9

3935 Words
"Sudah mendingan?" Eza mencoba membantu Maria untuk duduk. Saat Eza memberi kabar, bahwa Ana mengalami luka tusuk dan harus dilarikan ke rumahsakit Maria jatuh pingsan. Pagi itu, setelah menemani Ana melakukan operasi di rumahsakit, Eza segera berkunjung ke rumah kontrakan Ana. Benar saja, Maria sedang bingung, kenapa kakaknya tidak pulang sejak tadi malam. "Sudah, terimakasih. Apa sekarang aku boleh menjenguk kakak?" "Ana masih di ruang ICU, belum bisa ditengok. Lagipula badan kamu masih lemah, kamu juga perlu istirahat." Maria menatap punggung tangannya yang sudah dipasangi selang infus. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Maria masih menunduk, ia mencoba menahan kesedihannya. Satu-satunya orang yang selalu melindunginya, kini terkapar tak sadarkan diri di ruang ICU. "Saya gak yakin, tapi yang jelas dia ditusuk oleh seorang laki-laki." Ayah Hendra, pikir Maria. Tangan Maria meremas selimut yang ia gunakan. Sampai kapan semua ini akan berakhir, Maria tidak akan pernah sanggup jika harus hidup tanpa Ana. "Sekarang, aku gimana ..." Maria tak bisa membendung airmatanya lagi. "Ada apa?" Maria hanya terisak, hatinya sakit. Di saat kakaknya terkapar lemah, ia tidak bisa melakukan apapun. Ia justru hanya memikirkan dirinya sendiri, bagaimana dia akan hidup tanpa Ana. "Kita bisa laporkan kejadian ini ke polisi." Eza belum pergi ke kantor polisi, ia juga harus membawa Maria karena Eza tidak banyak memiliki informasi. "Jangan," Eza merasa heran, jika sudah sampai seperti ini, seharusnya lapor polisi adalah jalan utamanya. Kenapa Maria malah menolak tawaran Eza. "Kenapa?" Maria hanya diam, ia masih ragu untuk mengatakan semuanya. "Kalau masalah biaya, saya akan menanggungnya, saya akan menyediakan pengacara untuk kalian." "Bukan begitu." Maria menatap Eza sejenak, ia yakin dengan pakaian Eza yang ia gunakan saat ini, Eza memiliki banyak uang. Bahkan mungkin Eza bukanlah orang sembarangan. Tapi bagaimana Eza bisa mengenal Ana dan mau menolong kakaknya itu sampai sejauh ini. "Lalu?" "Apa hubungan Kakak dengan Kak Ana?" Eza membuang muka pada Maria, mungkin seharusnya Eza tak harus ikut campur sampai sejauh ini tentang kehidupan Maria. "Saya atasan Ana di kantor." "Lalu bagaimana bisa Kakak ada di tempat kejadian?" Maria harus tau sebaik apa orang ini, ia tidak mungkin menceritakan bgitu saja hubungan di antara Hendra, Ana dan dirinya begitu saja. Rahasia keluarga yang seharusnya Maria jaga, tidak Mungkin Maria akan menceritakannya. "Panjang ceritanya, tapi kalau memang kamu tidak mau menceritakannya kepada saya pun tidak apa-apa." Eza tidak akan memaksa, ia harus membiarkan seseorang menceritakannya begitu saja. Saalah satu hal yang Eza pelajari dari psikiaternya. "Tapi tolong, jangan laporkan kejadian ini ke polisi." Apa dengan menceritakan kisah hidupnya pada orang asing akan membantu keadaan mereka sekarang ini? Tapi menjebloskan Hendra ke penjara bukanlah jalan yang benar. Bagaimanapun Maria tetap menyayangi Hendra, Hendra adalah keluarganya. Hendra adalah ayah kandungnya. "Saya akan dengar cerita kamu, setelah itu baru kita putuskan sebaiknya kita laporkan orang itu ke polisi atu tidak. "Dia orang yang setiap saat menyiksa kami, merongrong kami. Saya dan kak Ana harus selalu berpindah tempat untuk bersembunyi. Dari kontrakan satu ke kontrakan yang lain. Entah sudah berapa kali Kak Ana berganti pekerjaan, selain karena tempat tinggal yang jauh, tapi karena gangguan dari lelaki itu pun sampai di tempat pekerjaan kak Ana. Kak Ana bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kami dan uang untuk laki-laki biadab itu." Perlahan Maria mulai menjelaskan. " Laki-laki b******n itu selalu datang, entah bagaimana caranya, dia selalu tau di mana kami tinggal. Dengan tanpa malunya ia meminta uang pada Kak Ana. Satu hari Kak Ana bisa pergi ke tiga atau empat tempat kerja sekaligus. Upah dari Kak Ana bekerja terkadang hanya cukup untuk kami makan dan membayar kontrakan. Ah, bukan kami, tapi hanya untuk kebutuhanku sendiri.Rasanya aku tidak pernah melihat kak Ana makan." Senyum kembali terpancar, senyum menertawakan kemiskinan yang ada. Maria sadar, selama ini ia tidak pernah tau bagaimana perasaan Ana. Untuk merasa lelah pun, Ana tak pernah mengeluh. Meski wajah sayu, pakaian lusuh yang ia gunakan tak bisa membohongi seberat apa beban yang Ana pikul. Bukan Maria tidak peduli, tapi ia tau diri untuk tidak meminta lebih pada Ana. "Bagaimana jika makanan yang ia dapatkan hanya cukup untukku? Bahkan aku belum tentu kenyang, tapi aku juga harus berbagi dengannya. Dan saat aku bertanya, bagaimana dengan isi perutnya hari ini, sekalipun ia tak pernah menjawab. Kak Ana tidak pernah terbuka tentang kesulitannya, tentang bagaimana ia harus bertahan di tempat kerjanya." Mungkin ini adalah jawaban dari apa yang Eza lihat di parkiran gedung kantor kemarin, dari setiap Ana mengambil kopi atau cemilan atau bahkan makanan instan yang ada di pantry kantor. Karena memang Ana membutuhkannya. "Jadi, siapa sebenarnya laki-laki itu?" "Ayah kami." Dengan entengnya Maria menjawab sembari menatap Eza. "Seharusnya dia menyayangi kami, menjaga kami, tapi kenyataannya dia hanya menciptakan neraka bagi kami." 'Ayah? Apa pantas sebutan itu saya sematkan pada manusia behati iblis seperti anda?' Eza teringat akan ucapan Ana pada laki-laki itu sebelum lelaki itu memukuli dan menendang Ana. "Setiap kali dia datang, dia hanya memukuli kami. Mengancam akan menjual kami pada mucikari. Atau yang lebih buruk lagi, dia akan membunuh kami. Rasanya sudah tidak ada rasa takut lagi saat mendengar ancaman-ancaman yang keluar dari mulut biadabnya itu. Setiap kali dia memukul wajah kak Ana, rasanya aku ingin menusuk jantungnya berkali-kali. Dia tidak pernah tau betapa beratnya hidup kak Ana, betapa Kak Ana harus berjuang hanya untuk menyuapi perut kami yang kosong." * * * Gemercik air terdengar ringan, memecah heningnya malam yang dingin. Sejak sore tadi hujan tak berhenti turun. Eza berdiri, menatap ke arah luar dari balik jendela kamarnya. Satu persatu kalimat yang Maria katakan tadi perlahan Eza cerna. Eza sudah terlanjur membantu Ana, ia tidak mungkin meninggalkan Ana di rumahsakit begitu saja. Apalagi Maria, ia pun membutuhkan pengobatan untuk kankernya. Di saat situasi seperti ini, tidak ada yang bisa Maria andalkan tentunya. Apartemen, ya, mungkin lebih baik Eza membatalkan penjualan apartemen itu. Dan di sana Ana dan Maria bisa tinggal. Kalau memang Maria tidak ingin melaporkan kejadian ini pada pihak berwajib, maka satu-satunya jalan adalah Ana