Ana berdiri tepat di depan sebuah kamar yang dilarang oleh Eza untuk ia masuki. Rasa penasaran yang sama sekali tak pernah ada di benak Ana kini justru muncul. Ancaman dari Rissa sama sekali tak membuat Ana gentar. Ana sudah melewati semua hal yang jauh mengerikan dibandingkan sebuah ancaman.
Apa tujuan Eza membawa Ana ke apartemennya, tidak ada yang bisa Eza manfaatkan dari diri seorang Ana, pikir Ana.
"Apa yang sedang kakak lakukan?"
"Apa sebenarnya yang orang itu sembunyikan?" Ana balik bertanya, tatapannya masih lekat menatap pintu berwarna hitam di hadapannya saat ini.
"Apa yang akan kakak lakukan?"
"Yang sekarang ada di pikiranmu."
* * *
"Jangan campuri urusanku, Sa."
Eza menegur Rissa, mereka berdua bersama kedua orangtuanya sedang menikmati makan malam di rumah.
"Apa sebenarnya yang sedang kamu lakukan? Kamu bahkan gak tau siapa mereka berdua. Orang seperti apa mereka itu." Jawab Rissa.
"Justru itu, seharusnya kamu lebih baik diam. Kamu tidak tau bagaimana hidup mereka."
"Ada apa dengan kalian?" Papah Eza menegur keduanya.
"Eza membatalkan penjualan apartemennya, dia lebih memilih untuk memelihara seekor tikus got yang tidak jelas asal usulnya."
"Sa!" Bentak Eza.
"Aku gak rela kalau kamu lakuin itu semua ke cleaning service itu. Kamu ke kantor harusnya untuk bekerja, bukan malah membuat onar dan merusak wibawa kamu lagi. Cukup dengan masalah Frea dulu, tolong jangan buat masalah lagi dengan cleaning service itu."
Masa lalu yang ingin Eza buang, masa lalu yang mmebuatnya terpuruk. Namun, sesuatu seolah Eza temukan pada diri Ana. Meski ia tidak mengenal Ana, tapi kisah hidup Ana menggerakkan hati Eza untuk menolong Ana. Kehidupan yang begitu kejam harus Ana hadapi. Eza menderita karena kejahatannya, ia harus merasakan penyesalan yang begitu dalam karena sebuah pengkhianatan dan ketidak percayaannya pada kekasinya dulu. Ia membuat orang yang sangat mencintainya dan dicintainya menderita karena semua perbuatannya.
Melihat Ana, membuat Eza ingin menebus segalanya. Meski bukan pada kekasihnya, tapi pada orang yang sama-sama menderita karena seorang yang jahat seperti Eza.
"Apapun itu, jangan pernah ganggu dia Sa." Eza meninggalkan ruang makan begitu saja, tanpa menghabiskan makanannya.
* * *
Pagi-pagi sekali Ana sudah sampai di kantor, tumpukan file yang harus Ana pilah sudah ada di mejanya. Belum lagi bon pengeluaran sejak 3 bulan lalu yanh harus Ana buatkan laporan untuk proses audit pertengahan taun ini.
"Kalau kamu kesusahan, kamu bisa minta bantuan saya." Mely tersenyum pada Ana.
"Terimakasih."
Tanpa menunggu lama Ana langsung mengerjakan apa yang sekarang ini menjadi tugasnya di balik kubikal kecil itu.
"Selamat pagi, pak."
Mendengar Mely mengucapkan selamat pagi, Ana tau kalau yang disapa Mely adalah Eza. Ana mencoba tetap fokus, ia lebih baik ia berpura-pura tidak tau jika saat ini Eza sudah ada di ruangannya.
"Hm, dua tahun beliau hampir vakum dari dunia kerja."
Ana tetap fokus dengan pekerjaannya, ia menghiraukan ucapan Mely barusan. Mely memang salah satu karyawan yang cukup sering mengajak Ana mengobrol. Bahkan di antara yang lainnya, Mely cukup bersikap ramah pada Ana.
"Sekarang dia malah kena gosip." Lanjut Mely.
Tangan Ana berhenti bekerja, ia kemudian memutar kursinya menatap ke arah Mely.
"Kenapa? Bagaimana bisa? Itu bukan yang mau kamu dengar dariku?"
