42

225 Words
Setelah dokter selesai mengobsevarsi kondisi terakhir Ana, Dokter mengatakan kalau kondisi Ana sudah membaik dan bisa untuk pulang. Luka jahitan akibat tusukkan dari Hendra sudah mengering. "Selamat kamu sudah bisa pulang." Irgi berdiri tak jauh dari ranjang Ana. Sayang kabar baik itu tidak disambut baik pula oleh Ana, setelah ini ia bingung harus ke mana. Belum lagi semua uang tabungannya habis. "Kenapa, kamu tidak senang?" "tentu saja." "Jangan memikirkan hari kemarin, sekarang ini kamu harus fokus dengan masa depan kamu." "Dokter, bagaimana keadaan Maria?" Irgi tak bisa berbohong, ia tau betul bagaimana Maria akan berakhir. Apalagi saat ia mendengar kabar dari tante Hanin kalau Maria tidak mau mengkonsumsi obat lagi. Namun, Eza melarang Irgi untuk mengatakan hal yang sebenarnya, apalagi soal kebenaran bahwa sumsum tulang belakang milik Hendra ternyata tidak cocok untuk Maria. "Keadaan Maria-" "Selamat siang," Kalimat Irgi terhenti begitu Eza masuk dengan membawa bunga mawar di tangannya. "Pak Eza ..." Ada sedikit rasa bahagia dalam diri Ana, entah mengapa dia merasa lega melihat kedatangan Eza. "Za?" "Iya, An. Saya datang kemari karena Irgi mengabari saya kalau hari ini kamu sudah boleh pulang." Padahal Irgi sama sekali tidak memberitahu Eza perihal kepulangan Ana. "Saya akan mengurus semua administrasinya, jadi setelah itu kita bisa pulang." "Pulang?" Ana menatap dengan penuh tanya pada Irgi. Sedang Irgi hanya melipat kedua tangannya di d**a dan hanya sedikit memgangguk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD