Ana masih sibuk di dapur, ia sednag menyiapkan makanan yang baru saja dipesan oleh Eza. Sedangkan Eza baru selesai mandi. Eza memutuskan untuk membersihkan diri di apartemen, ia tak ingin jika saat pulang ke rumah nanti, orang-orang rumah akan curiga dan banyak bertanya.
Eza keluar dari kamar utama, ia meletakkan baju kotornya ke dalam keranjang baju kotor. Ia berjalan ke dapur, menghampiri Ana yang masih sibuk menyiapkan makanan.
Makanan sudah tersaji di meja makan, Ana dan Eza segara duduk di meja makan. Mereka duduk saling berhadapan.
Tak ada yang membuka pembicaraan, Ana sibuk menyendokkan makanan ke mulutnya.
"Siapa sebenarnya Alya?"
Mendengar pertanyaan Ana, Eza sedikit tersedak. Mengapa Ana harus bertanya soal Alya setelah apa yang terjadi pada mereka berdua barusan.
"Jika bapak tidak mau menjawabnya, tidak apa-apa. Saya mengerti."
'Kenapa tiba-tiba saya merasa serakah, apa karena tindakan bapak pada saya tadi?'
Ana kembali mengaduk makananya, perasaannya kesal, entah kenapa ia sekarang ingin mendengar cerita tentang Alya.
"Dari mana kamu tau tentang Alya?"
Eza masih bersikap santai, ia sebenarnya tidak keberatan sama sekali untuk bercerita tentang Alya. Tidak seperti dulu, saat di mana Eza benar-benar menderita karena kehilangan Alya.
"Dokter Irgi yang menceritakannya kepada saya."
"Apa dia juga bercerita bahwa dia juga jatuh cinta pada Alya?"
Eza terkekeh, ia ingat betul bagaimana kisahnya dulu saat Irgi mempertahankan Alya agar Alya tidak kembali pada Eza.
" Tidak, Dokter Irgi hanya memberitahu saya, soal kenapa bapak melakukan semua kebaikkan ini terhadap saya, kenapa bapak mau menolong saya."
Hari itu Irgi menceritakan semuanya pada Ana. Termasuk soal Rissa begitu membencinya hanya karena Eza bersikap baik padanya.
"Saya akan menjelaskannya sama kamu, setelah ini."
* * *
"Kamu mau tau siapa Alya?"
Tangan Eza mengambil sebuah kunci dari dalam sebuah pajangan boneka matroyshka yang ada di dekat tv. Itu adalah kunci untuk membuka kamar utama di apartemen itu.
'Akhirnya kamar ini akan terbuka, apa yang ingin saya lihat akan saya lihat sekarang.'
"Jawabannya akan kamu lihat sekarang."
Sebenarnya Ana sudah tau semua jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan pada Eza. Namun Ana ingin mendengarnya sendiri dari Eza secara langsung.
Eza melangkah menuju pintu kamar utama, Kamar di mana Alya dulu meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Cklek!
Pintu terbuka, Ana yang mengekor di belakang Eza segera mengikuti langkah Eza memasuki kamar itu. Begitu masuk, Ana di sambut oleh sebuah lukisan seroang wanita yang sedang meniup sebuah bunga dandelion. Wanita dengan rambut yang panjang hitam legam. Posisinya yang memyamping, membuat hidungnya tampak begitu mancung.
'Apakah perempuan ini Alya?'
Berbelok ke arah kiri, Ana kini di sambut oleh sebuah wardrobe yang berisikan semua baju-baju perempuan yang masih tertata rapih.
dinding lemarinya terbuat dari kaca, jadi Ana bisa menatap dengan leluasa. Gaun-gaun, blazer yang berderet tergantung dengan rapih. Serta baju-baju setelan untuk pergi ke kantor yang masih terbungkus dengan plastik laundry. Bahkan, tali rambut dan beberapa bando juga masih tertata rapih di sana.
Aana seorlah tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Rasanya untuk ukuran orang yang sudah meninggal seharusnya barang-barangnya sudah di buang.
"Jangan tanya kenapa saya maish menyimpan ini semua."
Ana terkejut mendengar kalimat Eza, seolah Eza bisa tau apa yang saat ini sedang Ana pikirkan.
"Alya Arsyila, wanita yang sangat saya cintai. Dia adalah satu-satunya wanita yang saya cintai di dunia ini."
Perasaan Ana seolah tercubit mendengar ucapan Eza barusan. Sesuatu yang membuat hatinya terhimpit. 'Lalu kenapa anda mencium saya?'
"Rasanya dengan menyimpan ini semua di tempatnya yang semula, saya bisa merasakan kehadirannya."
"Lalu apakah bapak masih merasakan itu semua?"
Tidak, kalau Eza boleh jujur, ia sama sekali tidak bisa merasakan kehadiran Alya. Justru dengan keadaan seperti ini, semua rasa penyesalan itu seolah selalu mengusik kehidupan Eza. Membuat Eza terpuruk dan hampir menjadi gila.
"Sedikit."
"Kenapa?"
'Apa karena ada keberadaan saya di sini."
Eza hanya tersenyum, Eza tidak bisa terlalu terbuka pada Ana. Ia teringat kejadian tadi, saat dirinya mencium Ana. Eza harus menjaga perasaan Ana. Tapi, untuk kali ini karena Ana sudah terlanjur bertanya tentang Alya maka Eza menceritakannya di mulai dari kamar utama di apartemen ini.
"Ah, sekarang saya ingin bertanya, ada yang menarik perhatian saya saat pertama kali saya bertemu dengan kamu."
Ana kembali mengingat, rasanya saat pertama kali Ana bertemu dengan pak Eza adalah di ruang meeting. Hari itu adalah hari pertama Ana bekerja di perusahaan property milik Eza.
Tak ada yang spesial dari diri Ana yang harus sampai membuat orang lain merasa iri atau penasaran akan kehidupan Ana. Kehidupan Ana hanya berisi dengan Hendra yang mata duitan dan Maria yang sakit leukimia.
"Makam siapa yang kamu maki waktu itu?"
"Makam?"
"Iya, makam yang waktu itu kamu maki di pagi hari buta. Pagi itu saya berdiri tak jauh dari makam.yang sedang kamu maki dengan penuh amarah itu."
Tunggu, jika Eza bertemu dengan Ana di sana, maka kemungkinan besar makam Alya tak jauh dari makam ibu Ana. Ya Tuhan, jadi Ana sebenarnya sudha bertemu dengan Eza sejak dulu.
"Ibu." Jawab Ana lirih.
Meski ia memaki makam ibunya, Ana yakin ibunya tidak akan marah apalagi jika Ibu melihat bagaimana Ana harus berjuang saat ini.
"Kamu pakai parfum?"
Eza kembali mengalihkan pembicaraan, ia tak mau membuat suasana hati Ana kembali suram. Eza tak mau memaksa Ana untuk bercerita tentang masalalunya sekarang, toh sedikit banyak Eza sudah mengetahuinya.
"Aneh, untuk makan saja susah, apalagi untuk membeli parfum."
Ana kini berjalan ke arah meja rias milik Alya. Bahkan di sana masih terjejer rapih semua produk perawatan wajah. Berbagai merk parfum ada di sana. Tidak sengaja Ana menatap Eza yang sedang berdiri di belakangnya. Tatapan mereka saling bertemu. Perasana itu seoah kembali, perasaan malu yang membuat Ana tersipu.
Dengan cepat Ana membuang muka, ia segera beranjak dari duduknya. Ia sadar diri untuk tidak berlarut-larut dnegan perasaan yang ia rasakan saat ini.
"An ..."
Lengan Eza menahan pundak Ana, Ana yang hendak keluar akhirnya berdiri mematung di samping Eza. Tatapan mereka berdua kembali bertemu. Eza perlahan menatap Ana dengan intens. Matanya mulai menilisik setiap inci wajah putih bersih milik Ana. Mata Ana nyatanya memiliki bola mata berwarna abu-abu tua, Eza baru memyadarinya.
Kini tatapan Eza beralih pada bibir Ana. Meski tak merah merona, namun bibir mungil itu seolah menggoda Eza. Perlahan namun pasti Eza mendekat pada Ana.
Entah apa yang ada dalam pikiran Ana, ia kini justru memejamkan matanya saat bibir Eza melumat bibir Ana pelan. Lumatan-lumatan kecil itu Ana balas dengan seadanya, membuat Eza kian menikmatinya.
Tak lama Eza melepas pagutan bibirnya pada Ana, ia menangkup wajah Ana. Kembali menatap Ana dengan seksama. Sepersekian detik, bibir Eza sudah kembali melumat bibir Ana.
Ana kini mengalungkan kedua tangannya di leher Eza, berharap Eza tidak melepasnya.
Sedang tangan Eza memegangi pinggang Ana, mengelus punggung Ana perlahan.
"An ..."
* * *
Tubuh Hendra sudah babak belur dipukuli oleh orang-orang suruhan Eza. Eza memang sengaja menahan dan memukuli Hendra agar Hendra mendapatkan pelajaran, apalagi setelah Hendra memukuli Ana, sampai Ana kembali mengalami pendarahan akibat luka bekas tusukannya terkena tendangan Hendra.
Setelah Hendra tak sadarkan diri, orang-orang yang disuruh Eza segera memasukkan Hendra ke dalam bagasi mobil. Mereka membawa Hendra kembali ke tempat kumuh di mana Hendra tinggal. Sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Eza.
Setelah sampai di lingkungan kumuh itu, orang-orang suruhan Eza segera membuang tubuh Hendra di dekat tumpukkan sampah.
* * *
Kacir yang juga babak belur karena Eza, sedang terbaring terbaring di ranjang.
"Sialan, gue benar-benar harus melenyapkan laki-laki itu."
Harga diri Kacir benar-benar diinjak-injak oleh Eza, Kacir tidak terima. Kacir harus menyusun strategi agar ia bisa merebut Ana dan melenyapkan laki-laki itu.
Ia tidak rela jika Ana jatuh ke tangan laki-laki itu, sudah bertahun-tahun Kacir menunggu Ana.
Brak!!!
Pintu rumah terbuka, membuat Kacir kaget lalu terbangun. Kacir berjalan menuju pintu depan. Di sana Hendra sedang tertatih berjalan masuk ke rumah.
"Bang! Abang kenapa?!"
Kacir segera menghampiri Hendra, ia memapah Hendra berjalan masuk ke rumah. Kacir merebahkan Hendra di kursi. Wajah Hendra sebelas duabelas dengan Kacir.Tubuh Hendra basah kuyup bahkan bau menyengat keluar dari pakaian Hendra.
"Bang, apa yang terjadi?"
Bukannya menjawab pertanyaan Kacir, Hendra justru tertawa terbahak.
"Bang?"
"laki-laki kaya itu, berani-beraninya dia lakuin ini ke gue."
"Maksud abang si Eza?"
Otak Kacir langsung terkoneksi.