34

2155 Words
Apa yang paling berharga dalam hidupmu? Jika ada yang bertanya, maka aku akan menjawabnya, Kakak perempuanku yang begitu cantik. Namanya Ana. Dia adalah orang yang begitu berharga dalam hidupku. Wanita terkuat dalam hidupku. Dia memang tidak memberiku hal yang paling mahal di dunia ini. Tapi dia memberiku kasih sayang yang mungkin tidak akan bisa digantikan oleh siapapun. Maria tersenyum dengan begitu lembut, tangan Maria kembali menuliskan kata-kata pujiannya untuk Ana. Kak Ana akan melakukan apapun untukku. Kak Ana pernah menggendongku saat hujan deras. Atau kadang Kak Ana melindungiku dari pukulan Bapak. Soal makanan, kami juga sering berbagi. Atau lebih tepatnya Kak Ana sering mengalah. Dia lebih suka melihat aku makan sebenarnya. Kadang saat malam tiba, dia pura-pura tidur, padahal aku tau dia sedang mendengarkanku bercerita. Kadang dia juga bersikap sedingin es, tapi aku tau dia peduli denganku. Maria tidak pernah menyesali setiap detik, hari, minggu, bulan dan tahun yang kita lewati bersama Kak. Semuanya memang menyakitkan, bahkan tak ada kenangan manis di dalamnya. Tapi percayalah, itu semua akan berakhir. Terimakasih untuk semuanya. Untuk setiap kenangan yang kita ciptakan bersama. Kali ini biarkan Maria berkorban untuk kak Ana. Sebentar lagi Maria tidak akan bisa melihat wajah kak Ana. Maria pasti akan sangat merindukan Kak Ana. Tapi kakak jangan iri pada Maria. Iri karena Maria sebentar lagi akan bertemu dengan ibu. Maria akan bisa menangis di pangkuan ibu. Tanpa Maria sadari airmatanya mulai mengalir. Kak, Hiduplah dengan baik. Berbahagialah. Kini sudah saatnya itik buruk rupa berubah menjadi angsa putih yang cantik dan berdansa di danau istana. Dan ijinkan kepompong jelek tanpa sayap ini mekar dan memiliki sayap yang begitu indah. Biarkan kupu-kupu itu terbang tinggi, sampai di taman bunga surga. Tok ... Tok ... Maria melirik jam di atas nakas, ini baru pukul 16.30 tapi kenapa Ana sudah pulang, pikir Maria. "Sebentar," Maria meraih topi untuk dia gunakan. Tok ... Tok ... Tok ... "Iya, Kak, Maria bu- Ucapan Maria terhenti saat yang muncul di hadapannya adalah Hendra dan Kacir. "Bapak ... * * * Tadi pagi Maria menyuruh Ana untuk pergi bekerja, ia meminta Ana untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Meski Ana sempat menolak dnegan alasan ingin menghabiskan waktu bersama dengan Maria, akhirnya luluh juga. "Kakak jangan khawatir, Maria pasti baik-baik saja." Ana tidak pergi ke kantor, ia justru pergi ke kantor polisi. Ana hendak mencabut laporan pada Hendra. Ana ingin semuanya berakhir dengan baik-baik saja. Ana meminta Eza agar mereka berdua bertemu di kantor polisi. Sebuah mobil sedan mewah memasuki pelataran kantor polisi. Ana sangat mengenali plat mobil itu dengan seksama. Ya, itu adalah mobil milik Eza. Eza keluar dari mobilnya, dengan segera ia menghampiri Ana. "Sudah lama, An?" "Baru limabelas menit Pak." "Kamu sudah yakin untuk melakukan ini?" Ana tersenyum, "Maria ingin pergi dengan damai, dia ingin segala kesalahannya dimaafkan. Dia juga sudah memaafkan segala kesalahan ayah kandungnya. Jadi untuk apa saya memperpanjang ini semua?" 'Haruskah semua hal terjadi seperti yang kita ucapkan dan pikirkan?' Eza mengelus kepala Ana dengan lembut, Eza tau betapa beebahayanya Hendra, namun jika Ana dan Maria sudah bisa untuk memaafkan, Eza rasa Hendra berhak menerimanya. "Kalau begitu kita masuk." 'Kenapa bapak sebaik ini? Saya tidak tega jika harus menelan cahaya Bapak untuk ikut bersama gelapnya kehidupan saya. Tidakklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan. Dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.' 'Karena saya tidak pernah belajar soal cinta, jadi saya tidak begitu mengerti tentang hal itu. Tapi saya merasa Bapak adalah seseorang yang ditakdirkan untuk saya. Bapak adalah seseroang yang begitu lembut, meski di luar sana mereka bilang bapak memiliki masalalu yang kelam. Ana menatap genggaman Eza padan pergelangan tangannya. Bisakah Ana sejenak menikmati ini semua, Ana saat ini benar-benar ingin dimengerti. * * * "Sekarang anda bebas." Ana sekarang sedang berhadapan dengan Hendra yang baru saja keluar dari tahanan. Sedang Eza disueuh Ana untuk menunggu di mobil saja. "Lo harap gue akan berterimakasih?" "Anak Bapak yang meminta saya untuk mencabut laporan ini. Dia bahkan menolak untuk melakukan operasi. Jika Bapak masih punya hati nurani, tolong jenguk dia. Setidaknya buatlah kenangan yang baik untuk anak Bapak di detik terakhir hidupnya." Ana berbalik meninggalkan Hendra, ia tidak memberi kesempatan pada Hendra untuk menjawab pernyataannya. 'Setidaknya jadilah bapak yang baik, meski hanya sekali saja. Ibu akan sangat bahagia jika Bapak melakukan itu untuk Maria.' * * * Eza tidak kembali ke kantor, ia membawa Ana pergi ke suatu tempat. Eza berkendara ke pinggiran kota, mencari tempat yang nyaman untuk bercerita. Percuma jika sekarang Eza membawa Ana kembali ke kantor, Ana juga tidak akan fokus dalam bekerja. Mereka berdua sampai di sebuah danau buatan yang cukup memberikan ketenangan. Ana dan Eza keluar dari mobil. Mereka berdiri tepat di depan mobil Eza. "Bagaimana perasaan kamu sekarang?" Eza membuka pembicaraan. Dari samping, wajah Ana tampak begitu mungil. Meski dengan pakaian sederhana dan poytail yang tidak begitu rapih, namun kecantikan Ana justru terlihat istimewa. "Apa dulu juga Bapak merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan sekarang?" Ana justru balik bertanya. " Bagaimana kalau saya sampai hilang akal?" Seolah tertembak satu peluru kemudian bersarang tepat di jantung, tak lepas. Menyakitkan. Tak bisa lagi merasakan rasa sakit, mati rasa, katanya. Hanya bisa tertawa, tawa yang mengejek sebuah takdir yang sudah terjadi. Tertawa sampai dia terjatuh dan kembali meneteskan air mata di tengah tawanya. Andaikan bisa bertanya, mungkin Eza akan bertanya. Kenapa ia harus berpisah? Kenapa ia harus melepaskan Alya untuk selama-lamanya? Kenapa Alya memilih untuk pergi bukan untuk berjuang? Kenapa? Di dalam relung hati yang penuh luka, satu persatu kenangan dirinya dan Alya muncul. Seperti aliran sungai yang mengalir begitu saja. Meski ia mencoba mendekapnya, memeluknya erat, namun semua itu seolah menghilang dari jemarinya. Alya terburu-buru untuk pergi dan Eza yang terus mencoba mengikutinya, mengikuti Alya tanpa tahu ke mana Alya akan pergi. Dan saat takdir itu menjawabnya, nyatanya Eza hanya mampu menjerit tertahan. Ya, seperti tertembus sebuah peluru, rasanya begitu sakit. Bagaimana Eza bisa melupakan Alya? Bagaimana caranya, beritahu, dalam kesakitan ini sejenak pun Eza tak bisa memejamkan matanya. Ia terjaga mengingat semua kesakitan hatinya. Hatinya yang kian terluka, seolah sekarat. Selamanya, selama-lamanya. Mereka berdua, Alya dan Eza berjanji untuk bersama selamanya. Tapi tidak, hari berlalu dan Alya sudah pergi terlebih dahulu. Kini hanya ada Eza dengan kesendiriannya. Dengan kesedihan yang terus menyelimuti setiap kenangan yang muncul begitu saja di benak Eza. "Maria adalah alasan saya hidup." 