dan Maria pindah dari kontrakan mereka. Eza segera menghubungi asistennya untuk membatalakn penjualan apartemen itu. Setelah keluar dari rumah sakit nanti Ana dan Maria bisa langsung tinggal di sana. * * * "Tunggu, maksud kamu, kamu mau anggurin apartemen itu lagi?" Sasa adik Eza mencoba mengerti apa yang sedang kakaknya lakukan itu. Sebab, apartemen itu pula yang menjadi alasan kenapa Eza tidak pernah bisa move on dari mantan kekasihnya. "Iya, aku mau sewain apartemen itu ke temen." Jangan sampai Sasa tau soal Ana dan Maria, setidaknya mereka berdua bis atinggal di apartemen milik Eza sampai Ana benar-benar sembuh dan bisa mencari tempat tinggal yang lainnya. "Yakin? Terus soal barang-barang yang masih ada di sana gimana? Jadi, kamu pindahin ke rumah?" Tiba-tiba Eza teringat akan pakaian lusuh yang selalu dikenakan Ana. Lebih baik Eza membiarkan pakaian dan barang-barang lainnya tetap di sana, jadi Ana bisa menggunakannya. "Gak, biar aja di sana. Toh, temenku gak ada masalah, lagian dia bisa pake barang-barang yang lainnya juga." "Tapi, bener kamu gak akan galau dan stres lagi, kan?" Butuh waktu dua tahun agar Eza bisa kembali dalam keadaan sedia kala. Bahkan untuk saat ini, Sasa belum yakin kalau Eza sudha benar-benar bisa melupakan mantan kekasihnya itu. Bukan tanpa alasan, Sasa terkadang masih melihat Eza yang sering melamun. Melihatnya saja sudha membuat Sasa capek hati. * * * Eza benar-benar tidak fokus, sepanjang rapat tadi pun, Eza hanya melamun. Bayangan Ana yang tergeletak di ranjang rumahsakit teus melintas di pikirannya. Seolah ia kembali di masa saat kekasihnya terbaring lemah di rumahsakit. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya Eza bergegas menuju rumahsakit. Entah apa yang ada dalam benak Eza, seolah kekadian Ana ditusuk adalah tanggungjawab yang harus ia pikul. Padahal jika ia lari dan lepas tanganpun, tak akan ada yang tau. Sesampainya di rumahsakit, Eza menuju ruang ICU, namun menurut informasi yang Eza terima Ana sudah tidak ditempatkan di sana. "Kakak?" Eza menoleh ketika suara Maria terdengar menyapanya. "Kamu Mar, di mana kakak kamu?" "Kak Ana sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, tadi pagi." "Syukur kalau begitu, kamu sendiri dari mana?" Maria menarik tangannya, menyembunyikannya di balik tubuhnya yang terbungkus jaket berwarna hitam kusam itu. Wajah Maria tampak begitu pucat. "Aku, habis dari toilet." Eza yang menyadari bahwa Maria menyembunyikan sesuatu hanya mengangguk saja, ia tidak ingin rasa keingintahuannya justru membuat Maria malu. Eza melirik jam sebentar, sudah pukul 18.00, mungkin sebaiknya Eza mengajak Maria untuk makan malam. "Kamu sudah makan?" Maria tiba-tiba saja membuang muka, dengan tangan yang masih ia smebunyikan, "u-udah." Lagi, Eza tau kalau Maria sedang berbohong. Mungkin sebaiknya Eza membelikan Maria sesuatu. * * * Setelah menyuruh Maria untuk menunggu di depan ruang rawat inap Ana, Eza berjalan menuju kantin rumahsakit. Melihat jejeran mie instan di sana, Eza teringat saat Ana dan Maria menghabiskan satu cup mie instan untuk berdua. Dengan segera Eza memesan nasi dan beberapa roti. Ia juga memesan s**u coklat hangat untuk Maria. Dengan tangan penuh belanjaan Eza kembali menuju ruangan Ana. Dari jauh ia melihat Maria yang sedang