24. Salah Lawan

1736 Words

Baru kali ini Sherin kehabisan kata-kata dan tak berkutik di depan seorang Pramilu Wiryawan, kakek kesayangannya. Bukan hanya terdiam, bahkan perempuan cantik itu sedari tadi cuma bisa mengeluarkan air mata yang sudah membanjiri wajah pucatnya. “Op.. Opa… maaf Opa, aku aku… aku bisa—” Kalimat Sherin tertelan begitu saja saat ia tersengal karena isak tangis. Pria sepuh yang masih sangat bugar di sebelahnya, jangankan menoleh pada sang cucu, menatap Sherin saja seolah enggan ia lakukan. Pramilu yang menyandarkan punggung di sandaran sofa masih memejamkan mata dengan tangan kanan memijat pelipisnya yang mendadak pening dini hari ini. Rencananya memberi kejutan pada cucu perempuan satu-satunya hancur sudah. Perasaan antusias dan tak sabaran yang tadi begitu mendominasi perjalanannya lesap

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD