Sherin cepat-cepat mematikan keran wastafel ketika mendengar suara derit pintu kamar yang terbuka. Gegas mengusap wajah basahnya lantas bercermin sekali lagi. Memastikan tak ada lagi bekas air mata yang gagal disamarkan saat ia menyekanya dengan handuk. Perihal matanya yang masih memerah, ia bisa membuat alasan apa aja. “Astaga, Sayang, kamu beneran sakit?” Danesh segera mendekat lantas memapah tubuh ramping sang istri untuk ia dudukkan di tepian tempat tidur. Sherin mengangguk lemah. Hanya bermain perann belaka, tapi ia berharap Danesh percaya-percaya saja. "Iya, tadi mendadak pusing banget. Padahal udah dandan rapi." Danesh mengusap kening sang istri pelan. Menyibak rambut panjang dan mengumpulkannya jadi satu di belakang punggung. "Ke dokter aj—, eh, kamu kan dokter ya? Maksudku... d