Mely terdiam, ia kemudian duduk kembali ke kursinya.
Ana memang tidak suka memiliki teman, ini adalah salah satu alasannya. Teman justru kadang lebih busuk dari lawan. Baik di depan, tapi menusuk di belakang. Ana sadar betul, ke mana arah obrolan Mely saat ini. Bohong jika Mely tidak tau apa yang sedang terjadi di kantor ini.
"Pagi, Mel, Pak Eza ada di ruangan?"
"Pagi, Bu, iya, bapak di tempat, silahkan masuk." Mely mempersilahkan Rissa masuk ke ruangan Eza.
Sebelum Rissa masuk, Rissa kembali melirik ke arah Ana, namun sepertinya Ana sama sekali tidak tertarik dengan keberadaan Rissa, Ana sibuk dengan pekerjaannya.
"Kamu berharap akan ada keributan?" Tanya Ana pada Mely begitu Rissa masuk ke ruangan Eza.
"Apa maksud kamu?"
Ana tidak menjawabnya, ia paham betul bahwa orang seperti Mely tidak akan pernah menunjukkan rasa sukanya secara langsung, karena ia ingin penilaian dari orang lain lebih menguntungkannya dengan sikapnya sekarang ini.
* * *
Semua pekerjaan Ana sudah selesai sebelum jam istirahat berbunyi. Kali ini Ana lebih memilih untuk pergi ke pantry, ia mengambil beberapa camilan dan membuat kopi instan. Ia berjalan menuju tangga darurat, berdiri di depan sebuah kaca besar. Dari sana Ana bisa menikmati jalanan kota yang masih tampak begitu ramai.
Ana tidak akan ambil pusing tentang apa yang terjadi di kantor saat ini. Semua rumor yang beredar, semua karyawan yang bergosip tentangnya, Ana tidak akan menggubrisnya. Toh, Ana tidak pernah meminta itu semua dari Eza.
Drrttt ... drrttt ... drrrtt...
Ponsel di saku Ana berdering, ia segera mengambilnya. Satu nomor baru tertera di sana, Ana ragu untuk mengangkatnya. Sampai akhirnya panggilan itu mati sendiri.
Drrttt ... drrrttt... drrrtt...
Ponsel Ana kembali berdering, kali ini mengangkat panggilan itu.
"Halo ..."
Di mana kamu?
Suara Eza terdengar di sebrang telfon, Ana mengernyitkan dahinya, dari mana Eza tau nomor telfonnya. Ah, tapi tidak akan susah bagi seorang atasan untuk mendapatkan nomor karyawannya, bukan. Pikir Ana.
"Istirahat."
"Ini belum jam istrihat, segera ke ruangan saya."
Selesai berbicara, sambungan di telfon terputus. Ana segera meneguk kopinya, ia melemparkan cangkir kertas itu ke dalam tong sampah. Ia segera menuju ruangan Eza.
* * *
Tok! Tok! Tok!
Ana berdiri di depan ruangan Eza, tak peduli dengan tatapan Mely yang sedari tadi tertuju padanya.
"Masuk," terdengar suara Eza dari dalam.
Ana segera membuka pintu dan masuk ke dalam. "Bapak panggil saya?" Ana berdiri di depan meja Eza.
"Saya minta kamu mengerjakan semua file yang harus kamu pilah, kenapa kamu malah berikan pada Mely?"
"Maksud bapak yang mana?"
Eza menunjuk ke arah tumpukkan file yang sudah ada di mejanya sekarang ini.
Ana heran, saat ia pergi meninggalkan meja kerjanya tadi, semua file yang ia kerjakan dan laporan bon perusahaan masih di atas mejanya. Tapi, sekarang semua pekerjaan itu sudah ada di meja Eza.
"Siapa yang membawanya ke hadapan bapak?"
"Mely."
Kurang ajar, pikir Ana.
"Maaf," Ana tidak akan mengeyel atau bersikukuh kalau itu semua adalah hasil dari pekerjaanya. Ana tau ia hanya akan membuang tenaga sia-sia.
"Ambil tas kamu, hari ini saya mau pergi ke proyek baru. Kamu akan temani saya."
"Tapi, pak, itu kan tugas Mely."
Eza menutup laporan yang sedang ia pelajari, kemudian dia beranjak dari kursinya, mengambil jas miliknya dan segera mengenakannya. "Bukannya Mely sudah mengerjakan tugas yang ini? Jadi, sebagai gantinya kamu jadi asisten saya."
* * *
Kali ini Eza tidak menyuruh sopirnya, ia mengemudikan mobilnya sendiri. Ana duduk di samping Eza. Ia membawa buku yang biasanya dibawa oleh Mely. Sebelum pergi tadi, Eza meminta buku itu pada Mely.
"Bagaimana ayah kamu, sudah bertemu?"
"Belum."
Ana sebenarnya tidak ingin membahas soal Hendra, apalagi di saat jam kerja begini.
"Kamu tetap tidak ingin melaporkan dia ke penjara?"
"Kalau hanya bapak sebagai saksi, saya rasa itu tidak akan cukup kuat. Tidak ada bukti yang akurat."
"Apa kamu akan percaya kalau saya bilang bahwa saya menemukan pisau itu?"
"Apa maksud bapak?" Ana tidak akan mempercayai ucapan Eza, tidak mungkin jika Eza menyimpan pisau itu.
"Apa yang membuat kamu tidak mau melaporkan orang itu?"
"Dan apa maksud bapak mau mencampuri semua urusan saya? Bapak pikir setelah saya tinggal di apartemen milik bapak, bapak bebas mengatur kehidupan saya?"
Eza dan Ana hanya saling melempar pertanyaan, Ana tidak akan pernah sekalipun mau melaporkan Hendra ke polisi. Sejahat apapun Hendra, Hendra adalah orang yang pernah mau menolong Ana saat ia terbuang. Dan juga, Hendra adalah ayah kandung Maria, ia tidak ingin jika Maria harus kehilangan ayahnya.
"Iya, saya akan mengatur hidup kamu, saya akan selalu menolong kamu saat kamu kesusahan."
"Apa maksud Bapak?!"
Bukannya menjawab pertanyaan Ana, Eza lebih memilih diam dan terus berkonsentrasi mengendarai mobilnya.
"Pastinya bapak sudah mendengar apa yang sedang terjadi di kantor, setiap orang di sana membicarakan saya. Bahkan saudari kembar bapak sendiri. Apa sebenarnya untungnya bapak melakukan ini semua terhadap saya?"
"Seperti yang sudah saya bilang, tidak ada."
"Lalu kenapa bapak lakukan ini semua?"
Pertemuan pertama kali Eza dengan Ana adalah saat Ana mengumpat sebuah makam di mana kekasih Eza dimakamkan. Kontras sekali dengan apa yang dilakukan oleh Eza di sana.
Eza memohon, berharap agar kekasihnya itu bangkit kembali. Agar ia bisa menebus segala kesalahannya dulu. Tapi, Ana justru terus mengumpat.
* * *
Eza dan Ana pergi saat jam makan siang, mereka belum sempat untuk menikmati makan siang. Sebelum sampai di proyek, Eza membawa Ana menuju sebuah restoran yang cukup mahal.
Sampailah mereka berdua di depan sebuah restoran yang cukup mahal. Dari luar restoran itu tampak begitu penuh. Beberapa orang yang duduk di dekat jendela besar yang menghadap ke arah luar, sibuk makan sembari berbincang. Bisa dilihat, dari pakaian mereka saja, Ana bisa menilai jika restoran itu memiliki predikat yang bagus.
Sejenak Ana menatap bajunya yang tampak lusuh, sedang Eza begitu rapih dengan setelan jasnya berwarna hitam itu.
"Kamu mau di sini? Gak turun?"
"Bapak mau mempermalukan saya kali ini?"
Eza tersenyum, "apa untungnya saya mempermalukan kamu?"
Ana mengacuhkan jawaban Eza, ia segera melepas seatbeltnya, membawa beberapa catatan yang ia bawa dari kantor tadi.
"Letakan saja, kita cuma mau makan."
Menjadi orang kaya memang enak, apa saja bisa dilakukan. Apa saja bisa dibeli.
Ana keluar dari mobil, melangkah masuk menuju restoran. Ia mengekor di belakang Eza. Merasakan sebuah kenikmatan akan orang kaya. Dibukakan pintu, diberi senyuman, dipersilahkan, beda cerutanya jika Ana masuk sendirian. Dengan pakaian lusuhnya yang sederhana, Ana yakin tidak akan ada satupun pegawai yang akan memperlakukannya seperti sekarang ini.
Mereka berdua berjalan menuju lantai dua restoran itu, Ana tidak paham jika hanya untuk makan siang kenapa harus pergi ke tempat seperti ini. Bagi Ana, restoran ini adalah tempat mewah. Tidak mungkin jika harga makanan di restoran ini hanya berkisar di angka puluhan ribu.
Setelah sampai di lantai 2, Ana dan Eza dipersilahkan duduk. Eza sudah memesan tempat sepertinya, sebuah meja di samping jendele basar. Dari sana mereka bisa melihat jalanan, mobil berlalu lalang.
"Silahkan," seorang pelayan memberikan sebuah buku menu pada Eza dan Ana.
"Kamu mau apa?"
Ana sama sekali tidak membuka buku menu itu, ia tak ingin repot-repot memesan makanan. Lidahnya tidak akan cocok untuk mencecap makanan di restoran mewah ini.
"Kalau begitu sama kan saja, ini, ini, dan ini," Eza menunjuk beberapa menu di buku itu.
"Baik, pak." Pelayan itu kemudian pergi.
"Kenapa kamu tidak pesan makanan?"
"Saya masih punya banyak hutang pada bapak, kalau saya tambahkan ini, pasti akan menumpuk."
Ana melipat kedua tangannya di depan d**a. Ia menghormati Eza sebagai atasannya, tapi bukan berarti ia tidak berani mengatakan pendapatnya.
"Ini salah satu bagian dari pekerjaan, kenapa kamu harus takut?"
"Tetap saja, anda manusia yang penuh taktik."
Mendengar jawaban Ana, Eza hanya tersenyum.
Pandangan Ana tertuju pada deretan gedung di sebrang restoran itu. Sekalipun Ana tak pernah bermimpi bisa duduk di sebuah restoran mewah dengan pelayanan yang bagus. Hidup hanya dengan makan nasi sejali tiga hari saja sudah membuat Ana sangat bersyukur.
Ana teringat akan Maria, semenjak tinggal di apartemen kesehatan Maria cukup membaik. Apalagi saat Eza membawa Maria untuk menemui seorang dokter. Awalnya Ana menolak, namun demi kesembuhan Maria, Ana mengesampingkan harga dirinya.
"Dokter Reno menghubungi saya, dia bilang hasil tes milik Maria sudah keluar."
Eza kembali membuka pembicaraan.
"Lalu bagaimana?"
"Kalau memang harus dilakukan operasi, dokter menyarankan untuk segera dilakukan."
Ana menghela nafas dalam-dalam. Jika jalan satu-satunya untuk operasi, maka yang harus mendonorkan sumsum tulang belakangnya adalah Hendra. Secara Hendra adalah ayah kandung Maria. Sudah pasti seratus persen kecocokannya.
"Dokter bilang, operasi pendonoran sumsum tulang belakang adalah salah satu metode pengobatan yang cukup ampuh dan tanpa efek samping. Tapi, untuk mendapatkan pendonor yang cocok itu terkadang susah." Lanjut Eza.
Mencari Hendra sama saja dengan bunuh diri. Tidak mungkin jika Hendra akan memberikannya secara cuma-cuma, apalagi itu untuk Maria.
"Kenapa bapak mau menolong Maria? Rasanya bapak tau, hidup saya sudah sangat rumit. Bahkan, sangat berbahaya."
Ana mencoba mengalihkan pembicaraan, Ana hanya ingin tau, ada apa sebenarnya di balik semua ini. Kenapa tiba-tiba saja Eza, orang yang baru saja ia kenal rela melakukan hal ini padanya.
"Tiga tahun yang lalu, saya kehilangan seseorang yang sangat saya cintai karena penyakit ganas.
Perlahan Eza mulai bercerita.
"Dia terkena tumor. Saat itu saya terlambat menolong dia. Justru saya malah menabur garam di atas lukanya. Saya sangat menyesal karena melakukan itu semua. Dan saat saya melihat Maria, entah mengapa saya ingin mencoba menyelamatkan Maria. Saya ingin menebus itu semua, ya, meski saya tidak mengenal kalian."
Apa mungkin ucapan Eza bisa Ana percaya, biaya yang tidak sedikit harus Eza keluarkan jika memang dia benar-benar ingin menolong Maria. Ya, meskipun Ana percaya Eza memiliki banyak uang, tapi tetap saja, Ana tidak akan pernah mau untuk membayar hutangnya dalam seumur hidup.
"Saya tidak yakin tentang operasi," jawab Ana.
"Kenapa?"
Keraguan meliputi hati Ana, "biaya yang cukup mahal." Kebohonganlah yang akhirnya muncul dari mulut Ana.
"Itu sudah saya pikirkan, kamu cukup siapkan dokumen data pribadi kamu dan Maria. Saya akan uruskan asuransi untuk kalian berdua."
Dokumen apa?
Selama hidup Ana tak pernah menyimpan selembar dokumen pun tentangnya. Identitas diri atau surat kelahiran pun Ana tak pernah memilikinya. Alamat tetap saja, Ana tidak pernah menuliskannya itu semua karena hidupnya yang selalu berpindah-pindah dari dulu.
"Bapak tidak usah repot-repot. Lagi pula belum tentu pihak rumahsakit bisa menemukan donor yang cocok untuk Maria."
"Kenapa kamu pesimis?"
"Saya tidak mau memberikan harapan palsu pada Maria. Dari dulu saya selalu memberikan penderitaan bagi Maria, andai bisa ditukar, lebih baik saya yang sakit."
Eza teringat saat Maria bercerita tentang Ana di rumahsakit. Bagaimana Ana hidup selama ini. Ana mengorbankan hidupnya untuk Maria. Bahkan Maria rela menggantikan posisi Ana yang terkapar tak sadarkan diri di rumahsakit jika memang bisa.
"Kalian berdua ternyata sama saja." Ujar Eza.
"Apa maksud Bapak?"
"Kalian berdua sangat beruntung. Saling mengandalkan satu sama lain."
Andaikan Eza dulu tidak pernah berkhianat dari kekasihnya. Bertahan dengan apapun yang terjadi, pastinya saat ini kekasihnya masih ada di sisinya. Sayangnya Ego Eza begitu tinggi, hargadirinya yang tak pernah mau terpatahkan, membuatnya harus bersikap tidak adil pada kekasihnya.
Justru penyesalan yang tidak berujung terus merutukinya. Sekuat tenaga ia mencoba melawan, bahkan hampir gila membuatnya gila. Di saat itu hidupnya hancur, di saat itu ia merasa bahwa hidup tak adil untuknya, padahal ketidakadilan itu ia ciptakan sendiri. Bahkan dengan ia kehilangan nyawanya sendiri, ia tak akan bisa membangkitkan kekasihnya untuk hidup kembali.
"Jangan menyesal seperti saya, saat kita kehilangan orang yang kita cintai, tak akan pernah ada waktu yang bisa kita putar kembali untuk mengembalikan orang itu."
Eza belajar dari pengalamannya, kehilangan tanpa sebuah perjuangan itu jauh lebih menyakitkan. Karena rasa sakit yang diliputi oleh sebuah penyesalan tak ada bandingannya dengan kehilangan yang diikuti oleh perjuangan.
"Saat kita sudah berjuang, tapi hasilnya tetap sama, maka kita tidak akan pernah menyalahkan diri sendiri dan keadaan. Tapi kita belajar untuk percaya akan sebuah takdir. Takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan." Lanjut Eza.
"Saya memang takut kehilangan Maria, tapi jika saya harus meminta tolong b******n itu untuk mndonorkan sumsum tulang belakangnya, itu sama saja saya membunuh adik saya sendiri." Dengan emosi yang ditahan, Ana mencoba menjelaskan.
"Bukankah kamu bisa melakukan tes terlebih dahulu? Saudara lebih banyak persentase kecocokannya. Dibanding anak dan orangtua."
"Maria bukan adik kandung saya,"
Eza terkejut mendengar jawaban Ana, jika Maria bukan adik kandungnya, kenapa Ana harus mau menolong Maria sampai harus melibatkan nyawanya.
"Kenapa, bapak heran? Sama, sama herannya dengan kegigihan Bapak saat ini yang ingin mneolong saya dan Maria!"