memegangi botol air mineral. Mungkin tadi Maria bukan pergi ke toilet, tapi Maria mengisi ulang botol air mineral dengan air hangat untuk menahan rasa laparnya. "Kakak bawain kamu makanan, kita makan bareng." Dua kantong plastik penuh berisi makanan Eza letakan di samping Maria. "Kak ..." "Kebetulan, tadi dari kantor Kakak belum makan, jadi kita bisa makan bareng. Eza tersenyum pada Maria, mencoba bersikap seramah mungkin agar Maria tidak merasa canggung. Eza memberikan sekotak nasi berisi ayam goreng tepung, kesukaan anak-anak seusia Maria. "Enak," Maria mengunyah makanan itu sembari menahan tangisnya, namun air mata sudah keluar begitu saja. "Kenapa?" Belum sempat Maria menjawab, suara dari dalam ruangan Ana mengagetkan Maria dan Eza. "Kakak ..." * * * Ana berusaha menggapai gelas yang ada di atas meja, di samping ranjangnya. Tenggorokkannya terasa sangat kering. Tangan Ana tak sampai untuk meraih gelas itu, gelas itu justru terjatuh begitu saja. Setelah suara gelas jatuh terdengar, tak lama suara pintu terbuka. Maria dan Eza berhamburan masuk. "Kakak ..." Maria segera berlari, menghampiri kakaknya. * * * Ana menatapi tangannya yang masih dipasangi infus. Pikirannya melayang memikirkan bagaimana ia akan membayar biaya rumahsakitnya. Menilik dari ruangannya saja Ana rasa, rumahsakit ini cukup mahal. "Berapa lama Kakak di sini?" "Sudah 5 hari," Ana mencoba menyembunyikan kekhawatiranya. Ada sisa uang di tabungannya, meski tak banyak namun Ana rasa cukup untuk sekedar membayar uang mukanya. Sisanya Ana bisa mencicilnya. "Sore nanti Kakak mau pulang." "Tapi, Kak, kakak belum sembuh." Bagi Ana rasa sakitnya ia bisa tahan, tapi hutang budi pada seseorang yang baru ia kenal adalah hal yang paling tidak disukai oleh Ana. Ingatan Ana melayang pada saat peristiwa malam itu. Entah bagaimana caranya, Eza bisa ada di sana. Ana yakin yang membuat keputusan untuk membawanya ke rumahsakit semewah ini adalah keputusan atasannya, Eza. "Di mana laki-laki itu?" "Maksud kakak laki-laki berpakaian setelan jas itu? Kak Eza? Dia di luar." "Apa setiap hari dia ada di sini?" "Setiap hari dia datang menjenguk kakak, dia juga membawakanku makanan." "Lalu bagaimana dengan ayah Hendra?" Maria membuang muka, ia jadi teringat jika dirinya sudah menceritakan sebagian kisah hidupnya Eza. Jika Ana tau, Entah apa yang akan dilakukannya pada Maria. "Mar? Apa Ayah Hendra datang menemui kamu selama kakak tidak sadarkan diri?" Maria.hanya menggeleng tanpa mengeluarkan sepatah katapun. "Lalu ada apa?" "Kak Eza membawa barang-barang kita dari rumah kontrakan, dia memindahkannya ke sebuah apartemen. Dia juga merahasiakan kepindahan kita." Maria menjelaskannya sebisa mungkin. Apalagi ini, kenapa Eza harus ikut campur juga. Pikir, Ana. * * * Eza sudah memutuskan untuk tidak menjual apartemennya, ia akan membawa Ana dan Maria ke apartemennya. Setelah mendengar cerita dari Maria, Eza rasa membiarkan Maria dan Ana untuk tinggal di apartemen itu adalah jalan terbaik. Selain menghemat, apartemen Eza juga untuk saat ini adalah tempat terbaik untuk kedua orang itu sembunyi dari ayah kandung mereka yang jahat itu. "Kenapa bapak membawa adik saya ke apartemen milik bapak tanpa seizin saya?" "Kalau saya membiarkan dia tidur kedinginan di lantai rumahsakit, rasanya itu jauh dari sebuah kemanusiaan." "Kenapa bapak melakukan ini?" "Apa?" "Bapak tau, saya hanya seorang cleaning service di kantor bapak, seharusnya bapak tidak perlu serepot ini," "Justru karena kamu adalah pegawai saya, jadi saya bertanggungjawab terhadap kamu." "Apa bapak melakukannya juga pada pegawai bapak yang lain?" Sebuah kursi Eza tarik, ia duduk agak jauh dari ranjang Ana. "Kalau perlu, kenapa tidak?" "Jangan terlalu baik dengan orang seperti saya." Orang seperti apa, pikir Eza. "Saya tidak akan berjanji, tapi saya akan melunasi semuanya." Ucap Ana. Mungkin saat di pemakaman pagi itu, Ana tidak mengenali Eza, tapi Eza jelas sekali sangat mengenali Ana. Eza tak pernah percaya takdir, tapi nyatanya takdir mempertemukan mereka berdua kembali di kantor milik Eza. Sisi kemanusiaan Eza terusik melihat segala kekuarangan yang ada dalam hidup Ana. Apalagi semenjak kejadian penusukan malam itu, Eza sudah mengambil keputusan untuk membantu Ana. "Soal orang yang menusuk kamu, kalau kamu setuju, saya bisa membantu kamu untuk melaporkan orang itu." "Saya bisa menyelesaikannya sendiri." Jawab Ana dengan sikap dinginnya. "Orang dewasa tidak menyelesaikan masalahnya seperti ini, di saat dia butuh bantuan, dia pasti akan meminta bantuan." Ana tampak seperti seseorang yang sangat Eza cintai dulu, kemandiriannya, keteguhannya. "Kita harus laporkan dia ke polisi. Saya akan sewa pengacara untuk kamu." "Tolong hentikan, jangan campuri urusan saya!" Ana benar-benar benci dengan sebuah hutang budi. Ia tak ingin jika seunur hidupnya harus menanggung beban itu terus menerus. Cukup Maria, jangan lagi ada hutang yang harus ia bayar. Hidupnya sudah terlalu susah sekarang ini. * * * Setelah diijinkan pulang dari rumahsakit, Ana dan Maria dibawa oleh Eza menuju apartemen milik Eza. Eza mengunci kamar yang dulu ia tempati bersama kekasihnya. Eza membiarkan Ana dan Maria menempati kamar tamu. Kulkas sudah Eza isi dengan bahan makanan, seperti daging, sayuran, buah-buahan, s**u, serta telur.ia juga membelikan beberapa bahan pokok lainnya untuk kebutuhan hidup Ana dan Maria. "Kalian bisa tinggal di sini dulu, setidaknya ayah kalian tidak tau di mana kalian bersembunyi." Ana yang sempat menolak tawaran Eza, pada akhirnya menerimanya atas bujukan Maria. "Ini kunci dan ID Cardnya. ID card saya pegang satu, tapi untuk kunci kalian simpan sendiri." Eza tidak akan sembarangan masuk ke apartemen, apalagi Ana dan Maria adalah perempuan. "Itu kamar siapa, Kak?" Maria menunjuk pada sebuah ruangan yang ada di sebelah kiri ruang tamu. "Kamar saya, banyak barang-barang di sana. Kalian tidak perlu membereskannya. Oh, untuk mesin cuci ada di sebelah sini, kamar mandi ada di depan Cleaning room. Kalian bisa jemur di situ ataupun di balkon." Eza mencoba menjelaskan. Ana merasa sudah benar-benar berhutang budi pada Eza. Apalagi dengan segala fasilitas yang Eza berikan pada Ana. Bukan diberikan, lebih tepatnya Eza pinjamkan pada Ana. "Kalau begitu saya pamit dulu, kalian bisa istirahat. Dan tolong, jangan bertindak semau kamu sendiri." Eza mengingatkan pada Ana. * * * Sepulangnya Eza dari apartemen, Ana menyiapkan makan untuk ia nikmati malam ini. Karena tubuhnya belum pulih benar, ia hanya menyiapkan mie rebus dengan sayuran dan telur. Rasanya makan seperti ini saja sudah menjadi sebuah kemewahan bagi Ana dan Maria. Ana duduk di kursi, dengan dua mangkok mie rebus yang sudah tersaji di atas meja makan. Ana menunggu Maria yang sedang mandi. Tadi saat Maria mandi, ia sempat kaget karena keran yang ia buka mengeluarkan air panas. Ia tidak bisa memgatur suhu air yang akan ia gunakan. Ia berlari sembari memanggil Ana untuk segera mengaturnya. "Wah, lezatnya." Wajah sumringah Maria justru membuat hati Ana seolah tercubit. Sekalipun ia tak pernah memberikan penghidupan yang layak pada Maria. Ana belum bisa membalas semua kebaikan ibu kandung Maria pada Ana dulu. Kesengsaraan yang selalu Ana berikan pada Maria. "Kakak gak makan?" Maria menegur Ana yang sedari tadi hanya memandangi makananya saja. "Ah, iya." Ana mengaduk mie instannya. Kebaikkan Eza justru membuat Ana merasa kecil hati. Membuat Ana merasa bahwa dirinya tidak layak menjadi seorang kakak. Mereka berdua harus berbagi makanan, bahkan Ana harus rela memakan sisa makanan. Jijik? Ana jauh lebih bisa menahan itu semua. Baginya 1 sen uang saja sangat berharga baginya. Di saat pekerjaanya hanya menjadi seorang cleaning service ia tak akan rela menghamburkan uang yang ia dapatkan. "Besok kak Eza akan membawaku pergi menemui dokter." "Apa yang akan dia lakukan?" "Dia bilang, dia memiliki kenalan dokter yang bagus untuk menangani kanker." "Apa dia juga tau soal penyakit kamu?" "Aku sama sekali tidak menceritakannya, dia tidak sengaja melihat kita berdua sedang kontrol saat itu." Kenapa kebetulan sekali, kenapa Eza bisa tau semuanya, pikir Ana. Rasa penasaran Ana kian memuncak. 'Atau jangan-jangan, di malam penusukan itu pun Eza memang sengaja ada di sana?' * * * Gemerlap lampu menerangi setiap ruangan, di setiap lantai gedung apartemen. Beberapa tower apartemen berjejer, dari balkon Ana berdiri menatap keindahan buatan manusia yang memanjakan matanya. Untuk pertama kalinya, pikiran Ana terlepas dari seorang Hendra. Rasa takut dan khawatir akan kedatangan Hendra yang mampu memporak porandakan keadaanya seolah tak muncul lagi di benaknya. Ia mampu merasakan kenikmatan hidup untuk saat ini, meski itu semua diberikan oleh Eza. Terlepas dari hiruk pikuk, lika-liku dunia yang membuat Ana lupa akan keadaan dirinya sendiri. Bahkan untuk bernafas saja rasanya begitu sesak. Tak ada ruang gerak untuk diri Ana. Mengekspresikan apa yang Ana rasakan. Ana tidak tau rasanya jatuh cinta, Ana tidak tau rasanya punya teman. Dunianya hanya seputar Hendra dan Maria. Kebutuhan mendesaknya menjadi seorang yang harus selalu bersikap dewasa, selalu mengutamakan kepentingan orang lain di atas dirinya sendiri. Kenyataan bahwa sebenarnya Ana membutuhkan sebuah kedamaian. Siapa yang mampu berdiri di kaki Ana, untuk bisa bertahan sehari saja rasanya berat sekali. Bahkan dalam ketidaksadarannya Ana tidak bisa bersikap egois. Tak ada yang bisa membawanya pergi meninggalkan dunia yang begitu kejam, Ana justru kembali terlempar dalam sebuah jurang kesadaran, bahwa Maria masih sangat membutuhkannya. "Kenapa kakak belum tidur?" Maria mengambil sebuah kursi dan duduk di samping Ana. "Hm, lampu di luar sayang untuk dilewatkan." Maria menatap ke sekeliling, ia kemudian tersenyum. "Benar, kita gak pernah lihat keindahan kayak gini." Kemewahan adalah barang mewah yang