belia seusianya?
"Kak, Kakak gak mau cantik kayak dia?" Maria menunjuk bintang iklan yang ada di layar LED besar di sebrang jalan.
Sejak kecil Ana tak pernah bermimpi, ditinggalkan oleh kedua orangtua rasanya sudah menciptakan sebuah kecewa yang begitu mendalam. Kalau saja Ana tau dia dilahirkan hanya untuk dicampakan, mungkin Ana tak akan pernah mau dilahirkan dari rahim ibu kandungnya. Pun dengan kedua orangtua angkatnya, nyatanya hanya membuat Ana tumbuh menjadi pribadi yang tertutup dan tak pernah tau apa itu kasih sayang.
Masa depan, apa itu? Ana tidak pernah memikirkannya, untuk bisa makan di esok hari saja itu sudah menjadi masa depan yang cerah. Memiliki rumah layak huni, keluarga bahagia, tak pernah ada di benak Ana. Bisa keluar dari situasi kelam ini saja, Ana rasa itu adalah hal yang mustahil.
* * *
Kemacetan di jam pulang kantor memang tak akan pernah bisa dihindari. Pengendara sepeda motor yang seenaknya saja kadang bisa menimbulkan emosi.
"Jadi dia anak yatim," gumam Eza di dalam mobilnya.
Setelah mendengar cerita dari tetangga Ana, Eza belum sepenuhnya yakin. Jika ia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, maka bagi Eza, Ana tetaplah pegawai parasit. Tanpa keahlian khusus dan pencapaian kerja, tapi ana bisa menikmati fasilitas kantor dengan seenaknya saja. Bahkan, Ana membawa keluarganya ke kantor.
"Aku gak bisa biarin dia terus-terusan di kantor."
* * *
Suasana rumahsakit masih tampak ramai, beberapa orang yang mengantre duduk di kursi yang sudah disediakan di depan ruangan dokter. Ada yang menemani ibunya, ada yang menemani ayahnya, ada sepasang suami istri dan ada rombongan keluarga yang mengantar neneknya.
Pakaian mereka begitu rapih, mereka tampak begitu akrab satu sama lain. Sesekali terdengar obrolan yang begitu serius tentang keluhan yang mereka rasakan, sesekali juga terdengar canda di antara mereka.
"Saudara Ana, wali dari Maria?" Salah satu suster menghampiri Ana.
Ana segera mengikuti suster tadi berjalan masuk ke dalam ruangan. Ana sudah hampir kenal dengan beberapa suster yang ada di sana, satu tahun terakhir ini Ana sering pergi mengantar Maria berobat. Ana duduk di hadapan dokter yang baru saja selesai memeriksa Maria.
"Sepertinya, kemoterapi harus segera dilakukan, mengingat kanker di tubuh Maria sudah kian menjalar."
Tak ada jawaban, tatapan nanar Ana tertuju pada Maria yang masih tertidur di ranjang pemeriksaan. Beberapa suster masih melepas peralatan yang baru saja Maria gunakan.
"Memang mahal, tapi kalau tidak secepatnya ditangani, Maria tidak bisa tertolong."
"Apa tidak ada cara lain?"
"Kalau kamu mau, saya akan mengajukan Maria untuk bisa masuk ke salah satu yayasan kanker di sini, jadi Maria bisa dirawat di sana dan mendapat pengobatan yang cukup."
* * *
Tidur tidak akan mengubah apapun, menghilangkan rasa lelah dan beban yang begitu berat pun tak akan bisa.
Apa yang harus aku lakukan?
Siapa yang harus kumintai tolong?
Harus bagaimana lagi, agar aku bisa membiayai Maria?
Di bawah temaramnya lampu, Ana menatap Maria yang terbaring memunggungi dirinya. Pikirannya benar-benar sibuk. Maria adalah satu-satunya orang yang Ana miliki saat ini.
"Kenapa kakak gak tidur?" Masih dengan tanpa menatap Ana, Maria bertanya pada Ana.
"Gak apa-apa." Ucap Ana sembari merebahkan tubuhnya di atas lantai dingin kamar kontrakannya.
"Seperti yang aku bilang tadi, aku gak perlu kemoterapi. Aku juga gak perlu pengobatan. Kakak gak perlu merasa terbebani sama apa yang dokter bilang tadi."
Hening kembali menjalar, Ana tak menanggapi ucapan Maria barusan. Jika memang dengan bersikap seperti itu akan menyelesaikan masalah mungkin Ana akan melakukannya sejak dulu.
"Kita harus melangkah ke depan, jangan buang waktu dengan orang yang jelas-jelas akan segera mati." Tambah Maria lagi.
"Apa dengan aku mati, Ayah Hendra akan kembali seperti dulu? Mencintai kakak dan menyayangi kakak?" Tanya Maria.
"Entahlah,"
Sekalipun Maria mati, Ana rasa Hendra tidak akan kembali seperti dulu. Lagipula, untuk apa Ana harus berharap Hendra kembali berubah, hati Ana sudah terlanjur terluka, Ana terlanjur membenci Hendra. Tidak ada lagi yang bisa Hendra lakukan dan perbaiki dalam hidupnya.
* * *
"Gimana tadi pertemuan kamu sama psikiater kamu, Za?"
Sepulang dari rumah kontrakan Ana, Eza pergi ke rumahsakit untuk menemui seorang psikiater yang selama dua tahun ini menangani kesehatan mental Eza. Eza sempat terpuruk dan hampir gila setelah kekasihnya meninggal dunia.
"Tadi Eza gak jadi ketemu, Mah. Ada perubahan jadwal."
Eza harus berbohong, ia sebenarnya tadi mengikuti Ana dan Maria. Entah kebetulan atau tidak, Eza mendapati Ana yang sedang duduk di antara beberapa pasien. Ia lebih tertarik untuk mengikuti Ana daripada menemui psikiaternya.
Usaha memang tidak mengkhianati hasil, dari sana Eza mendapatkan informasi yang cukup detail. Maria adalah pasien leukimia. Ternyata apa yang dikatakan oleh tetangga Ana adalah sebuah kebenaran. Dari sana, Eza juga tau kalau Ana memanglah keluarga satu-satunya yang dimiliki oleh Maria. Eza yang sempat berpikir negatif dan hendak memecat Ana, kini malah merasa iba.
* * *
Tak kenal lelah, pagi-pagi buta Ana sudah mengantarkan koran pagi yang ia ambil dari seorang agen koran yang letaknya tak jauh dari kontrakannya. Bermodalkan kedua kakinya, Ana berpindah dari satu komplek ke komplek lainnya. Ana mendapat upah harian, sama dengan pekerjaan di restoran.
Selesai mengantar koran, Ana segera pergi menuju kantor property di mana ia bekerja. Hari ini ia disuruh untuk menyebarkan brosur di sebuah pusat perbelanjaan milik kantor propertynya itu.
"An, nanti kamu kumpul di loby sama yang lainnya, ya?" Melly meberi breafing pada Ana. Melly memang cukup perhatian pada Ana, ia juga sering membelikan Ana sarapan.
"Baik, bu."
Ana berlalu menuju meja kerjanya, meja kerja Ana tepat berada di depan ruangan Eza, bersebrangan dengan meja Melly.
Tiba-tiba Ana teringat, semalam sewaktu di rumahsakit Ana sempat melihat Eza berjalan di belakangnya, tapi Ana sama sekali tidak menggubrisnya. Kalau memang Eza sedang mengikuti Ana untuk mencari informasi tentangnya, apa untungnya bagi Eza.
Ana melepas sweater cokelatnya, ia kemudian mengikat rambut birunya itu. Tubuh kurus dan ringkih yang dibalut kaos berwarna putih Ana tampakkan, kulit putih yang biasa ia sembunyikan di balik sweater cokelatnya, kini ia pamerkan begitu saja.
"Selamat pagi, Pak."
Mendengar sapaan Melly, Ana segera menoleh dan berdiri. Tatapan Ana dan Eza saling bertemu.
"Ana, tolong masuk ke ruangan saya."
* * *
"Berapa gaji yang kamu dapat dari pekerjaan kamu?"
Eza langsung bertanya pada Ana yang baru saja duduk di hadapannya.
"Sesuai UMR, tercantum dalam kontrak kerja."
"Lalu kenapa kamu masih mengambil makanan dan minuman dari pantry kantor, di luar jam kerja dan diberikan kepada keluarga kamu?"
"Apa itu menyalahi aturan? Apa bapak akan memotong gaji saya?"
Eza tercengang mendengar jawaban Ana, kenapa malah Eza yang merasa terintimidasi sekarang ini. Seharusnya Eza yang banyak bertanya.
"Saya minta maaf kalau itu merugikan kantor, saya janji tidak akan melakukannya lagi. Ada lagi yang ingin bapak sampaikan?"
"Tidak, silahkan keluar."
Eza kalah telak, seharusnya ia bisa mengendalikan keadaan karena ia adalah seorang atasan yang jauh lebih tinggi dari seorang freelance. Lalu mengapa ia merasa takut pada Ana.
* * *
Berdiri berjam-jam, membagikan lembaran brosur nyatanya bukan hal yang mudah. Belum lagi, hari ini restoran cukup ramai. Tumpukan piring kotor begitu banyak, tapi bagi Ana itu adalah ladang uang. Ia bisa mendapatkan upah yang banyak.
Malam ini ia harus menebus obat di apotik. Ana juga membawa dua bungkus nasi beserta lauk untuk makan malamnya bersama Maria.
"Banyak juga uang lu."
Suara yang tak asing, Hendra. Ana terdiam di tempatnya. Hendra suka sekali menemui Ana di tempat yang sepi.
"Kasih bapak lu ini duit, bapak lu ini banyak utang." Senyum mengejek, Hendra tunjukkan pada Ana.
Cuih!
Ana meludah tepat di hadapan Hendra, "bapak, apa masih pantas saya panggil anda dengan pangilan bapak?!"
Melihat jawaban Ana, Hendra segera mendekat. Ia menjabak rambut Ana dengan kuatnya. "b*****t! Gue adalah orang yang udah besarin lo. setidaknya puluhan juta udah gue keluarin supaya lo bisa hidup sampai sekrang."
"Puluhan juta? Hah," Ana masih bergeming, ia sama sekali tak merasakan sakit. Ia justru merasa jijik jika tubuhnya disentuh oleh Hendra.
"Masih untung gue gak jual lu ke mucikari!"
"Harusnya anda lakukan itu dari dulu, harusnya anda lakukan itu!" Ana justru berteriak, tentu saja itu memancing emosi Hendra. Hendra melempar tubuh Ana ke pagar besi yang ada di sana. Bungkusan nasi di tangan Ana terlempar jauh, semuanya berantakan. Tak ada yang bisa Ana selamatkan. "Yang anda bisa lakukan hanya menyiksa kami, rasanya lebih baik mati sekali ditikam pisau, daripada harus terus-terusan diteror oleh manusia biadab seperti anda!"
"Sialan! Anak gak tau diri." Satu tendangan melayang di perut Ana. Ana tersungkur begittu saja.
"Hah, hanya ini yang bisa anda lakukan? Dasar pengecut!"
"Lo mau lagi?"
Hendra mengangkat kerah baju Ana, ia menampar Ana begitu kerasnya. Kemudian memukul wajah Ana lagi hingga sudut bibir Ana berdarah.
"Harusnya gue bunuh kalian berdua dari dulu, b*****t!" Hendra kembali menendang tubuh ringkih Ana. Hendra mengeluarkan pisau lipat yang ada di sakunya.
"Dasar pengecut!"
Ana mencoba menutupi ketakutannya, ia kembali mencoba merendahkan Hendra.
"Woi!"
Suara seorang laki-laki dari kejauhan terdengar, laki-laki itu segera menghampiri Ana yang masih tersungkur di tanah.
"Kamu gak apa-apa?"
"Bapak?"
Ana terkejut melihat Eza ada di hadapannya.
"Jangan ikut campur," Hendra yang tiba mendekat dan menendang tubuh Eza, membuat Eza ambruk. "Mau jadi pahlawan kesiangan?"
Bug!
Hendra justru kini memukuli Eza. Seolah melampiaskan kemarahannya pada Eza. Ana mencoba berdiri, ia mencoba menghalau Hendra agar tidak memukuli Eza.
"b*****t!" Hendra memegangi tubuh Ana, ia menusukan pisau lipat itu tepat ke perut Ana.
"Argh ..." Ana mengangkat tangannya, darah segar mengalir di sana.
"An, Ana!"
Tubuh Ana terjatuh ke tanah, Hendra yang melihatnya segera berlari, ia melempar pisau di tangannya begitu saja.
"An, Ana! Bertahan, An!"
"To ... long."
* * *
'Apa yang sedang aku lakukan di sini?'
'Bukankah seharusnya aku menemani Maria? Dan Kenapa dengan pakaianku?'
Suara tangis yang menggema begitu nyaring terdengar, gelapnya terowongan samar menutupi tubuh si pemilik suara tangis itu. Ana masih terpaku, mendengarkan dengan seksama, seolah tak asing dengan suara tangis itu.
"Kenapa kamu di sini?" Seorang wanita dengan membawa sebuah keranjang, jongkok tepat di hadapan anak itu.
'Ibu ...'
"Aku gak tau, pas aku bangun, aku udah di sini." anak kecil itu menjawab dengan tersedu-sedu.
"Orangtua kamu mana?"
Perlahan wajah anak kecil itu terlihat, Ana tertegun, anak kecil itu adalah dirinya.
'Kenapa, kenapa aku di sini? Bagaimana bisa aku kembali ke terowongan ini? Bagaimana bisa aku kembali meraskan ini semua?'
"Mama kamu mana?"
"Aku gak tau," anak kecil itu kembali menangis.
"Ya sudah, kamu ikut ibu pulang dulu. Mau gak?"
Anak itu hanya mengangguk, sedang suara tangisnya masih terdengar.
Ana terenyuh, betapa ia sangat menyayangi ibu angkatnya. Betapa ia masih bisa merasakan, bagaimana perasaan lega yang muncul ketika ibu angkatnya menghampirinya di terowongan yang begitu gelap. Bahkan untuk membuka mata pun, Ana merasa takut.
"Ayah, nanti kalau pulang bawa angkot, ayah beliin Ana sate ayam." Ana kecil merajuk pada ayahnya. Saat itu, ayahnya pasti akan menggendongnya.
"Ayah pasti bawakan buat anak kesayangan ayah."
Wajah muda dan tampak terawat, senyum terpatri di wajahnya. Betapa kebahagiaan datang bertubi-tubi pada Ana kecil. Meski dengan keterbatasan harta, Ana kecil seolah memiliki seisi dunia.
"Kalau Ana sudah besar, Ana mau jadi dokter. Biar ibu gak jualan lagi, ayah juga gak jadi sopir angkot lagi. Jadi ayah bisa main sama Ana setiap hari."
"Amin, amin, ibu sama ayah akan doakan, semoga semua cita-cita Ana tercapai."
"Ana sayang ibu."
"Ibu juga sayang Ana."
"Oh, jadi Ana gak sayang ayah?"
"Ayah juga."
Ana kecil tertawa riang, ibu dan ayahnya, mereka bertiga saling berpelukan.
Ana memegangi dadanya, kenapa terasa begitu sakit melihat itu semua kembali terjadi di depan matanya. Kenangan, yang jika Ana boleh jujur, Ana ingin mengembalikannya lagi. Ana ingin kembali menjadi seorang Ana kecil yang tak pernah khawatir, Ana kecil dengan segala mimpinya, Ana kecil dengan semua kasih sayang, Ana kecil yang memiliki masadepan.
Kenapa saat ini semua berbanding terbalik. Bahkan semua kenangan masih Ana ingat dengan begitu jelas. Masa-masa di mana Ana menjadi seorang anak dengan penuh kasih sayang. Sekarang hanya ada hari yang begitu berat dna air mata yang rasanya tidak bisa Ana keluarkan. Bahkan untuk menjadi diri sendiri pun Ana harus berpikir berulang kali. Menomor satukan apa yang ia inginkan dalam menjalani hidupnya seolah tak ada lagi dalam sudut pandangnya. Keegoisan yang bisa saja muncul kapanpun, nyatanya Ana simpan baik-baik. Baginya menjaga adiknya tidak akan pernah ada bandingannya dengan kasih sayang yang diberikan oleh kedua orangtua Maria untuk dirinya.