“Itu hanya salah satu alasan saja, karena sebenarnya … saya juga menginginkannya.” “Saya juga menginginkannya…” “Saya juga menginginkannya.” Sherin mencuci mukanya berkali-kali saat berada di wastafel dan kalimat Danesh beberapa saat lalu itu terngiang di telinga. Lelaki yang awalnya ia anggap bijaksana dan penuh sopan santun itu ternyata tidak santun-santun amat seperti dugaannya. Buktinya … ia bisa langsung main ‘sosor’ pada seorang gadis yang bukan siapa-siapanya demi membuat cemburu gadis lain. Sialan!! Batin Sherin sambil meneriaki diri sendiri di depan cermin. Memperhatikan pantulan wajahnya di kaca, gadis itu menggeleng pelan ketika meraba bibir bawahnya dengan ujung jari. Bahkan setelah bermenit-menit berlalu, ia masih bisa merasakan bagaimana lembutnya Danesh memagut bibirnya