tidak akan pernah bisa Ana berikan pada Maria. Hidup tanpa tuntutan seorang Hendra saja, Ana tak bisa menjanjikannya. Untuk bisa terlepas dari Hendra, Hendra harus mati terlebih dahulu. Tapi, Ana tidak akan menyia-nyiakan hidupnya untuk membunuh seorang b******n seperti Hendra. "Kakak bertemu ibu." Tiba-tiba saja, mimpi saat Ana tak sadarkan diri, terlintas di pikirannya begitu saja. Wajah peremouan yang sangat Ana rindukan. "Oh, ya? Kapan?" "Saat kakak terbaring di rumah sakit." "Aku iri, bahkan di mimpi saja, ibu lebih memilih untuk bertemu dengan kakak." Ana menatap Maria setelah mendengar jawaban Maria barusan. "Apa yang kamu coba pikirkan?" Maria tersenyum, ia kemudian memeluk Ana dengan erat. "Jangan pernah coba pergi dari aku." Bagaimana Ana bisa bersikap egois, bagaimana bisa Ana hanya memikirkan dirinya sendiri di saat Maria sangat membutuhkannya. Di saat Ana menjadi manusia yang sangat Maria butuhkan. * * * Tiga hari setelah pemulihan, Ana kembali masuk ke kantor. Kali ini suasananya sangat berbeda, meja kerja milik Ana kini ditempatkan di depan ruangan milik Eza. "Selamat datang kembali, An." Mely sekertaris Eza menyapa Ana. "Pagi, Mbak." Seperti biasa, Ana hanya menjawab seadanya. "Untung kamu sudah datang, tolong ke ruangan saya." Keluar dari ruangannya, Eza mendapati Ana dan segera menyuruhnya masuk. Ana menatap Mely, berharap jika yang dipanggil oleh Eza adalah bukan dirinya, tapi Mely. "Kamu," Mely mengangguk sembari tersenyum. Ana tampak bingung, namun ia segera masuk ke ruangan Eza. "Duduk," Eza memersilahkan Ana untuk duduk. "Ada apa, Pak?" Eza mengeluarkan sebuah map dari dalam laci meja kantornya. Ia menyodorkannya ke hadapan Ana. "Apa ini?" "Silahkan kamu baca." Tanpa ragu Ana segera membacanya, di dapatinya sebuah perjanjian tentang pembayaran setiap biaya yang Eza sudah keluarkan untuk Ana. Biaya rumah sakit, biaya tempat tinggal, biaya pengobatan adiknya. "Ini namanya pemerasan," Ana melemparkan map itu begitu saja. "Saya tidak memeras, rinciannya sudah ada di sana semua." "Saya tidak pernah meminta bapak untuk melakukan itu semua, jadi kenapa saya harus membayar ganti rugi sebanyak itu?" "Walaupun kamu tidak memintanya, kalau saya meninggalkan kamu begitu saja, saya akan menjadi seorang penjahat." "Apa bapak membunuh saya?" "Tidak, tapi secara tidak langsung iya." Eza sengaja melakukan ini semua. Ia ingin melindungi Maria dan Ana. Bagaimanapun jika Hendra tidak dipenjara, Ia pasti akan tetap mencari di mana Ana berada. * * * "Gue dengar, lo Gak jadi jual apartemen." Edrick kekasih Rissa, adik kembar Eza bertanya pada Eza. "Iya, ada orang sewa." "Siapa?" "Gue rasa lo gak perlu tau, Drick." Eza tidak mau jika Edrick ikut campur. Pada akhirnya Edrick akan bercerita pada Rissa, kemudian Rissa akan melibatkan kedua orangtuanya. Eza tidak mau jika langkahnya kali ini untuk menyelamatkan seseorang akan berujung sia-sia. "Za, jangan membahayakan kehidupan kamu untuk orang lain." "Saya tidak butuh nasihat kamu, Drick. Lagi pula saya tidak merugikan kamu." "Tapi, Za-" "Kalau memang tidak ada yang kamu mau bicarakan lagi, silahkan keluar dari ruangan saya." * * * Orang-orang mulai menatap Ana dengan aneh, sebagian bahkan bergunjing jelas di hadapan Ana. Tapi, untungnya Ana tidak memusingkan itu semua. Ia sudah terbiasa dengan segala tatapan yang merendahkan yang diberikan oleh orang lain. Gosip tentang Eza yang memiliki hubungan dengan Ana sudah merebak ke penjuru kantor itu. Sejak dipindahkannya meja kerja Ana serta naiknya jabatan Ana yang secara mendadak, membuat para karyawan merasa dicurangi. Oleh karena itu Ana semakin sering digunjingkan oleh karyawan lainnya. "Boleh saya duduk di sini?" Rissa, orang kedua yang sangat dihormati di perusahaan itu tiba-tiba saja duduk di hadapan Ana yang sedang makan di kantin. "Anda sudah duduk, kenapa harus meminta ijin lagi?" Senyum tersungging di bibir Rissa mendengar jawaban Ana. "Terimakasih." Saat ini para Karyawan lain yang sedang menikmati makan siangnya seolah tak lagi berminat untuk menikmati makanan mereka, mereka lebih tertarik melihat pemandangan di meja tengah. Rissa dan Ana yang duduk saling berhadapan. "Saya baru lihat kamu makan di sini." Sapa Rissa. Sejenak Ana menghentikan tangannya menyendokkan nasi. Ana memang tidak pernah makan siang di kantin, ini adalah kali pertamanya ia makan siang di kantin. Itu semua karena kupon yang diberikan oleh salah satu teman cleaning servicenya. "Makanan di sini selalu enak. Anehnya, apa yang kamu ambil sekarang ini adalah lauk pilihan yang selalu kekasih Eza ambil." "Maksud, bu Rissa?" Rissa kembali tersenyum, ia sampai saat ini belum menikmati makanannya sama sekali. "Apa yang kamu lakukan sampai Eza rela memberikan segalanya buat kamu?" Ana masih belum mau menjawabnya, ia merasa jika sekarang ini makanan di hadapannya jauh lebih nikmat daripada pembicaraan yang tidak ada gunanya sama sekali. "Apa kamu tidak akan menjawabnya?" Suara Rissa kini lebih meninggi, hingga membuat beberapa orang di sana benar-benar memfokuskan pandangan dan pendengaran mereka tertuju pada pembicaraan Rissa dan Ana. "Kenapa ibu tidak coba tanya pada saudara kembar ibu saja? Saya juga merasa terjebak tentang itu semua." "Apa maksud kamu?" "Kalau ibu anggap saya menjual diri untuk mendapatkan apa yang pak Eza berikan saat ini, ibu salah besar." Ana meneguk air di gelasnya, meletakannya dengan tenang. Ia tidak merasa tertekan sama sekali. "Untuk makanan, saya tidak pernah meniru ataupun mencari tau apa yang disukai dan tidak disukai oleh kekasih Pak Eza. Saya makan saat ini adalah apa yang saya inginkan saat ini juga." Ana berbicara dengan tetap tenang. "Saya memghormati ibu sebagai atasan saya, sama seperti dengan saya menghormati Pak Eza. Apa yang dilakukan Pak Eza saat ini adalah atas dasar keinginannya sendiri. Bahkan saya juga dituntut untuk mengganti rugi atas segala yang sudah diberikan oleh Pak Eza. Semua tertulis secara hitam di atas putih." Rissa terdiam mendengar jawaban Ana. Entah mengapa setiap kalimat dan penekanan di dalamnya membuat Rissa benar-benar teringat akan seseorang. Ya, kekasih Eza dulu. "Kalau ibu Rissa tidak percaya, ibu Rissa bisa melihaat semua surat perjanjian yang sudah Pak Eza buat untuk semuanya." Ana membereskan piring makannya, "kalau tidak ada lagi yang mau ibu biacarakan, saya permisi." "Saya minta kamu keluar dari apartemen itu." Ucapan Rissa menghentikan langkah Ana yang hendak beranjak meninggalkan Rissa. "Keluar dari apartemen itu, jangan dekati Eza!" * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD