41

402 Words
Maria baru saja selesai makan, karena kondisinya yang kian memburuk Maria harus dirawat di rumahsakit. Selama penyidikan Maria terpaksa harus dipisahkan dengan Ana. Dan juga Maria tak bisa dirawat di rumahsakit yang mahal. "Sudah cukup?" "Sudah tante, terimakasih." Hanin membereskan piring kotor bekas Maria makan. Ya, Hanin, mamah Alya yang menjaga Maria saat Maria harus dipisahkan dari Ana. Eza tidak meminta secara langsung pada mertuanya itu untuk menjaga Maria, justru Hanin lah yang menawarkan diri untuk menjaga Maria. "Mamah akan jaga Maria, bawa saja dia ke rumahsakit di mana Alya dirawat dulu." Eza terkejut mendengar ucapan ibu mertuanya itu, pasalnya saat mendengar kabar mengenai Ana di televisi, Hanin segera menghubungi Eza. "Tapi, Mah ini akan membahayakan Mamah, apalagi ini menyangkut hukum. Eza tidak mau kalau nantinya harus menyeret Mamah. Papah Faris juga pasti akan menolaknya." "Lalu kamu mau bagaimana? membiarkan dia sendirian di rumahsakit? Sama seperti Alya dulu?!" Eza terdiam, ternyata bukan hanya dirinya yang merasa jika nasib Maria akan sama seperti Alya. "Biarkan mamah bantu dia, polisi juga tidak akan setega itu untuk menuntut orang yang tidak berdaya seperti Maria. Soal papah Faris, Mamah yang akan tangani." "Sekarang minum obatnya." Hanin sudah membuka tiap bungkus pil yang sudah disediakan di samping nampan makan milik Maria. "Boleh gak kalau hari ini aku skip minum obat?" "Tidak boleh, kalau kamu berhenti minum obat kamu gak bisa ketemu sama kakak kamu lagi." "Maria sudah lelah, toh, Maria justru akan meringankan beban kak Ana. Dia tidak perlu mencari uang yang banyak lagi agar Maria bisa melakukan kemoterapi, janji temu dengan dokter dan menebus semua vitamin dan obat-obatan." Hanin terdiam mendengar penjelasan Maria, srmua seolah dejavu. Alya pun sama, ia tak ingin diobati. "Ibu sudah di surga, Ayah Hendra sudah menyusul, meski Maria tidak yakin apakah dia masuk surga atau tidak, tapi yang jelas dia sudah tidak di dunia ini lagi. Beban kakak tinggal Maria seorang, kalau Maria pergi, Kak Ana bisa menjalani hidupnya dengan baik." Hanin segera memeluk Maria dengan erat, "Kamu berhak bahagia sayang, kamu berhak sembuh dari penyakit kamu ini." Hanin merasa sedang memeluk Alya. "Tante, kenapa tante baik sama saya? Sedangkan kita baru saja kenal." Hanin tak ingin menceritakan masalalu Eza, apa yang sudah terjadi bukanlah kesalahan Eza. Memang takdir sudah harus seperti itu. Alya harus meninggal terlebih dahulu. "Tante punya anak perempuan, tapi sekarang dia sudah tenang di surga sekarang." Hanin mengelus rambut Maria pelan. "Pasti dia juga sama kaya Maria?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD