"Maaf saya mengganggu Bapak."
Ana berjalan memasuki ruangan Eza, meski ia harus mengurus Maria, namun Ana juga tetap harus bekerja. Bagaimanapun dia harus bertanggungjawab atas pekerjaannya.
"Gak, An. Silahkan masuk,"
Ana berdiri di sebrang meja kerja Eza, sebenarnya ia tidak nyaman harus membicarakan hal pribadi di kantor seperti ini. Ana tidak mau membuat oegawai lain salah paham, apalagi sampai menimbulkan gosip baru dan membuat Rissa kembali marah padanya.
"Duduk, An."
"Terimakasih, Pak. Tapi saya cuma sebentar."
"Baik kalau begitu, ada apa?"
Setelah memikirkannya semalaman, Ana memutuskan untuk menyetujui saran Eza. Ia akan melaporkan Hendra ke polisi.
"Saya bersedia untuk melaporkan Ayah saya ke polisi."
Mendengar keputusan Ana, Eza benar-benar merasa lega. Esa tidak perlu menunggu lama untuk mendengar jawaban dari Ana.
"Baiklah, siang ini juga kita akan ke kantor polisi."
Setelah laporan ini, Ana berharap Hendra mau untuk melakukan donor itu.
Jika dnegan cara halus Hendra tidak bisa takluk, maka apa yang dikatakan Eza mungkin ada benarnya juga. Hendra harus merasakan dinginnya lantai penjara.
* * *
Selesai makan siang, Eza segera mengantar Ana ke kantor polisi. Ia juga membawa barang bukti yang Hendra cari selama ini. Eza juga sudah menyiapkan pengacara handal agar ia bisa mengatur Hendra dari balik jeruji besi. Jika memang dengan cara ini akan berhasil, Eza yakin Maria bisa sembuh total.
Tapi Eza belum berbicara soal pembicaraannya tempo hari dengan Maria. Eza tak yakin bagaimana reaksi Ana nanti saat mendengar ucapan Maria itu.
"Apa dengan cara ini Maria akan benar-benar sembuh?"
Seolah pikiran mereka tersambung, pertanyaan Ana serupa dengan apa yang sedang Eza pikirkan.
"Bukankah dokter sudah berkata jika Maria akan selamat."
"Ya, saya cuma ragu saja. Saya tidak mau kalau pada akhirnya ini semua akan mengecewakan saya, Maria dan juga Bapak. Pak Eza sudah sangat banyak berkorban untuk saya dan Maria."
Tiba-tiba saja Eza menggengam jemari Ana, "Cukup ikuti cara saya, dengan begitu apa yang kamu impikan akan terwujud."
Hati Ana kembali mneghangat, ia seolah mendapat semangat baru dalam hidupnya. Karena kegigihan Eza juga, Ana berani untuk.melaporkan Hendra pada polisi. Ana tak mau bingung, Ana tak mau dipermiankan oleh waktu lagi. Jika emmang ada celah untuk dia bisa lebih maju satu langkah daripada Hendra, maka Ana harus memanfaatkannya. Ana tak akan kembali dalam sebuah pelarian yang tidak berarti dan tidak pernah tau kapan berakhirnya.
"Jangan menyerah, kamu harus kuat. Kamu adalah satu-satunya orang yang Maria andalkan di dunia ini. Tapi, jangan jadikan itu semua sebagai beban dalam hidup kamu. Kamu juga harus mulai memikirkan masa depan kamu. Gak ada salahnya kamu punya mimpi, gak akan ada yang menertawakan kamu."
Ana teringat akan ucapan Maria dulu, saat Maria menunjuk sebuah papan iklan dengan model seorang wanita muda yang begitu cantik.
"Kalau kamu lelah, kamu bisa istirahat. Berhenti sejenak. Jangan sembunyi lagi, jangan lari lagi. Kita harus menghadapi apa yang ada di depan kita. Mudah jika kita ingin cepat menyelesaikan masalah, mudah untuk kita menghadapi semua penyesalan yang kita rasakan tanpa harus berlarut-larut dalam kesedihan, kita menghilang dari bumi ini."
Bunuh diri, sedangkal apapun pikiran Ana, rasanya Ana tak pernah mencoba untuk melakukan bunuh diri. Tapi, ia selalu minta untuk mati di tangan Hendra. Baginya dengan mati di tangan Hendra, Ana tidak akan lagi berhutang budi pada Hendra.
"Rasanya bunuh diri pun tak akan menyelesaikan masalah apapun."
Dalam dasar hati yang terdalam, dua manusia ini sama-sama terluka. Andai mereka menjadi satu sama lain, mungkin saat ini Eza atau Ana akan memeluk dirinya masing-masing. Merasakan betapa pahitnya sebuah perjalanan hidup.
"Maka dari itu. Kita harus hidup dengan apa yang terjadi di hidup kita. Kita harus melewati setiap tanjakan dan turunan yang ada. Jangan hanya melihat kesakitannya saja, tapi lihat pemandangan di sekelilingnya juga. Ada hal yang bisa kamu nikmati, meskipun itu sedikit, namun bisa memnuat kamu mengubah cara pandang hidup kamu akan dunia yang kelam ini."
'Seperti bapak, bapak adalah bulan bulat yang begitu besar dan bercahaya yang hadir dalam pekatnya hidup saya. Mengubah cara pandang saya, bahwa dalam kegelapanpun ada banyak bintang yang seharusnya bisa saya nikmati cahayanya. Tapi, saya tidak akan egois, sampai hati menelan semua cahaya bapak untuk bisa saya jadikan penerang di hidup saya. Karena saya sadar, banyak orang pun yang membutuhkan cahaya bapak.'
Ana teringat akan kejadian di apartemen waktu itu, saat mereka berdua saling berciuman. Namun Ana kembali harus ditamparboleh sebuah perbedaan status sosial.
Ana megalihkan pandangannya dari Eza, ia tak mau jika emosinya kian mneyuruhnya untuk bersikap egois di tengah masalah hidup yang ia hadapi kini. Ia harus tau malu dan sadar diri untuk tidak merasakan cinta pada Eza.
Dengan segera Ana menarik lengannya dari Eza, ia mengalihkan padangannya ke luar. Menikmati pemandangan mobil yang berlalu lalang dengan kecepatannya masing-masing.
* * *
Ana dan Eza sudah sampai di kantor polisi, begitu mobil selesai di palkir Ana tak langsung turun. Tiba-tiba langkahnya terhenti, seolah sisi lain dalam dirinya memintanya untuk tidak melakukan ini.
"Ada apa?"
"Apa yang saya lakukan ini sudah benar?"
Eza tersenyum.lembut pada Ana,"Ini adalah keputusan yang terbaik. Apa yang akan kamu lakukan ini akan menyelematkan Maria dan juga kehidupan kamu."
Seolah mendengarkan mantra ajaib, Ana segera turun dari mobil Eza.
"Semangat,"
Eza kembali memberi semangat pada Ana, meski hanya ucapan namun Ana benar-benar merasakan dukungan yang diberikan oleh Eza.
* * *
"Saya datang kemari untuk melaporkan sebuah kejahatan."
Ana duduk di sebuah kursi di hadapan penyidik, perlahan ia mulai menceritakan awal kejadian malam itu, saat Hendra menvoba menusuk dirinya.
"Mau ke mana lo?!"
Ana sadar sedari tadi ia sudah dibuntuti oleh Hendra. seharusnya ia pergi lebih awal. Namun, Ia harus membereskan barang-barangnya terlebih dahulu untuk pergi dari kontrakan itu.
Dengan seksama Ana menceritakan runtutan kejadian malam itu, Ana maaih mengingat kejadian itu. Karena malam itu adalah pertama kalinya Hendra menusuk Ana. Sejak dulu meski Hendra mengancam untuk.membunuh Ana, tak sekalipun Hendra benar-benar melukai Ana dengan benda tajam. Hendra hanya akan memukul Ana sampai puas. Sampai semua rasa kesalnya hilang karena sudah Hendra lampiaskan pada Ana.
Namun, malam itu berbeda. Malam itu ada Eza di sana, Ana yakin Hendra melakukannya karena terdesak. Hendra kalut dan takut jika ada orang lain yang melihat dirinya sedang memukuli Ana.
"Apakah ada saksi di malam kejadian itu?"
"Saya pak saksinya."
Kini Eza pun mulai diberi pertanyaan oleh tim penyidik, hingga pada peetanyaan terakhir Eza diminta untuk.memberikan bukti yang bisa memberatkan Hendra. Eza mengeluarkan sebuah pisau yang masih memiliki jejak darah di sana. Ia memberikannya pada tim penyidik itu.
"Setelah keterangan korban dilengkapi dan juga bukti-bukti kuat sudah terkumpul, kami akan melakukan penjemputan terhadap saudara Hendra."
* * *
Hampir lima jam Ana dan Eza berada di kantor polisi. Ana harus memjawab banyak pertanyaan yang ditujukan oleh penyidik kepadanya.
"Bagaimana mereka bisa menemukan ayah saya, bukankah bapak masih menahan ayah saya di gedung sekolah itu?"
Sepulang dari kantor polisi, Eza mengajak Ana untuk pergi ke rumahsakit. Eza sudah janji pada Maria jika hari ini ia akan membawakan makan malam yang enak untuk Maria.
"Saya sudah atur semuanya, kita tinggal tunggu kabar dari Kepolisian besok pagi kalau Ayah kamu sudah tertangkap."
'Sampai sejauh ini Pak Eza sudah memikirkan rencananya. Sejak kapan dia mengatur ini semua?'