"Aw ..."
Maria meringis kesakitan saat kakinya menabrak salah satu kaki meja yang ada di ruang tamu. Maria sedang memyapu lantai ruang tamu. Semenjak tinggal di rumah Mamah Irgi, Maria selalu membantu pekerjaan rumah. Sekedar menyapu atau membantu cuci piring. Meski Mamah Irgi melaramg Maria untuk melakukannya, namun Maria tau diri untuk mmebalas semua kebaikkan Mamah Irgi.
"Bukankah seharusnya kamu istirahat?"
Maria yang masih mengelus kakinya karena kesakitan segera menoleh saat mendengar suara Irgi.
"Eh, Mas Irgi. Gak kok, Maria cuma nyapu lantai."
Kemarin Irgi mengantar Maria pergi ke rumahsakit untuk melakukan kemoterapi. Biasanya saat setelah melakukan kemoterapi, tubuh Maria merasakan sakit.
Selain kemoterapi, Maria harus minum beberapa obat yang diberikan oleh dokter. Bukan hanya rasa sakit setelah melakukan kemoterapi, Maria juga lelah dengan semua pertemuan dan check-up yang hampir setiap minggu Maria lakukan.
Tuubuh Maria makin hari kian terlihat begitu kurus. Rambutnya pun kian menipis akibat rontok yang dialaminya. Kadang Maria sampai takut untuk menyisir rambutnya. Selain itu, saat tubuh Maria kelelahan tubuh Maria lebih mudah memar.
"Ya, yang penting kamu jangan sampai kelelahan." tambah Irgi.
Maria menarik lengan baju panjangnya, saat itu Irgi menatap lengan Maria dan menadapati lengan Maria yang memar.
"Mengobati penyakit berbahaya seperti kanker tidaklah mudah, termasuk juga saat menjalani sesi kemoterapi. Jadi, ikuti selalu saran dari dokter onkologi dan hindari hal-hal yang bisa menganggu proses pengobatan agar proses pengobatan bisa berjalan dengan optimal."
"Iya, Mas. Maria pasti akan melakukannya. Maria juga mau sembuh."
Maria sangat berterimakasih karena sudah dipertemukan dengan Irgi dan Mamahnya. Maria seolah mendapat semangat yang baru dalam hidupnya. Apalagi saat mamah Irgi memberi Maria sebuah nasihat, Maria merasa seolah kalau dirinya sedang dinasihati oleh ibu kandungnya sendiri. Meski saat ini Ana tidak ada di samping Maria, namun Maria tidak merasa sendirian. Maria harus mengucapkan banyak terimakasih pada Eza.
Tidak dipungkiri Maria saat ini sedang merindukan Ana. Terkadang saat makan enak bersama kelaurga Irgi, Maria seolah tak tega karena Maria tidak tau bagaimana keadaan kakaknya itu. Apakah Maria makan enak atau tidak.
Maria selalu ingat saat-saat dirinya dan Ana harus berbagi makanan satu sama lain. Bahkan hanya sekedar semangkok mie instan, mereka harus saling berbagi. Ekonomi yang begitu menghimpit kehidupan Maria dan Ana, membuat mereka harus dalam jurang kemiskinan yang begitu dalam.
"Maaf sebelumnya, apa Maria boleh minta tolong?"
Irgi menoleh, ia meletakkan buku yang sedang ia baca. "Ada Apa?"
"Apa Maria boleh minta tolong untuk di antar bertemu Kak Ana?"
"Untuk sementara biarkan Maria tinggal di sini."
Eza berucapa pada Irgi. setelah mengijinkan Ana kembali ke rumah kontrakannya dengan alasan Ana merasa tak enak hati untuk tetap tinggal di rumah Irgi, Eza menahan Maria untuk tetap tinggal di rumah Irgi. Awalnya Ana tidak setuju, bagaimanapun Maria adalah tanggungjawab Ana. Namun, Eza menjelaskan kalau keberadaan Maria di kontrakan tidak akan aman. Kapanpun Hendra bisa datang untuk menyakiti Ana.
Mendengar alasan dari Eza yang memang cukup masuk akal, membuat Ana mengijinkan Maria agar tetap tinggal di rumah Irgi. Bisa saja Hendra datang dan justru memukuli Maria seperti saat Hendra memukuli Ana tanpa ampun.
"Bagaimana, Gi?"
Irgi tentunya tidak bisa mengambil keputusan sendiri, ia harus menerima persetujuan dari ibunya.
"Sampai kapan memangnya? Gue harus minta pendapat mamah juga."
"Sampai ayahnya mau untuk mendonorkan sumsum tulang belakangnya pada anak itu. Sampai sekarang gue belum bisa menemukan keberadaan ayahnya."
Eza memang sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaan Hendra. Secepatnya ia akan menyuruh Hendra melakukan operasi transplantasi itu.
"Maksud lo orang yang menusuk kakaknya?"
"Iya, Gi."
"Kenapa gak coba buat periksa kakaknya?"
"Dia bukan kakak kandung anak itu." Eza menerawang menatap ke arah taman bunga panti asuhan milik keluarga Irgi itu.
"Maksud kamu?" Irgi benar-benar kaget dengan ucapan Eza barusan. "Hubungan macam apa yang ada di antara tiga orang itu? Ayahnya mencoba melakukan percobaan pembunuhan pada kakaknya, sedangkan kakaknya mati-matian mencoba menyelamatkan adiknya yang jelas-jelas bukan adik kandungnya." Irgi benar-benar tidak habis pikir.
"Begitulah kenyataannya, di dunia ini banyak hal yang lebih rumit dari apa yang hanya bisa kita lihat dengan mata di hadapan kita."
"Di mana lo bisa kenal mereka, Za?"
"Takdir yang mempertumakan kami, Gi."
"Lo masih percaya itu?"
"Pertama kali gue bertemu dengan Ana justru saat gue berkunjung ke makam Alya. Dan ternyata, Alya bekerja sebagai Freelance di kantor gue. Entah kenapa rasa pensaran gue membawa gue ke posisi untuk menyelidiki dia. sampai suatu hari, gue lihat dia makan di parkiran. Satu cup mie instan yang dia ambil di pantry kantor, dia berikan pada Maria. Sedangkan dia sendiri lebih memilih untuk menatap adiknya yang makan dengan lahap."
"Lalu?"
"Lalu apalagi, tentu saja, sebagai seorang manusia, sisi empati gue bergejolak. Ternyata semakin gue gali, kenyataan pahit di hidup Ana justru semakin terkelupas sepwrti kulit bawang yang tidak ada hentinya. Gue merasa iba, seolah hidupnya sama dengan gue, penuh dengan amarah dan kebencian pada dunia, dengan cara yang berbeda."
"Iba bagaimana? Tidak mungkin hanya dengan rasa Iba kamu bisa melangkah sejauh ini." Pasti ada alasan yang jauh lebih dalam. Atau Eza mulai jatuh cinta pada gadis itu.
"Alya, gue mau melakukan ini semua demi menebus dosa-dosa yang sudah gue perbuat selama ini ke Alya. Kalau gue gak bisa menebus itu semua pada Alya karena dia sudah tidak ada lagi di dunia ini, biar gue tebus itu semua lewat gadis malang ini."
Irgi terdiam, ia tau bagaimana Eza dulu saat Alya pergi meninggalkannya karena tumor yang diderita oleh Alya. Saat itu Eza telat menyadari akan penyakit yang diderita oleh Alya. Membuat Eza harus ikhlas kehilangan Alya.
"Tapi lo harus hati-hati, apalagi ayahnya bisa melakukan tindakan kriminal."
"Gue sudah memikirkannya baik-baik." Eza kembali duduk di kursi. Ia menatap Maria yang sedang bercanda dengan anak-anak yang ada di panti asuhan itu.
Sebetulnya Maria adalah anak yang periang. Dia mudha beradaptasi dengan lingkungannya. Saat Eza bertanya apakah Maria pernah mengenyam pendidikan, Maria hanya menggelengkan kepalanya. Ia mengatakan bahwa hidupnya saja sudah susah, untuk sekedar makan saja susah apalagi untuk membayar biaya sekolah. Ia tidak akan membebani Ana dengan perintilan hidup seperti itu.
"Gue mau mereka menjalani hidup mereka dengan normal Gi. Gue mau Maria sekolah, Ana bisa menikmati masa remajanya." Lanjut Eza.
"Tapi jalan lo gak akan semudah itu."
"Iya, gue tahu, bahkan gue sangat kaget saat melihat Ana ditusuk oleh ayahnya. Gue gak yakin untuk menolong Ana, tapi melihat wajah polos Ana dipukuli tanpa henti, perasaan gue hancur. Awalnya memang gak mudah untuk bisa mendekati mereka, tapi perlahan mereka mulai membuka diri. Terutama Ana."
"Lo jatuh cinta sama dia?"
Mendengar pertanyaan Irgi, Eza tersenyum. "Apakah menolong itu harus didasari oleh rasa cinta?" Setelah kepergian Alya, Eza tak pernah sekalipun memikirkan tentang hubungan asmaranya. Ia menutup diri untuk menerima sebuah hubungan yang baru. Baginya Alya tetap hidup di relung jiwanya.
"Gue hanya merasa iba, ternyata ada orang yang penderitaannya jauh lebih besar dari hidup gue selama ini."
"Oke. Jadi setelah menitipkan si adik di rumah gue dan si kakak kembali ke kontrakan apa yang akan lo lalukan?"
"Gue akan mencari ayahnya."
Sejenak Irgi berpikir, ia mencoba meyakinkan dirinya.
"Baiklah, gue akan ijinkan Maria tinggal di rumah gue."
"Tapi, untuk sementara waktu jangan biarkan Maria bertemu dengan Ana. Itu akan berbahaya. Ayahnya juga mengincar Maria agar ayahnya bisa memeras Ana."
Irgi mengingat pembicaraannya bersama Eza siang itu, sesaat sebelum membawa Ana keluar dari rumah Irgi menuju rumah kontrakan Ana.
"Maaf, tidak bisa."
"Memangnya kenapa?"
"Eza memberi pesan kepada saya, supaya untuk sementara waktu, kamu harus tetap di sini. Ini demi keamanan kamu dan kakak kamu."
Mendengar nama Eza, senyum Maria tersungging di bibirnya.
"Ada yang salah?" Irgi tampak heran dengan sikap Maria.
"Gak, gak ada." jawab Maria seadanya.
"Lalu kenapa kamu tersenyum?"
"Kalau itu maunya Kak Eza, Maria akan menurutinya."
"Sesuka itukah kamu sama Eza?"
"Hm?" Maria berbalik menatap Irgi, " kalau semua ini adalah rencana dari Kak Eza, maka Maria akan menurutinya. Kak Eza janji dia akan menolong Maria dan kak Ana untuk bisa keluar dari situasi ini. Operasi ini juga Kak Eza yang mengusulkannya. Kak Eza itu seperti dewa, Kak Eza adalah pangeran yang ada di negeri dongeng, yang datang menyelamatkan si itik buruk rupa dan kepompong yang belum memiliki sayap untuk terbang.
"Maria berdoa agar kelak, Kak Eza bisa bertemu dengan seorang wanita yang baik hati dan cantik." Lanjut Maria.
Andai Maria tau bagaimana dulu Eza memperlakukan Alya. Sampai hidup Alya hancur dan harus menderita. Andai Maria tau itu semua, apa Maria akan tetap mendoakan Eza seperti ini?
Tidak, Irgi tidak akan berbicara apapun tentang Eza. Irgi tidak menghancurkan sebuah khayalan. Biarkan Eza memiliki citra yang baik di hadapan Maria dan Ana. Eza sudah berubah, ia bahkan mau menebus dosa-dosanya pada Alya lewat Maria dan Ana.
"Minggu depan kita akan kembali ke rumahsakit." Irgi kini mengalihkan pembicaraan.
"Apa sudah ada donor yang cocok?"
"Belum, tapi kamu harus menjalani beberapa tes lagi sebelum operasi itu dilakukan. Kita harus tau bagaimana kondisi tubuh kamu."
"Sekali lagi terimakasih, Mas Irgi."
"Selesaikan menyapunya, setelah itu saya mau ajak kamu pergi ke panti asuhan."
Biasanya Maria menghabiskan waktu di panti asuhan. Ia mengikuti beberapa pelajaran yang diajarkan di sana. Irgi belum bisa membawa Maria ke lembaga pendidikan formal. Jadwal kemoterapi yang sempat terhenti akibat keadaan Ana yang ditusuk oleh Hendra, membuat Maria harus benar-benar kembali menjalani pengobatan.
"Apa kamu sama sekali tidak punya identitas diri?" tiba-tiba Irgi kembali bertanya.
"Tidak," Maria menggeleng dan tersenyum manis pada Irgi.
"Tapi pak Eza sudah menyiapkan semuanya, apakah serumit itu untuk melakukan operasi?"
"Banyak, makanya kamu harus bersiap-siap."
Irgi baru sadar, kalau banyak sekali perbedaan dari Maria dan Ana, yang paling menonjol adalah sikap ramah Maria. Maria lebih ramah dan supel pada orang-orang sekitarnya. Namun, Ana lebih menarik diri bahkan ia menutup diri untuk orang-orang sekitarnya. Ia justru mencoba menyembunyikan apa yang ia rasakan dari orang-orang di sekitarnya.
* * *
Eza melepas pagutannya pada Ana, sedangkan Ana masih memejamkan matanya. Eza yang menatap wajah Ana dengan mata tertutup segera menarik Ana kepelukkannya.
'Apa ini? Tolong berhenti berdetak semaunya. Apa yang baru saja saya lakukan, kenapa ini terjadi?'
Ana mencoba melepaskan pelukan Eza, ia benar-benar tidak bisa mengendalikan perasannnya saat ini. Ini adalah hal baru dalam hidup Ana, tak pernah sekalipun terlintas dalam benak Ana bahwa Ana akan melakukannya.
"Tolong jangan pergi," Eza menahan Ana dalam pelukkannya. "Biarkan saya memeluk kamu sebentar, An." Eza menelan ludahnya dalam-dalam.
'Maafkan saya, maaf saya sudah meluapkan perasaan saya sama kamu An. Tapi, entah kenapa kamu begitu mengingatkan saya akan Alya. Perasaan saya mendorong saya untuk melakukannya, maafkan saya. Saya sudah egois, An."