"Kamu sudah pernah bertemu dengan Rissa?"
Mamah Irgi kembali bertanya pada Ana.
"Adik kembar pak Eza?"
"Iya, Rissa Rahardian."
Ana tak pernah tau jika Mamah Irgi sedekat ini dengan keluarga Eza.
"Dia atasan saya di kantor, Tante."
Tiba-tiba mamah Irgi tersenyum. "Dia juga sama dengan Almira, sama-sama judes dan dingin."
Rissa dan Almira adalah musuh bebuyutun sewaktu SMA, namun saat Frea muncul justru mereka berdualah yang begitu aktif menyerang Frea demi membela Alya. Mereka bersatu.
'Pantas saja sikap mereka berdua sama saja.'
"Menurut kamu gimana?"
"Apanya yang bagaimana?" Ana tidak paham dengan pertanyaan Mamah Irgi.
"Rissa dan Almira."
"Saya tidak berhak menilai mereka berdua."
Mamah Irgi tersenyum, "Ini kali pertama Eza dekat kembali dengan seorang perempuan. Sejak kematian Alya, Eza hanya mengurung diri di kamar. Bahkan Eza sempat dibawa ke rumahsakit jiwa untuk melakukan terapi."
"Rumahsakit jiwa?"
"Iya, jadi wajar saja kalau Rissa dan Almira khawatir. Bukan karena mereka tidak suka dengan kamu. Tapi, mereka tidak mau kalau sampai Eza kembali depresi."
'Apa maksudnya, bahkan di antara saya dan Pak Eza tidak ada apa-apa.'
Meski mereka berdua sempat saling berciuman, namun rasanya tidak mungkin hal seperti itu bisa menjadi alasan kuat untuk.memulai suatu hubungan. Bagi Ana dirinya dan Eza adalah Bulan dan Matahari.
'Tidaklah mungkin Matahari memiliki bulan dan malampun tidak akan bisa mendahului siang. Dan masing-masing akan beredar pada garisnya masing-masing.'
* * *
Ana kembali duduk di samping Maria. Hari-harinya kini ia habiskan untuk menemani Maria di rumahsakit.
"Apa gak sebaiknya aku pulang saja Kak?"
"Maria ..."
"Maria mau menikmati hari-hari di rumah, kita nikmati hari-hari kita di kontrakan. Jangan di rumah Mas Irgi ataupun apartemen Pak Eza."
Ana tau tempat itu tidak aman, tapi untuk sekarang mungkin Ana bisa membawa Maria pulang ke sana. Selama Hendra masih di sekap oleh Eza, Ana yakin Hendra tidak akan datang ke sana.
"Apa kamu yakin?" Tanya Ana sekali lagi.
"Iya, aku mau menghabiskan waktu sama kakak."
'Apa nasib Maria akan sama dengan Alya, memilih pergi di tempat yang menurutnya nyaman.'
"Kakak belum siap untuk kehilangan kamu."
Mungkin ini adalah pertama dan terakhir kalinya Maria mendengar kalimat itu diucapkan oleh Ana.
'Ketika angin bertiup kencang, kenapa kakak masih tetap mencoba bertahan. Keadaan kakak saja sulit, tapi kakak masih mau untuk mengulurkan tangan kakak untuk Maria. Kenyataannya kakak pun merasakan sakit. Di bawah hujan, bahkan di teriknya sinar matahari aku berlindung di bawah telapak tangan kakak. Kakak selalu berdiri tegap, menjadi pelindung Maria yang terdepan.'
"Sekarang Maria baik-baik saja, Maria bahagia. Kakak bisa melepaskan tanggungjawab kakak terhadap Maria."
'Maria mau kita berjuang sama-sama, Kak. Saat terik matahari, saat hujan turun, mari kita hadapi bersama-sama.'
"Bagaimana bisa kamu bilang kalau kamu baik-baik saja?"
"Mulai sekarang, saat semuanya terasa sulit karena Maria ataupun karena keadaan yang lain, tolong jangan bersikap dingin dan seolah kakak bisa menghadapinya sendiri."
Maria tau beban berat apa yang saat ini Ana pikul, ia ingin agar Ana melepaskannya.
* * *
"Siapa gadis yang dimaksud oleh Almira tadi, Gi?"
Mamah Almira mengajak Irgi mengobrol di luar ruangan Nek Na.
"Maksud Tante, yang dirawat karena kanker?"
"Iya, dua gadis itu."
"Namanya Ana, dia pekerja lepas di kantor Eza dan adik Ana namanya Maria, dia yang mengidap kanker stadium 4."
Irgi tidak akan menceritakan semuanya pada Mamah Almira, apalagi soal penusukan yang dialami oleh Ana.
"Apa kondisinya buruk?"
"Hampir mirip dengan Alya, dia bahkan menolak untuk melakukan operasi transplantasi."
"Kemana orangtua mereka? sampai harus Mamah kamu yang mengurusnya."
"Mereka yatim piatu."
Mamah Almira segera mengelus dadanya, "Ya Tuhan ..."
"Itulah sebabnya, kenapa Eza menolong mereka."
Entah kenapa Irgi justru menolong Eza agar Mamah Almira tidak membenci Eza, seperti tadi Almira yang seolah membenci Eza.
Dalam hati Mamah Almira, tak pernah sekalipun ia membenci Eza. Meski Eza menyakiti Alya, namun tak pernah sekalipun Mamah Almira menyalahkan Eza atas kematian Alya. Baginya, kematian Alya adalah sebuah musibah. Kalau Mamah Almira terus mencari kambing hitam atas kematian Alya, maka pada akhirnya Mamah Almira akan menyalahkan takdir, karena kalau bukan takdir maka Alya tidak akan pernah meninggal.
"Apa tante boleh menjenguk mereka?"
Drrtt .... Drrrtt ... Drrttt ...
Ponsel Irgi bergetar, dengan segera Irgi mengambilnya. Tertulis nama Ana di sana.
"Maaf tante, sebentar ..."
"Iya, silahkan."
"Hallo ..."
Irgi sedikit menjauh dari Mamah Almira.
"Dokter di mana?"
"Saya di lantai 3, sedang melakukan kunjungan pasien. Ada apa?"
"Saya mau memgurus kepulangan Maria."
* * *
"Dia bersembunyi di rumah mucikari itu, Pak."
Salah satu anak buah Eza melaporkan keberadaan Hendra sekarang ini.
"Bagaimana dengan polisi?"
"Mereka sudah mulai mencari Hendra, bahkan memasang beberapa foto dan memasukan Hendra dalam DPO."
"Baiklah, terua infokan semuanya ke saya. Sekarang kamu boleh keluar."
Untuk sementara waktu, Eza akan membiarkan Polisi yang bertindak untuk menangkap Hendra.Sekarang Eza harus fokus pada pekerjaannya, sebentar lagi pembukaan pasar tradisional modern akan di launching. Eza harus fokus mempersiapkannya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk."
Melly muncul dari balik pintu, " Lima belas menit lagi Pak Eza ada meeting."
"Baiklah,"
Eza tidak mungkin meninggalkan kewajibannya, benar apa kata Rissa bagaimanapun yang utama adalah karyawan dan perusahaannya. Banyak karyawan yang mengandalkannya, menggantungkan hidup mereka pada Eza.
* * *
Setelah mendapat telfon dari Ana, Irgi segera turun menuju lantai 2 diikuti oleh Mamah Almira.
"Dokter,"
"An, ini Mamah Almira dan Alya, tante kenalkan ini Ana."
Ana kaget saat melihat Mamah Almira yang kini bergantain mnegunjunginya.
"Ana,"
"Halo,"
Hati Mamah Almira tiba-tiba saja terasa sakit. Melihat kondisi Maria saat ini.
"Ini Maria tante."
"Hallo, Maria ..." Mamah Almira segera mendekat pada Maria.
"Halo tante, tante siapanya Mas Irgi?"
"Ah ... tante mamah dari almarhumah istrinya Pak Eza."
Sepertinya tidak akan ada yang tidak terketuk hatinya jika melihat kondisi Maria saat ini.
"Irgi tinggal sebentar, ada yang harus Irgi urus sama Ana tante."
"Boleh, silahkan. Biar Maria tante yang jaga."
Irgi dan Ana segera keluar dari ruangan. Mereka memutuskan untuk berbicara di luar.
* * *
Irgi dan Ana menjauh dari ruangan Maria, mereka berdiri di ujung lorong rumahsakit.
"Ada apa?"
"Saya mau urus kepulangan Maria."
Irgi tak menyangka kalau Ana akan secepat ini menyetujui permintaan Ana.
"Kamu sudah diskusi dengan Maria?"
"Sesuai kata dokter, apapun keputusan Maria, semuanya pasti sudah Maria pikirkan matang-matang."
"Kamu yakin?"
Siapa yang bisa menjawab tentang keyakinan akan ditinggalkan. Ana tak pernah yakin dengan bagaimana masadepannya nanti, tapi jika menahan kepergian Maria dengan melakukan operasi justru membuat Maria kesakitan, itu jauh lebih menyakitkan hati Ana.
"Hati saya lebih sakit saat mendengar Maria berkata kalau dia lelah dengan semua hal yang dia lakukan selama ini."
Maria tidak ingin menyakiti kakaknya, namun di lain sisi jika Maria bersikukuh untuk hidup, Ana tidak akan pernah bisa menikmati hidupnya. Seumur hidup Ana pasti akan Ana habiskan untuk selalu ada untuk Maria. Menganggap Maria sebagai tanggungjawab yang harus selalu Ana bawa selama hidupnya.
"Kalau kamu sudah rela dan memang itu yang terbaik untuk Maria, kita harus meghormati keputusan Maria. Bagaimanapun Maria punya hak untuk menentukan hidupnya."
Tapi Ana sepertinya tidak akan bisa menentukan bagaimana hidupnya nanti setelah kepergian Maria.
"Terimakasih atas semua kebaikkan dokter Irgi,"
"Sudah jadi tugas seorang dokter untuk bisa membantu seorang pasien."
Irgi menepuk pundak Ana pelan. "Setelah ini kalian akan tinggal di mana?"
Irgi kembali bertanya.
Ana memang berencana untuk mencari tempat tinggal baru, ia tidak ingin melewatkan hari-harinya bersama Maria dengan adanya gangguan dari Hendra. Namun, Maria meminta agar Ana dan Maria kembali tinggal di rumah kontrakannya itu. Sebenarnya Maria ingin tinggal di rumah Hendra, namun permintaannya itu tidak mungkin terwujud.
Maria ingin kembali mengenang kehidupannya dulu, Maria ingin meninggal di tempat di mana ia lahir dulu.
"Maria meminta untuk kembali tinggal di rumah kontrakan. Dia mau menghabiskan waktunya di rumah kontrakan itu."
"Apa tidak terlalu berbahaya kalau kalian tinggal di sana?"
"Saya rasa aman, Dok."
Ana akan menyambut Hendra jika nanti Hendra datang ke rumah kontrakan itu. Ana akan memberikan kesempatan pada Hendra untuk berlutut di hadapan Maria. Ana akan menyuruh Hendra meminta segala pengampunan atas segala kekejamannya dulu pada anak kandungnya itu.
"Kamu sudah memberitahu Eza?"
"Belum. Saya mau diskusi dulu dengan dokter."
Ana ingin mendengar pendapat dari Dokter Irgi dari segi kesehatan maka dari itu Ana memberitahu Irgi terlebih dahulu.
"Lebih baik kamu bicarakan ini pada Eza juga, gimana juga dia yang menjadi Wali Maria."
"Hmm ... Saya akan telfon Pak Eza setelah ini."
"Oh, ya, itu tadi mamanya Alya. Jangan merasa terintimidasi, beliau orang yang baik. Beliau ke sini mau menjenguk Maria."
'Kenapa Dokter memberitahu saya soal ini, saya sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh orang-orang yang dekat dengan Alya.'
* * *
"Kamu kelas berapa?"
Mamah Almira mulai membuka pembicaraan.
"Aku gak sekolah tante."
Di jaman modern seperti ini, dengan segala macam fasilitas dan kemudahan yang ada masih ada anak yang tidak bersekolah.
"Kenapa?"
Maria tersenyum lebih dulu. "Saya yatim piatu, hanya ada kakak saya, dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup saya dan biaya berobat saya, kasihan kalau dia harus saya bebani lagi dengan pendidikan."
"Kalau ada beasiswa kamu mau sekolah?"
Banyak impian yang ingin Maria capai. Bukan hanya sekolah, tapi menjalani hidup dengan penuh kelayakan. Maria ingin semua orang tau bahwa dirinya dan kakaknya hidup di dunia ini. Maria lelah dikasihani, Maria lelah hidup dengan penuh cibiran, ketidakpastian dan segala keterbatasannya.
"Saat ini saya hanya ingin menjalani hidup yang nyaman."
Maria tak ingin terdesak oleh segala mimpi yang sangat masih jauh untuk bisa Maria raih. Ia ingin menjalani apa adanya hidup ini.
"Percayalah, Tuhan memberikan ujian tidak akan melewati batas kemampuan hambaNya."
"Terimakasih tante."
Kenapa orang-orang seberuntung ini, memiliki ibu yang baik dan kehidupan yang baik. Sedang Ana dan Maria, harus terhimpit oleh kebutuhan hidup yang membuat mereka harus selalu menderita.