"Tolong jawab pertanyaan saya, Pak Eza."
Eza tak ingin Ana ikut campur dengan permainan ini, namun sepertinya Eza tidak bisa berlama-lama merahasiakan ini semua.
"Saya tidak menyembunyikan ayah kamu."
"Lalu apa?"
"Siapa yang memberitahu kamu?"
"Bang Kacir mendatangi saya, dengan wajah babak belurnya, dia bertanya di mana ayah saya."
"Jadi kamu kembali ke rumah kontrakan itu? Sudah berapa kali saya bilang, jangan kembali ke sana. Di sana terlalu berbahaya untuk kamu."
"Jangan alihkan pembicaraan, tolong jawab saya, apa bapak menyembunyikan ayah saya?"
"Saya tidak menyembunyikan ayah kamu, saya hanya memahannya agar dia tidak kabur."
"Jadi benar Bapak yang sudah menyembunyikan dia?" Ana memijat pelipisnya pelan, "Bapak tau kan kalau saya sangat membutuhkan dia agar Maria bisa secepatnya melakukan operasi."
"Kamu pikir kalau kamu datang menemui Ayah kamu dengan tangan kosong, ayah kamu mau untuk melakukan operasi itu?!"
Ana tersadar akan pertanyaan Eza barusan. Hendra sudah tidak memiliki belas kasihan lagi, sekalipun itu untuk Maria, anaknya sendiri.
"Biarkan saya yang menangani ayah kamu. Operasi pun kita harus mendapat persetujuan dari pihak pendonor, harus ada butki hitam di atas putih. Kalau ayah kamu tidak mau menandatangani surat dari rumahsakit itu, rumahsakit tidak akan mau menangani operasi Maria."
Kenapa Ana tidak bisa berpikir sejauh ini, ia terlalu kalap memikirkan keadaan Maria. Seharusnya Ana lah yang paling paham bagaimana sikap Hendra. Apalagi menyoal uang, Hendra tak akan pernah mau rugi. Dengan adanya keterlibatan Eza, Ana yakin Hendra menjadikan masalah ini sebagai ladang uangnya untuk berjudi.
"Maafkan saya, saya terlalu panik."
Ya, memang benar, Hendra pasti akan meminta imbalan besar jikapun ia setuju untuk melakukan operasi itu. Dan dai mana Ana harus mendapatkan uang itu, pada akhirnya, Eza juga yang akan memberi Hendra uang itu.
Ana memunggungi Eza, ia mengusap wajahnya kasar. Ia sangat tidak suka dengan keadaannya sekarang ini. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih, otak Ana benar-benar sudah buntu.
"Tenangkan diri kamu. Di saat seperti ini kita harus bisa berpikir jernih."
Meski Maria sudah sadarkan diri, namun tetap saja Ana khawatir jika operasi pendonoran itu tidak akan pernah terjadi.
"Di mana bapak menyembunyikan dia?"
"Kamu ingin menemuinya?"
* * *
Setelah puas bermain dengan anak-anak dari panti asuhan, Mamah Irgi meminta Maria untuk beristirahat. Mamah Irgi membawa anak-anak itu kembali ke panti.
Setelah anak-anak panti asuhan itu pergi, kamar Maria kembali terasa sepi. Maria mencoba merebahakan dirinya, meski susah namun Maria sudah terbiasa mandiri, ia tidak terbebani dengan hal-hal kecil seperti itu.
" Ke mana mereka?"
Irgi masuk ke ruangan Maria yang sudah sepi, matanya menilik ke semua ruangan, namun hanya ada Maria di sana.
"barusan mereka keluar, kakak tidak berpapasan dengan mereka?"
Irgi hanya menggeleng, ia kemudian masuk dan berjalan menuju ranjang Maria. Ia duduk di sebuah kursi di samping ranjang Maria.
"Bagaimana keadaan kamu?"
Maria tersenyum sangat manis sekali, "rasanya sudah membaik. Memar di tanganku juga sudah hilang."
Maria memarken kedua tangannya. Memar yang ada di tubuhnya memang sudah mulai menghilang dengan sendirinya.
"Apa penyakit Maria ini bisa disembuhkan?" Maria mencoba bertanya pada Irgi.
Dalam hati yang terdalam, Maria merasa jika ia tidak perlu melakukan operasi itu. Maria ingin mengurangi beban hidup Ana. Mungkin dengan kepergian Maria nanti, hidup Ana akan jauh lebih baik. Ana kan mau dan bisa memikirkan bagaimana dirinya akan memiliki sebuah masadepan.
Namun, di sisi lain Maria merasa jika dirinya terlalu egois. Egois karena Maria tak mau bersusah payah hidup miskin dan dikejar-kejar oleh ayahnya sendiri.
Belum lagi soal biaya operasi nanti, pasti akan memakan banyak biaya. Maria tak bisa membayangkan dari mana Maria dan Ana bisa mengganti uang pembayaran operasi itu. Maria ingat akan prinsip Ana, sesusah apapun hidup kita, jangan pernah menadahlan tangan hanya untuk mengharap belas kasih dari orang lain.
"Tentu saja bisa."
Irgi mencoba memberi semangat pada Maria.
"Pasti biaya ooerasinya mahal."
"Kenapa kamu harus memikirkan hal itu?"
Maria hanya menggeleng kecil, " Maria tidak mau merepotkan Kak Ana. Kalau pada akhirnya Maria harus mati, untuk apa dilakukan operasi itu?"
Irgi seolah tak percaya dengan apa yang Maria ucapkan barusan. Maria hanyalah anak kecil, namun dengan mudahnya ia berkata tentang kematian. kehidupan bagaimana yang sudah Maria lewati hingga ia bisa demgan lantangnya berbicara seperti itu.
* * *
Ana tiba di sebuah sekolah kosong yang jauh dari pemukiman penduduk. Beberapa orang tampak berjaga di sana. Sebagian dati mereka berpakaian rapih, sebagian lagi adalah preman dengan wajah bringas dan tato yang menghiasi tubuh mereka. Ana mengikuti Eza yang terus melangkah ke dalam, naik menuju lantai dua sekolah kosong itu. Tak lama Ana dan Eza di sambut oleh dua orang penjaga yang berdiri di pintu. Para penjaga itu menyapa Eza kemudian membukakan pintu itu.
"Masuk,"
Eza menyuruh Ana untuk mengikutinya masuk ke dalam. Di ruangan itu, Hendra di di kurung oleh sebuah jeruji besi. Hendra diikat, kepalanya masih terbungkus kantong kain hitam. Ana tak bisa melihat wajah Hendra. Namun, dari perawakannya saja Ana bisa tau kalau laki-laki yang ada di balik jeruji besi itu adalah Hendra.
"Akhirnya lo datang juga," suara Hendra menggema, Hendra belum sadar kalau saat ini Eza datang membawa Ana ke hadapan Hendra. "Kapan polisi mau datang ke sini? atau lo takut si Maria akan mati?! ha ... ha ... ha ..."
"bapak ...
Ana duduk di hadapan Hendra, mereka duduk saling behadapan hanya terhalang jeruji besi yang mengurung Hendra di ruangan itu.
"Akhirnya lo datang juga,"
"Kenapa mata Ana harus ditutup?"
Langkah Ana dituntun oleh Hendra dan istrinya menuju meja makan kecil yang ada di dapur. Bau sumbu lilin terbakar sedikit tercium saat api dinyalakan.
"Ibu sama Bapak mau ngapain?"
"Selamat ulangtahun anak kesayangan Bapak."
Begitu Ana membuka mata, sebuah kue ulangtahun tersaji di hadapan Ana. Di sana tertulis nama Ana beserta ucapan selamat ulangtahun untuk Ana. Tidak ketinggalan, lilin dengan bentuk angka 9 tertancap di atas kue ulangtahun milik Ana.
Ini adalah perayaan ulangtahun pertama dalam hidup Ana. Meski Ana lupa akan hari lahirnya, namun tanggal di mana ia ditemukan oleh Ibu angkatnya di sebuah gorong-gorong dekat taman bermain, dijadikan sebagai tanggal ulangtahun Ana. Genap setahun Ana hidup bersama keluarga Hendra.
Hendra menyalakan lilinnya, mereka bertiga mulai bertepuk tangan sambil bernyanyi lagu ulangtahun bersama-sama.
"Hore ..." Ana bersorak setelah meniup lilin yang ada pada kue ulangtahunnya itu.
"Ini hadiah dari Bapak."
Sebuah kado berbentuk segi empat dengan kertas berwarna coklat sebagai pembungkusnya, Hendra berikan pada Ana. Tanpa berbasa-basi Ana segera merobek kertas itu. Sepasang sepatu ada di dalam kado itu.
"Wah ... bagus sekali."
"Kamu suka?"
"Hmmm ... Ana suka, bu." Ana segera menarik kursinya dan mendekat pada Hendra. "Terimakasih, Bapak sudah belikan Ana sepatu." Ana segera memeluk Hendra dengan erat.
"Ibu sama Bapak mau, kamu sekolah lagi. Bapak mau kamu mencari ilmu, sekolah yang tinggi dan membanggakan Ibu dan Bapak."
"Jadi ibu sudah cerita sama Bapak, kalau Ana mau sekolah?"
"Tentu saja, makanya Bapak belikan kamu sepatu baru."
"Tapi, nanti Ana gak bisa ikut Bapak narik angkot lagi, terus Ana juga gak bisa bantu ibu bawa dagangan buat jualan keliling." Ana menundukkan kepalanya, seolah merasa bersalah.
"Ibu gak masalah kalau memang Ana mau bersungguh-sungguh buat belajar di sekolah."
"Bapak juga, Bapak akan carikan uang yang lebih banyak lagi, supaya Ana bisa sekolah yang tinggi. Jadi orang kantoran."
Ana kembali mengingat kejadian hari itu, saat Ana merayakan ulangtahunnya. Saat-saat bahagia Ana bersama Ibu angkatnya dan Hendra.
"Bapak sudah dengar bukan, soal Maria?"
"Itu adalah karma!"
"Tidak bisakah Bapak sekali saja peduli pada Maria?"
Hendra tertawa terbahak mendengar pertanyaan Ana barusan, bagi Hendra, Maria adalah penyebab hancurnya kehidupannya dulu. Maria adalah pembunuh istrinya, hal itulah yang membuat Hendra begitu membenci Maria.
"Dia hanya butuh kasih sayang Bapak, dia tidak meminta lebih. Dia hanya ingin dekat dengan Bapak, tapi Bapak tidak pernah mau menyadari keberadaan Maria."
Seperti sebuah dongeng si itik buruk rupa. Fisik yang berbeda, membuat itik buruk rupa dihina dan dicaci oleh sesamanya. Diabaikan, diacuhkan oleh dunia luar, namun sang induk tetap memeluknya. Mungkin jika saat ini ibunya masih ada, Maria akan berada dalam pelukan ibunya.
"Kalau Bapak tetap seperti ini, seharusnya bapak menyalahkan takdir, bukan menyalahkan Maria!"
"lu yang bodoh, harusnya buang anak itu. Lu ikut gua, lu akan hidup senang kalo lu mau nurut sama gua!"
"Bukankah ibu masih melihat kita? Ibu bisa melihat bagaimana kejamnya bapak saat ini terhadap Maria!"
"b******k! Jangan bawa-bawa dia, jangan sekalipun lu bawa-bawa dia!"
"Ibu pasti akan kecewa melihat Bapak sekarang, apalagi jika nanti Maria sampai mati dan bertemu ibu di surga. Apakah Bapak pikir ibu akan memaafkan bapak? Jangan pernah berpikir kalau ibu akan tenang di atas sana!"
"b******k, diam!"
"Apalagi, apa yang bisa bapak perbuat sekarang? Jika saya mau, saya bisa membunuh bapak sekarang."
Eza terkejut mendengar ucapan Ana barusan, "An ..."
"Mana yang akan bapak pilih, masuk penjara atau menolong Maria. Ingat, pisau itu ada di tangan saya, bahkan bekas luka itu masih ada di perut saya. Pikirkan, 20 tahun pernjara atau bahkan seumur hidup bapak nanti akan bapak habiskan di penjara."
"Gue lebih baik masuk penjara, mati membusuk di penjara."
"Jangan bermain-main, apa yang bisa dilakukan orang miskin seperti kita, Pak. Pada akhirnya uanglah yang akan berbicara!"
Jadi begini rasanya mengancam seseorang, pikir Ana. Sensasi menyenangkan begitu terasa, tak heran jika Hendra suka sekali mengancam Ana.
Setelah selesai berbicara, Ana meninggalkan ruangan itu. Ia berjalan keluar diikuti oleh Eza di belakangnya.
* * *
"Kamu yakin ayah kamu akan takut dengan ancaman itu?"
Ana tidak yakin, tapi yang pasti hal itu akan membuat Hendra berpikir berulang kali. Ana pikir jika Hendra masih memiliki rasa iba terhadap keadaan Maria.
"Kalau memang tidak berhasil jalan satu-satunya kita harus melaporkannya ke kantor polisi."
'Apakah dengan cara ini, semuanya akan berakhir. Atau justru akan menimbulkan masalah yang baru.
"Terimakasih."
Sekali lagi Ana mengucapkan terimakasih pada Eza sebelum ia memasuki lobby apartemen, di basement apartemen.
"Ana," Eza memanggil Ana yang sudah berdiri memunggunginya. " Semangat."
'Bolehkah saya berlari ke dalam pelukan anda? sekali lagi. Rasanya saya mulai tau, di depan sana ada hari esok untuk saya dan Maria untuk bisa berdiri tegak dan bersinar. Keluar dari kegelapan ini.'
"Terimakasih, Pak."
Langkah Ana terasa begitu berat, di satu sisi ia tak ingin jika Hendra masuk penjara. Bagaimanapun Hendra adalah ayah Maria. namun jika Hendra tidak masuk penjara maka Maria tidak akan pernah di operasi.
"Istirahat, jangan pikirkan apapun. Semuanya akan baik-baik saja." Eza kembali berucap.
'Andai semuanya itu benar, saya tidak akan mengkhawatirkan apapun di dunia ini. Jangan buat saya berharap terlalu jauh terhadap Bapak.'
Mereka berdua saling berbalik, berjalan saling menjauh satu sama lain. Menapaki jalan yang berbeda, namun hidup yang berbeda.