31

2028 Words
"Apa kakak tidak kangen sama Maria?" Ana baru saja sampai di rumah sakit, seharusnya hari ini ia pergi ke tempat kerja, namun Eza melarangnya. Eza meminta Ana agar menjaga Maria di rumah sakit. "Ada yang harus kakak urus." "Kemarin tante datang ke sini, bareng sama anak-anak panti yang lain." "Oh ya, lalu bagaimana?" "Cukup menyenangkan, aku juga mulai kangen sama panti. Walaupun aku gak yakin setelah ini masih bisa lari-larian sama mereka lagi." Hati Ana terenyuh mendengar ucapan Maria, jujur, mungkin saat ini Ana tidak sanggup melihat keadaan Maria. Tubuh Maria benar-benar kurus. "Seharusnya kamu banyak istirahat." "Maria boleh tanya sesuatu?" "Apa?" "Bisakah kakak berhenti?" "Apa maksud kamu? Kakak sedang berusaha supaya kamu sembuh." "Sampai kakak harus mencari Bapak?" "Jangankan Bapak, kalau ibu bisa kakak bangunkan, kakak akan melakukannya." "Maria capek." isak tangis Maria sudah tertahan di tenggorokan. "Mar," Ana mendekat, ia duduk di samling Ana. "Maria gak mau lakuin semuanya lagi. Pengobatan, kemoterapi, operasi, semuanya benar-benar membuat Maria lelah dan justru rasanya tubuh Maria bertambah sakit." Airmata Maria sudah mengalir begitu derasnya, "Selama ini Maria tersiksa, begitu juga dengan kakak." "Apa maksud kamu?" Ana mencoba menahan airmatanya, seumur hidupnya, Ana tidak pernah menangis di depan Maria. "Aku gak mau operasi transplantasi sumsum tulang belakang. Aku udah capek, aku gak mau berjuang lagi." "Kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?" Maria hanya mengangguk. "Gak, kamu harus sembuh. Kakak akan lakuin apapun itu demi kamu, gak, kamu harus melakukan operasi itu." "Aku percaya, aku percaya kakak akan melakukan apapun itu caranya, tapi aku mohon. Tolong hentikan semuanya. Maria sudah siap untuk pergi." "Mar ..." Ana menggenggam jemari Maria, kini matanya mulai memerah, namun ia benar-benar sedang mencoba menahan tangisnya. Ia menelan ludah dalam-dalam sebelum berkata pada Maria. "Gak ada yang bilang semua ini akan berubah jadi gampang, tapi gak mungkin juga ini semua akan terus menerus membuat kita terjerumus dalam kesulitan. Kita harus berjuang, kamu dan Kakak." "Maaf, Kak ... * * * "Tolong jelaskan ini semua." Rissa membanting sebuah map berisi laporan keuangan perusahaan yang Edrick berikan pada Rissa kemarin. "Ada apa Sa?" "Mau kamu apakan semua uang itu?" Eza paham dengan apa yang sedang Rissa bicarakan, namun Eza tidak terpancing untuk menanggapi emosi Rissa saat ini. "Jawab, Za! Aku selama ini mati-matian berjuang buat perusahaan ini, supaya keuangan perusahaan ini seimbang. Tapi apa yang kamu lakukan? kamu justru menghambur-hamburkan uang kantor hanya demi perempuan yang baru kamu kenal itu." "Cukup, Sa. Apa yang aku lakukan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Ana. Kalau memang aku mengambil uang dari kantor, itu hakku." "Za! Kenapa lo gak pernah berubah? Kenapa lo mau aja dimanfaatin sama wanita yang gak beda jauh dengan si jalang Frea itu!" Di luar ruangan Eza, beberapa anak buah Eza berdiri di depan pintu ruangan Eza. Mereka penasaran dengan suara Rissa yang terdengar begitu lantang dari dalam ruangan Eza. Derap langkah dari depan lift terdengar, Edrick segera menuju ruangan Eza. Beberapa karyawan yang sempat berhenti bekerja kini kembali ke kubikalnya masing-masing. "Gue bilang cukup, Sa!" "Apa? memang benar bukan? Kamu terlalu mudah untuk percaya sama orang, apalagi perempuan murahan seperti mereka." Eza hampir mengangkat tangannya untuk menampar Rissa, namun Edrick lebih dulu masuk dan menarik Rissa menjauh dari Eza. "Cukup, sebagai seorang suami, gue gak akan terima kalau lo mau tampar istri gue!" "Sorry, Drick." Eza menurunkan tangannya, ia kemudian mengusap wajahnya gusar. Pikiran Eza benar-benar sedang semrawut, mendengar ocehan Rissa membuat Eza benar-benar emosi. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Bagaimanapun kita adalah keluarga." * * * Entah sudah berapa tetes airmata yang keluar dari mata Ana membasahi pipi. Ana tak akan bisa menghitungnya karena selama ini Ana selalu menahan tangisnya dalam diam. Ana duduk di depan ruang rawat inap Maria, ia menunduk, menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Hatinya benar-benar sakit mendengar jalimat demi kalimat yang Maria ucapkan tadi. "An ..." Irgi menyapa Ana, "Dokter ..." "Habis jenguk Maria?" "Iya, sekarang dia sedang istirahat." "Boleh saya duduk?" "Silahkan ..." Ana menggeser tubuhnya, memberi ruang pada Irgi. "Apa yang sedang kamu pikirkan? Soal pendonor untuk Maria?" " Bukan," Irgi teringat akan ucapan Maria, soal dirinya menolak melakukan operasi, apa mungkin Ana sudah menetahuinya? "Apa saya terlalu egois kalau saya mau Amria untuk sembuh?" Benar sekali dugaan Irgi, "kenapa bisa kamu menganggap kalau kamu egois hanya karena kamu mau supaya adik kamu sembuh? Semua orang pasti akan melakukan hal apapun demi anggota keluarganya yang sedang terancam bahaya." Seolah Irgi memiliki pengalaman yang sama dengan Eza soal Alya. Irgi juga kehilangan Alya tanpa tau apa yang diderita oleh Alya. Alya pun tidak mencoba untuk menyelamatkan dirinya sendiri, bahkan Alya tidak meminum obat kankernya sama sekali. "Jangan pernah berhenti untuk menyemangati adik kamu. Kamu harus menjadi support sistem yang baik untuk Maria. Apapun keputusan Maria nantinya, itu pasti yang terbaik untuk Maria." * * * 'Aku tak kesepian, aku baik-baik saja.' Ana bergumam sendiri, mencoba menangkan perasaannya. 'Aku baik-baik saja.' Entah sudah berapa kali Ana mengatakan hal itu pada dirinya sendiri hanya untuk menenangkan pikirannya saat ini. 'Apa aku sudah siap untuk kehilangan Maria?' Tak akan ada yang menyemangati Ana saat ia akan pergi bekerja, tak akan ada lagi yang memeluk Ana saat ia merasa lelah menghadapi kejamnya dunia ini. Saat malam tiba, hanya akan ada udara malam yang begitu dingin, memeluk Ana dalam kesepian. Saat pagi hari, tak akan ada lagi yang melambaikan tangan dan berkata, 'semoga hari ini tidak menyusahkan kakak.' Ana menangis tersedu, ia melepaskan semuanya kali ini. Ia benar-benar melepaskan semua tangisnya saat ini. Ana benar-benar tidak siap jika harus kehilangan Maria, namun jika.Ana tetap memaksa Maria untuk melakukan itu semua, sama saja dengan Ana membunuh Maria. * * * Setelah pertengkarannya dengan Rissa, Eza memberikan jaminan pada Rissa bahwa ia akan memgembalikan smeua uang yang sudah ia ambil dari kantor. Eza bergegas menuju gedung sekolah kosong tempat di mana Eza menahan Hendra. Sampai sekarang ia belum mendapatkan kabar dari kantor polisi soal penangkapan Hendra. "Bagaimana keadaan Hendra?" Begitu sampai, Eza segera meminta laporan dari anak buahnya. "Sesuai perintah dari bos, ikatannya sudah kami lepaskan dan dia juga sepertinya sudah mulai mencari cara untuk bisa pergi dari sini." "Bagus, setelah ini kalian ikat dia kembali dan besok lepaskan dia tepat di depan kantor polisi. Ingat kalian harus main bersih, jangan sampai polisi curiga." Eza berjalan menuju ruangan di mana Hendra di tahan, namun sayang di dalam jeruji besi itu sudah tidak ada Hendra. "Kemana perginya Hendra? Apa kalian tidak menjaganya?!!!" "Tadi dia masih di sini." Tidak, Hendra tidka boleh kabur. Bagaimana jika ia bersmebunyi dan benar-benar tidak mau melakukan operasi itu, Ana pasti akan kecewa. Pikir Eza. "Cari dia sampai dapat, cepat!" * * * Mamah Irgi hari ini kembali berkunjung ke rumahsakit, Ia hendak membawakan sup ayam hangat untuk Maria. "Tante ..." Mamah Irgi segera menolah saat mendengar suara yang cukup dikenal oleh Mamah Irgi. "Almira?" Almira tersenyum kemudian mencium pipi Mamah Irgi segera. "Ya ampun, berapa lama kita gak ketemu. Kamu ngapain di sini, sama siapa?" "Almira ke sini buat antar Nek Na, beliau di rawat di sini." Almira adalah saudara kembar Alya. Almira mengenal Mamah Irgi karena saat itu Irgilah yang menyelamatkan Alya dari kecelakaan pesawat setelah Alya berpisah dari Eza. "Tante mau ketemu sama Irgi?" Kebetulan ini adalah jam makan siang, jadi Almira pikir kalau Mamah Irgi akan makan siang bersama dengan Irgi di sini. "Ah , gak, Tante mau jenguk adiknya temennya Eza." "Temennya Eza, siapa tan?" "Iya, namanya Ana. kalau kamu gak sibuk, kamu bisa ikut tante buat jenguk dia." "Memangnya dia sakit apa?" "Leukimia." Almira terkejut, kenapa nasibnya sama dengan Alya, kakaknya. * * * Dengan rasa pensaran yang menuntunnya, Almira ikut bersama Mamah Irgi untuk pergi ke ruangan Maria. "Selamat siang, Mar." "Tante," Mamah Irgi masuk dengan rantam berisi makanan yang ia tenteng di tangan kanannya, tak lama Almira ikut masuk ke dalam. "Kenalin ini temennya Mas Irgi, namanya mbak Almira." Maria mengangguk kemudian tersenyum menyapa pada Almira. Almira yang di sapa membalas senyum Maria. Melihat kondisi Maria seolah mengingatkan Almira pada Alya dulu. "Dia ini saudara kembarnya, istrinya Pak Eza." Pintu ruangan Maria terbuka, muncul Ana dari balik pintu. Seolah melihat hantu, Ana terlonjak kaget melihat Almira berdiri di sana. "An, baru sampai?" "Iya, tante." Tak hanya Ana yang merasa kaget, Almira pun merasakan sesuatu yang aneh. Entah mengapa melihat Ana seolah mengingatkan Almira pada kakaknya. Sesuatu yang benar-benar terasa di hatinya. "Nah, perkenalkan. Almira, Ini Ana, dia temannya Eza." Mamah Irgi memperkenalkan Ana pada Almira. "Dan Ana, ini Almira, dia saudara kembarnya Alya, istrinya Eza." 'Pantas saja, wajahnya tidak begitu asing. Aku baru ingat kalau wajahnya mirip dengan lukisan besar yang ada di kamar apartemen Eza.' Mereka berdua saling berjabat tangan, menyapa dengan senyum seadanya. "Mbak Almira Kakaknya kak Alya?" Maria tiba-tiba mencairkan suasana. "Bukan, saya adiknya." "Apa kalian berdua kembar identik? Kalian sangat mirip." Tanya Maria lagi. Iya benar, bahkan Ana saja tidak percaya kalau wajah mereka berdua benar-benar mirip. * * * Tak lama setelah saling mengobrol, Almira berpamitan untuk kembali ke ruangan Nek Na. Ana mengantarkan Almira untuk keluar dari ruangan. "Ana ..." "Ya," "Boleh saya tanya sesuatu?" 'Apa, apa anda akan bertanya apa hubungan saya dengan pak Eza?' "Iya ..." "Apa kamu kekasih Eza?" deg! Ana tidak menyangka jika pertanyaannya akan sejauh ini. "Apa Pak Eza akan menyukai gadis seperti saya?" "Kamu tipe gadis yang disukai Eza." Sesuatu seolah kembali menimpa hati Ana. "Polos ..." Lanjut Almira. Tanpa berbicara lagi, Almira pergi meninggalkan Ana. Almira masih tidak terima jika Eza hidup bahagia bersama oranglain saat kakak kandungnya sudah tinggal nama saja. Baginya, Eza lah penyebab kematian Alya. Jika saja dulu Eza tidak menyalahkan Alya, mungkin saat ini Alya masih hidup dan maaih bisa berkumpul bersama anggota keluarganya. * * Ana kembali masuk ke ruangan Maria, ia mencoba menyembunyikan perasaannya barusan akibat ucapan Almira. "Kakak sudah makan?" "Hmm ..." Ana segera mengangguk. Ana kembali berbohong, jujur saja, Ana benar-benar tidak merasakan lapar. Memikirkan Maria saja membuat perut Ana sudah terasa kenyang. "Almira itu orang baik, sama dengan Alya." Mamah Irgi mulai bercerita. "Dulu, Alya dan Almira terpisah. Karena nenek mereka tidak setuju kalau Ayah Almira menikahi ibu Almira. Akhirnya, saat tau kalau ibu Almira melahirkan anak kembar, Alya dan Almira dipisahkan. Alya dibuang, dirawat oleh teman papahnya sendiri. Tapi sayang, baru saja mereka dipertemukan, Alya sudah harus mengalami kecelakaan pesawat." 'setelah mengalami kecelakaan, Alya menderita karena penyakitnya. Pantas saja kalau Almira sangat membenci Eza.' "Apa dia mengatakan sesuatu?" Mamah Irgi bertanya pada Ana, seolah bisa menebak apa yang dilakukan oleh Almira tadi. "Gak, dia cuma tanya di mana saya kenal sama Pak Eza." "Almira pasti masih tidak rela kalau Eza bahagia." Ana tau maksud dari ucapan Mamah Irgi barusan. Setelah mendengar cerita dari Dokter Irgi, pantas kalau Almira sebagai saudara kandung Alya masih tidak rela jika Eza bahagia. Sama seperti Hendra yang benci saat melihat Maria. Karena Hendra pikir Maria adalah penyebab kematian istrinya. Apalagi Hendra harus menolong Maria, pantas kalau Hendra menolaknya mentah-mentah. "Apapun yang dikatakan oleh Almira, jangan kamu masukkan ke hati." "Hmmm ... Iya, tante." * * * Almira segera kembali ke ruangan Nek Na, neneknya dari keluarga Papahnya. Di sana sudah ada kedua orangtuanya dan Irgi. Nek Na yang sudah mulai siuman dan mau untuk makan sedang diajak berbicara oleh Irgi. "Kamu dari mana?" "Ah, dari apotik di bawah, terus tadi ketemu sama mamah kamu, Gi." Irgi tersenyum kecut, Irgi yakin Almira sudah bertemu dengan Ana dan Maria. "oh, Ya ? Nda udah lama gak ketemu sama mamah Irgi. Nanati kalau masih di sini, biar Nda sapa deh." ucap Mamah Almira. "Mamah Irgi ada di ruang rawat inap di lantai 2, dia bersama kekasih Eza." Ucapan Almira benar-benar tidak disaring lagi, ia sengaja mengatakan hal itu di hadapan Irgi. Tidak mungkin kalau Irg tidak tau soal ini. Apalagi mamah Irgi sampai menemani mereka berdua. "Bukan tante, dia bukan kekasih Eza." "Oh, ya? Padahal gadis itu begitu naif. Tipikal gadis yang bisa Eza sakiti sama seperti Kak Alya." "Almira ..." Faris mencoba menegur Almira. "Dia enak-enak bahagia, Kak Alya harus menderita." "Jangan salah paham, Al. Gadis itu hanya pegawai biasa di kantor Eza. Kebetulan adiknya sakit leukimia, karena mereka gak ada tempat tinggal, Eza menyarankan agar adiknya tinggal di panti asuhan milik mamah." Irgi tak ingin merusak suasana. "Apa leukimia?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD