Ana duduk berasandar pada kepala ranjang, di sampingnya berdiri seorang laki-laki dengan setelan jasnya yang tampak begitu necis. Kacamata yang bertengger di wajahnya seolah menambah kesan kepintaran pada laki-laki itu.
Dua orang detektif sudah berdiri di hadapan Ana, Ana yang dari awal sudah diberitahu oleh Irgi bahwa akan ada detektif yang akan mengunjunginya, mencoba setenang mungkin untuk menutupi kegugupannya.
"Perkenalkan, saya Karina dan ini rekan saya Beny. Kami turut berduka atas kepergian ayah anda, Tuan Hendra." Salah satu detektif perempuan itu memperkenalkan diri dan sedikit berbasa-basi pada Ana.
"Ana ... Terimakasih." Ana menyambut uluran tangan kedua orang itu secara bergantian.
"Kalau tidak keberatan, bisakah saya bertanya sedikit tentang kejadian malam itu?"
Ana menoleh pada pengacara yang sudah Eza siapkan untuknya.
"Silahkan ceritakan apa yang anda ingat." Pengacara itu mempersilahkan pada Ana.
Ana sudah didikte terlebih dahulu oleh pengacara yang sudah disewa oleh Eza itu. Awalnya Ana menolak, namun ia kembali mengingat bagaimana kondisi Maria. Jika ia harus dipenjara maka siapa yang akan mengurus Maria. Dan lagi Ana harus memikirkan nama baik serta
Toh, apa yang dilakukan oleh Ana adalah sebuah pembelaan, Hendra pun menyerangnya dengan menggunakan pisau.
"Malam itu, saya datang untuk menyelamatkan adik saya yang dibawa pergi oleh Ayah angkat saya, Hendra. Padahal saat itu adik saya sedang dalam masa perawatan. Saya diminta untuk datang ke sana dengan membawa sejumlah uang, namun karena saya tidak punya uang sepeser pun saya memberanikan diri untuk datang."
"Apa anda sudah membawa sennjata ke sana?"
Ana kembali menoleh pada pengacaranya itu, kemudian pengacara itu mengangguk. "Tidak, karena saya terlalu panik setelah tau adik saya menghilang dari ruang rawat inapnya."
"Lalu?"
"Ternyata di sana bukan hanya ada Ayah angkat saya saja, tapi juga anak buahnya, namanya Kacir."
"Apa anda juga mengenal saudara Kacir?"
"Tidak, saya hanya tau kalau namanya adalah Kacir karena Ayah saya sering menyuruh dia untuk datang meminta uang pada saya."
"Meminta uang?"
"Ya, saya diperas oleh ayah angkat saya sendiri. Bahkan jika saya tidak memberikan uang, dia akan memukul saya."
"Memukul?"
"Iya, yang lebih parahnya, saya juga pernah ditusuk oleh ayah saya." Ana menyingkap baju pasein yang ia kenakan.
Masih jelas terlihat di sana bekas jahitan akibat luka tusuk yang dilakukan oleh Hendra padanya.
"Tanggal berapa kejadian itu terjadi?"
"20 November 2018, pukul 22.30, malam itu saya hendak pergi ke apotik, namun dia sudah menghadang saya di pertigaan jalan. Kami sempat adu mulut karena malam itu adik saya benar-benar membutuhkan obat itu, namun Ayah saya tetap menghalangi saya untuk pulang. Sampai akhirnya ia menusuk saya."
"Ada saksi? atau mungkin cctv di tempat kejadian?"
"Ada, petugas apotik dan Pisau yang dia gunakan masih saya simpan."
Ana kembali menoleh pada Pengacaranya, Hendra memang begitu kejam pada Ana, Ana sama sekali tidak mengarang crrita.
"Kenapa anda tidak melaporkannya pada polisi? Bahkan anda menyimpan barang buktinya."
Ana menunduk, memainkan tangannya. "Siapa yang akan peduli dengan laporan saya? saya hanya gelandangan, jangankan untuk mengurusi kasus yang seperti ini, untuk makan saja susah."
"Lalu bagaimana dengan kejadian malam itu?"
"Dia meminta sejumlah uang pada saya, dia sudah menyandera adik saya, pisau sudah dia kalungkan di leher adik saya."
"Anda memaksa atau bagaimana?"
"Kacir memegangi saya, ayah saya mengijinkan Kacir untuk menyetubuhi saya sebagai hadiah karena sudah berhasil membawa adik saya pergi dari rumahsakit. Saya melawan, saya memukul Kacir sampai Kacir pingsan tak sadarkan diri. Setelah itu Ayah saya menghampiri saya, dengan kesal dia mulai menyiksa saya, menjambak rambut saya. Saat itu saya mencoba merebut pisau dari tangannya. Namun sayangnya saya kalah tenaga. Saya terkena sabetan pisau itu terlebuh dahulu.
Ana memperlihatkan bagian lengan kiri atasnya yang masih dibungkus oleh perban.
"Lalu?"
"Dia mendorong saya hingga ambruk, menindih saya dengan tubuhnya, lalu menusukkan pisau itu di perut saya."
Ana kini menyingkap bajunya, memperlihatkan luka miliknya itu.
"Apakah anda masih bisa bangun?"
"Sekuat tenaga saya mencoba untuk tidak mati, karena saya tau jika saya mati manusia biadab itu pasti akan menjual adik saya pada mucikari di mana dia harus membayar semua hutang-hutangnya.Saya tidak mau itu terjadi."
Air mata Ana sudah mengalir deras mengingat semua luka hatinya. Ia benar-benar bersyukur ayahnya mati.
"Saya mengambil pisau itu dan kembali berdiri. Berkali-kali saya menusuk manusia biadab itu sampai dia tergeletak di lantai setelah itu saya berlari menyelamatkan adik saya. Dan setelah itu saya tidak ingat apapun. Saya sudah sampai di sini."
"Boleh saya mengecek ponsel anda?"
Ana menatap ponselnya yang masih tergeletak di atas meja.
"Silahkan."
Para detektif itu mulai mengotak-atik ponsel milik Ana.
"Nanti saat para detektif itu meminta ponsel anda, anda berikan saja. Pak Eza sudah menukar ponsel milik anda dengan yang baru."
Ana masih ingat ada beberapa panggilan masuk dari Eza dan Irgi, kalau Eza tidak menukar ponsel itu, Eza dan Irgi pasti juga akan dilibatkan dalam masalah ini. Ana tidak mau jika karir Irgi hancur, apalagi Eza. Ana tak mau menghancurkan kehidupan Eza hanya karrna Eza menolongnya. Ana harus membalas budi semua yang sudah mereka lakukan untuk dirinya dan Maria.
'Maria, tolong sabar. sebentar lagi kita akan bahagia. Kamu sembuh dan kakak akan segera mencari uang untuk kita agar bisa hidup dengan layak.'
* * *
Irgi berjalan perlahan di depan ruang rawat inap Ana, dari ekor matanya Ana tampak begitu tenang dan lancar menjawab semua pertanyaan dari pihak kepolisian itu.
Irgi awalnya meragukan semua rencana Eza, namun setelah mendengar bagaimana Ana bertahan hidup selama ini dari kekerasan Ayah angkatnya, membuat Irgi percaya pada Ana bahwa ia bisa untuk melakukan ini semua. Ana juga pasti ingin yang terbaik untuk Maria, dia tidak mungkin membunuh Hendra jika memang ia masih bisa menahan semua amarahnya. Semua dendamnya.
Apalagi saat mendengar Ana dan Maria akan dijual di tempat prostitusi, Irgi semakin tidak percaya bagaimana bisa perempuan di usia Ana dan Maria bisa bertahan dengan semua kekejaman dunia.
Bagi sebagian orang hidup tak adil jika setiap keinginan dalam hidupnya tidak terpenuhi, tapi sebagian orang itu mungkin lupa dengan sebagian orang lagi yang bahkan tidak bisa memikirkan apa keinginannya. Menatap dunia saja mereka sudah berpikir bahwa dunia mencurangi mereka.
Terhimpit ekonomi harus membuat sebagian orang itu terlupakan, tak dianggap bahkan tak dimanusiakan oleh sebagian lainnya. Pada akhirnya mereka tidak hanya harus bergelut dengan pencarian uang, tapi pencarian sebuah pengakuan dalam hidup. Pengakuan dari orang lain yang membuat mereka seolah dianggap kuat lalu berkuasa dan mulai menindas yang ada di bawah mereka.
Ana adalah salah satu dari sebagian orang itu. Sebagian orang yang tidak pernah memikirkan keinginan mereka. Cita-cita, apa itu cita-cita? Cerita cinta, apalagi itu?
Ana harus hidup dalam sebuah kekhawatiran. Bertanggungjawab untuk adiknya, Maria. Membayar hutang budi yang harus ia lunasi hanya karena ia adalah seorang anak angkat.
Di saat wanita seusianya sedang sibuk memikirkan pendidikan, memikirkan jenjang karir yang ingin dikejar. Sibuk memilih pasangan, menikmati kencan dan bepergian bersama teman.
Ana justru sibuk dengan kehidupannya yang penuh dengan beban dan seolah tak memiliki ujung.
Bukankah melenyapkan Ayah angkatnya adalah salah satu jalan agar Ana bisa terbebas dari semua kutukan dunia. Terbebas dari beban terberatnya, yaitu Ayah angkatnya.
* * *
"Bagaimana keadaan kamu?"
Setelah selesai pemeriksaan keliling pasien rawat inap di rumahsakit, Irgi kembali ke ruangan Ana. Ia harus mendapatkan kabar untuk ia sampaikan pada Eza di telfon nanti.
"Lumayan ..." Ana mencoba mengubah posisinya untuk duduk, namun tampak kesusahan membuat Irgi mencoba untuk membantu Ana.
"Apa kamu merasa tertekan karena kedatangan polisi tadi?"
"Awalnya iya, saya kira pengacara tadi tidak akan membantu saya, ternyata dia sangat baik. Memberikan saya instruksi dengan mudah sehingga saya bisa menjawab semua pertanyaan dari pihak kepolisian dengan lancar."
"Syukurlah ..."
"Apa saya akan ditahan?"
Irgi tampak terkejut dengan pertanyaan Ana. "Kenapa?"
"Karena saya sudah membunuh ayah saya?"
"Ana ..."
"Dokter tau betul kalau saya melakukan itu semua, tapi apa yang dikatakan oleh pengacara seolah memojokkan ayah saya. Saya tau, ayah saya sangat jahat, tapi apakah dengan apa yang dilakukan dia selama ini dia harus mati dengan keadaan seperti ini?"
Bagaimanapun Maria adalah perempuan yang pastinya punya sisi melow.
"Kenapa kamu tidak anggap saja kalau apa yang kamu lakukan adalah sebuah bentuk pembelaan karena posisinya pun kamu terkena tikaman pisau milik ayah kamu itu?"
'Ya, benar. Sebuah pembelaan sama seperti dengan apa yang dikatakan oleh pengacara itu.'
Irgi harus segera melaporkan kejadian ini pada Eza agar Eza segera menemui Ana di rumahsakit.