'An, kenapa saya seolah kembali ke masa itu, masa saat saya terpuruk." "Seharusnya saya tidak hadir dalam keluarga mereka, seharusnya Maria lah yang merayakan ulangtahun bersama mereka, seharusnya Marialah yang digendong dan diantar pergi sekolah oleh Bapak." Ana mencoba menahan tangisnya. Ia mengirup nafas dalam-dalam, mengisi setiap rongga dadanya dengan udara. Menghembuskannya perlahan, mengeluarkan semua udara tak bersisa. Seolah seluruh bebannya ikut berhambur di udara. "Maria kehilangan ibunya karena saya, sampai kapanpun saya tidak akan bisa membalas semua kebaikkan dan kasih sayang Ibu yang tidak bisa dirasakan oleh Maria. Saya selalu berdoa, sekalipun saya harus hancur hanya demi agar langit mau mendengar doa saya. Agar Maria bisa hidup bahagia, Agar Maria terlepas dari penderitaan ini." Tubuh Ana merosot, ia menangkup wajahnya. Mencoba menyembunyikan tangisannya, namun tidak bisa. Ana benar-benar menumpahkan tangisannya. 'Kamu hanyalah korban dari keserakahan manusia dewasa. Saya tidak akan pergi meninggalkan kamu An. Saya berjanji." Eza memeluk Ana dengan eratnya, di saat seperti ini yang Ana butuhkan adalah sebuah pelukkan tanpa pertanyaan, tanpa penghakiman. Sama seperti yang Eza butuhkan saat dulu ia terpuruk karena kehilangan Alya. Eza membiarkan Ana menangis di lengannya, airmata Ana membasahi baju Eza. Eza juga membiarkan Ana meremas tangannya, melepaskan perasaanya yang campur aduk sekarang ini. "Lepaskan semuanya," * * * Tanpa rasa gugup Maria menyiapkan minuman untuk Hendra dan Kacir. Maria juga menyuruh Henda untuk duduk menunggumya di ruang tamu. "Silahkan diminum." Maria meletakkan dua gelas es sirup di meja. "Bapak apa kabar?" Maria sangat ingin melihat Hendra bersikap baik padanya. Namun sekalipun Hendra tidak pernah melakukannya. Bukannya menjawab pertanyaan Maria, Hendra justru melemparkan gelas berisi minuman itu ke tembok. "Lo harus mati sekarang juga!" * * * Matahari mulai mencari singgasananya, Ana dan Eza segera kembali ke rumah. Eza juga membawa makan malam untuk Eza nikmati bersama Ana dan Maria. "Mar, kakk pulang." Pintu rumah tidak dikunci, Ana segera masuk ke dalam. Ia begitu terkejut melihat pecahan gelas yang berserakan di lantai. "Maria! Maria!" Maria tidak ada di rumah, Ana benar-benar kalap. "Ada apa?" Eza segera menghampiri Ana. "Maria hilang pak, Maria hilang." Drrt ... Drrt ... Drrt... "Halo?!" Ana segera mengangkat pamggilan di ponselnya. "Kalo lo mau anak penyakitan ini selamat, lo harus datang ke alamat yang udah gue kirim." Selesai berbicara, Hendra langsung mematikan ponselnya. "Siapa?" "Bapak bawa Maria pergi!" * * * Eza dan Ana segera menuju tempat di mana Hendra memberikan alamatnya. Sebuah gudang tua yang jauh dari pemukiman. Begitu sampai Ana segera berlari masuk ke dalam, Eza yang sudah menghubungi Irgi untuk meminta bantuan, segera mengirim lokasi di mana ia berada sekarang. "HENDRA! HENDRA b*****t!" Ana segera berteriak begitu memasuki gudang tua itu. "An," Eza mencoba menahan. "KELUAR LO b*****t!" "Ha ... Ha ... Ha ..." suara tawa Hendra membahana di penjuru ruangan. "Akhirnya lo datang juga Ana!" "b*****t, lo memang bukan manusia, di mana Maria?!" Hendra bersiul, tak lama Kacir keluar dengan menyeret Maria yang sudah diikat dengan tali begitu eratnya. "Maria!" "Jangan mendekat atau pisau ini akan menyayat leher adik lo yang penyakitan ini!" "Apa yang sebanranya lo mau? LO LUPA KALAU ANAK PENYAKITAN ITU ANAK LO?!" cuih ... Hendra meludah dengan semaunya, "Siapa yang sudi punya anak penyakitan seperti dia. kalo lo tanya mau gue apa, gue aka kasih tau. Gue minta 1 milyar untuk kebebasan anak itu." "Lo gila?" "Lo bisa dengan mudahnya minta laki-laki kaya itu buat bantu lo, kalo emang lo mau adik kesayangan lo itu selamat." "Jangan kak, jangan lalukan apapun!" "DIAM!" plak! "CUKUP!" Ana tidak tega melihat Maria ditampar, ia hendak berlari namun Kacir kembali memgacungkan piasu itu di leher Maria. Saat itu, Eza meleparkan sebuah balok pada Hendra. seketika Hendra terkapar. Tubuhnya yang sudah tua seolah tak bisa menahan rasa sakit. Kacir yang melihatnya segera berlari, ia melemparkan Maria begitu saja ke lantai. Ana segera berlari dan menyelamatkan Maria, "Mar, bertahan Mar. kakak mohon." Kini Kacir berlari menyerang Eza, ia masih ingat pertarungan tempo hari saat Kacir hendak memperkosa Ana di kontrakan. "Lo akan mati malam ini." Perkelahian tak bisa dielakkan lagi, Kacir yang diuntungkan dengan pisau di tangannya, secara brutal menyerang Eza. "Lo pikir lo bisa lolos dari gue?" Rambut dijambak oleh Hendra. "Kalian malam ini harus mati, anak setan!" Tangan Ana mencari sesuatu, ia meraih batu yang cukup besar kemudian memukul jari kaki Hendera dengan batu itu. "Arghhh!!!" Ana bangun dari jongkoknya, ia mencoba mendorong Hendra agar hingga terjatuh. "Lo emang b*****t, lo gak tau diri!" Hendra yang tak mau kalah kembali bangkit, ia mengeluarkan sbeuah pisau lipat dari sakunya. "Lo harus gue kirim ke neraka malam ini, anak gak tau diri!" Eza kembali memukuli Kacir, kali ini pisau di tangan Kacir sudah terlepas. Kacir tidak lagi memimpin perkelahian. Hendra menyerang Ana dengan cepat hingga pisau itu mengenai perutnya lagi. "Mampus!" "Ana?!" Eza kehikangan fokusnya, hingga Kacir berhasil melumpuhkannya. Melihat Ana yang sudah lumpuh, Hendra mencoba mendekat pada Maria. Namun nyatanya Ana masih bisa berdiri kembali, ia mencabut pisau di perutnya dan menancapkan pisau itu tepat di punggung Hendra. Kemudian mencabutnya kembali. Hendra segera berbalik, tangannya dengan cepat. Ana kembali menyerang Hendra, Maria yang berjongkok mencoba membantu Ana dengan memukul kaki Hendra. Tepat saat itu, Ana menusuk d**a Hendra. Tangannya bergetar, jemarinya bersimbah darah segar. Perlahan genggamannya pada pisau itu merenggang. Matanya tak berkedip sama sekali ketika melihat tubuh lelaki yang ada di hadapannya itu menghantam lantai keramik yang lembab itu. Ana menekan dalam-dalam bagian perutnya yang juga bersimbah darah karena luka tusukkan. Pandangannya beralih pada Eza yang masih berkelahi dengan Kacir. "Kakak!" Maria berlari memghampiri kakaknya yang tergeletak bersimbah darah. "Bangun kak! Aku mohon bangun!" "A-apa dia mati?" Tanya Ana. Pandangan Maria kini beralih pada lelaki yang nafasnya hampir terputus karena pisau yang ditusukkan oleh gadis bermabut biru yang ia panggil kakak tadi. Ana menelan ludah dalam-dalam, merasa puas akan apa yang telah kakaknya lakukan. Ia berharap malam ini semuanya akan berakhir, semua hutang budi yang melekat dalam hidupnya dan juga kakaknya pun sudah terputus. Jika lelaki itu meninggal, maka bebannya akan terlepas. Hidupnya akan bahagia. Tak akan ada lagi yang mengganggunya. "Bang Hendra!" Kacir segera berlari mendekat pada Hendra. Satu tusukkan nyatanya tidak lantas membuat lelaki itu melepas nyawanya, ia masih sanggup untuk menggerakan mulutnya, mengumpat sekuat tenaga karena pada akhirnya dialah yang harus mengakui kekalahannya. Tertusuk, mati, di tangan gadis itu. Samar terdengar sirine ambulance berbunyi, gadis berambut biru itu perlahan mulai kehilangan kesadarannya. Tangannya tak lagi menahan aliran darah yang masih keluar dari luka tusuknya. Mendengar polisi datang, Kacir segera pergi meninggalkan tempat kejadian perkara. Ia tak ingin berurusan dengan polisi. "Kakak jangan tinggalin aku, Kak, bangun aku mohon, kak!" Tangan Maria terus mengguncangkan tubuh kakaknya yang tergeletak lemas di lantai. "Anna Bangun!" Eza berteriak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD