"Jadi, apa yang akan kamu lakukan setelah ini, Ana butuh tempat tinggal."
"Saya sudah memikirkannya, saya akan membawa dia ke rumah."
Irgi tampak terkejut dengan jawaban Eza, pasalnya Irgi cukup paham kalau Rissa tidak akan semudah itu menerima orang lain dalam keluarganya. Apalagi Ana punya latar belakang yang cukup rumit, ditambah lagi dengan adanya persoalan ini yang harus berurusan dengan polisi.
"Kamu yakin?"
"Saya sudah membicarakannya dengan orangtua saya, mereka ingin bertemu dengan Ana."
"Lalu setelah itu?"
"Kita lihat ke depannya akan bagaimana."
Eza tak bisa memastikan bagaimana akhir hubungan dirinya dengan Ana, namun yang jelas untuk saat ini Eza tidak mau kehilangan Ana. Ia tak mungkin melepas pandangannya pada Ana. Untuk saat ini, Eza akan mendampingi Ana sampai ia pulih secara fisik dan mental.
Ana harus bisa menjalani hidupnya seperti sedia kala tanpa harus memikul beban pikiran bahwa dirinya adalah seorang pembunuh.
"Kamu bisa buatkan janji pertemuan dengan psikiater yang waktu itu kamu rekomendasikan untuk saya?"
"Kamu mau bawa Ana ke sana?"
"Iya, saya rasa Ana membutuhkannya. Saya takut kalau Ana tidak mau mengatakannya kepada saya."
"Soal apa?"
"Semuanya, saya yakin dia benar-benar merasa tertekan. Hanya saja dia terbiasa untuk menyimpannya sendiri."
Menjadi seolah-olah tegar adalah salah satu karakter yang mungkin akan mudah untuk menipu orang-orang yang baru dikenal. Tapi, semakin berjalannya waktu, semua itu hanya akan menampakkan betapa lemahnya seseorang di hadapan orang lain.
"Apa saya boleh tanya sesuatu?"
"Apa Gi?"
"Apa kamu menyukai Ana?"