36

1468 Words
"Clarissa, buka pintunya! Clarissa, cepat buka pintunya." Eza terus berteriak dari dalam kamarnya. Sekuat tenaga ia mencoba membuka pintu kamar. Rissa menggenggam erat kunci pintu kamar Eza. Setelah laporan dari pengaca keluarganya, bahwa Eza menyuruh pengacara tersebut untuk membantu Ana, Papa Eza segera menyuruh Rissa untuk mengurung Eza. Papah Eza juga menyuruh Rissa untuk mengambil semua fasilitas yang dinikmati oleh Eza. Sebisa mungkin Eza harus dijauhkan dari Ana dan semua pemberitaan tentang penemuan mayat di gedung terbengkalai itu. "Mau sampai kapan kamu kurung Eza begini, sayang?" Edrick suami Rissa bertanya. Edrick sebenarnya tidak setuju atas pengurungan Eza. Apalagi di saat polisi sedang melakukan penyelidikan atas kasus ini. Seorang laki-laki tanpa identitas ditemukan tewas di sebuah gudang tua dengan duapuluh tiga luka tusuk di sekujur tubuhnya. Pemberitaan itu tersebar di seluruh negeri, meski belum ada inisial yang disebutkan, namun tetap saja Rissa harus menyelamatkan nama baik keluarga dan perusahaan. Rissa tak mau kalau Eza menghancurkan semuanya begitu saja, kembali seperti dulu. "Sampai kasus ini selesai." "Tapi, menurutku ini salah, Sa. Ini justru akan membuat Eza makin dicurigai apalagi jika Ana sudah sadarkan diri." Edrick tidak mau jika istrinya ikut masuk dalam masalah hukum ini hanya karena Rissa ingin melindungi semuanya. Edrock sangat paham bagaimana susah payahnya Rissa untuk mengembalikan citra perusahaannya setelah hampir bangkrut dulu. Edrick yang secara tidak langsung menemani Rissa juga tak rela jika hasil jerih payah istrinya akan berakhir sekejap mata hanya karena ulah saudara kembarnya. Di sisi lain Rissa merasa takut, Rissa tidak mau kalau sampai Eza terseret lebih jauh dalam masalah ini. Yang Rissa khawatirkan adalah Eza, bagaimana jika Eza harus ikut dipenjara dan Rissa tak yakin apa yang akan terjadi pada papahnya nanti. "Aku harus bertemu gadis itu, aku harus memastikan kalau saat polisi bertanya tentang kasus ini, ia tidak meyebut Eza satu kalipun!" "Sayang," Edrick mencoba menahan Rissa. "Lepas, Drick. Aku harus selesaikan ini semua." Rissa tak bisa menyembunyikan air matanya, Rissa benar-benar kalut. "Tolong jangan lakukan ini, kamu harus pikirkan aku, Aron, tolong jangan korbankan diri kamu sendiri hanya agar Eza bisa cuci tangan dari semunya." Edrick menarik Rissa ke dalam pelukannya, saat itu juga air mata Rissa mengalir deras. Edrick hanya bisa menciumi kepala Rissa sembari mengelus punggung Rissa. * * * Bukan hanya Hendra yang mati karena luka tusukkan, Ana harus mengalami masa kritis setelah pisau yang ditancapkan pada perut Ana berkali-kali. Ana tidak sadarkan diri sejak penemuan mayat di gedung terbengkalai itu. Ana seolah keluar dari dunia yang begitu. Jemari Ana sedikit bergerak, kelopak matanya perlahan mulai terbuka. Luka tusuk yang dialami Ana, harus membuatnya melakukan operasi, Ana menerima total 15 jahitan di bagian perut dan tangannya. Mata Ana mengerjap, menyesuaikan cahaya dari lampu kamar rawat inap rumahsakit. Setelah pengelihatannya nyaman, ia mulai memeriksa keadaan di sektar. Hal terakhir yang Ana ingat adalah saat Hendra ambruk di hadapannya, akibat tusukkan yang berkali-kali Ana lakukan. "Ana?" Irgi segera menghampiri Ana yang sudah sadarkan diri. "Di mana Maria?" "Sssttt ... tenang," Irgi duduk di samping Ana, sebentar ia menoleh ke arah luar. Sudah dua hari ada dua detektif yang datang berkunjung ke ruangan Ana, karena Ana yang belum sadarkan diri, detektif itu meminta agar Irgi segera mengubungi mereka berdua jika Ana sudah siuman. "Maria di tempat yang aman, sekarang dia ada di rumahsakit. " "Di rumahsakit? Operasi transplantasi sumsum tulang belakang Maria sudah dilakukan?" "Tenang, kamu harus tenang dulu. Yang jelas kondisi Maria baik-baik saja, dia sudah ada di tangan yang tepat. Ada masalah yang lebih penting." "Apa itu?" "Soal kejadian di gudang itu, polisi meminta untuk melakukan penyelidikan." 'Penyelidikan ...' "Tapi Eza sudah menyiapkan pengacara yang handal untuk kamu, jadi sebaiknya kalau kamu sudah siap untuk di wawancara oleh para detektif itu, Eza meminta agar kamu ditemani oleh pengacara itu." 'Bahkan di saat seperti ini pun, Pak Eza masih peduli dengan saya.' "Untuk sementara Eza tidak bisa datang ke sini, ada hal yang harus dia urus." Irgi kembali menjelaskan tentang kondisi Eza meski bukan yang sebenarnya. "Untuk sementara, aku belum bisa datang ke rumahsakit. Papah mengunciku di kamar, dia melarangku untuk keluar sama sekali." "Apa yang harus aku lakukan pada Ana? Polisi dan detektif sudah datang ke rumahsakit." "Aku sudah membereskan semuanya, jangan pernah akui kalau kalian saling mengenal. Atau bahkan mengatakan kalau Ana dan Maria pernah tinggal rumah kamu Gi." "Apa maksud kamu, kamu mau lari dari masalah?" "Bukan, ini agar kalian tidak terseret dalam masalah ini. Aku sudah menyiapkan pengacara juga untuk Ana." "Apa rencana kamu, kenapa kamu harus melibatkan diri kamu sendiri sampai sejauh ini?" "Dan untuk sementara Maria harus tinggal di rumahsakit. Jangan katakan apapun soal sumsum tulang belakang Hendra yang tidak cocok dengan Maria. Kita harus menyelesaikan masalah hukum ini terlebih dahulu." Irgi sudah didiktr oleh Eza, meski awalnya ia hendak menolak, namun melihat kondisi Ana yang tergeletak lemah dan Maria yang belum juga mendapatkan donor sumsum tulang belakang untuknya. Hendra yang diharapkan bisa menolong Maria, jutru sama sekali tidak bisa di andalkan. Sumsum tulang belakang Hendra nyatanya tidak cocok untuk Maria. * * * Eza hanya bisa diam di kamarnya, memantau keadaan dari ponselnya. Menunggu kabar dari Irgi tentang situasi di rumahsakit dan kondisi Ana. Untungnya ada Irgi yang masih bisa untuk ia mintai tolong. Selain itu Eza juga minta tolong pada Edrick untuk menjaga Maria tanpa sepengetahuan Rissa. Hati Eza begitu tersentuh saat melihat Maria yang menangis tidak hentinya saat membawa Ana yang sudah tak sadarkan diri akibat luka tusuk di tubuhnya. "Aku pikir kehilangan Ayah adalah sebuah kebahagaian, nyatanya aku harus mengorbankan kakak." "Maria ..." Eza menatap Maria tak tega. Maria menunduk, tangannya meremas ujung baju dengan begitu kuat. Tak ada yang bisa menlihat rasa sakitnya saat ini, namun sebenarnya bukan rasa sakit yang menyelimuti Maria, namun rasa takut. Maria tak bisa berbohong kalau saat ini ia benar-benar merasa takut. Bagaimana dia akan menghadapi dunia setelah ini, bagaimana ia akan bertahan dengan segala kesulitan hidupnya? Tanpa Maria sadari air matanya sudah jatuh di pipi. "Kenapa ini semua harus terjadi, andai saja aku tidak sakit, kakak tidak perlu melakukan hal ini." "Mar ... kamu masih punya saya, Mas Irgi, tante dan Kak Ana pasti akan baik-baik saja. Saya akan melakukan apapun agar Ana selamat." "Lalu Kak Ana akan ditahan oleh polisi?" Eza sudah memikirkan kemungkinan ini, ia sudah memiliki jalan keluar. Apalagi barang bukti saat Hendra menusuk Ana di tepi sungai itu masih ia simpan. Sekalipun Hendra mati, Eza akan pastikan Ana tidak akan ditahan oleh polisi. "Jangan pikirkan hal itu, percayalah, saya akan melakukan apapun asalkan kalian tidak berpisah. Jadi, bisakah kamu menuruti semua yang saya minta?" "Aku harus bisa keluar dari sini," Eza tidak bisa mengandalkan Irgi saja, ia harus menemani Ana di rumahsakit. Eza harus membantu Ana untuk menjawab semua pertanyaan detektif itu. * * * "Siapa sebenarnya gadis itu?" "Dia salah satu karyawan magang di kantor kita, Pah." "Karyawan Magang, bagaimana bisa Eza dekat dengan keryawan seperti itu?" "Maafkan Rissa, Pah." Bukan salah Rissa, tapi Rissa harus meminta maaf. Meski Eza adalah kakaknya namun tetap saja, Rissa dianggap paling bertanggungjawab untuk semua hal yang terjadi di kantor apalagi masalah Eza. Mengingat kondisi mental Eza yang masih belum stabil. Eza lah yang selalu membuat masalah, namun pada akhirnya Rissa yang harus membereskan semua masalah itu. Saat Eza depresi karena kehilangan Alya, saat itu juga kondisi perusahaan sedang tidak stabil. Rissa harus berjuanh dari nol agar perusahaan yang dibangun ayahnya bisa kembali bangkit. Meski Rissa tak pernah dianggap ada, tak pernah dianggap bisa untuk memimpin perussahaan namun pada akhirnya Rissa yang menyelamatkan perusahaan dan membuat Eza kembali ke kantor. "Rissa tidak mungkin harus mengawasi Eza 24 jam. Apalagi sekarang perusahaan juga sedang meluncurkan produk baru. Banyak yang harus dipersiapkan. Fokus Rissa bisa terbagi kalau juga harus memperhatikan setiap gerak-gerik Eza di kantor." Edrick mencoba menjelaskan pada ayah mertuanya itu. Dulu mungkin Rissa harus selalu mengalah, namun kali ini Ada Edrick yang akan mendukung Rissa, membela Rissa jika perlu. "Drick ..." Rissa menoleh, menatap pada Edrick. "Jadi, ini bukan sepenuhnya salah Rissa, mungkin seharusnya kita juga bertanya pada Eza. Meminta Eza untuk menjelaskan kenapa dia harus sekeras kepala ini untuk ikut campur masalah orang-orang itu." "Baiklah, Papah akan menghubungi pengacara keluarga kita. Setidaknya kita harus meminta nasihat dari dia. Rissa, untuk sementara kamu fokus pada perusahaan, bagaimanapun kamu harus mempriorotaskan peluncuran produk itu. Urusan Eza biar Papah yang bereskan semuanya." Menjadi tidak terpilih mungkin sudah biasa bagi Rissa, ia selalu kalah dalam hal apapun dengan Eza. Sekeras apapun Rusaa mencoba pada akhirnya, ia akan tetap menjadi yang nomor dua. Rissa harus selalu hidup di bawah bayang-bayang Eza. Meski pada kenyataannya, justru Rissa yang lebih layak untuk memimpin perusahaan. Sampai Rissa harus jungkir balik membuktikan pada ayahnya kalau ia pun bisa jauh lebih baik dari Eza yang hanya memikirkan hidupnya saja. Bukan sekali dua kali Eza seperti ini, namun rasanya kesalahan ini pun masih tetap bisa di maafkan oleh kedua orwngtua Eza.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD