38

1384 Words
"Terimakasih ..." Rissa memeluk Edrick begitu mereka berdua sampai di rumahnya. "Buat apa sayang?" "Karena kamu sudah membela aku di depan papah." "Bukannya itu kewajiban suami?" "Hmm ..." Rissa mengangguk, ia masih tetap memeluk Edrick. Seperti ini rasanya dicintai. Andai dia dulu tetap memilih Irgi, belum tentu ia akan diperlakukan seperti ini. Laki-laki itu tidak harus selalu diperjuangkan. Karena pada akhirnya, laki-laki tau siapa wanita yang harus ia perjuangkan dengan sungguh-sungguh dan ia lepaskan begitu saja. Sekuat tenaga seorang wanita memperjuangkan lelakinya, kalau memang laki-laki itu mau pergi, tanpa pikir panjang lagi laki-laki itu akan pergi. "Eza sudah terlalu dewasa untuk bisa kamu atau papah kamu atur. Dia pastinya sudah tau baik dan buruknya dalam setiap hal yang ia putuskan. Kalau kamu harus selalu membereskan masalah yang ditimbulkan oleh Eza, kapan kamu akan menikmati hidup kamu sendiri, Sa?" "Tetap saja aku tidak tega, bagaimanapun dia kakakku, Drick." "Iya, aku paham. Tapi, dari dulu Eza tidak pernah belajar yang namanya tanggungjawab. Dia membuat ulah, lalu orang lain membereskannya begitu saja. Dari mulai masalah Alya, Frea, perusahaan yang bangkrut dan sekarang gadis itu." "Aku lebih suka dia mengurung diri di kamar, daripada dia sehat tapi selalu saja membuat masalah." "Makanya, kamu harus tegas. Biarkan saja Eza melakukan semua yang dia inginkan. Kalau memang ada masalah buarkan dia menyelesaikannya sendiri, Sa." "Apa aku harus begitu, ya Drick mulai sekarang?" Edrick menuntun Rissa untuk duduk di sofa, biasanya saat pulang malam Aroon sudah tidur. Aroon adalah anak dari kakak Edrick yang diangkat oleh Edrick sebagai anaknya. Aroon sudah tinggal berasama Rissa dan Edrick sejak awal mereka berdua menikah. "Iya sayang, sekarang keadaannya sudah berubah. Kamu sudah jadi seorang istri, seorang ibu, kamu harus bertanggung jawab sama keluarga kamu, prioritas kamu adalah keluarga kamu." Rissa menatap Edrick dengan tatapan yang seolah menyiratkan perasaan penuh kasih sayang. Rasanya Rissa tidak salah pilih, memilih orang yang lebih mencintai Rissa dibanding Rissa cintai. "Aku berharap Eza bisa bahagia, bertemu dengan wanita yang tepat, tanpa masalah apapun." Rissa bergumam di antara pelukannya pada Edrick. "Siapa yang tau cinta akan jatuh di mana, Sa. Ana juga, kalau kita sebagai manusia, harusnya juga mendoakan yang baik untuk Ana. Hak hidup seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan." "Drick ..." "Aku gak bela gadis itu, aku juga gak mau bela Eza. Aku berdiri sebagai manusia dengan hati yang bisa menerima cinta dan memberi cinta. Kalau memang Eza mau memilih Ana untuk jadi pendamping hidupnya, kita harus bisa menerima keputusan Eza itu." Rissa tau bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, semua orang pasti punya kekurangan dan pernah melakukan kesalahan. Pun dengan diri Rissa sendiri, namun tetap saja Rissa tidak bisa menerima Itu semua. Seolah Rissa tidak berkaca pada apa yang terjadi di masa lalu antara dirinya dan Alya. "Kamu sebagai saudara seharusnya jadi pendukung di garda terdepan. Jangan sampai kehilangan yang menyadarkan kamu, Sa." Edrick pernah kehilangan saudara kandungnya sendiri hanya karena sebuah hubungan yang tidak direstui. Kakak laki-laki Edrick mati bunuh diri dan meninggalkan trauma yang begitu mendalam di kehidupan mamanya. "Lo bener, Drick. Harusnya gue dukung Eza di saat Eza mau untuk bangkit dan membuka hatinya kembali." * * * Mama Eza membuka pintu kamar Eza, Eza yang sedang menghubungi Irgi segera mematikan ponsel miliknya. Ia baru saja dihubungi oleh Irgi perihal keadaan Ana setelah pihak kepolosian datang. Eza benar-benar ingin segera menemui Ana, ia harus segera menjelaskan kenapa ia harus membuat rencana seperti ini. Seolah membuat Hendra terpojok padahal Hendra saja sudah mati. Eza tak ingin Ana salah paham dan lagi Eza harus memberitahu alasan kenapa dia tidak datang saat Ana dirawat di rumahsakit. "Mah, ada apa?" "Papah mau bicara sama kamu, bisa kamu turun sebentar?" "Baik, Mah." Eza tau waktunya akan datang, ini adalah kesempatan Eza untuk mengatakan semuanya termasuk meminta izin pada kedua orangtuanya untuk bisa membawa Ana tinggal di rumah ini. Eza keluar dari kamarnya, ia mengikuti mamahnya yang berjalan terlebih dulu di depannya. Eza yakin mamahnya akan membelanya, sama saat seperti dulu, saat dirinya bersama Alya. Papah Eza sudah duduk di ruang tengah. Bukan kali pertama Eza harus menghadapi kemurkaan Papahnya, bahkan jauh sebelum ini ia juga harus menghadapi hal yang lebih besar. Plak! Satu tamparan mendarat di pipi Eza begitu Eza duduk di sofa, di samping Papahnya. "Pah! sabar, Pah." Mamah Eza mencoba menahan suaminya itu agar tidak kembali memukuli Eza. "Apa sebenarnya yang sedang kamu lakukan? mau sampai kapan kamu akan terus seperti ini? melibatkan hidup kamu dalam masalah orang lain." Emosi yang lama terpendam seoalah memuncak begitu saja. "Maafkan Eza, Pah ..." Eza hanya bisa menunduk. "Apa kamu belum puas dengan apa yang kamu lakukan dulu? Kamu meminta untuk dipisahkan dari Alya karena menurut kamu Alya sudah membunuh Raihan. Lalu tiba-tiba saja kamu memutuskan untuk pergi ke Jerman bersama wanita yang jelas-jelas hanya kamu jadikan sebagai pelampiasan, namun kamu janjikan untuk menikahinya. Setelah itu, apa? Karena ulah kamu, orangtua Alya menghentikan semua investasi mereka pada perusahaan kita. Bahkan perusahaan kita hampir bangkrut dan Wanita yang tidak jelas asal-usulnya itu mau menghancurkan perusahaan kita, Di mana kamu saat itu?" Mamah Eza mulai menimpali perkataan Papah Eza. Eza masih terdiam tidak menjawab semua perkataan Mamahnya yang memang 100 persen benar adanya. "Apa yang sebenarnya kamu mau? Apakah Papah dan Mamah harus mati dulu baru kamu puas dan berhenti membuat malu keluarga ini?!" Isak tangis Mamah Eza mulai terdengar, sedari tadi Mamah Eza sudha mencoba menahan amarahnya bahkan sejak ia harus menjemput Eza di kamarnya, namun itu semua kini meluap begitu saja. "Mah, Eza gak bermaksud seperti itu. Untuk kali ini saja beri Eza kesempatan. Eza mau menebus semua dosa-dosa Eza pada Alya." "Apa? Bagaimana kamu akan melakukannya? kamu sadar kamu sedang dalam masalah apa, Za? pembunuhan! Kamu akan berurusan dengan hukum." Eza sadar dan Eza tau, maka dari itu Eza sudah membereskan semuanya. Bahkan ia harus mengeluarkan banyak uang untuk mengurus ini semua. Eza sampai harus memberikan uang dan membuat identitas baru untuk Kacir dan menyuruhnya pergi dari negara ini. Ya, setelah kejadian malam itu, Eza menyembunyikan Kacir di satu tempat. Ia menahan Kacir di sana. Sembari mengulur waktu, Eza menyiapkan Berkas-berkas milik Kacir agar ia bisa pergi ke luar negeri. Dengan begitu Kacir tidak bisa menjadi saksi atas pembunuhan yang dilakukan oleh Ana. "Lo pikir gue mau tandatangan surat ini?" Bahkan dengan tangan terikat, Kacir masih bisa bersikap sombong. "Pilihan ada di tangan kamu, masuk penjara atau pergi dari sini dan melanjutkan hidup kamu." Kacir tertawa mengejek, "Apa yang membuat lo bisa penjarain gue?" "Percobaan pembunuhan, percobaan pemerkosaan, minimal 12 tahun penjara. Silahkan kamu pilih, mau yang mana." Dua buah surat sudah ada di hadapan Kacir, kali ini ia hanya perlu memikirkan diri sendiri. Apalagi Hendra sudah mati, ia tidak bisa bergantung lagi pada Hendra. Ia harus bisa bertahan hidup. Penjara, bukan tempat yang aman. Ia pernah merasakan dinginnya lantai penjara. Belum lagi orang-orang yang ada di sana, jika tidak kuat maka tidak akan bisa bertahan hidup. Tapi, jika Kacir menerima tawaran Eza untuk pergi dari negara ini, bukankah sama saja dengan Kacir menghianati Hendra. "Lima puluh juta, identitas baru dan tiket untuk pergi ke Malaysia. Kamu hanya perlu tanda tangan di bawah sini." Tak ada pilihan lain, Kacir harus menyelamatkan hidupnya. "Ok, gue terima tawaran lo." Eza merasa puas mendengar jawaban dari Kacir,Eza tau Kacir pasti akan memilih uang ketimbamg kesetiaanya pada Hendra. "Besok pagi akan ada sopir antar kamu ke bandara. Jangan macam-macam, kalau kamu nekat, saya pastikan kamu akan bertemu dengan Hendra!" "Apa yang akan kamu lakukan dengan perembuan itu?" "Namanya Ana, Pah. Eza mau menikahi Ana." "Apa kamu bilang?!" Mamah Eza kini berteriak. "Eza mau menikah dengan Ana." "Kamu pikir pernikahan itu main-main? Kamu bisa gonta ganti sepuasnya?!" Hati Eza masih belum lupa dengan cintanya untuk Alya, Alya tetaplah orang yang ia cintai dengan sepenuh hati. Tak ada yang bisa menggantikan Alya di hatinya. Namun, Ana memberi warna berbeda di hidup Eza. Membuat Eza ingin menjadi orang yang selalu bisa Ana andalkan. "Papa dan Mama tidak akan pernah setuju dengan rencana kamu untuk menikahi Ana!" "Pah! Bukankah papah mau Eza sembuh dari depresi? bangkit untuk kembali memimpin perusahaan? Kasih kesempatan Eza buat buktiin itu semua ke papah dan Mamah." "Cukup, apapun alasan kamu, Papah dan Mamah akan tetap pada keputusan kami berdua." "Pah! Papah!" Seolah tak peduli, kedua orangtua Eza segera pergi meninggalkan Eza di ruang tengah. "Ya, Tuhan apa yang harus aku lakukan?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD