27

1220 Words
Beberapa hari dirawat di rumahsakit membuat Maria merasakan bosan. Kemarin ia meminta Ana untuk mencukur habis rambutnya. Maria hanya tidak tahan melihat rambutnya yang kian hari harus rontok akibat dari kemoterapi yang ia lakukan. Kepala Maria kini botak, ia menutupinya dengan sebuah kupluk rajut yang diberikan oleh mamah Irgi. "Apa yang kamu butuhkan?" Ana segera menghampiri Maria yang sedang mencoba duduk di atas ranjangnya. "Apa kakak bisa membawaku keluar? Aku ingin merasakan hangatnya sinar matahari." * * * Ana dan Maria duduk di taman rumahsakit, wajah pucat Maria membuat Ana begitu was-was. Bahkan kian hari wajah pucat itu seolah merenggut semua senyum Maria. "Bagaimana? Apa di sini tidak terlalu panas?" "Nyaman, Kak." Maria mendongakkan wajahnya ke atas, menutup matanya. Merasakan sinar matahari yang menembus pori-pori kulitnya. "Semalam aku bermimpi bertemu Ibu." Ucap Maria tiba-tiba. "Tapi sebelum Ibu datang menggapai tanganku, Kak Eza sudah lebih dulu mengajakku untuk pergi." "Cuma mimpi, Mar." "Kak Eza orang baik Kak." "Kalau kita punya banyak uang, bukankah kita juga akan mudah untuk berbuat baik? Sayangnya kita orang miskin, hidup kita hanya memikirkan diri sendiri. Kita tidak sempat memikirkan sekeliling kita." Maria menoleh Ana, ia tersenyum lalu mengelus lengan Ana pelan. "Gak, Kak Eza memang baik. Maria ikhlas kalau saat Maria pergi nanti Kak Eza menjadi pendamping Kakak." Eza itu ibarat bulan besar di langit. Indah, namun hanya bisa Ana nikmati. Ana tak akan sanggup memiliki Eza, jangankan memiliki hanya berniat saja rasanya Ana tidak berani. Ana adalah malam gelap yang jika bersikap egois mungkin akan menelan bulat bulan di langit yang begitu terang. Menenggelamkan bulan bersama kelamnya gelap malam, seperti hidup Ana. Ana tak akan pernah melibatkan orang yang berarti dalam hidup Ana menderita karena dirinya sendiri. Ana dan Eza ibarat langit dan bumi. Eza mungkin hanyalah manusia yang lewat sebentar saja di kehidupan Ana dan setelah itu akan pergi. "Apapun yang kamu katakan, tujuan utama kakak sekarang ini adalah memikirkan bagaimana cara kakak bisa mendapatkan donor yang tepat untuk kamu." Tiga hari setelah melakukan serangkaian test di rumah sakit, dokter menyatakan jika sumsum tulang Ana tidak cocok dengan milik Maria. Hal ini membuat Irgi penasaran dan merasa aneh. Akhirnya Ana menceritakan semuanya pada Irgi. "Kalau Maria tidak mau di operasi bagaimana?" "Apa maksud kamu?" Maria menunduk, menautkan tiap-tiap jemarinya. "Maria rasa cukup sampai di sini dengan kesakitan yang Maria rasakan. Maria lelah dengan semua pengobatan yang Maria jalani selama ini. Ana memang merasa kasihan saat melihat Maria menjalani kemoterapi. Namun, Ana lebih tidak tega saat Maria merasakan kesakitan yang luar biasa. Melihat lebam biru yang ada di tubuh Maria dan tubuh kurus kering Maria saat ini. Tapi Ana tidak mau Maria menyerah, sesakit apapun itu Maria harus bertahan. * * * Karena Ana harus mengambil beberapa baju di kontrakannya, Ana meminta mamah Irgi untuk menjaga Maria di rumahsakit terlebih dahulu. Untunglah Mamah Irgi dengan senang hati datang dan menjaga Maria di rumahsakit. Sebenarnya Ana bisa meminta agar dokter Irgi menjaga Ana, namun Ana takut mengganggu jadwal kunjunganbya pada pasien nantinya. Sepanjang perjalanan Ana memikirkan di mana ia harus menemukan Hendra. Semakin lama Hendra mengulur waktu, maka kondisi Maria juga semakin menurun. Mata Ana menangkap bayangan seseorang di balik pintu rumahnya, jika memang orang itu adalah Hendra maka apa yang Eza katakan benar. Ana hanya perlu memancing Hendra agar mau datang ke tempat yang sudah Eza sediakan untuk membawa Hendra ke rumahsakit. "Sudah pulang?" Harapan Ana pupus sudah, bukan Hendra yang ada di dalam sana. Itu adalah suara Kacir. "Apa yang sedang kamu lakukan?" Ana mencoba bersikap biasa saja, ia tak mau kejadian waktu itu terulang lagi. Saat Kacir hilang akal. "Di mana Bang Hendra?!" "Apa maksud Abang?" "Laki-laki kaya itu dan anak buahnya membawa Bang Hendra pergi, bukankah itu suruhan kamu?" Tunggu, apa yang sebenarnya terjadi. Pikir Ana. "Jangan berpura-pura, bukankah Bang Kacir yang membantu laki-laki b*****t itu bersembunyi? Katakan padanya kalau dia masih punya hati nurani, datanglah ke rumahsakit. Lihat anak perempuannya terbaring lemah di sana! Tidak bisakah dia sebentar saja bersikap sebagai seorang ayah yang dibutuhkan oleh orangtuanya?! Tidak bisakah dia menjadi seorang manusia yang beradab?!" Ana berteriak di hadapan Kacir, namun Kacir sama sekali tak merespon. Kali ini di hati Kacir sudah tidak ada rasa cinta lagi untuk Ana, tapi justru benci. Harga diri kacir sudah Ana injak-injak, bagi Kacir sekarang Ana adalah incaran bosnya, Hendra. "Jangan banyak omong!" Kacir menjambak rambut Ana, "perempuan munafik!" kini Kacir melempar Ana pada dinding kontrakan. Nafas Ana tersengal, dia sadar jika posisinya saat ini terancam. Ana meihat sebuah gunting tergeletak di atas meja. Secepat kilat Ana menyambar gunting itu dan mengarahkannya pada Kacir. "Jangan pikir saya tidak berani untuk menusuk abang menggunakan gunting ini!" "Apa menurut kamu itu akan membuat saya takut?" Ana berlari pada Kacir, ia menancapkan gunting itu di lengan kanan bagian atas milik Kacir dan mencabut kembali gunting itu. Darah segar mulai mengalir dari lengan Kacir. "Arghhh!!" Kacir meringis kesakitan, tangan kirinya mencoba menutupi lukanya. "Jangan pernah meremehkan orang yang sedang terjepit. Untuk membunuh abang saya bisa melakukannya kapanpun itu." Ana membuka pintu kontrakannya, tangan kanannya masih memegangi gunting dan mengarahkannya pada Kacir. "Sekarang keluar dari rumah ini dan jangan pernah sekalipun abang masuk ke rumah ini tanpa ijin!" * * * Setelah Kacir pergi, Ana segera mengganti pakainnya dan kembali pergi. Ia harus menemui Eza untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Kacir mengatakan hal jika Eza lah yang sudah menyembunyikan Hendra. Ana segera menghubungi Eza untuk meminta bertemu. Ia tidak mungkin jika harus pergi ke rumah Eza. Rissa bisa saja tidak mengijinkan Ana untuk bertemu dengan Eza. Setelah menelfon Eza, Ana bergegas menuju apartemen milik Eza. Apartemen Eza adalah tempat yang cukup aman untuk berbicara soal Hendra. Jika memang benar Eza yang membawa Hendra pergi, lalu kenapa Eza harus berpura-pura tidak tau di mana keberadaan Hendra. * * * "Ada apa?" Begitu masuk Eza langsung bertanya pada Ana. "Barusan bang Kacir ke kontrakan." Mendengar ucapan Ana, Eza segera mendekat pada Ana. Ia memeriksa tubuh Ana dengan seksama. "Apa dia menyakiti kamu lagi?" "Tidak, tapi dia mengatakan sesuatu yang membuat saya bingung?" "Apa itu?" "Tolong jawab dengan jujur, apa benar Bapak dan anak buah bapak yang sudah menyembunyikan ayah saya?" "Apa maksud kamu?" "Tolong jawab dengan jujur, apa benar Bapak yang menyembunyikan ayah saya?" * * * "Bagaimana keadaan kamu?" Mamah Irgi yang baru saja datang di rumahsakit dengan membawa sekeranjang buah, segera duduk di samping Maria. "Maria sehat." "Puji Tuhan, ah, iya, tante bawakan sesuatu buat kamu." Maria meneliti semua ruangan, seoertinya tidak ada barang spesial yang dibawa oleh Mamah Irgi. "Apa itu?" "Sebentar," Mamah Irgi beranjak dari duduknya, ia membuka pintu kamar rawat inap Maria. Di balik pintu ada anak-anak panti asuhan dari panti asuhan milik mamah Irgi. "Kakak ..." Delapan orang anak-anak serempak masuk dengan membawa balon yang mereka pegang satu persatu. "Kalian ..." Wajah sumringah Maria tak bisa dismebunyikan lagi, ia benar-benar merindukan suasana panti. "Surprise!" Mamah Irgi bertepuk tangan dengan senyum yang begitu menawan. "Aku kangen kakak." Ucap salah satu anak kecil perempuan dengan dress berwarna pink yang ia kenakan itu. "Michi, kakak juga kangen." Maria meenggenggam jemari Michi sembari tersenyum lembut. "Kakak harus cepat sembuh, supaya kita bisa bermain lagi." Kini ucap salah satu anak laki-laki yang umurnya mungkin hanya berjarak dua tahun dengan Maria. "Banyak PR yang harus kita kerjakan." Maria kini meneteskan air matanya. Apakah begini rasanya saat kita memiliki keluarga utuh?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD