20

1206 Words
"b*****t!" Begitu sampai di kontrakan Ana, Eza disuguhi oleh sebuah pemandangan yang membuatnya naik darah. Kacir sedang menindihi tubuh Ana, ia mencengkarm kedua tangan Ana di sisi. Kepalanya menulusup ke leher Ana dengan paksa, menciumi Ana dengan paksa. bugh! Eza menarik tubuh Kacir yang sedang menindih tubuh Ana. Kacir tersungkur, namun ia segea bangkit dan menyerang Eza. Perkelahian tak terelakkan lagi, tubuh Kacir yang lebih kecil dari Eza, membuat Kacir kesusahan. "Apa yang sedang kamu lalukan?" Eza bertanya sembari menarik kerah baju milik Kacir. Kacir terkekeh, "Apalagi? Bukannya lo juga udah nyicipin dia, Hah?!" "Tutup mulut kamu!" Bugh! Eza kembali memukul perut Kacir berkali-kali. Ia melampiaskan kemarahannya pada Kacir. bugh! Kacir kali ini membalas pukulan Eza, cairan berwarna merah segar itu keluar dari mulut dan hidung Eza. Saat Eza hilang perhatian, kini Kacir kembali menyerang Eza, dia memukul wajah dan perut Eza berkali. "Mau sok jagoan lo?!" "Cukup,Bang!" "Ha ... Ha ... Ha ... Kenapa? lo takut kekasih kaya raya lo ini mati?" Ana menatap tidak suka pada Kacir, namun melihat Eza yang sudah banyak mengeluarkan darah membuat Ana tidak tega. Meski wajah dan perut Ana pun sudah merasakan sakit. "Lepaskan dia, dia tidak tau apa-apa." "Tidak tau apa-apa? tapi, dia menyembunyikan bapak kamu!" Saat ada kesempatan, Eza bangun dan segera memukuli Kacir hingga tersungkur kembali. Eza segera menarik Ana keluar dari rumah kontrakan itu. Dari belakang Eza, Ana menatap punggung Eza. Menatap tangan Eza yang begitu erat memegangi pergelangan tangan Ana. Masih ada orang baik di dunia ini, baik atau naif, pikir Ana. Setelah mereka berdua sampai di dekat mobil Eza, Ana melepaskan pergelangan tangan Ana. Ana merasa seolah ada yang hilang saat pegangan Eza terlepas. "Apa yang luka?" 'Kenapa Bapak khawatir dengan saya, bahkan sekarang yang mengalami luka parah adalah Bapak. Bapak berdarah, baju Bapak berantakan.' Ana menatap Eza dengan seksama. "An ..." Eza memeriksa tubuh Ana, saat itulah ia melihat baju Ana yang robek. Bagian dadanya terbuka, Eza segera melepas jasnya dan memakaikannya pada Ana. "Terimakasih, Pak." Eza benar-benar tidak tega, ia segera memeluk Ana. "Kamu selamat, kamu udah selamat, An." Kisah yang terdengar begitu familiar saat kita kanak-kanak. Si Itik buruk rupa dan Angsa, Kepompong jelek dan kupu-kupu yang indah. Semua orang menghina si itik buruk rupa karena tak sama dengan infuk dan saudaranya. Mereka tidak bisa melihat bulu dan sayap indah yang akan tumbuh di kemudian hari, setelah mereka menghadapi kesulitan. Eza melepas pelukannya, ia kemudian menuntun Ana masuk ke mobilnya. Eza tak akan membiarkan Ana sendirian, apalagi dengan adanya kejadian ini. Eza harus ekstra hati-hati untuk menjaga Ana. * * * Tanpa panjang lebar, Eza membawa Ana kembali menuju apartemennya. Eza benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya hidup Ana selama ini. Bukan hanya Hendra yang mengintai dan menginginkannya hidup-hidup. Tapi, juga ada Kacir yang menginginkan tubih Anna. Tapi kenapa Ana tetap ngotot ingin tinggal sendiri. "Siapa dia?" Eza membuka suara, ia memberikan segelas air putih pada Ana. "Anak buah Bapak saya." Ana meminum segelas air putih yang Eza berikan padanya. Ia mencoba menyembunyikan segala ketakutannya. Mencoba untuk tetap tenang. "Apa yang sedang dia lakukan di kontrakan kamu?" "Dia dulu orang yang baik," Ana tidak menjawab pertanyaan Eza, ia justru malah bercerita tentang Kacir. "Entah setan mana yang merasuki dia, sampai melakukan hal Keji seperti itu." "Kita bisa memenjarakan dia dan ayah kamu sekaligus." Polisi bukanlah jalan satu-satunya yang bisa membereskan semuanya. Ana bahkan seolah tak percaya dengan keberadaan Mereka. sejak dulu Ana tak pernah merasakan keberadaan mereka, bahkan saat Ana dipukuli oleh Hendra. "Jangan kembali ke sana." Eza benar-benar melarang Ana untuk Kembali ke kontrakannya itu. "Tidak pak, saya harus kembali ke sana. Hanya dengan cara seperti itu Ayah saya akan keluar dan mencari saya." "Ini terlalu bahaya. Kamu lihat tadi? Dia mencoba untuk perkosa kamu, An." Ana terdiam, ia teringat akan masa kecilnya. Kacir adalah salah satu orang yang dianggap pelindung bagi Ana. Sejak kecil, saat Hendra mabuk Kacirlah yang mengantar Hendra pulang. Dan jika Hendra memukuli Ana maka Kacirlah yang menahan Hendra untuk berhenti memukuli Ana. Bagi Ana Kacir adalah seorang penolong. Saat Hendra melampiaskan segala amarahmya saat kalah dalam berjudi, Ana berharap dalam hatinya kalau Kacir akan datang menolongnya. "An?" "Iya, Pak. Mungkin dia khilaf." Ana sendiri saja tidak pernah menyangka kalau Kacir akan melakukan hal b***t itu padanya. "Jangan terlalu naif," "Dulu dia adalah orang yang baik, dia selalu membantu saya dan Maria saat Bapak saya memukuli kami berdua." Eza terdiam mendengar jawaban Ana. Begitu sulitnya hidup Ana, bahkan seseorang yang dianggapnya penolong justru ingin mencelakai dirinya sendiri. "Saat pikiran buntu, kalau tidak mau sabar, ya seperti itu. Mau sebaik apapun manusia, pikiran jahat pasti selalu ada di di otak mereka." 'Kata orang aku adalah orang yang tegar, kuat menghadapi masalah apapun. Aku selalu terlihat baik-baik saja.' Ana mengingat kejadian tadi, saat Kacir hendak mencium Ana dengan paksa. Merobek baju Ana, bahkan sempat menurunkan resleting celana Ana. Ana menitikan airmatanya dalam keheningan kamar apartemennya. Andai Ana bisa berteriak, mengatakan kalau dirinya saat ini sedang merasa tidak baik-baik saja. Rasanya tidak ada jalan agar Ana bisa hidup dengan tenang dan bahagia. Tak ada kesempatan untuk Ana bisa merasakan artidati baik-baik saja. 'Saya tidak pernah tau dunia seperti apa yang sudah kamu lewati. Tapi saya yakin kamu adalah wanita yang kuat. Semua air mata yang jatuh saat ini, kesakitan, kekecewaan yang kamu alami saat ini, akan membawa kamu terbang lebih tinggi. Dan semua orang akan malihatnya. Nasib buruk yang mengutuk hidup kamu akan pergi, tak akan ada lagi yang meremehkan kamu.' "Jangan kamu pendam apa yang kamu rasakan saat ini, kalau memang semua ini membuat kamu takut, itu memang manusiawi." Ucap Eza. Perasaan Ana saat ini campur aduk, kecewa, marah, takut dan penuh prasangka. "Saya akan obati luka Anda." * * * Dengan perlahan Ana mulai membersihkan luka Eza, sesekali ia meniup luka di wajah Eza itu. "Terimakasih," Sekali lagi Ana mengucapkan terimakasih pada Eza. Eza hanya menatap lembut pada Ana, entah hanya perasaannya saja atau memang Ana memiliki keindahan bola mata yang sama dengan Alya. Pandangan yang mampu menenggelamkan lawan bicaranya dalam sebuah kenyamanan. "Boleh saya bertanya sesuatu?" Ana mulai meneteskan betadine pada luka Eza. Untuk kali ini rasanya berbeda, sama sekali tak ada kelembutan dari sikap Ana. 'Astaga, kenapa aku menyamakan kamu dengan Alya.' "Aw, pelan-pelan, An." Eza meringis kesakitan saat betadine itu mengenai kulitnya yang luka itu. "Apa benar bapak menyembunyikan bapak saya?" "Saya melakukan negosiasi, agar bapak kamu mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya." "Dengan cara paksa?" "Kamu pikir ayah kamu bisa diajak bicara baik-baik?" Jika dulu, mungkin bisa, namun untuk sekarang tidak. Ayah Ana sudah seperti monster yang lupa akan kesadaran. Ana berhenti mengobati Eza, Ia membereskan peralatan P3K itu. Ana hendak berdiri, namun ia kehilangan keseimbangan, tubuhnya hendak jatuh. Namun dengan sigap Eza segera menarik Ana hingga Ana terjatuh ke sofa. Tatapan mereka saling bertemu. 'Aku tidak mengerti dengan hari kemarin, namun saat ini semuanya seolah berubah. Cahaya bulan yang begitu besar seolah merangkak masuk dalam gelapnya kehidupanku. Warnanya kian memudar. Kenapa hidup kita begitu mirip, tapi dengan cara yang berbeda.' Mereka berdua masih saling menatap, namun tatapan itu kian beralih. Perlahan Eza mendekat, tatapannya seolah meyakinkan Ana agar Ana tidak menjauh, tidak menolak ciuman Eza. Saat bibir Eza tepat mengecup pelan bibir Ana, Ana memejamkan matanya. Membiarkan Eza melumat bibir Ana sepuasnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD