Ana duduk di luar ruangan rawat inap Maria, menunggu Mamah Almira yang masih mengobrol di ruangan. Ana menyetujui saran Irgi untuk menunggu Eza datang ke rumahsakit.
Ana tak ingin memaksa Maria, kalau Maria memang tidak ingin melakukan operasi itu, maka Ana lebih baik menurutinya.
"Ada apa, kenapa kamu menelfon saya?"
Dengan langkah tergesa, Eza segera menghampiri Ana. Eza berdiri di hadapan Ana, ia memegangi kedua bahu Ana, menatap Ana dnegan khawatir.
"Tidak ada apa-apa."
Tepat saat itu pintu ruangan terbuka, Mamah Almira keluar dari ruang rawat inap Maria.
"Mamah ..."
* * *
Setelah mengantar mamah Almira menuju lift rumahsakit, Eza kembali menemui Ana. Eza tidak menyangka jika ia akan bertemu dengan Mamah Alya di rumah sakit ini.
"Sudah pergi?"
"Sudah, An. Tadi sampai mana?"
"a ... soal Maria, apa bisa Maria pulang hari ini?"
"Ada apa, Kenapa tiba-tiba mau pulang?"
"Maria menolak melakukan operasi transplantasinya."
Ana mencoba menahan airmatanya.
'Jadi Maria sudah menceritakannya pada Ana.'
"Bapak juga bisa melepaskan bapak saya. Gak ada gunanya lagi. Semuanya sudah berakhir."
Eza menarik Ana ke dalam pelukannya, saat itu tangis Ana pecah. Ana menangis seperti anak kecil yang kehilangan permen gulalinya.
"Ini pasti sulit buat kamu. Kamu harus merelakannya."
Ana tidak menjawab sama sekali, ia masih menangis tersedu. Tangannya menggenggam erat lengan baju Eza, membuat Eza seolah bisa merasakan kesakitan Ana.
'Kamu harus mengakhiri kesedihan ini, An. Biarkan Maria pergi jika memang dia sudah ikhlas dengan semuanya. Akan ada seseorang yang mungkin suatu hari nanti akan datang ke kehidupan kamu, menjadi tempat bersandar kamu saat badai datang. Melepaskan semua beban yang ada di pundak kamu."
"Kamu tidak perlu menderita lagi."
Eza mengelus punggung Ana pelan, mencoba meneangkan Ana yang masih tersedu menangis.
"Ini semua bukan kesalahan kamu, An. Apapun yang terjadi, jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri. Maria lebih tau kondisi tubuhnya sendiri. Jangan paksakan."
'Hati saya sakit An, melihat kamu seperti ini. Saya tau apa yang kamu rasakan saat ini. Rasanya sampai kering airmata pun, rasa sakit yang kamu rasakan tidak akan hilang."
"Hei, An ..."
Eza menangkup wajah Ana, ia menatapnya dengan seksama.
"Kamu masih punya saya, Irgi dan Mamahnya Irgi. Jangan pernah merasa sendirian. Saya gak akan ninggalin kamu."
Siang itu lorong rumahsakit seolah menjadi saksi bisu betapa sakitnya hati Ana. Ia harus merelakan adiknya tanpa bisa berbuat apa-apa.
Semua kejadian ini seolah terulang kembali, Eza pun tak bisa berbuat apa-apa jika memang Maria lah yang meminta semuanya.
* * *
Setelah tenang dan Eza selesai mengurus semua administrasi rumahsakit, Eza mengajak Ana untuk menemui Maria. Mereka harus membereskan barang-barang mereka.
"Wah ... sayang sekali, tiket menginap kamu di sini sudah expaired."
Eza mencoba mengajak Maria bercanda, mencairkan suasana di ruangan itu. Mata Ana yang tampak begitu sembab, membuat Ana berkali-kali membuang muka dari Maria.
"Aku udah kangen sama rumahku yang kumuh itu, Pak Eza." ujar Maria
Ana juga memberitahu Eza kalau Maria ingin kembali ke rumah kontrakannya, ia ingin beristirahat di sana. Ana meminta supaya Eza tidak melarangnya. Agar Maria bahagia.
"Setelah selesai beres-beres saya akan mengantar kamu dan kakak kamu pulang, tapi tidak ke rumah kontrakan kalian."
"Tapi, Pak."
"Rumah kalian terlalu berbahaya, kalau memang kalian tidak mau kembali ke apartemen, saya bisa membawa kalian ke tempat lain, yang lebih aman."
Ana tidak pernah tau kalau Eza akan melakukan ini, meski saat percakapan tadi Eza tidak menyangkal apapun, Ana rasa Eza ingin menyampaikan ini secara langsung pada Maria.
* * *
Sepanjang perjalanan pulang, Ana tidak banyak bicara. Di mobil ia hanya menatap pemandangan di jalanan. Bukan karena pemandangan yang indah, sama sekali tak ada. Pikiran Ana benar-benar kacau saat ini. Ia belum benar-benar rela untuk bisa melepaskan Maria.
Tigapuluh menit berkendara, mereka sampai di rumah yang sudah disediakan oleh Eza.
Rumah bergaya minimalis itu terletak di salah satu perumahan yang sepertinya baru saja dibuka. Masih banyak terdapat rumah yang belum berpenghuni.
Beberapa rumah tampak sama, hanya warna saja yang menjadi pembedanya.
"Rumah siapa ini, Pak?"
Eza dan Ana turun terlebih dahulu dari mobil.
"Rumah saya, dulu saya dan Alya menabung untuk membeli rumah ini."
'Semuanya tampak begitu terencana, mungkin jika anak angkat mereka masih hidup atau Pak Eza mau menerima kesalahan Alya, mereka saat ini sudah hidup bahagia. Lalu apa mungkin Pak Eza akan bertemu dengan saya seperti saat ini?'
"An?"
Ana tersadar dari lamunannya, sekarang ini Ana lebih srring melibatkan perasaannya. Seharusnya Ana tidak melakukan itu karena Ana tau ada banyak hal yang lebih harus ia kedepankan ketimbang perasaannya sendiri.
Ana membantu Maria keluar dari mobil Eza, berkat Eza Ana dan Maria bisa merasakan kemewahan. Menaiki mobil mewah, makan makanan enak, tempat tinggal yang nyaman dan penghidupan yang layak. Entah sudah berapa banyak waktu yang dikorbankan oleh Eza untuk Ana dan Maria. Ana patinya tidak akan bisa membalas Eza dengan apapun itu.
Mereka bertiga masuk ke pelataran rumah yang cukup luas, tak ada gerbang yang menutupi pelataran rumah itu.
Ana kira rumah itu belum layak untuk dihuni, nyatanya Ana salah. Setiap ruangan di rumah itu sudah terisi dengan berbagai perabotan rumah yang cukup bagus.
Di ruang tamu, ada sofa dan meja dengan warna yang senada. Sebuah TV LED yang cukup besar, sudah terpasang di dinding. Dua kamar tidur yang ada di sana juga sudah terisi dengan ranjang dan kasur yang sudah dibalut dengan seprei yang warnanya cukup memanjakan mata. Dapur kecil dengan segala pernak-perniknya.
"Tempatnya cuma seadanya,"
"Ini lebih dari cukup." Ana membantu Maria untuk duduk di sofa.
Eza masuk ke kamar dan meletakan tas berisi baju milik Maria di sana.
"Karena belum ada stock makanan, jadi sementara waktu kalian pesan makanan siap saji dulu saja. Saya sudah menelfon restaurant milik mamah Irgi dan meminta mereka mengirimkan makanan ke sini."
'Kenapa anda begitu baik terhadap saya,'
Drrtt .... Drrrt .... Drrrttt ....
Ponsel Eza bergetar, telfon dari orang-orang suruhan Eza yang ditugaskan untuk menyelidiki Hendra masuk, Eza segera keluar untuk mengangkatnya.
"Hallo?"
"Dia sudah ditemukan oleh polisi, selanjutnya bagaimana Pak?"
Anak buah Eza melaporkan bahwa Hendra sudah ditangkap oleh polisi sesuai dengan rencana mereka.
"Baiklah, untuk sekarang kalian bisa pulang. Besok saya akan datang ke kantor polisi."
Setelah selesai berbicara, Eza segera mematikan ponselnya, ia hendak kembali masuk ke rumah.
"Telfon dari siapa Pak?"
"An, dari orang-orang saya, kemarin ayah kamu kabur dari gedung sekolah itu."
Ana tidak terkejut sama sekali, ia juga tidak merasa kesal atau bingung lagi jika Hendra menolak melakukan operasi, toh Maria pun meminta untuk tidak dilakukan operasi itu lagi.
"Saya sudah duga akan seperti ini, lalu bagaimana?"
"Tapi polisi sudah menangkap ayah kamu."
"Saya akan membatalkan laporan saya, Pak."
"An ..."
Ana tidak perlu melakukan hal yang merepotkan ini lagi, rasanya semua sia-sia saja.
"Besok bapak mau kan antar saya ke kantor polisi?"
* * *
Malam ini Ana tidur bersama Maria, ia tidak ingin melewatkan waktu-waktu bersama Maria sedikitpun.
"Kasurnya empuk." Maria tersenyum.
"Nyaman?"
"Hm ... Nyaman. Boleh Maria tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Kalau Maria sudah pergi nanti, jangan pergi dari Pak Eza."
"Kamu ngomong apa, kakak bisa mengurus hidup kakak sendiri."
Maria tersenyum, ia kemudian memeluk Ana dengan cepat. Maria begitu menyayangi kakaknya. Di satu sisi ia tidka ingin merepotkan kakaknya lagi, di sisi lain ia merasa egois karena harus meninggalkan Ana dalam kepahitan hidup sendirian.
"Pak Eza orang baik, dia juga punya teman-teman yang baik."
"Maka dari itu, Pak Eza tidak pantas bersanding dengan hidup kita."
Bulan memang menerangi gelapnya malam, tapi malam tidak akan pernah tega menelan Bulan. Membuatnya lenyap dari bumi bersama kegelapannya.
"Kakak berhak bahagia."
Ana melepas pelukan Maria, ia kemudian menutupi tubuh Maria dengan selimut tebalnya.
"Jangan memikirkan apapun, sekarang kamu harus istirahat."
* * *
Hendra sudah mendekam di penjara, ia tidak sempat melarikan diri jauh dari rumahnya. Setelah kabur dari gedung sekolah itu, Hendra hanya pergi ke rumahnya untuk menemui Kacir. Hendra memberitahu Kacir kalau dirinya akan ditangkap oleh Polisi.
* * *
Maria meminta Ana untuk pergi ke kantor, awalnya Ana menolaknya. Ia ingin menemani Maria di rumah saja.
"Kak, jangan perlakukan Maria seperti ini. Kakak harus pergi bekerja, anggap saja kalau tidak ada yang terjadi. Jangan buang waktu, kita harus menatap ke depan."
Semenjak kepergian ibunya, Ana merasa bahwa hidupnya saat ini adalah hanya untuk Maria. Mengutamakan Maria dalam hal apapun. Jika Maria pergi meninggalkan dunia ini, lalu apa lagi yang akan Ana lakukan. Tak ada alasan lagi untuk Ana tetap ada di dunia ini.
Ana menerawang jauh, menatap langit biru dari jendela bis yang ia tumpangi menuju kantornya. Memikirkan kehilangan Maria saja, hati Ana sudah merasakan bertapa besar kekecewaannya. Bagaimana jika hari itu datang.
Perlahan Ana menghirup udara nafas dalam-dalam, memenuhi segala rongga dadanya. Memenuhinya. Ia memejamkan matanya, mengembuskan segalanya, sampai terasa tak ada yang tersisa di dalamnya. Membuang beban yang seolah terasa begitu besar dalam dirinya.
'Ternyata meninggalkan dunia, tak semudah itu. Meski dunia terasa begitu gelap dan sukar, menitikan air mata setiap harinya, sebelum memejamkan mata.
"Apakah semuanya akan baik-baik saja kalau saya menghilang begitu saja"
"Adakah yang akan menangisi kepergian saya?"
* * *
Apa hal yang paling indah di dunia ini?
Jika ada orang yang bertanya seperti itu pada Maria, Maria akan menjawab 'Mempunyai kakak yang begitu cantik, namanya Ana.'
Kakak memang tidak memberikan hal yang paling mahal di dunia ini, hal yang paling langka di dunia ini. Tapi Kak Ana memberikan kasih sayang yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh siapapun di dunia ini.
Maria memang tidak punya orangtua, tapi bagi Maria Kak Ana lebih dari segalanya. Kak Ana rela berkorban demi Maria.
Maria pernah digendong Kak Ana, di tengah hujan deras.
Selain itu, kami sering berbagi makanan berdua.
Kak Ana juga sering melindungi Maria dari pukulan Bapak.
Air mata mulai mengalir di pipi Maria, ia kembali mengingat semua kejadian yang ia lewati bersama Ana.
Mungkin kalau tidak ada kak Ana, sekarang Maria sudah tinggal nama. Tanpa Kak Ana, Maria tidak akan bisa hidup.
Jangan tanya apa yang bisa Maria berikan pada kak Ana. Maria banyak memberi pada Kak Ana, memberi kesusahan hidup.
Sekarang saatnya Maria mengorbankan diri Maria untuk kebahagiaan Kak Ana. Untuk hidup Kak Ana yang lebih baik lagi.
Sudah saatnya kak Ana berubah menjadi Angsa cantik yang berdansa di danau istana. Bukankah Pangeran yang selama ini kakak tunggu sudah datang?
Inilah saatnya juga, kepompong yang jelek ini memiliki sayap yang indah. Sayap untuk terbang tinggi, menggapai segala mimpi, mimpi bertemu ibu peri yang baik hati.
Kak, kakak masih ingat dengan janji kelingking kita?
Dulu kita berjanji untuk selalu bersama, melewati dunia yang gelap dan tak begitu adil ini. Dunia yang tak pernah ada ujungnya.
Tapi sekarang, kenyataan menampar keadaan kita.
Hari berlalu, Bulan berlalu dan Tahun berlalu. Dan sekarang Maria juga harus pergi berlalu meninggalkan dunia yang gelap ini, meninggalkan kakak sendirian.
Maria pasti akan merindukan kak Ana dan segala kenangan yang sudah kita lewati bersama. Meski banyak kesedihannya, namun Maria tidak pernah menyesalinya.
Maria menahan dadanya yang begitu sesak, seolah batu besar menghimpitnya.
Terimakasih sudah menjadi kakak yang baik untuk Maria, Kakak yang selalu membuat Maria merasa bangga dengan segala kebaikkan yang kakak berikan.
Jangan iri kalau Maria lebih dulu menyusul ibu, berjalan bersama ibu di surga. Jangan iri kalau nanti Maria bisa memeluk ibu, mengadu pada ibu dan menangis di pangkuan ibu.
Saat memejamkan mata nanti, Maria akan tersenyum. Maria tidak akan menangis. Maria akan pergi membawa surat cinta dan salam rindu Kak Ana pada ibu.
Kak, berjanjilah.
Berjanji, hiduplah dengan bahagia.
Maria mentup buku itu dan meletakkannya di atas meja nakas di kamarnya. Ia tidak pernah tau kapan dirinya akan pergi, namun ia ingin agar Ana tau bagaimana perasaan Maria pada Ana. Meski Maria tidak pernah mengungkapkannya, namun Maria yakin lewat surat ini, Ana akan memahaminya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Maria menatap jam di dinding, jarum jam baru menunjukkan pukul 15.30, namun Ana sudah pulang.
"Kenapa kakak pulang lebih awal."
Tanpa rasa curiga Maria segera mengenakan topinya, menutupi kepala botaknya.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Sebentar," Maria kembali berteriak.
"Kenapa kakak udah pulang?"
Begitu pintu terbuka betapa terkejutnya Maria, di sana sudah berdiri Hendra dan Kacir. Sepersekian detik jantung Ana berdegup kencang, namun ia menciba menenangkan dirinya.
"Bapak ..."
Hendra sama sekali tidak menjawabnya, ia menabrak Maria dan masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Kacir di belakangnya.
"Mana Ana?!"