Ana masih membiasakan diri tinggal di rumah Eza, rumah mewah yang dulu hanya bisa ia lihat dari luar. Mamah Eza memang cukup ramah, namun Ana belum yakin dengan itu semua. Orang kaya biasanya munafik.
Tok ... Tok ... Tok ...
"An ... kamu sudah bangun?"
Dari luar kamar Ana, terdengar suara Eza. Ana bergegas bangun, ia membukakan pintu kamarnya.
"Kamus sudah bangun?" Eza kembali bertanya begitu Ana muncul dari balik pintu kamarnya.
"Sudah, Pak."
"Bagaimana tidur kamu? Nyenyak?"
Ana tidak berbohong, ranjang rumahsakit memang empuk, selimut rumahsakit memang hangat, tapi kasur dan selimut di rumah Eza jauh lebih nyaman dari itu semua.
"Nyenyak, Pak. Bapak mau pergi ke kantor?"
Eza sudah siap dengan setelan jasnya, "Iya, saya mau ajak kamu sarapan."
Rasanya Ana belum nyaman untuk melakukan aktivitas layaknya orang kaya, apalagi dengan adanya orangtua Eza.
"Kenapa, kamu gak mau?" Eza kembali bertanya saat Ana tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Gak, saya akan turun untuk sarapan."
"Ya, sudah, saya tunggu. Kita turun sama-sama."
Ana kembali masuk ke kamarnya, ia mengambil cardigan yang ia gantung di balik pintu kamarnya. Ekor matanya menangkap bayangannya di cermin, langkahnya terhenti begitu saja. Ia membalikkan badan menghadap ke arah cermin. Tangan Ana perlahan merapikan rambutnya.
'Percayalah, kamu akan baik-baik saja."
Seolah ada yang membisikkan sesuatu pada Ana, Ana segera memakai cardigan itu dan keluar dari kamarnya.